Se connecterDua tahun di Jerman, Diandra berusaha menyimpan luka di hatinya, luka meninggalkan mamanya yang tidak peduli dirinya setelah tiga tahun meninggalkan rumah. Tidak pernah mamanya mencarinya atau sekedar menanyakan dirinya ke tante Deasy ,'Aku anak yang tidak diharapkan kehadirannya.Kalau aku tidak diharapkan mengapa aku dilahirkan?' batinnya.
Kebaikan tante Deasy yang awalnya dikira kebaikan dari hatinya yang tulus menolongnya ternyata terbuka kedoknya.Diandra merasa terjebak di tempat yang salah. Tante Deasy adalah arsitek yang handal membuka pintu kelamnya menjadikan Diandra gadis muda merasa aman , tidak curiga dengan kepalsuan tante Deasy yang penuh pesona dan status sosialnya di kalangan elite. Tepat dihari ulang tahun ke tujuh belas, kepalsuan tante Deasy terkuak.Kepingan luka masa lampaunya merayap kembali kedalam mimpi-mimpi buruknya.Ulang tahun ke tujuh belas. “Sebelum meniup lilin sebaiknya make a wish dulu,” Ucap mbak Elvira. Diandra menunduk mengangkat kedua tangannya, menutup matanya, bibirnya yang dipoles lipstick merah muda bergetar, antara rasa haru dan bahagia ditatap Tante Deasy, Oom Feliks dipangil Diandra dengan panggilan sayang daddy dan mbak Elvira . Mereka menatap Diandra dengan tatap mata berbeda. Tante Deasy menatapnya dengan tatapan puas, membayang pundi-pundinya akan terisi dengan uang dua milyar yang dijanjikan kepadanya. Mbak Elvira yang menatapnya dengan perasaan kasihan bercampur iri. Oom Feliks menatapnya dengan mata gairah berkabut api cinta, membatin ,’Bisakah aku memilikinya malam ini?’ Diandra membuka matanya, menatap sosok yang menatapnya dengan tatapan gairah, tersenyum sejenak ke arah sosok itu, kemudian meniup lilin angka tujuh belas. Tepuk tangan meriah terdengar di ruang VVIP restoran mewah hotel bintang lima di pusat kota Jakarta. "Diandra, kamu sekarang sudah dewasa.Ini KTPmu bisa kamu urus untuk mendapatkan SIM ,"ujar tante Deasy menyerahkan KTP ke tangan Diandra yang langsung menatapnya dengan tatapan mata berbinar-binar,"Aku sudah punya KTP," serunya, lalu matanya tiba-tiba membulat lebar,"Kok alamatnya...." Belum selesai rasa herannya, tante Deasy langsung menyela perkataan Diandra,"Mulai malam ini kamu pindah apartemen." Diandra menatap tante Deasy dengan wajah tidak percaya,"Apartemen yang selama ini saya tinggal?" tanyanya. Oom Feliks menoleh ke arah Elvira yang langsung menyerahkan paperbag ke Diandra. "Baby bukalah kotak yang ada dalam paperbag." ujar Oom Feliks. Diandara membuka paperbag, dikeluarkannya kotak berwarna merah muda, dibukanya kotak, matanya langsung membulat,"Ini kunci mobil?" Oom Feliks tertawa, "Kunci apartemen , hadiah ulang tahun dari daddy. Hmmm... mobilnya nanti menyusul." "Selama ini kamu tinggal di apartemen milik Feliks. Diusiamu sekarang kamu harus belajar mandiri."Kata tante Deasy. "Tante, selama ini Diandra sudah mandiri,"jawab Diandra, ada nada tidak senang mendengar perkataan tante Deasy. "Humm, sejak kecil kamu sudah mandiri, bisa mengurus dirimu sendiri. Satu hal yang perlu kamu lakukan sekarang adalah membahagiakan daddymu. Tinggallah di apartemen yang daddy belikan untukmu, layanilah dia, kamu akan mendapatkan apa saja keinginanmu." Diandra mengalihkan pandangannya ke arah Oom Feliks , tatapan mereka bertemu, jantung Diandra berdegub kencang melihat tatapan mata Oom Feliks, tatapan mata yang selalu membuatnya ingin masuk kedalam pelukan Oom Feliks,'Ada kasih di mata daddy yang tidak kudapat dari mama,' batin Diandra. "Terima kasih daddy, baby akan melayani daddy," bisik Diandra. Bisikan yang bisa didengar oleh tante Deasy, Elvira dan Oom Feliks. "Mbak Elvira masih jadi asisten pribadiku?"tanya Diandra. "Masih sayang," "Mbak Elvira juga tinggal di apartemen....." "Tidak sayang, mbak akan kembali ke rumah mbak yang lama." "Mengapa mbak tidak tinggal bersamaku?" "Hussh, kamu sekarang milik Feliks, ia akan tinggal bersamamu."Ujar tante Deasy lalu mengalihkan pandangannya ke Oom Feliks . Diandra bingung mendengar perkataan tante Deasy,'Aku tinggal bersama daddy?Aku...?'batinnya , lalu menatap ke arah Oom Feliks. Terekam kembali saat-saat mereka berdua di apartemen, saling menatap. Melihat tatapan daddy,Diandra yang sudah mengetahui apa yang disebut daddy dan baby sugar mendekati Oom Feliks, duduk di pangkuan, merebahkan dirinya di dada Oom Feliks yang membelai mulai dari rambut, turun ke leher membuat Diandra geli,memainkan jemarinya yang panjang di sekitar leher jenjang Diandra, mengecupnya perlahan. Diandra menutup matanya, merasakan kenikmatan kecupan dan gigitan lembut di lehernya.
"Daddy..." "Hum...daddy menyayangi baby?" "Lebih dari menyayangi. Daddy tanya apakah baby menyayangi daddy?" "Selama ini baby tidak mendapat kasih sayang, jangankan kasih sayang, empati, perhatian,kepedulian tidak pernah baby dapatkan dari mama, hanya daddy yang mencurahkan perhatian , kasih sayang bahkan melindungi baby." Diandra ingin menanyakan apakah hubungan mereka daddy dan baby sugar seperti yang dibacanya di internet, tapi hati kecilnya melarang,'Suatu saat kamu akan mengetahui hubunganmu dengan daddy,'suara hatinya mengingatkannya. "Daddy, apakah saling menyayangi itu disebut persahabatan?" "Lebih dari itu." "Maksudnya?" "Persahabatan itu hubungan emosional yang erat dan tulus didasarkan kepercayaan." "Baby ingin daddy melakukan baby seperti dengan tante Deasy." Oom Feliks menatap Diandra,"Seperti dengan tante Deasy?" "Waktu daddy menginap di rumahnya tante Deasy, baby melihat kalian berpelukan erat sekali, tante Deasy mengerang memanggil nama daddy, begitupun daddy memanggil tante Deasy darling....." "Ka...mu... melihatnya?" Diandra tidak menjawab hanya menatap Oom Feliks lekat-lekat, kemudian mengangguk. "Oh.. My Godness!" "Waktu Diandra ngintip melalui pintu yang terbuka sedikit, bibi datang menegur Diandra katanya, itu permainan orang dewasa. Semalaman baby tidak bisa tidur dan berpikir enakkah yang namanya persahabatan?" Sejak itu Oom Feliks jarang datang ke apartemen jika Elvira tidak ada di apartemen. Diandra merasa bahwa Oom Feliks menghindari dirinya. Jika Elvira sibuk di kamar, Diandra diam-diam menghampiri Oom Feliks kemudian duduk di pangkuannya, merebahkan dirinya ,"Daddy mengapa jarang ke apartemen, baby rindu." "Ada urusan bisnis di luar kota." "Daddy terima kasih oleh-oleh tas dari Singapura,"Bisiknya lalu tanpa disadari Oom Feliks Diandra langsung mencium , melumat bibir Oom Feliks yang langsung melepaskan bibirnya. "Nanti dilihat Elvira," "Baby rindu daddy, yuk masuk kamar."Bisik Diandra. "Baby, daddy hanya singgah sebentar,pak Tikno menunggu di bawah." "Uhh... daddy tidak sayang lagi sama baby!"Rajuk Diandra, kecewa karena keinginan mimpi-mimpi seperti yang dilakukan Oom Feliks dan tante Deasy tidak terwujud. Sepenggal kenangan waktu itu melintas di benak Diandra. Sekarang diusianya yang ketujuh belas, menurut tante Deasy ia sudah dewasa,'Bisakah aku dan daddy melakukan seperti daddy waktu itu dengan tante Deasy?' "Diandra.., apa yang kamu lamunkan?"Terdengar suara tante Deasy. Diandra terkejut, menatap tante Deasy,"Tante bisakah saya melakukan hal-hal yang dilakukan orang dewasa?" Tercekat Oom Feliks yang mendengar pertanyaan Diandra, ia tidak menyangka Diandra menanyakan hal itu. "Why not? Kamu sudah dewasa. Nanti daddy akan membimbingmu.Diandra kamu akan memasuki surga indah di bumi ini." "Deasy! Jangan membuat Diandra bingung dengan perkataanmu."Terdengar suara Oom Feliks menegur tante Deasy. Mendengar teguran Oom Feliks , Diandra tersenyum,"Ndak apa-apa Oom, Diandra memang perlu banyak dibimbing oleh Oom, apalagi kita tinggal bersama." "Diandra you are awesome!"Ujar tante Deasy , meraih tangan Deasy memberikan paperbag,"Ini hadiah dari tante untukmu, " "Boleh saya buka?" "Nanti di apartemen baru kamu unboxing!"Jawab tante Deasy dengan senyum misteri. **** Oom Feliks menggandeng erat tangan Diandra ketika mereka memasuki lift khusus. Mereka tidak berbicara, sibuk dengan pikiran masing-masing , sesampai di kamar apartemen Diandra memandang seluruh isi kamar dengan takjub. "Ini tempat tinggalku?" "Tempat tinggal kita."Bisik Oom Feliks. "Hanya kita berdua?" "Huumm…,” Terdengar ponsel Oom Feliks berdering, melihat sekilas nama penelpon tapi diabaikan. Terdengar kembali dering ponselnya,"Siapa yang nelpon, kok daddy tidak angkat?" "Tante Deasy yang nelpon" "Jawablah daddy, siapa tahu ada info penting." "Baik, baby lihat-lihat kamar kita …mmm… bukalah kamar itu, itu kamar tidur kita….” Kata Oom Feliks lalu keluar membuka pintu penghubung ke balkon. Diandra menuju ke arah yang ditunjuk Oom Feliks, membuka kamar tidur,”Ini kamar tidur kita? Aku dan daddy? Semoga mimpu-mimpi erotisku dapat terwujud," bisik Diandra lirih. Jantungnya berdegub kencang, tubuhnya bagaikan dialiri listrik merayap nikmat di tubuhnya membuat Diandra menggeliat melihat ranjang mewah ukuran besar terhampar di tengah ruangan tidur. 'Selera daddy mewah.Aku suka dengan selera kemewahannya. Aku bisa mendapatkan semua kemewahan yang tidak mungkin kudapat jika tinggal bersama mama. Humm.. , diusiaku ke tujuh belas, aku sudah dewasa saatnya aku menikmati permainan orang dewasa? Menurut tante Deasy kalau aku membuat Oom Feliks puas sebagai imbalannya aku bisa hidup mewah.' Batin Diandra. 'Sugar daddy menuntut kepuasan, aku membutuhkan kasih sayang dan cinta, bonusnya hidup mapan. Aku bisa mendapatkan semua kemewahan yang tidak mungkin kudapat jika tinggal bersama mama. Apakah aku materialis?' batinnya lagi, perlahan-lahan Diandra membuka gaun pesta ulang tahunnya. 'Haruskah aku menolaknya? No, aku tidak akan membiarkan piala kemewahan yang disodorkan kepadaku. Salahkah aku jika ingin menikmati gaya hidup mewah yang disodorkan daddy kepadaku?' batin Diandra, membelai kasur berbalut bedcover warna putih gading. Di atas bercover ada dua angsa putih yang terbuat dari selimut dikelilingi bunga mawar berlogo love. Diandra tersenyum, menuju ke walk in closet, mencari gaun tidur. 'Aku cari yang seksi,'batinnya dan jemarinya merayap, membelai beberapa gaun tidur yang tergantung, matanya tertarik pada gaun tidur pendek warna merah maroon."Cocok dengan kulitku yang putih," bisiknya memindai dirinya di cermin lalu tersebyun puas.
"Apakah yang kuinginkan terwujud malam ini? Mudah-mudahan mimpiku dapat terwujud,”bisiknya lalu menoleh ke arah pintu.
"Lama benar daddy menelpon." Diandra perlahan keluar dari kamar tidur, dari balik tirai tipis dilihatnya bayangan Oom Feliks di keremangan lampu di balkon. Pintu menuju ke balkon tidak tertutup, terdengar suara bariton Oom Feliks. “Yeah, I want to sleep with her to night, aku belum bisa melakukannya sekarang. Diandra perlu waktu untuk beradaptasi. "Kamu khawatir aku melanggar perjanjian kita?” “Baik besok aku akan transfer satu milyar, jika kami sudah melakukannya aku akan transfer sisanya." "Apa?Pakai bunga keterlambatan?Kamu memang lintah...! Kamu jual anak sahabatmu demi memenuhi kemewahan hidupmu," DEGG!! Diandra tersentak mendengar perkataan terakhir Oom Feliks.'Aku dijual tante Deasy?' batin Diandra, tangannya mengepal kuat menahan amarah.Diandra serius menatap sketsa, rambutnya yang ikal sebagian terjuntai ke depan sebagian diikat terjuntai di bahunya. Tali satu daster pendek keluar dari bahunya, memamerkan kedua bukit kembar nya yang montok. "Dia tambah montok," bisik Feliks mengalihkan matanya dari laptop ke Diandra yang sedang sibuk di meja gambar membuat sketsa kalung pesanan salah satu konglomerat.Selama ini Feliks hanya mampu memandang tubuh indah Diandra, terutama kedua bukit kembarnya yang berisi ASI semakin membesar dan padat. Dipandangnya paha mulus , putih dibalik daster pendek terlihat menggiurkan di mata Feliks .Feliks memejamkan mata untuk beberapa saat, ingin merekam dalam benaknya lalu membuka matanya kembali menatap Diandra, entah merasakan ada yang menatapnya,Diandra menoleh ke arah Feliks tersenyum kecil. Diandra menggerakkan bibir nya,'Mengapa menatap ku?' tanyanya. "Kamu cantik." bisik Feliks menahan hasratnya. Diandra melepaskan pensil nya, menurunkan tali dasternya ,menampakkan sebag
Saatnya pulang ke rumah setelah seminggu di rumah sakit ibu dan anak. Kedatangan Diandra bersama Fedra Aurora Kartamihardo disambut meriah di penthouse. Rieke dan Hafid dibantu mbak Kinasih mengatur kesemuanya dari dekor sampai menu makanan. Mama Fiona dan papa Feliknor datang dari Dubai membawa boneka lucu, demikian juga Opa Jayden, oma Jessika ,oom Farrel dan tante Faye membawa anak -anak mereka. Penthouse penuh dengan gelak tawa jerit gembira anak -anak ketika Feliks membagi angpao,amplop merah berisi uang yang diberikan sebagai hadiah atas kelahiran bayi perempuan yang sangat didambakan oleh Feliks Semua yang menerima angpao menjerit kecil ketika mengintip isi angpao.. Rieke,Hafid berbisik -bisik ketika mengintip isi angpao. Diandra tersenyum ketika Rieke mengulurkan tangannya meminta angpao. Tidak lama angpao ditangan Hafid beralih ke dalam tas Rieke. Dengan gerakan bibir, Rieke menyatakan,'menabung persiapan nikah.'Diandra tersenyum kecil sambil mengacungkan jempol nya. Riek
Suatu kebahagiaan bagi Diandra ,Feliks mengantarnya ke rumah sakit untuk pemeriksaan usia kehamilan Diandra. Sewaktu mengandung baby boy setiap kontrol kehamilan dan tinggal sendiri di Jerman dalam cuaca dingin juga sewaktu berjuang melahirkan tidak ada yang menemaninya. Untung nya keramahan dan perhatian dokter serta perawat menghibur hatinya karena mereka tahu Diandra adalah seorang ibu tunggal. Bukan saja perhatian beberapa perawat bergantian memberi hadiah pakaian bayi buat baby boy setiap pergantian musim . Ditatapnya Feliks ketika dokter menyatakan bahwa Diandra positif hamil , kebahagiaan nampak di wajah nya, tidak ada aura dingin datar dan arogan wajah penuh kebahagiaan terpancar di wajahnya menambah ketampanannya. "Dari hasil USG, istri bapak hamil memasuki minggu kedua belas. Anak pertama?" tanya dokter muda yang menangani Diandra. "Anak kedua," "Hum.. para suami biasanya mengantar isterinya untuk kehamilan pertama, ternyata bapak masih setia mengantar untuk mengecek keh
Sinar mentari pagi menerobos tirai jendela kamar tidur utama di penthouse, Diandra yang tertidur pulas merasakan sesuatu menerpa wajahnya, "Oh aku ketiduran," bisiknya. Tangannya meraih ,mencari tubuh yang semalam membuatnya liar tak mampu mengendalikan dirinya pada fantasi liar mereka. Merasa bahwa tubuh yang dicarinya tidak ada, Diandra berbalik,"Ia sudah bangun?" bisiknya mencari ponselnya,"Apa? sudah jam sepuluh lewat?" Dihubunginya asisten RT,"Bapak sudah sarapan?" tanyanya. "Oh. Sudah ke kantor? Mmm... baik., terimakasih mbak Astri." Dengan menggerutu dihubunginya nomor, tertera,my cherish,Mengapa kamu tidak bangunin aku?" Feliks yang sedang mempelajari beberapa berkas untuk ditandatangani, meraih ponselnya yang berdering, membaca log panggilan senyum terukir di bibirnya. Diandra:["Mengapa kamu tidak bangunin aku?"] Feliks:["Nelpon itu yang sopan, bilang selamat pagi babe, langsung nyap nyap ."] Diandra:["Aku kaget, ternyata tidurku lama banget."] Feliks:["Aku tidak sa
Melihat Diandra berbaring di sofa cinta warna putih,kontras dengan tubuhnya berbalut bra dan cd merah maroon dengan pose menggoda mengangkat salah satu kaki jenjangnya membuat Feliks langsung kalap mata melihat pose yang menggiurkan . Dada Feliks bergejolak , jantung nya berdebar kencang tidak dapat berpikir jernih melihat pemandangan yang menggugah hasratnya ditambah lagi suara serak Diandra penuh hasrat. "Tuan... puaskan aku...hhh..." Lidah, bibir, jemari mereka membelai, menghisap , merayap mencari titik nikmat ingin saling memberi kenikmatan menimbulkan desahan, erangan, gumaman disertai nafas memburu kenikmatan yang selalu mereka dambakan. Sofa cinta membantu mereka menentukan posisi favorit . Diandra paling suka berada di tengah kursi menurutnya sangat menantang melakukan berbagai pose sensual dalam mengejar puncak kenikmatan . Setelah puas bermain-main di sofa cinta tanpa melepaskan miliknya Feliks menggendong Diandra masuk ke kamar tidur meneruskan permainan cinta mereka
Jam tujuh malam , Feliks menjemput Diandra ,"Apakah aku harus pakai gaun?" "Tidak, cukup pakai baju keluar yang biasa saja." "Babe betul tidak ada pertemuan keluarga?" "Tidak, hanya kita berdua seperti yang aku katakan di telepon tadi " "Bisakah aku mewujudkan harapan mu?" tanya Diandra dengan nada rendah,ada rasa tidak percaya diri. "Kamu bisa. Kamu pernah membelaku ketika keluarga toxic menghinaku.. Diandra tidak mengatakan apa-apa, mengikuti saja apa yang telah diputuskan Feliks, sambil Feliks mandi, Diandra mempersiapkan dirinya, memakai makeup tipis, baju panjang dengan tali satu lalu membalutnya dengan cardigan tipis menambah keindahan leher dan bahunya, mengikat rambut ikalnya dengan gelang mutiara kecil. Setelahnya, Diandra mematutkan dirinya di cermin, " Kesan pertama sebagai istri Feliks aku harus tampil memukau di hadapan para staf rumah besar,"bisiknya lirih. Feliks keluar dari kamar mandi melihat istrinya sedang mematutkan dirinya sejenak terpesona menatap Diandra
Dua tahun kemudian. Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara Soetta,rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis da
“Wouww, tinggi banget!”Teriak Diandra begitu melihat bangunan apartemen yang terbentang di hadapan mereka ketika memasuki halaman bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke angkasa. “Mbak Elvi, ini namanya apartemen? Di sini kita tinggal? Kakiku bisa pegal kalau kita tinggal di atas.” Seru Diand
Tinggal di rumah tante Deasy , Diandra benar-benar dimanjakan. Pagi hari biasanya menyiapkan sarapan untuk dirinya, tidak berlaku sejak Diandra diterima di rumah tante Deasy. Diandra tinggal di rumah induk yang besar dan mewah, tidak seperti di rumahnya , rumah subsidi yang hanya terdiri dari dua ka
Pertanyaan itu selalu menggelayut di pikiran Diandra. Mengapa aku dilahirkan? Mengapa mama membenciku, apakah salahku ?Setiap aku berbuat kesalahan segala sumpah serapah keluar dari mulut mama. Tiada hari tanpa ada cinta, tak ada senyum yang ada hanyalah muka datar, dingin ,bibir tipis mengurat kua







