Home / Romansa / Gadis Simpanan Sang Miliarder / BAB 7. "APAKAH AKU SUDAH DEWASA?"

Share

BAB 7. "APAKAH AKU SUDAH DEWASA?"

Author: MARIWINA
last update Last Updated: 2026-03-11 18:44:48

Dua tahun di Jerman, Diandra berusaha menyimpan luka di hatinya, luka meninggalkan mamanya yang tidak peduli dirinya setelah tiga tahun meninggalkan rumah. Tidak pernah mamanya mencarinya atau sekedar menanyakan dirinya ke tante Deasy ,'Aku anak yang tidak diharapkan kehadirannya.Kalau aku tidak diharapkan mengapa aku dilahirkan?' batinnya.

Kebaikan tante Deasy yang awalnya dikira kebaikan dari balik hatinya yang tulus menolongnya ternyata terbuka kedoknya.Diandra merasa terjebak di tempat yang salah. Tante Deasy  adalah arsitek  yang handal membuka pintu kelamnya menjadikan Diandra gadis muda merasa aman , tidak curiga dengan kepalsuan tante Deasy yang penuh pesona dan status sosialnya di kalangan elite.

Tepat dihari ulang tahun ke tujuh belas, kepalsuan tante Deasy terkuak.Kepingan luka masa lampaunya merayap kembali kedalam mimpi-mimpi buruknya.

Ulang tahun ke tujuh belas.

“Sebelum meniup lilin  sebaiknya make a wish dulu,” Ucap mbak Elvira.

Diandra menunduk mengangkat kedua tangannya, menutup matanya, bibirnya yang dipoles lipstick merah muda bergetar, antara rasa haru dan bahagia ditatap  Tante Deasy, Oom Feliks  dipangil Diandra dengan panggilan sayang daddy dan  mbak Elvira . Mereka menatap Diandra dengan tatap mata berbeda.

Tante Deasy menatapnya dengan tatapan puas, membayang pundi-pundinya akan terisi dengan uang dua milyar yang dijanjikan kepadanya. Mbak Elvira yang menatapnya dengan perasaan kasihan bercampur iri. Oom Feliks menatapnya dengan mata gairah berkabut api cinta, membatin ,’Bisakah aku memilikinya malam ini?’

Diandra membuka matanya, menatap sosok yang menatapnya dengan tatapan gairah, tersenyum sejenak ke arah sosok itu, kemudian meniup lilin angka tujuh belas.

Tepuk tangan meriah terdengar di ruang VVIP restoran mewah hotel bintang lima di pusat kota Jakarta.

"Diandra, kamu sekarang sudah dewasa.Ini KTPmu bisa kamu urus untuk mendapatkan SIM ,"ujar tante Deasy menyerahkan KTP ke tangan Diandra yang langsung menatapnya dengan tatapan mata berbinar-binar,"Aku sudah punya KTP," serunya, lalu matanya tiba-tiba membulat lebar,"Kok alamatnya...."

Belum selesai rasa herannya, tante Deasy langsung menyela perkataan Diandra,"Mulai malam ini kamu pindah apartemen."

Diandra menatap tante Deasy dengan wajah tidak percaya,"Apartemen yang selama ini saya tinggal?" tanyanya.

Oom Feliks menoleh ke arah Elvira yang langsung menyerahkan paperbag ke Diandra.

"Baby bukalah kotak yang ada dalam paperbag." ujar Oom Feliks.

Diandara membuka paperbag, dikeluarkannya kotak berwarna merah muda, dibukanya kotak, matanya langsung membulat,"Ini kunci mobil?"

Oom Feliks tertawa, "Kunci apartemen , hadiah ulang tahun dari daddy. Hmmm... mobilnya nanti menyusul."

"Selama ini kamu tinggal di apartemen milik Feliks. Diusiamu sekarang kamu harus belajar mandiri."Kata tante Deasy.

"Tante, selama ini Diandra sudah mandiri,"jawab Diandra, ada nada tidak senang mendengar perkataan tante Deasy.

"Humm, sejak kecil kamu sudah mandiri, bisa mengurus dirimu sendiri. Satu hal yang perlu kamu lakukan sekarang adalah membahagiakan daddymu. Tinggallah di apartemen yang daddy belikan untukmu, layanilah dia, kamu akan mendapatkan apa saja keinginanmu."

Diandra mengalihkan pandangannya ke arah Oom Feliks , tatapan mereka bertemu, jantung Diandra berdegub kencang melihat tatapan mata Oom Feliks, tatapan mata yang selalu membuatnya ingin masuk kedalam pelukan Oom Feliks,'Ada kasih di mata daddy yang tidak kudapat dari mama,' batin Diandra.

"Terima kasih daddy, baby akan melayani daddy," bisik Diandra. Bisikan  yang bisa didengar oleh tante Deasy, Elvira dan Oom Feliks.

"Mbak Elvira masih jadi asisten pribadiku?"tanya Diandra.

"Masih sayang,"

"Mbak Elvira juga tinggal di apartemen....."

"Tidak sayang, mbak akan kembali ke rumah mbak yang lama."

"Mengapa mbak tidak tinggal bersamaku?"

"Hussh, kamu sekarang milik Feliks, ia akan tinggal bersamamu."Ujar tante Deasy lalu mengalihkan pandangannya ke Oom Feliks .

Diandra bingung mendengar perkataan tante Deasy,'Aku tinggal bersama daddy?Aku...?'batinnya menatap ke arah Oom Feliks. Terekam kembali saat-saat mereka berdua di apartemen, saling menatap. Melihat tatapan daddy, Diandra yang sudah mengetahui apa yang disebut daddy dan baby sugar mendekati Oom Feliks, duduk di pangkuan, merebahkan dirinya di dada Oom Feliks yang membelai mulai dari rambut, turun ke leher membuat Diandra geli,memainkan jemarinya yang panjang di sekitar leher jenjang Diandra, mengecupnya perlahan. Diandra menutup matanya, merasakan kenikmatan kecupan dan gigitan lembut di lehernya.

"Daddy..."

"Hum...daddy menyayangi baby?"

"Lebih dari menyayangi. Daddy tanya apakah baby menyayangi daddy?"

"Selama ini baby tidak mendapat kasih sayang, jangankan kasih sayang, empati, perhatian,kepedulian tidak pernah baby dapatkan dari mama, hanya daddy yang  mencurahkan perhatian , kasih sayang bahkan melindungi baby."

Diandra ingin menanyakan apakah hubungan mereka daddy dan baby sugar seperti yang dibacanya di internet, tapi hati kecilnya melarang,'Suatu saat kamu akan mengetahui hubunganmu dengan daddy,'suara hatinya mengingatkannya.

"Daddy, apakah saling menyayangi itu disebut persahabatan?"

"Lebih dari itu."

"Maksudnya?"

"Persahabatan itu hubungan emosional yang erat dan tulus didasarkan kepercayaan."

"Baby ingin daddy melakukan baby seperti dengan tante Deasy."

Oom Feliks menatap Diandra,"Seperti dengan  tante Deasy?"

"Waktu daddy menginap di rumahnya tante Deasy, baby melihat kalian berpelukan erat sekali, tante Deasy   mengerang memanggil nama daddy, begitupun daddy memanggil tante Deasy darling....."

"Ka...mu... melihatnya?"

Diandra tidak menjawab hanya menatap Oom Feliks lekat-lekat, kemudian mengangguk.

"Oh.. My Godness!"

"Waktu Diandra ngintip melalui pintu yang terbuka sedikit, bibi datang menegur Diandra katanya, itu permainan orang dewasa. Semalaman baby tidak bisa tidur dan berpikir enakkah yang namanya persahabatan?"

Sejak itu Oom Feliks akan datang ke apartemen jika ada Elvira di apartemen. Diandra merasa bahwa Oom Feliks menghindari dirinya. Jika Elvira sibuk di kamar, Diandra diam-diam menghampiri Oom Feliks kemudian duduk di pangkuannya, merebahkan dirinya ,"Daddy mengapa jarang ke apartemen, baby rindu."

"Ada urusan bisnis di luar kota."

"Daddy terima kasih oleh-oleh tas dari Singapura,"Bisiknya lalu tanpa disadari Oom Feliks Diandra langsung mencium , melumat bibir Oom Feliks yang langsung melepaskan bibirnya.

"Nanti dilihat Elvira,"

"Baby rindu daddy, yuk masuk kamar."Bisik Diandra.

"Baby, daddy hanya singgah sebentar,pak Tikno menunggu di bawah."

"Uhh... daddy tidak sayang lagi sama baby!"Rajuk Diandra, kecewa karena keinginannya untuk bersama daddy tidak dituruti.

Sepenggal kenangan waktu itu melintas di benak Diandra. Sekarang diusianya yang ketujuh belas, menurut tante Deasy ia sudah dewasa,'Bisakah aku dan daddy melakukan seperti daddy waktu itu dengan tante Deasy?'

"Diandra.., apa yang kamu lamunkan?"Terdengar suara tante Deasy.

Diandra terkejut, menatap tante Deasy,"Tante bisakah saya melakukan hal-hal uang dilakukan orang dewasa?"

Tercekat Oom Feliks yang mendengar pertanyaan Diandra, ia tidak menyangka Diandra menanyakan hal itu.

"Why not? Kamu sudah dewasa. Nanti daddy akan membimbingmu.Diandra kamu akan memasuki surga indah di bumi ini."

"Deasy! Jangan membuat Diandra bingung dengan perkataanmu."Terdengar suara Oom Feliks menegur tante Deasy.

Mendengar teguran Oom Feliks , Diandra tersenyum,"Ndak apa-apa Oom, Diandra memang perlu banyak dibimbing oleh Oom, apalagi kita tinggal bersama."

"Diandra you are awesome!"Ujar tante Deasy , meraih tangan Deasy memberikan paperbag,"Ini hadiah dari tante untukmu, "

"Boleh saya buka?"

"Nanti di apartemen baru kamu unboxing!"Jawab tante Deasy dengan senyum misteri.

****

Oom Feliks menggandeng erat tangan Diandra ketika mereka memasuki lift khusus. Mereka tidak berbicara, sibuk dengan pikiran masing-masing , sesampai di kamar apartemen Diandra memandang seluruh isi kamar dengan takjub.

"Ini tempat tinggalku?"

"Tempat tinggal kita."Bisik Oom Feliks.

"Hanya kita berdua?"

"Huumm…,”

 Terdengar ponsel Oom Feliks berdering, melihat sekilas nama penelpon tapi diabaikan. Terdengar kembali dering ponselnya,"Siapa yang nelpon, kok daddy  tidak angkat?"

"Tante Deasy yang nelpon"

"Jawablah daddy, siapa tahu ada info penting."

"Baik, baby lihat-lihat kamar kita …mmm… bukalah kamar itu, itu kamar tidur kita….” Kata Oom Feliks lalu keluar membuka pintu penghubung ke balkon.

Diandra menuju ke arah yang ditunjuk Oom Feliks, membuka kamar tidur,”Ini kamar tidur kita? Kita? Oh.. aku tidur dengan daddy?”,  bisik Diandra lirih.

Jantungnya berdegub kencang, tubuhnya  bagaikan dialiri listrik merayap nikmat  di tubuhnya membuat Diandra menggeliat melihat ranjang  mewah ukuran besar terhampar di tengah ruangan tidur.

"Selera daddy  mewah.Aku  suka dengan selera kemewahannya. Aku bisa mendapatkan semua kemewahan yang tidak mungkin kudapat jika tinggal bersama mama. Humm.. , diusiaku ke tujuh belas, aku sudah dewasa  saatnya kami hidup bersama? Menurut tante Deasy kalau aku membuat Oom Feliks puas  sebagai imbalannya aku bisa hidup mewah.

Sugar daddy menuntut kepuasan, aku membutuhkan kasih sayang dan hidup mapan, bonusnya kemewahan. Aku bisa mendapatkan semua kemewahan yang tidak mungkin kudapat jika tinggal bersama mama.  Apakah aku materialis?

Haruskah aku menolaknya? No, aku tidak akan membiarkan piala kemewahan yang disodorkan kepadaku. Salahkah aku jika ingin  menikmati gaya hidup mewah yang disodorkan daddy kepadaku?” Bisik Diandra, membelai kasur berbalut bedcover warna putih gading. Di atas bercover ada dua angsa putih yang terbuat dari selimut dikelilingi bunga mawar berlogo love.

Diandra tersenyum,”Apakah yang kuinginkan terwujud malam ini? Mudah-mudahan mimpiku dapat terwujud,”bisiknya lalu menoleh ke arah pintu.

"Lama benar daddy menelpon."

Diandra perlahan keluar dari kamar tidur,  dari balik  tirai tipis dilihatnya bayangan Oom Feliks di keremangan lampu di balkon. Pintu menuju ke balkon tidak tertutup, terdengar suara bariton Oom Feliks.

 “Yeah, I want to sleep with her to night, aku belum bisa melakukannya sekarang. Diandra perlu waktu untuk beradaptasi.

"Kamu  khawatir aku melanggar perjanjian kita?”

“Baik besok aku akan transfer satu milyar, jika kami sudah melakukannya aku akan transfer sisanya."

"Apa?Pakai bunga keterlambatan?Kamu memang lintah...! Kamu jual anak sahabatmu demi memenuhi kemewahan hidupmu,"

DEGG!!

Diandra tersentak mendengar perkataan terakhir Oom Feliks.'Aku dijual tante Deasy?'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Simpanan Sang Miliarder   BAB 7. "APAKAH AKU SUDAH DEWASA?"

    Dua tahun di Jerman, Diandra berusaha menyimpan luka di hatinya, luka meninggalkan mamanya yang tidak peduli dirinya setelah tiga tahun meninggalkan rumah. Tidak pernah mamanya mencarinya atau sekedar menanyakan dirinya ke tante Deasy ,'Aku anak yang tidak diharapkan kehadirannya.Kalau aku tidak diharapkan mengapa aku dilahirkan?' batinnya. Kebaikan tante Deasy yang awalnya dikira kebaikan dari balik hatinya yang tulus menolongnya ternyata terbuka kedoknya.Diandra merasa terjebak di tempat yang salah. Tante Deasy adalah arsitek yang handal membuka pintu kelamnya menjadikan Diandra gadis muda merasa aman , tidak curiga dengan kepalsuan tante Deasy yang penuh pesona dan status sosialnya di kalangan elite.Tepat dihari ulang tahun ke tujuh belas, kepalsuan tante Deasy terkuak.Kepingan luka masa lampaunya merayap kembali kedalam mimpi-mimpi buruknya.Ulang tahun ke tujuh belas.“Sebelum meniup lilin sebaiknya make a wish dulu,” Ucap mbak Elvira.Diandra menunduk mengangkat kedua tanga

  • Gadis Simpanan Sang Miliarder   BAB 6. MENCINTAI DAN DICINTAI.

    Lima tahun kemudian. Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara, rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis dari gadis remaja polos yang tidak pernah merasakan kasih sayang menjadi remaja matang diusianya ke dua puluh, matang secara ekonomi, matang dalam berpikir serta matang secara biologis karena telah melakukan banyak hal yang biasanya dilakukan orang dewasa.Kasih sayang yang tidak pernah didapat dari mamanya, diperoleh dari Feliks yang dipanggilnya daddy. Tidak saja kasih sayang, curahan cinta dianggap Diandra bonus yang menjadi haknya sebagai manusia yang mendambakan kasih sayang yang sulit didapatkan, diperolehnya melampaui kasih sayang satu kesatuan penuh gairah cinta. Wajahnya terlihat lelah karena perjalanan yang panjang dari Jerman kembali ke Indonesia. Sudah dua tahun ia pergi ke Jerman

  • Gadis Simpanan Sang Miliarder   BAB 5. "WAKTUMU BELUM TIBA."

    “Wouww, tinggi banget!”Teriak Diandra begitu melihat bangunan apartemen yang terbentang di hadapan mereka ketika memasuki halaman bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke angkasa.“Mbak Elvi, ini namanya apartemen? Di sini kita tinggal? Kakiku bisa pegal kalau kita tinggal di atas.” Seru Diandra melihat dari balik kaca mobil.“Kamu tidak perlu naik tangga, ada lift.”“Aku sering dengar ,katanya berbentuk kotak yang bisa naik turun jika kita pencet tombolnya.”“Humm..”“Kita tinggal di lantai berapa?”“Lantai dua puluh lima.”“Apa? Wah..kita bisa melihat seluruh kota Jakarta?”“Humm..”Elvira turun dari mobil, “Ambil koper yang kecil. Yang besar biar pak Tikno yang bawa.”Perintah Elvira, lalu melenggang menuju ke lobbi apartemen, diikuti Diandra dari belakang, matanya menjelajah melihat sekitarnya, terasa indah dan menyenangkan.“Diandra kamu tunggu di sin!,” seru Elvira lalu menuju ke sebuah ruangan kecil bercakap-cakap dengan seorang pria yang menyambutnya dengan hormat.“Ayo, ki

  • Gadis Simpanan Sang Miliarder   BAB 4. “KENALKAN AKU ELVIRA, ASISTEN PRIBADIMU.”

    Kembali ke kamar tidurnya, Diandra tidak mampu tidur. Kejadian di ruang tamu menayang indah di pelupuk matanya , dipejamkan matanya kuat-kuat malah frekwensinya semakin tinggi.“Aku bisa gila.”Bisik Diandra, berbaring ke kanan, ke kiri , terlentang bahkan tertelungkup , lalu kembali berbaring terlentang, meraih bantal menutup mukanya dengan bantal. Tanpa Diandra sadar akhirnya ia bisa tertidur.Pintu kamar diketuk dari luar semula perlahan akhirnya ketukan semakin keras, disertai teriakan asisten rumah tangga tante Deasy,”Non, bangun, sudah siang!”Diandra terkaget-kaget, langsung meloncat dari tempat tidur,”Iya, aku mau mandi.” Kemudian berlari kecil ke kamar mandi.“Wah gawat, tayangan semalam membuat aku sulit tidur, “ bisik Diandra melepaskan seluruh bajunya langsung berdiri di bawah shower, mandi seadanya, menyambar handuk , mengeringkan tubuhnya sambil berjalan keluar kamar mandi. Seragam sekolah sudah terhampir di kursi, disabetnya , memakainya dengan tergesa-gesa, menyisir ra

  • Gadis Simpanan Sang Miliarder   BAB 3. PERSAHABATAN ANEH?

    "Bagaimana? Kamu suka steak nya?" tanya pria paruh baya sambil menatap Diandra memasukkan irisan steak ke mulut nya. "Hmm... enak. Diandra baru pertama makan daging sapi yang lumer di mulut," Tante Dessy dan pria paruh baya tersenyum melihat gaya Diandra , menurut mereka lucu melihat ekspresi wajahnya menguyah steak lalu dengan pisau meraih kentang goreng memasukkan ke mulutnya. "Pelan-pelan makannya, jangan tergesa-gesa," ucap Tante Dessy. "Diandra,kamu tetap akan stay di rumahnya Deasy?" tanya pria paruh baya sambil menatap Diandra lekat -lekat seakan tatapan matanya ingin menembus pikiran Diandra. "Maksud oom saya tinggal di rumahnya Tante Deasy?" Bukannya menjawab malah balik bertanya. "Hummm.. begitulah!" Diandra menoleh ke arah tante Deasy. "Mengapa kamu melihat ke tante?"Tanya tante Deasy. "Diandra tidak bisa jawab sebelum mendapatkan ijin dari Tante Deasy." "Hai, hai, bukankah kamu sudah tinggal di rumahnya tante?" "Saya tinggal selama lamanya atau hanya sementara

  • Gadis Simpanan Sang Miliarder   BAB 2. SIAPAKAH PRIA ITU?

    Tinggal di rumah tante Deasy , Diandra benar-benar dimanjakan. Pagi hari biasanya menyiapkan sarapan untuk dirinya, tidak berlaku sejak Diandra diterima di rumah tante Deasy. Diandra tinggal di rumah induk yang besar dan mewah, tidak seperti di rumahnya , rumah subsidi yang hanya terdiri dari dua kamar tidur, ruang tamu, dapur dan ruang makan jadi satu. Tidak ada perabot mewah semuanya sederhana bahkan kusam seperti penghuninya yang setiap hari berseteru.“Ndra. Pulang sekolah nanti tante jemput kamu.”“Tante akan kembalikanku ke rumah mama?”“Tidak sayang, semalam tante telepon mamamu, rupanya mamamu mabok. Tadi pagi tante telepon mengatakan kamu tinggal sama tante.”“Apa jawaban mama?”“Terserah maumu, katanya mamamu ia tidak peduli mengenai dirimu.”“Tante,saya juga tidak ingin kembali ke rumah. Setiap hari mama memarahiku tanpa Diandra tidak tahu apa salahku.”“Hum… mamamu banyak menyimpan luka.”“Mengapa tidak diobati lukanya, malah mau menyebarkan lukanya ke Diandra?”“Sudahla

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status