LOGINKembali ke kamar tidurnya, Diandra tidak mampu tidur. Kejadian di ruang tamu terbayang indah di pelupuk matanya , dipejamkan matanya kuat-kuat malah frekwensinya semakin tinggi.Pikiran liarnya bergerak diluar kendali, kepalanya dipenuhi tanda tanya, "Persahabatan? Apakah persahabatan pria dan wanita itu harus melakukan hal itu...?Hmmm.. kata yu Nem, permainan orang dewasa..." bisiknya.
“Aku bisa gila.”Bisik Diandra, berbaring ke kanan, ke kiri , terlentang bahkan tertelungkup , lalu kembali berbaring terlentang, meraih bantal menutup mukanya dengan bantal. Tanpa Diandra sadar akhirnya ia bisa tertidur. Pintu kamar diketuk dari luar semula perlahan akhirnya ketukan semakin keras, disertai teriakan asisten rumah tangga tante Deasy,”Non, bangun, sudah siang!” Diandra terkaget-kaget, langsung meloncat dari tempat tidur,”Iya, aku mau mandi.” Kemudian berlari kecil ke kamar mandi. “Wah gawat, tayangan semalam membuat aku sulit tidur, “ bisik Diandra melepaskan seluruh bajunya langsung berdiri di bawah shower, mandi seadanya, menyambar handuk , mengeringkan tubuhnya sambil berjalan keluar kamar mandi. Seragam sekolah sudah terhampir di kursi, disabetnya , memakainya dengan tergesa-gesa, menyisir rambutnya yang ikal, memoles wajahnya dengan pelembab lalu memberi sentuhan bedak tipis di wajahnya yang cantik. Setelah mematutkan dirinya, Diandra keluar kamar ditatap bibi dengan wajah sumringah,” Sudah jam delapan lebih, non terlambat deh ke sekolah, pintu pagarnya sudah ditutup.” “Apa, sudah jam delapan lebih, mengapa bibi tidak membangunkan…” “Sudah saya ketuk, dari pelan sampai digedor. Kalau saya tidak gedor non tidak bangun.” “Ishh!”gerutu Diandra, “Tante Deasy pasti marah kalau aku tidak sekolah.” Bibi ingin menjawabnya, ditundanya karena terdengar langkah sepatu bertumit tinggi memasuki ruang tamu. Refleks bibi dan Diandra menoleh ke ruang tamu.”Selamat pagi, hari ini hari baik.” “Selamat pagi mbak Elvira, tumben datang pagi-pagi.” Wanita tinggi semampai, dengan potonan rambut bodol gaya Pixie cut, menuju ke arah Diandra yang menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman karena disamping cantik ada aura hangat di wajahnya yang bulat. “Diandra?”Tanya wanita itu sambil menatap Diandra yang masih terkagum-kagum. Diandra hanya mengangguk. “Perkenalkan, saya Elvira. Saya akan menjadi asisten pribadimu.” Katanya sambil mengulurkan tangannya. “Asisten pribadi?”Tanya Diandra, lalu menyambut tangan yang terulur ke arahnya. “Yeah! Kamu ada, aku ada. Aku adalah bayanganmu.” Diandra melihat jari lentik Asisten pribadinya, dijari manisnya bertengger cincin berlian solitaire kecil, jempolnya ada cincin putih. Diandra tersenyum , membatin,’Jempol kok dipakaikan cincin.” “Oh ya,” Kata Elvira, membuka tas selempangnya , mengeluarkan kotak diserahkan ke Diandra. “Ini hape untukmu. Hapemu sudah ketinggalan jaman. Dibuang saja!” “Mbak kasih hape ini buat saya?”Tanya Diandra hanya menatap hape yang dipegang Elvira. “Mana mungkin saya bisa beli, harganya selangit. Ini pemberian Oom Feliks untukmu. Semalam dia telepon suruh saya beli dan bawakan pagi ini. Nih, ambil jangan bengong saja!” Diandra mengambil kotak hape yang disodorkan Elvira, mencium kotak hape, membaca mereknya. Merek terkenal dan fitur terbaru,”Terima kasih mbak Elvira.” “Hai, ucapan terima kasihmu nanti kamu sampaikan ke Oom Feliks.” “Oya bik, tante Deasy sudah bangun?” “Belum mbak, masih di kamar.” “Bangunin, aku…Oh ya, dik Diandra kamu tidak sekolah hari ini. Pagi ini kita harus berkemas pindah…” “Saya terlambat bangun. Kita pindahan sekarang mbak?” “Kamu tahu kita akan pindah ke apartemen milik Oom Feliks?” “Hum, semalam Oom bilang aku akan tinggal di apartemen. Sebenarnya aku lebih senang tinggal di sini.” “Hush! Kamu jangan lawan Oom Feliks, turuti apa maunya, kamu akan diservis baik-baik. Apa saja permintaanmu pasti dipenuhi.” “Bik, apa menu sarapan pagi ini?Aku belum sarapan.” “Ada roti, omelet dan nasi goreng” “Dik Diandra kamu sudah sarapan?” “Belum.Non Diandra bangunnya kesiangan, sudah terlambat ke sekolah.” “Aku hari ini mbolos ya mbak.” “Boleh dikatakan demikian. Kalau urusan pindahanmu selesai kamu baru bisa masuk.”Kata Elvira sambil menuju meja makan, diikuti bibik mengambil piring tambahan untuk Elvira. “Katanya Oom Feliks saya dipindahkan ke sekolah yang bergengsi.”Tanya Diandra. “Hum.” “Mbak, apakah saya harus pindah ke apartemen?” “Kamu harus jauh dari tempat tinggal lamamu karenanya kamu juga harus pindah sekolah.Mbak tidak tahu mengapa, itu instruksi Oom Feliks dan tante Deasy.” “Saya tinggal di apartemen tidak sendiri?” “Mbak akan menemanimu.” “Selamat pagi.”Terdengar suara tante Deasy dan Oom Feliks keluar dari kamar,disambut Elvira dengan tersenyum. “Wah, tante dan Oom terlihat segar.” “Bi, tolong buatkan kopi hitam dua, buat tuan Feliks dan saya.” “Diandra, kamu sudah kenalan dengan asiten pribadimu?”Tanya tante Deasy. “Sudah tante, katanya pagi ini saya akan pindah ke apartemen.” “Vira, apakah apartemenku sudah steril?” “Sudah Oom.Pokoknya beres, Diandra tinggal masuk bawa koper saja.” “Saya.. tidak punya koper. Saya.. hanya bawa tas ransel.” Mendengar ucapan Diandra, tante Deasy, Oom Feliks dan Elvira tertawa terbahak-bahak. “Dik Diandra, berarti kamu minta dibelikan koper?” Tanya Elvira dengan nada menggoda. “Oh.. tidak… tidak!”Seru Diandra sambil menggoyangkan kedua tangannya sebagai isyarat menolak ucapan Elvira. “Kamu sudah tahu kok bertanya. Belikan Diandra koper,”ujar Oom Feliks. “Maaf Oom….” “Sudah! Diandra kamu tinggalkan semua baju lamamu. Baju yang kemarin dibeli itu yang kamu bawa.Lihat tuh seragam sekolahmu sudah kusam, “Ujar tante Deasy. “Vira, disamping beli koper, belikan Diandra baju rumahan. Jangan yang murahan, beli yang bermerek,” “Beres Oom!” “Kartu yang Oom kasih masih cukup saldonya?” “Boleh ditambah lagi Oom?”Tanya Elvira sambil mengerling manja. “Nanti Oom transfer.” Diandra memandang Oom Feliks , tante Deasy dan Elvira yang terlihat berbicara tanpa beban. Ada keceriaan, tidak seperti di rumahnya. ‘Mama kalau tidak mabok, marah-marah, uring-uringan dan selalu berbicara dengan nada keras bahkan ancaman,kata-kata ,”Kau seharusnya tidak dilahirkan! Keinginan dan cita-citaku berantakan! “ Itu selalu keluar dari mulut mama. Apakah aku minta dilahirkan? Kalau mama tidak menginginkanku menapa tidak gugurkan saja kandungannya. Mama telah menciptakan neraka kecil di hidupku.’Batin Diandra, tidak sengaja air matanya menetes ke pipinya. “Diandra?” “Oh..maaf.” “Kamu menangis?”Tanya tante Deasy. “Saya ingat mama…” “Kamu mau kembali ke rumah mamamu?”Tanya tante Deasy , menahan napas dengan harapan Diandra menolak kembali ke rumahnya. “Tidak tante.Saya tidak mau kembali ke rumah.Jika saya ikut tante, bisakah setelah tamat SMA saya kuliah?” “Mengapa tidak?! Bukankah kamu ingin jadi desainer perhiasan?" Kata Oom Feliks. “Iya Oom, saya ingin jadi desainer perhiasan.” "Apakah itu keinginan mamamu?”Tanya tante Deasy. “Tidak tante, mama tidak pernah tanya apa cita-cita atau keinginanku.Diandra pernah melihat kertas desain perhiasan yang mama buat, lalu mama robek. Diandra ambil, menurut Diandra keren banget kalau bisa membuat desain perhiasan, apalagi jika desain itu menjadi perhiasan betulan.” “Apakah mamamu seorang desainer perhiasan?”Tanya Elvira. Diandra menggelengkan kepalanya. “Lalu mengapa mamamu…” “Elvira jangan kamu mendesak ingin mengetahui apa pekerjaan mamanya Diandra.” Tegur Oom Feliks. “Mamaku pengangguran, tidak bekerja.” “Ayahmu?” “Elvira cukup!”Teriak tante Deasy. “Oh, maaf. Sebagai asisten pribadinya aku harus mengetahui latar belakang…” “Cukup kamu mendampinginya, mengajarnya cara merawat diri dan memenuhi semua kebutuhannya.”Tegas Oom Feliks menatap tajam Elvira yang langsung diam, membungkukkan badannya tanda menerima perintah Oom Feliks.Diandra serius menatap sketsa, rambutnya yang ikal sebagian terjuntai ke depan sebagian diikat terjuntai di bahunya. Tali satu daster pendek keluar dari bahunya, memamerkan kedua bukit kembar nya yang montok. "Dia tambah montok," bisik Feliks mengalihkan matanya dari laptop ke Diandra yang sedang sibuk di meja gambar membuat sketsa kalung pesanan salah satu konglomerat.Selama ini Feliks hanya mampu memandang tubuh indah Diandra, terutama kedua bukit kembarnya yang berisi ASI semakin membesar dan padat. Dipandangnya paha mulus , putih dibalik daster pendek terlihat menggiurkan di mata Feliks .Feliks memejamkan mata untuk beberapa saat, ingin merekam dalam benaknya lalu membuka matanya kembali menatap Diandra, entah merasakan ada yang menatapnya,Diandra menoleh ke arah Feliks tersenyum kecil. Diandra menggerakkan bibir nya,'Mengapa menatap ku?' tanyanya. "Kamu cantik." bisik Feliks menahan hasratnya. Diandra melepaskan pensil nya, menurunkan tali dasternya ,menampakkan sebag
Saatnya pulang ke rumah setelah seminggu di rumah sakit ibu dan anak. Kedatangan Diandra bersama Fedra Aurora Kartamihardo disambut meriah di penthouse. Rieke dan Hafid dibantu mbak Kinasih mengatur kesemuanya dari dekor sampai menu makanan. Mama Fiona dan papa Feliknor datang dari Dubai membawa boneka lucu, demikian juga Opa Jayden, oma Jessika ,oom Farrel dan tante Faye membawa anak -anak mereka. Penthouse penuh dengan gelak tawa jerit gembira anak -anak ketika Feliks membagi angpao,amplop merah berisi uang yang diberikan sebagai hadiah atas kelahiran bayi perempuan yang sangat didambakan oleh Feliks Semua yang menerima angpao menjerit kecil ketika mengintip isi angpao.. Rieke,Hafid berbisik -bisik ketika mengintip isi angpao. Diandra tersenyum ketika Rieke mengulurkan tangannya meminta angpao. Tidak lama angpao ditangan Hafid beralih ke dalam tas Rieke. Dengan gerakan bibir, Rieke menyatakan,'menabung persiapan nikah.'Diandra tersenyum kecil sambil mengacungkan jempol nya. Riek
Suatu kebahagiaan bagi Diandra ,Feliks mengantarnya ke rumah sakit untuk pemeriksaan usia kehamilan Diandra. Sewaktu mengandung baby boy setiap kontrol kehamilan dan tinggal sendiri di Jerman dalam cuaca dingin juga sewaktu berjuang melahirkan tidak ada yang menemaninya. Untung nya keramahan dan perhatian dokter serta perawat menghibur hatinya karena mereka tahu Diandra adalah seorang ibu tunggal. Bukan saja perhatian beberapa perawat bergantian memberi hadiah pakaian bayi buat baby boy setiap pergantian musim . Ditatapnya Feliks ketika dokter menyatakan bahwa Diandra positif hamil , kebahagiaan nampak di wajah nya, tidak ada aura dingin datar dan arogan wajah penuh kebahagiaan terpancar di wajahnya menambah ketampanannya. "Dari hasil USG, istri bapak hamil memasuki minggu kedua belas. Anak pertama?" tanya dokter muda yang menangani Diandra. "Anak kedua," "Hum.. para suami biasanya mengantar isterinya untuk kehamilan pertama, ternyata bapak masih setia mengantar untuk mengecek keh
Sinar mentari pagi menerobos tirai jendela kamar tidur utama di penthouse, Diandra yang tertidur pulas merasakan sesuatu menerpa wajahnya, "Oh aku ketiduran," bisiknya. Tangannya meraih ,mencari tubuh yang semalam membuatnya liar tak mampu mengendalikan dirinya pada fantasi liar mereka. Merasa bahwa tubuh yang dicarinya tidak ada, Diandra berbalik,"Ia sudah bangun?" bisiknya mencari ponselnya,"Apa? sudah jam sepuluh lewat?" Dihubunginya asisten RT,"Bapak sudah sarapan?" tanyanya. "Oh. Sudah ke kantor? Mmm... baik., terimakasih mbak Astri." Dengan menggerutu dihubunginya nomor, tertera,my cherish,Mengapa kamu tidak bangunin aku?" Feliks yang sedang mempelajari beberapa berkas untuk ditandatangani, meraih ponselnya yang berdering, membaca log panggilan senyum terukir di bibirnya. Diandra:["Mengapa kamu tidak bangunin aku?"] Feliks:["Nelpon itu yang sopan, bilang selamat pagi babe, langsung nyap nyap ."] Diandra:["Aku kaget, ternyata tidurku lama banget."] Feliks:["Aku tidak sa
Melihat Diandra berbaring di sofa cinta warna putih,kontras dengan tubuhnya berbalut bra dan cd merah maroon dengan pose menggoda mengangkat salah satu kaki jenjangnya membuat Feliks langsung kalap mata melihat pose yang menggiurkan . Dada Feliks bergejolak , jantung nya berdebar kencang tidak dapat berpikir jernih melihat pemandangan yang menggugah hasratnya ditambah lagi suara serak Diandra penuh hasrat. "Tuan... puaskan aku...hhh..." Lidah, bibir, jemari mereka membelai, menghisap , merayap mencari titik nikmat ingin saling memberi kenikmatan menimbulkan desahan, erangan, gumaman disertai nafas memburu kenikmatan yang selalu mereka dambakan. Sofa cinta membantu mereka menentukan posisi favorit . Diandra paling suka berada di tengah kursi menurutnya sangat menantang melakukan berbagai pose sensual dalam mengejar puncak kenikmatan . Setelah puas bermain-main di sofa cinta tanpa melepaskan miliknya Feliks menggendong Diandra masuk ke kamar tidur meneruskan permainan cinta mereka
Jam tujuh malam , Feliks menjemput Diandra ,"Apakah aku harus pakai gaun?" "Tidak, cukup pakai baju keluar yang biasa saja." "Babe betul tidak ada pertemuan keluarga?" "Tidak, hanya kita berdua seperti yang aku katakan di telepon tadi " "Bisakah aku mewujudkan harapan mu?" tanya Diandra dengan nada rendah,ada rasa tidak percaya diri. "Kamu bisa. Kamu pernah membelaku ketika keluarga toxic menghinaku.. Diandra tidak mengatakan apa-apa, mengikuti saja apa yang telah diputuskan Feliks, sambil Feliks mandi, Diandra mempersiapkan dirinya, memakai makeup tipis, baju panjang dengan tali satu lalu membalutnya dengan cardigan tipis menambah keindahan leher dan bahunya, mengikat rambut ikalnya dengan gelang mutiara kecil. Setelahnya, Diandra mematutkan dirinya di cermin, " Kesan pertama sebagai istri Feliks aku harus tampil memukau di hadapan para staf rumah besar,"bisiknya lirih. Feliks keluar dari kamar mandi melihat istrinya sedang mematutkan dirinya sejenak terpesona menatap Diandra
Dua tahun di Jerman, Diandra berusaha menyimpan luka di hatinya, luka meninggalkan mamanya yang tidak peduli dirinya setelah tiga tahun meninggalkan rumah. Tidak pernah mamanya mencarinya atau sekedar menanyakan dirinya ke tante Deasy ,'Aku anak yang tidak diharapkan kehadirannya.Kalau aku tidak dih
Dua tahun kemudian. Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara Soetta,rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis da
“Wouww, tinggi banget!”Teriak Diandra begitu melihat bangunan apartemen yang terbentang di hadapan mereka ketika memasuki halaman bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke angkasa. “Mbak Elvi, ini namanya apartemen? Di sini kita tinggal? Kakiku bisa pegal kalau kita tinggal di atas.” Seru Diand
"Bagaimana? Kamu suka steak nya?" tanya pria itu sambil menatap Diandra memasukkan irisan steak ke mulut nya. "Hmm... enak. Diandra baru pertama makan daging sapi yang lumer di mulut," Tante Dessy dan pria itu tersenyum melihat gaya Diandra , menurut mereka lucu melihat ekspresi wajahnya menguy







