MasukSedang makan siang pintu diketuk,mbak Kinasih membuka pintu, terpaku di depan pintu setelah sadar berusaha untuk menutup kembali Tangan besar dan kokoh menahannya dan dengan percaya diri masuk ke dalam kamar ditatap Diandra dengan wajah tidak senang. Baby boy yang sedang makan, langsung meninggalkan piring makan, berdiri di dekat kursi Diandra,"Jangan ganggu mommy!" Feliks tersenyum kecil melihat tingkah baby boy,"Nak, selesaikan makan mu." "Opa ahat, baby tidak suka!" "Baby boy, duduk kembali ditempat mu dan selesaikan makan mu !" Perintah Diandra. "Baby boy jaga mommy," "Sayang, mommy tidak apa-apa,opa datang untuk melihat apakah kita suka makanan yang telah dipesan oleh opa." Ujar Diandra "Baby boy suka makanan yang opa pesan?" tanya Feliks. Bukannya menjawab pertanyaan Feliks malah menatap dengan tatapan polos khas seorang anak kecil,"Opa jangan ahat sama mommy." "Opa janji akan baik -baik sama mommy baby boy," "Janji?" "Hemm, janji," jawab Feliks lalu men
Diandra tidak mampu bergerak, mundur tidak mungkin Diandra terjebak antara dinding dan tubuh Feliks ,sedikit saja dia bergerak tubuhnya dan tubuh Feliks bisa bersentuhan. Diandra tahu apa yang akan terjadi. Hanya mampu menatap sepasang mata Feliks yang menatapnya penuh rindu,"Aku merindukan mu," bisik Feliks lirih disertai nafasnya berembus di telinga Diandra. Diandra mengepalkan tangannya kuat-kuat,"Aku... tidak merindukanmu,"bisik Diandra tepat di wajah Feliks. Feliks tersenyum kecil melihat tingkah Diandra.Tanpa disadarinya Diandra dengan kekuatan penuh mendorong dirinya, Feliks sedikit goyah ,para bodyguard langsung berjaga di belakang tubuh Feliks. Feliks mengangkat satu tangannya seolah-olah mengatakan tidak apa-apa dan tanpa Diandra sadari Feliks mengangkat tubuh Diandra langsung menggendongnya ala bridal style masuk ke dalam kamar yang langsung tertutup. "Jangan ambil mommy ku !" teriak baby boy langsung berlari -lari ke arah pintu menggedor-gedor dan menendang kaki
Sambil makan burger dan cream sup, pikiran Diandra menerawang jauh,'Aku harus cari akal seandainya kami berpapasan dia tidak mengenal kami. ' Tiba-tiba Diandra teringat sesuatu, dibukanya tas jinjing, mencari, bernafas lega,'Ada,' batinnya dihitungnya sisa empat. 'Kalau baby boy dan mbak Kinasih mungkin mereka tidak kenal,tapi diriku? Hoody penyamar yang sempurna,'batin Diandra. "Mbak, tolong jaga baby boy ada yang ibu lupa, sebentar saja. Tunggu di sini jangan kemana-mana." "Baik Bu," "Baby, kamu jangan kemana-mana, dengar sama mbak Kinasih. Mama ada perlunya sebentar." Pesan Diandra wanti-wanti ke baby boy. Baby boy yang sibuk makan ayam goreng kesukaannya hanya mengangguk, Diandra tersenyum melihat gaya makannya, teringat seseorang yang tadi dilihatnya. Cepat-cepat meninggalkan gerai makanan kembali ke gerai pakaian. "Ada yang bisa dibantu ?"Sapa pramu dengan sapaan yang mungkin telah beribu-ribu kali diucapkan lalu memasang senyum profesionalnya. "Saya mencari switer
Diandra terbangun, betapa kagetnya melihat dirinya ada di kursi cinta.'Hum, aku tertidur dengan tubuh telanjang, untung masih subuh,' batin Diandra. Mematikan lampu dan jakuzi , membungkus tubuhnya dengan handuk menuju ke kamar tidur. Seluruh tubuhnya, terpantul di keempat dinding bahkan di plafon, Diandra melepaskan handuknya menatap tubuhnya yang terlihat lebih montok , buah dadanya yang berdiri tegak, pinggulnya yang bulat, lalu menggeraikan rambut panjang ikalnya.Keseluruhan tubuh Diandra nampak menggoda di dinding kaca, Diandra mengagumi tubuhnya, 'Aku bangga akan tubuhku, baik Feliks dan Mike selalu mengagumi tubuhku,'bisiknya sambil memperagakan beberapa pose bagaikan model majalah dewasa, memasang senyum nakal di bibirnya yang kemerahan.Diandra mengganti senyum, tersenyum manis penuh kehangatan ,"Ini senyuman asliku, yang selama ini aku sembunyikan hanya Mike yang pernah melihatnya jika aku tersenyum penuh kepuasan. Hum... tidak! Feliks juga, tapi setelah menjadi Ferdy Mihard
Menjelang subuh mereka masuk kota Jakarta Selatan langsung menuju ke hotel disambut oleh bell boy mengurus barang bawaan Diandra yang langsung menuju ke counter resepsionis menunjukkan ponselnya. "Miss Diandra Putri Fiona, silahkan ke kamar 2202," Ujar resepsionis pria memberikan kartu . "Kartu kamar dan lift."Ujar nya sambil tersenyum. "Terima kasih," Diandra masuk kedalam, membuka pintu penghubung,"Mbak Kinasih tidur sama baby boy disini ya. Ibu tidur di kamar satunya. Ibu ingin sendiri." Mbak Kinasih mengangguk. "Kalau mau minum atau Snack buka saja kulkas,"ujar Diandra lalu menunjuk ke arah kulkas kecil. "Kamu istirahat, tidak perlu bangun pagi-pagi, nanti sarapan nya ibu minta di antar ke kamar," "Baik Bu,ibu juga istirahat,ibu terlihat capek banget." Diandra tersenyum mendengar ucapan tulus dari mbak Kinasih, "Terima kasih, selamat beristirahat." Diandra menuju ke pintu penghubung, menutup dengan perlahan-lahan , meletakkan tas jinjing di sofa langsung membaringkan tub
Selama perjalanan ponsel Diandra berdering terus, Rieke menelponnya beberapa kali. Akhirnya Diandra tidak sampai hati, mengangkat ponselnya,"Hallo," Rieke: ["Kamu jahat, kenapa kamu resign mendadak?]" Diandra:["Aku capek menghadapi pak Mihardo."] Rieke: ["Aku pernah katakan kalau kamu resign saya juga akan resign."] Diandra: ["Ini masalahku,aku tidak ingin melibatkan kamu untuk resign. Kamu...."] Rieke:["Kamu sekarang dimana?"] Diandra:["Aku dalam perjalanan ke Jakarta"] Rieke:["Apa?Kamu memang jahat!Kamu biarkan aku sendiri disini."] Diandra:[" Ini kesempatan terbaik untuk kamu sebagai desainer perhiasan. Tunjukkan dirimu kamu bisa, jangan hanya jadi bayangan aku. Apa yang aku buat,kemana aku pergi kamu selalu jadi bayangan aku. Jadilah dirimu!"] Rieke:["Aku tidak ingin jadi partner Gracela, bisa -bisa aku dijadikan tumbalnya." Diandra:["Mumpung Gracela sedang cuti,kamu tunjukkan dirimu kepada pak Mihardo,kamu desainer yang bisa diandalkan."] Rieke:['Lalu. kalau
Tinggal di rumah tante Deasy , Diandra benar-benar dimanjakan. Pagi hari biasanya menyiapkan sarapan untuk dirinya, tidak berlaku sejak Diandra diterima di rumah tante Deasy. Diandra tinggal di rumah induk yang besar dan mewah, tidak seperti di rumahnya , rumah subsidi yang hanya terdiri dari dua ka
Pertanyaan itu selalu menggelayut di pikiran Diandra. Mengapa aku dilahirkan? Mengapa mama membenciku, apakah salahku ?Setiap aku berbuat kesalahan segala sumpah serapah keluar dari mulut mama. Tiada hari tanpa ada cinta, tak ada senyum yang ada hanyalah muka datar, dingin ,bibir tipis mengurat kua
Dua tahun di Jerman, Diandra berusaha menyimpan luka di hatinya, luka meninggalkan mamanya yang tidak peduli dirinya setelah tiga tahun meninggalkan rumah. Tidak pernah mamanya mencarinya atau sekedar menanyakan dirinya ke tante Deasy ,'Aku anak yang tidak diharapkan kehadirannya.Kalau aku tidak dih
Dua tahun kemudian. Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara Soetta,rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis da







