Beranda / Mafia / Gadis Tawanan Mafia / Bab 2. Panggung Neraka

Share

Bab 2. Panggung Neraka

Penulis: Ray Moon
last update Tanggal publikasi: 2026-07-03 20:18:29

"Tidak! Aku tidak mau!" teriak Lisa sambil menangis. 

"Untuk apa kamu menangis, percuma!" Matilda menepuk bahu Lisa mencoba menenangkannya. "Sudah, lebih baik kamu bersiap. Tugas kita masih panjang, jadi hemat energimu. Nanti kalau Adam menyuruhmu tampil, mau tidak mau kamu harus siap."

Lisa menghela napas frustasi. Perkataan Matilda sedikit membuatnya tenang meskipun ia tahu ini baru permulaan.

Malam itu, tubuh Lisa gemetar hebat di samping Matilda di dalam kamar berukuran 5 x 5 meter. Pikirannya melayang-layang, bingung memikirkan alasan mengapa ia bisa terdampar di tempat ini.

"Menarilah untukku, atau akan kutunjukkan seperti apa neraka yang sesungguhnya." Ancaman kejam Adam terus terngiang di kepala Lisa.

Suara musik klub malam yang keras bergetar menembus dinding kamarnya dan terasa sangat menyesakkan. 

Saat matanya bersiap untuk tidur, tiba-tiba….

"Siapkan gadis itu! Aku mau lihat dia menari sekarang juga!" Suara Adam menggelegar dari lorong.

Matilda panik. Wajahnya pucat saat melihat Lisa yang masih terpaku di tepi kasur. 

Dengan tangan gemetar, Matilda buru-buru mendandani Lisa. Ia memasangkan syal bulu merah muda di leher dan menyematkan mahkota mainan di kepala Lisa untuk menutupi memar kebiruan akibat penculikan kemarin.

"Cepat! Jangan buat dia menunggu kalau kamu tidak mau dipukul lebih parah," bisik Matilda panik sambil menyisir rambut kusut Lisa.

"Aku tidak bisa, Matilda... ini menjijikkan. Aku merasa seperti tontonan," tangis Lisa pecah hingga merusak riasan tebal di wajahnya.

Matilda mencengkeram bahu Lisa dengan erat. "Kamu mau mati malam ini? Kalau mau hidup sampai besok, lakukan persis seperti perintah Adam! Buang gengsimu! Mengerti?!"

Lisa terpaksa mengangguk. Ia memaksakan kakinya yang lecet memakai sepatu hak tinggi. Langkahnya goyah saat berjalan menuju tepi panggung.

Begitu tirai dibuka, lampu sorot langsung menerangi matanya. Lisa melangkah dengan goyah mendekati tiang besi di tengah panggung. Tubuhnya mendadak kaku saat ia melihat ke arah area VIP tengah.

Di sana, Adam duduk di sofa utama dengan kaki disilangkan sambil memegang gelas wiski mahal. Matanya menatap Lisa tanpa berkedip, menunggu tawanan barunya itu tampil.

"A-apa yang harus kulakukan?" bisik Lisa lirih ke arah samping panggung.

"Matilda! Ajari dia cara bergerak!" bentak Adam dari sofa VIP.

Matilda segera berlari kecil ke samping Lisa. "Ikuti gerakanku, Lisa. Jangan lihat dia, lihat aku saja."

Matilda mulai meliukkan tubuhnya pada tiang besi dengan gerakan sensual.

Melihat itu, Lisa merasa sangat mual. Ia tidak percaya hidupnya hancur dalam semalam dan harus memakai pakaian minim di klub ini. 

Saat Lisa menatap Adam dengan penuh dendam, Matilda menggelengkan kepala dengan panik, memohon Lisa mengikuti perintahnya.

Namun, Lisa tetap diam berdiri. Ia menolak patuh. Melihat pembangkangan itu, amarah Adam langsung meledak.

Prang!

Gelas wiski di tangan Adam dilempar dan hancur berantakan tepat di depan kaki Lisa. Serpihan kaca tajam menggores pergelangan kakinya hingga berdarah.

"Menari sekarang, atau kubuat kamu menyesal karena telah terlahir ke dunia!" raung Adam sambil bangkit berdiri.

Kejadian itu menghancurkan sisa keberanian Lisa. 

Rasa takut yang luar biasa membuatnya menyerah. Sambil menangis terisak, ia akhirnya memaksa tubuhnya yang sakit untuk mulai bergerak canggung pada tiang besi meniru gerakan Matilda. Setiap gerakan terasa sangat menyiksa batinnya.

"Nah, begitu. Ternyata kamu bisa patuh kalau nyawamu terancam," kata Adam puas sambil berjalan mendekati tepi panggung.

Dengan kasar, Adam menarik pergelangan tangan Lisa dan memaksanya menunduk.

"Tonjolkan dadamu saat bergerak nanti," bisik Adam dengan suara berat. "Aku tidak mau tamu-tamu kayaku kecewa saat kamu mulai bekerja minggu depan. Kamu itu investasi uang bagiku, Lisa. Bertindaklah seperti itu."

Matilda mengangguk patuh dari belakang, memberi isyarat ia yang akan memastikan hal itu terjadi.

Adam menghempaskan tangan Lisa begitu saja, lalu beralih menatap Matilda. "Mulai hari ini, beri dia porsi makan dua kali lipat. Dia terlalu kurus untuk jadi bintang utama di klubku. Aku mau Klub Kurara penuh sesak karena dia. Kalau dia gagal, kamu yang akan menerima akibatnya."

"Baik, Tuan Adam. Saya sendiri yang akan mengurusnya," jawab Matilda sambil membungkuk dalam.

Tanpa membuang waktu, Matilda langsung merangkul bahu Lisa yang gemetar dan membimbingnya keluar dari panggung menuju kamar belakang.

Begitu pintu kamar dikunci dari luar, Lisa langsung lemas dan terduduk di lantai beton. 

Rasa jijik yang mendalam terhadap tubuhnya sendiri membuat Lisa ingin membersihkan diri dari tatapan Adam. Ia meringkuk memeluk lututnya sambil menangis sejadi-jadinya.

"Menangis tidak akan mengubah apa pun, Sayang. Ini kenyataan," ujar Matilda lembut sambil melepaskan mahkota mainan dari kepala Lisa. "Kamu harus patuh. Kalau tidak, Adam punya banyak cara lain untuk menyiksamu."

"Dia... dia menindihku di sofa itu semalam, Matilda..." bisik Lisa lirih dengan suara serak akibat trauma. "Aku merasa sangat kotor. Bagaimana aku bisa hidup seperti ini?"

Matilda menghembuskan napas panjang dan menatap kosong ke arah dinding kamar yang rusak, teringat masa-masa awalnya saat baru terkurung di tempat ini.

"Hapus air matamu... semua wanita di tempat ini melewati hal yang sama di awal," kata Matilda datar, membuat Lisa merinding. "Jangan rendahkan dirimu sendiri. Kamu tidak sendirian di sini. Sekarang, tidurlah. Besok, pekerjaan yang sesungguhnya baru dimulai, dan kita harus tampil secantik mungkin di depan pria-pria kaya itu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Merri
Adam jahat ih
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 48. Akhir Kisah Lisa

    “Bagus sekali,” bisik Adam sambil tersenyum lebar mendengar kesepakatan Lisa atas idenya. Tanpa membuang waktu, ia memimpin Lisa menuju ruangan VIP tertutup, diikuti oleh sekumpulan pria kaya yang rela merogoh kocek sangat dalam demi menyaksikan aksi liar sang penari.Di dalam ruangan berlampu remang itu, dentuman musik bertempo lambat mulai mengalun. Lisa melangkah ke tengah ruangan dengan tatapan mata yang begitu tajam dan menggoda. Dengan riasan serba hitam yang menyeramkan sekaligus memikat, setiap liukan tubuhnya malam itu terasa mematikan. Ia menari bagai iblis yang sedang merayakan kebebasan. Setiap gerakannya membius semua mata, namun tak seorang pun diizinkan menyentuhnya. Lisa menari bukan lagi untuk menyenangkan orang lain, melainkan untuk menegaskan kekuasaannya di atas panggung itu.Usai pertunjukan eksklusif yang membuahkan tumpukan uang bagi Kurara, Adam menghampiri Lisa di ruang belakang. Matanya berbinar melihat keuntungan besar yang baru saja diraupnya."Kamu luar

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 47. Memulai aksi Baru

    “Dia pikir aku pulang tanpa rencana,” kekeh Lisa lalu melangkah meninggalkan Matilda yang masih menatapnya dengan sinis.Lisa memang kembali ke Kurara, tapi tidak dengan wajahnya yang dulu. Sesampainya di ruang make-up, dia segera berhias, tapi tidak sebagai gadis penurut seperti yang sudah pernah ditunjukkannya. Di sana Lisa menggambar wajahnya sebagai iblis.Dengan makeup serba hitam, dia mulai terlihat begitu mempesona hingga Adam yang tak sengaja melintas berdecak kagum melihat penampilan Lisa yang baru.“Wah! Kamu sangat cantik,” ucap Adam sambil menepuk tangannya.“Adam, sejak kapan kamu di sana?” tanya Lisa dengan tatapan mata yang tajam tapi mempesona.“Kamu benar-benar luar biasa, Lisa,” ulang Adam sambil meraba dadanya yang berdegup kencang.“Kamu suka?”“Ya, sangat suka. Kamu harus ke kamarku malam ini dan kita harus membakar lagi cinta lama kita yang sudah padam.”Lisa tak menjawab. Dia hanya meninggikan alisnya, mengetahui pria ini mulai berbirahi melihat penampilan baru

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 46. Kembali Ke Kurara

    “Injak gas. Kita harus lepas dari pengawasan mereka!” perintah Adam membuat supirnya segera melaju membelah jalanan sepi itu.Lisa terus menatap ke arah Mikail yang mengejar mobil Adam dengan tatapan dingin. Dia seakan tau isi kepala pria yang merupakan ayahnya itu. “Aku rasa dia memang benar-benar gila!” ketus Lisa saat mobil yang dia kendarai hampir ditabrak MIkail.“Harusnya kamu ikut dia saja,” kekeh Adam sambil menggelengkan kepalanya.“Tidak mau! Dia memang pria jahat. Kalau dia baik, tidak mungkin kalau sia sampai meninggalkan ibuku seorang diri!”“OH! Aku tidak tahu cerita itu. Aku turut prihatin mengetahuinya,” tutur Adam sambil menghentikan tawanya.Lisa lalu mengingat lagi apa saja yang dilakukan Mikail selama ini padanya. Dia bahkan harus berkali-kali mencari pekerjaan saat masih duduk di bangku sekolah demi sesuap nasi untuknya dan sang ibu padahal di luaran sana semua orang selalu berkata kalau Mikail, ayah Lisa adalah orang yang kaya raya.Mobil Mikail dan Viktor saling

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 45. Mengejar Cinta Lisa

    “Aku memilih…” Lisa terdiam lalu memutar wajahnya ke arah Mikail."Lisa..." panggil Mikail lembut memohon agar Lisa memilihnya.Namun, panggilan itu seolah tak menyentuh hatinya. Lisa justru menoleh ke arah Slatan, pria berbaju dokter yang berdiri tak jauh dari mereka. Wajah Slatan begitu tampan, matanya memancarkan kecemasan yang tulus. Tetapi bagi Lisa, pria itu tetaplah orang asing. Kehadiran Slatan terlalu terlambat untuk menyembuhkan luka yang sudah terlanjur menganga.Setelah memandangi Mikail dan Slatan, kepala Lisa perlahan menoleh ke arah Adam. Pria yang selama ini menjadi sumber dari trauma terbesarnya, sekaligus pria yang menanamkan rasa cinta yang beracun di jiwanya. Perlahan namun pasti, kaki Lisa melangkah mendekati sosok tinggi besar itu.Melihat langkah Lisa, senyum licik perlahan melebar di wajah Adam."Aku memilih Adam," bisik Lisa dingin, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Adam sebelum merengkuh tubuh pria itu."Tidak!" teriak Mikail begitu lantang, suaranya pe

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 44. Adam Kembali

    "Tolak tawaran manis dokter itu, Lisa, sebelum kau menyesal karena telah mempercayai dongeng yang mereka ciptakan!” teriak Adam sebelum sebuah suara dentuman keras memotong keheningan saat pintu utama kediaman Mikail hancur berkeping-keping diiringi desakan tembakan senjata api.Asap mesiu membumbung tinggi di ruang tengah. Adam Kurara melangkah masuk melintasi jejak para pengawal Mikail yang bersimbah darah. Jas hitam mewahnya tampak bernoda, sementara sepasang matanya menyala penuh intimidasi dan dominasi mutlak.Mikail bergegas keluar dari ruangan bersama senjata terkokoh di tangannya sedang Slatan melangkah paling depan untuk menjadi tameng bagi Lisa."Adam Kurara!" bentak Mikail dengan nafas terengah. "Berani sekali kau menginjakkan kaki di rumahku!"Adam terkekeh pelan, sebuah senyuman kejam terukir di wajah tampannya yang dingin. "Tuan Mikail yang terhormat. Aku hanya datang untuk menagih apa yang menjadi hakku. Dua puluh lima juta dolar. Bayar seluruh utang judi bajinganmu itu

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 43. Dokter Slatan

    “Kenapa?” Mikail merasa heran. Alis tebalnya bertaut menatap pantulan wajah putrinya dari cermin. “Bukankah kau baru saja bilang kalau kau menyukainya? Slatan pemuda yang cerdas, sopan, dan yang terpenting, dia bisa melindungimu saat aku tidak ada.”Senyum di wajah Lisa seketika luntur. Ia menundukkan kepala, memandangi jemarinya yang masih berbalut perban tipis. Tangannya perlahan meremas ujung gaun tidurnya dengan gemetar.“Ayah sepertinya lupa dari mana Ayah memungutku,” suara Lisa penuh dengan kepahitan. “Aku ini tawanan Kurara. Berbulan-bulan aku dipaksa melayani tamu, ditonton oleh mata-mata liar lalu disentuh dengan kasar... Harga diriku sudah hancur lebur, Ayah. Aku sudah rusak,” isak Lisa mengingat masa lalunya yang kelam.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status