LOGIN“Tuan! Tuan!” Teriakan Eleanora memecah keheningan sebelum fajar menyingsing.
Adam yang sedang terlelap seketika tersentak. Ia duduk di tepi ranjang, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih berkabut. ‘Kenapa nenek tua itu harus berteriak-teriak di pagi buta begini? Menyebalkan sekali!’ batinnya geram.
“Aku memilih…” Lisa terdiam lalu memutar wajahnya ke arah Mikail."Lisa..." panggil Mikail lembut memohon agar Lisa memilihnya.Namun, panggilan itu seolah tak menyentuh hatinya. Lisa justru menoleh ke arah Slatan, pria berbaju dokter yang berdiri tak jauh dari mereka. Wajah Slatan begitu tampan, matanya memancarkan kecemasan yang tulus. Tetapi bagi Lisa, pria itu tetaplah orang asing. Kehadiran Slatan terlalu terlambat untuk menyembuhkan luka yang sudah terlanjur menganga.Setelah memandangi Mikail dan Slatan, kepala Lisa perlahan menoleh ke arah Adam. Pria yang selama ini menjadi sumber dari trauma terbesarnya, sekaligus pria yang menanamkan rasa cinta yang beracun di jiwanya. Perlahan namun pasti, kaki Lisa melangkah mendekati sosok tinggi besar itu.Melihat langkah Lisa, senyum licik perlahan melebar di wajah Adam."Aku memilih Adam," bisik Lisa dingin, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Adam sebelum merengkuh tubuh pria itu."Tidak!" teriak Mikail begitu lantang, suaranya pe
"Tolak tawaran manis dokter itu, Lisa, sebelum kau menyesal karena telah mempercayai dongeng yang mereka ciptakan!” teriak Adam sebelum sebuah suara dentuman keras memotong keheningan saat pintu utama kediaman Mikail hancur berkeping-keping diiringi desakan tembakan senjata api.Asap mesiu membumbung tinggi di ruang tengah. Adam Kurara melangkah masuk melintasi jejak para pengawal Mikail yang bersimbah darah. Jas hitam mewahnya tampak bernoda, sementara sepasang matanya menyala penuh intimidasi dan dominasi mutlak.Mikail bergegas keluar dari ruangan bersama senjata terkokoh di tangannya sedang Slatan melangkah paling depan untuk menjadi tameng bagi Lisa."Adam Kurara!" bentak Mikail dengan nafas terengah. "Berani sekali kau menginjakkan kaki di rumahku!"Adam terkekeh pelan, sebuah senyuman kejam terukir di wajah tampannya yang dingin. "Tuan Mikail yang terhormat. Aku hanya datang untuk menagih apa yang menjadi hakku. Dua puluh lima juta dolar. Bayar seluruh utang judi bajinganmu itu
“Kenapa?” Mikail merasa heran. Alis tebalnya bertaut menatap pantulan wajah putrinya dari cermin. “Bukankah kau baru saja bilang kalau kau menyukainya? Slatan pemuda yang cerdas, sopan, dan yang terpenting, dia bisa melindungimu saat aku tidak ada.”Senyum di wajah Lisa seketika luntur. Ia menundukkan kepala, memandangi jemarinya yang masih berbalut perban tipis. Tangannya perlahan meremas ujung gaun tidurnya dengan gemetar.“Ayah sepertinya lupa dari mana Ayah memungutku,” suara Lisa penuh dengan kepahitan. “Aku ini tawanan Kurara. Berbulan-bulan aku dipaksa melayani tamu, ditonton oleh mata-mata liar lalu disentuh dengan kasar... Harga diriku sudah hancur lebur, Ayah. Aku sudah rusak,” isak Lisa mengingat masa lalunya yang kelam.
"Maafkan aku, Lisa. Tapi aku tidak bisa menuruti permintaanmu," ucap Mikail dingin. Pemimpin mafia paruh baya itu kemudian memalingkan wajahnya untuk memberi isyarat tajam kepada dua pengawal bertubuh kekar di belakangnya. "Bawa dia ke mobil sekarang juga.""Baik, Tuan!" jawab pengawal Mikail dengan wajahnya yang datar."Tidak! Jangan! Lepaskan aku!" jerit Lisa histeris saat tubuhnya digendong paksa oleh pengawal Mikail.Lisa meronta-ronta bagai kesetanan. Matanya membelalak penuh amarah saat seorang pengawal mencoba merengkuh tubuhnya. Dengan sekuat tenaga Lisa mengayunkan kaki dan menendang dada pria itu sekuat tenaga. "Matilda! Matilda!" teriakan Lisa menggema merobek keheningan koridor Klub Kurara yang kini luluh lantak oleh reruntuhan dan puing-puing baku tembak. "Ayah, kau jahat! Kau iblis! Lepaskan aku, brengsek!"Mikail melangkah di belakang mereka tanpa sepatah kata pun. Ia membiarkan makian dan kutukan putrinya menikam hatinya sendiri.Bruk!“Jalan!” perintah Mikail dengan
"Jadi, sekarang mereka berdua saling memeluk seperti saudara?" bisik sosok berkulit gelap di balik celah pintu. Ia membetulkan letak earphone di telinganya lalu melangkah mundur ke dalam kegelapan koridor Klub Kurara.Pria itu menekan tombol pada telepon genggamnya. Nada panggil hanya berdering dua kali sebelum sebuah suara berat dan berwibawa menyahut dari ujung telepon."Bagaimana? Kau sudah menemukan putriku?" tanya Mikail Reddrov tanpa basa-basi."Sudah, Tuan Mikail. Saya menemukan Nona Lisa di klub malam Kurara," jawab si mata-mata dengan nada ragu. "Tapi... kondisinya sangat buruk.""Maksudmu buruk?" suara Mikail mendadak dingin."Adam menyanderanya d
“Buka matamu, Matilda! "Lepaskan keangkuhanmu malam ini!" teriak Marcus sambil tertawa keras.Dengan senyum lebar, Marcus menyentak kedua lengan Matilda kasar lalu menarik Matilda ke sandaran tempat tidur lalu mengikatnya erat dengan kain yang sudah disiapkan di kamar itu."Lepaskan aku, Marcus… kumohon," bisik Matilda dengan suara yang hampir tertutup oleh sesak napasnya sendiri.""Lepaskan?" tawa Marcus, menindih tubuh wanita itu tanpa belas kasihan."Adam sudah menjualmu padaku untuk malam ini!" Kau pikir kau siapa, hm? Penari senior yang bisa mengatur segalanya? Malam ini, kau cuma mainanku!”Matilda tak lagi menjawab. Ia menutup mata erat-erat, membiarkan air matanya mengalir dalam diam. Di tengah rasa sakit yang menyebar ke seluruh tubuhnya, ia berbisik dalam hati apakah ini adalah pengorbanan yang tak tergantikan untuk menyelamatkan Lisa dari cengkeraman Marcus, sekaligus cara untuk menebus dosa-dosanya.Beberapa jam berlalu seperti neraka yang tak pernah berakhir. Marcus berja







