Share

2. Anya Freya

Author: rindiyoon
last update Last Updated: 2026-01-02 01:04:55

"I...iya, Bos." Entah apa yang merasuki Anya, Anya memanggil pria menyeramkan itu bos.

Leon tertawa dan tersenyum, walaupun gadis itu tidak melihat senyumannya, tapi masih bisa mendengar tawanya. "Bos? Oke, panggilan bagus!" Seperti memberikan senyuman pada sang kekasih, ia terus tersenyum dan pergi.

Rehan bingung dengan senyuman Leon itu, karena Rehan tidak pernah melihat Leon tersenyum seperti itu, apa lagi untuk seorang gadis.

Namun, Rehan tidak mempedulikan itu, ia harus fokus menjaga Anya supaya Anya tidak kabur, karena jika kabur, Rehan pasti akan mendapatkan hukuman dari Leon.

'Kenapa aku harus panggil dia bos?' Anya mulai bermonolog didalam hatinya.

Mobil yang membawa Anya mulai melaju, dan Leon masuk kedalam gedung besar itu. Gedung perkantoran milik keluarganya, Dirgantara.

Leon Dirgantara adalah anak bungsu dari Doni dan Dinda. Gedung besar itu bernamakan DD Company, gedung perkantoran yang bergerak dibidang properti dan sejenisnya.

"Selamat pagi, tuan Leon." Para pegawai yang ada di sana mulai menyambut dan menyapa anak bosnya dengan sangat ramah. Namun, seperti biasa meeeka tidak pernah mendapatkan respon baik.

Leon tidak membalas sapaan itu, bahkan wajahnya tidak memberikan ekspresi apapun, wajahnya sangat datar dan terlihat sombong.

Leon terus melangkah menuju ruangannya yang berada di lantai atas, dan Leon juga merapihkan pakaiannya yang terlihat berantakan.

"Kau selalu terlambat, Leon." Doni menatap anak bungsunya yang baru saja masuk kedalam ruangan, ruang kerja anaknya yang berada di kantor tersebut.

"Bukannya kalian masih perjalanan bisnis ke Australia?" Leon tidak merespon ayahnya, tapi ia membuka pembicaraan lainnya.

"Sudah pulang, Nak. Sekarang ibu dan ayah mampir ke kantor terlebih dahulu," ucap Dinda yang terlihat bahagia melihat anak bungsunya sudah datang.

"Oh." Leon hanya manggut-manggut, ia duduk disamping ibunya.

Didalam ruang kerja Leon ternyata sudah ada Doni, Dinda, dan Luki.

Luki adalah kakak Leon, Luki berpengaruh besar dalam mengelola bisnis DD Company, tapi Doni ingin sekali Leon juga membantu Luki supaya Leon meninggalkan bisnis kotor yang disembunyikan Leon pada keluarganya.

Doni tahu apa yang dilakukan oleh Leon selama ini, oleh sebab itu Doni selalu menekan Leon untuk fokus pada DD Company.

"Sudah waktunya kau fokus pada urusan kantor dan menikah." Tiba-tiba saja Doni membahas pekerjaan dan menikah.

"Oh, kak Luki mau nikah lagi?" Sekilas Leon melirik ke arah kakaknya. "Jadi siapa wanita yang mampu membuat kak Luki jatuh cinta setelah lama menjadi duda?"

"Hah?" Luki bingung.

"Tasya memang sudah lama membutuhkan sosok seorang ibu, jadi kak Luki memang harus menikah lagi." Terus saja Leon berceloteh seperti itu.

Luki tidak paham, selama Luki menjadi duda, ia tidak pernah dekat dengan wanita manapun, ia selalu fokus pada pekerjaan dan menjaga anak semata wayangnya, Tasya.

"Bukan Luki yang nikah, tapi kamu!" Doni menegaskan, jika yang menikah bukan anak sulungnya, tapi anak bungsunya.

Leon menatap kesal pada ayahnya. "Saya sudah bilang, saya belum menemukan gadis yang cocok, dan saya tidak tau apakah saya akan menikah atau tidak!" Secara tidak langsung, ia menolak.

"Nak, tolong, kami akan menikahkan kamu dengan gadis dari keluarga Baskara." Dengan nada lembut, Dinda berharap jika anak sulungnya menerima, ia juga menggenggam lengan sang anak.

Leon menepis genggaman itu. "Apa-apaan ini!" Leon tidak terima. "Perjodohan?" Leon kesal. "Perjodohan dalam bisnis tidak ada dalam sejarahku!" tegasnya.

Dinda mencoba menenangkan Leon, tapi Leon sudah tidak bisa tenang, bahkan tatapan Leon mengkilap pada Doni.

"Ayah, sebaiknya kita bahas ini jangan di sini." Luki mencoba menenangkan situasi.

"Jika membahas ini lagi, saya pastikan kalian tidak akan pernah melihat saya lagi!" Leon mengancam, ia mulai bangun dari duduknya dan ingin melangkah pergi. Namun, langkahnya terhenti.

"Silakan!" Doni menatap anaknya. "Jika kau tidak menurut, saya akan menghancurkan yang sudah kau bangun selama ini!" Doni tidak mau kalah dengan anaknya, ia kembali mengancam.

Leon menoleh kebelakang dan tersenyum mengerikan pada sang ayah. "Silakan, jika kau sudah tidak menyayangi nyawamu!" Leon benar-benar anak nakal, bahkan ia tidak takut dengan ancaman ayahnya.

Leon pergi dari ruangannya, ia sudah tidak bisa berbicara apapun lagi dengan keluarganya, karena emosinya akan menguasai dirinya, ia tidak ingin melukai keluarganya sendiri.

Jadi, Leon memilih untuk pergi dari sana sebelum hal buruk terjadi.

"Brengsek!" Leon mengumpat saat dirinya sudah masuk ke lift. "Perjodohan dengan keluarga Baskara?" Leon berdecih kesal.

Leon mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, ia mulai menghubungi seseorang. Leon tidak pernah tertarik dengan perjodohan antar bisnis.

Leon ingin menikah, tapi dengan gadis pilihannya, bukan gadis target dalam bisnis keluarganya.

**

Pukul 7 malam di sebuah rumah mewah milik Leon. Leon sedang di ruang makan bersama Anya dan Rehan, hidangan bergizi sudah dihidangkan oleh pelayan yang bekerja di rumah Leon, dan suasana tegang mulai menyelimuti ruangan tersebut.

"Hanya ingin dilihat saja? Tidak dimakan?" Leon menatap gadis yang sudah menjadi tawanannya.

Anya melamun dengan memikirkan banyak rencana untuk pergi, ia tidak menyadari situasi yang ada.

"Anya!" Rehan memanggil gadis yang duduk dihadapannya.

Namun, lagi-lagi Anya tidak mendengar dan tidak merespon.

"SIAL!" Leon mengumpat dengan menggebrak meja makan.

"ASTAGA!" Anya terkejut.

Leon bangun dari duduknya dan menghampiri Anya, ia kembali menarik rambut Anya dengan kasar dan mulai menyuapi steak yang ada pada piring Anya. Rehan hanya geleng-geleng kepala melihatnya, ia tidak ada hak untuk mencampuri apa yang akan dilakukan Leon saat ini.

"MAKAN YANG BANYAK, SETELAH INI KAU HARUS MELAYANIKU DI KAMAR!" Leon berteriak dengan terus menyuapi gadis itu dengan steak.

Anya menangis dengan berusaha memakan apa yang ada didalam mulutnya. Anya tidak bisa berkutik jika Leon sudah melakukan ini, Anya takut sekali dengan Leon yang terkadang baik dan terkadang jahat seperti memiliki dua kepribadian, pikir Anya.

"Jadi kapan Bima akan melunasi hutangnya?" Leon menatap asistennya setelah puas memasukkan banyak steak kedalam mulut gadis itu.

"Saya belum mendapatkan jawaban," ucap Rehan.

Anya segera membersihkan mulutnya setelah mulutnya disuapi steak oleh Leon. Hm, tapi sepertinya bukan disuapi, lebih tepatnya di paksa makan.

"Anya Freya!" Leon menatap gadis itu dengan senyuman mengerikan.

"Ba...bagaimana bos tau nama lengkap ku?" Anya sangat polos.

"Bos? Saya bukan bosmu!" Leon menggebrak meja lagi. "Kau harus makan teratur jangan sampai kau mati sebelum waktunya!" Senyum menyeringai mulai terpancar lagi.

Perlahan-lahan Anya mengambil pisau yang ada diatas meja, ia seperti akan merencanakan sesuatu.

"Satu jam lagi kita berangkat!" Leon menatap asistennya.

"Baik." Rehan mengangguk paham.

Leon dan Rehan pergi dari ruang makan dan meninggalkan Anya sendirian di sana, tapi tiba-tiba saja Anya bangun dari duduknya dan mengarahkan pisau tersebut ke pundak Leon.

"Kamu harus merasakannya!" Anya sudah mengarahkan pisau itu dan ingin menancapkan pisau tersebut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Tawanan sang Mafia   9. Memperebutkan

    Pukul 9 malam di sebuah klub. Leon dan Rehan baru saja tiba di sana, Leon akan menemui seseorang di sana."Menyebar!" Leon memerintahkan itu pada beberapa bodyguard yang ikut masuk kedalam klub tersebut."Siap!" Para bodyguard mulai berpencar, mereka sudah tahu tugasnya masing-masing.Leon dan Rehan duduk di kursi bar. Rehan juga memesan minuman, tapi bukan minuman yang membuat mereka mabuk."Leon!" Rehan memanggil bosnya dengan nama.Leon melirik, Leon tahu jika Rehan sudah memanggil namanya pasti ada sesuatu yang sangat pribadi yang ingin Rehan katakan padanya."Katakan!" Leon sudah sangat mengenal asisten sekaligus sahabatnya itu.Rehan mengatur napas terlebih dahulu, setelah itu ia mengatakan. "Ada hubungan apa kamu sama Anya?" "Hubungan?" Leon tidak paham."Kamu suka sama Anya?" Rehan terus saja menatap serius pria yang ada disampingnya, pria yang sudah bersama dengannya sejak kecil.Leon tertawa. "Buat apa gue suka sama dia."Rehan masih menatap Leon."Sudah, kita fokus pada kl

  • Gadis Tawanan sang Mafia   8. Takut

    Leon hanya menatap Anya setelah mengobati jari telunjuk Anya yang terluka karena jarum."Tuan enggak punya makanan kesukaan?" Anya masih menatap. "Makanan favorit," jelasnya."Apapun aku suka.""Oke." Anya manggut-manggut."Asalkan jangan." Leon menjeda perkataannya."Jangan apa?" Anya menatap dengan penuh penasaran.Leon menatap wajah Anya yang terlihat sangat cantik, entah kenapa Anya terlihat seperti gadis yang berbeda bagi Leon, tapi Leon yakin jika Anya adalah gadis yang sangat baik."Asalkan jangan makanan yang isinya racun."Anya sontak tertawa mendengar perkataan Leon, Anya pikir Leon sedang bercanda."Kenapa ketawa?" Wajah Leon sangat datar sekali."Enggak apa-apa." Anya menghentikan tawanya.Leon langsung menyentuh dagu gadis tawanannya. "Sepertinya kamu lebih cocok tertawa!" "Hah?" Anya tidak paham."Ya kamu lebih bagus tertawa dari pada diam dan cemberut seperti ini." Leon melepaskan tangannya dari dagu itu.Anya terdiam dengan mata yang terus menatap Leon, Anya tahu jika

  • Gadis Tawanan sang Mafia   7. Terluka

    "Maafkan saya, bos." Supir meminta maaf."Bodoh!" Leon mengumpat. "Menyetir yang benar!" "Baik, bos." Supir kembali mengemudi dengan fokus dan hati-hati, ia takut terkena omelan lagi dari bosnya.Rehan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah supir yang ada disampingnya, sekilas Rehan kembali menatap spion untuk melihat ke belakang. Rehan melihat Leon sedang merangkul Anya dengan erat, Leon memang seperti tengah jatuh cinta, tapi Rehan tidak akan berkomentar apapun tentang itu."Bos, kita langsung pulang ke rumah atau mampir ke suatu tempat lagi?" Rehan kembali bertanya pada bosnya untuk memastikan.Leon terdiam saat mendengar pertanyaan dari Rehan, Leon tengah berpikir dan sekilas Leon menatap Anya yang masih memejamkan mata karena masih terpengaruh obat bius."Langsung ke rumah saja," jawab Leon setelah beberapa detik berpikir."Baik." Rehan mengangguk dengan melirik ke arah supir, dan supir paham dengan lirikan itu.Mobil mewah terus melaju menuju rumah. Leon masih merangkul An

  • Gadis Tawanan sang Mafia   6. Saling Menyerang

    Leon yang ada waktu untuk melihat Anya yang ketakutan, ia harus segera sampai di rumah dengan selamat. Leon tidak ingin ada yang terluka, terutama Anya."SERANG TITIK PUSATNYA!" Leon berteriak dengan kembali duduk dikursi tengah, ia juga mulai mengambil sebuah pistol yang disembunyikan dibawah kursinya.Wajah Anya sangat pucat, ia sangat ketakutan. Namun, Anya yakin jika semuanya akan baik-baik saja."Baik!" Rehan menurut dan segera memerintahkan para bodyguard yang sudah sibuk dengan pistolnya masing-masing.Sesekali Leon melihat Anya, Anya semakin takut, tapi Anya terlihat mengimbangi situasi yang ada.'Seumur hidupku, aku baru merasakan seperti ini,' batin Anya yang tidak percaya dirinya merasakan seperti diserang musuh, walaupun sebenarnya itu bukan musuhnya.Anya menangis, tapi tidak membuat orang-orang yang ada didalam mobil mengkhawatirkan dirinya, ia bisa menahan semuanya dari ketakutan ini."Sudah pasti ini ulah Varell," gumam Leon dengan wajah yang kesal.Semuanya saling men

  • Gadis Tawanan sang Mafia   5. Suara Tembakan

    Anya segera membalikkan tubuhnya. "Me...menikah? Apa maksudnya?" Anya kebingungan dengan apa yang sedang dibicarakan oleh pria menyeramkan itu. "Tidak ada maksud." Leon tersadar atas perkataannya yang menurutnya tidak pantas. Anya terdiam, ia terus menatap Leon yang masih menatapnya juga. "Terima kasih tehnya." Leon memberikan senyuman tipis dengan mengambil cangkir teh. "Tu...tuan." Anya dengan takut-takut mencoba memanggil pria menyeramkan itu lagi. "Ya?" "Bolehkah aku bertanya sesuatu?" "Silakan, apa yang ingin kau tanyakan?" Leon mencoba mendengarkan. "A...apakah kakakku tidak berniat me..." Anya menjeda perkataannya. "Menebus kamu dan membawamu kembali ke rumah?" Leon paham dengan pembicaraan itu. "I...iya." Anya menundukkan kepalanya. Seketika Leon teringat jika Bima akan memberikan uang lima ratus juta dan sisanya akan kembali dicicil sampai lunas, tapi Bima ingin Anya kembali ke rumah. Namun, Leon tidak bisa membiarkan Anya kembali ke rumah karena nyawa A

  • Gadis Tawanan sang Mafia   4. Perjodohan

    Leon menatap wanita yang baru saja datang ke rumahnya. Leon menatap jengah wanita itu, wanita yang bernama Vera Baskara.Vera Baskara adalah wanita yang dibicarakan oleh ayahnya dua hari lalu, wanita yang akan dijodohkan olehnya. "Rehan!" Leon menatap asistennya. "Baik." Rehan paham dengan apa yang diperintahkan oleh bosnya walaupun bosnya tidak memberikan perintah. Leon melangkah menuju kamar di mana Anya berada, tapi tidak jadi saat suaranya mendengar suara pria. "Jadi, siapa gadis yang akan menikah denganmu?" Leon membalikkan badannya. "Varell, pergi!" Ia mengusir pria itu. "Saya ke sini akan membahas perjodohan kau dengan adik saya!" tegas pria yang bernama Varell. Varell adalah musuh bebuyutan Leon, dan Vera adalah adik Varell. Seperti inilah mengapa Leon tidak ingin menikahi Vera, apa lagi pernikahan yang terikat tentang bisnis perusahaan. "Sudah saya katakan, saya tidak berniat dijodohkan dengan siapapun!" tegas Leon. Leon memerintahkan seluruh bodyguard yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status