LOGIN"I...iya, Bos." Entah apa yang merasuki Anya, Anya memanggil pria menyeramkan itu bos.
Leon tertawa dan tersenyum, walaupun gadis itu tidak melihat senyumannya, tapi masih bisa mendengar tawanya. "Bos? Oke, panggilan bagus!" Seperti memberikan senyuman pada sang kekasih, ia terus tersenyum dan pergi. Rehan bingung dengan senyuman Leon itu, karena Rehan tidak pernah melihat Leon tersenyum seperti itu, apa lagi untuk seorang gadis. Namun, Rehan tidak mempedulikan itu, ia harus fokus menjaga Anya supaya Anya tidak kabur, karena jika kabur, Rehan pasti akan mendapatkan hukuman dari Leon. 'Kenapa aku harus panggil dia bos?' Anya mulai bermonolog didalam hatinya. Mobil yang membawa Anya mulai melaju, dan Leon masuk kedalam gedung besar itu. Gedung perkantoran milik keluarganya, Dirgantara. Leon Dirgantara adalah anak bungsu dari Doni dan Dinda. Gedung besar itu bernamakan DD Company, gedung perkantoran yang bergerak dibidang properti dan sejenisnya. "Selamat pagi, tuan Leon." Para pegawai yang ada di sana mulai menyambut dan menyapa anak bosnya dengan sangat ramah. Namun, seperti biasa meeeka tidak pernah mendapatkan respon baik. Leon tidak membalas sapaan itu, bahkan wajahnya tidak memberikan ekspresi apapun, wajahnya sangat datar dan terlihat sombong. Leon terus melangkah menuju ruangannya yang berada di lantai atas, dan Leon juga merapihkan pakaiannya yang terlihat berantakan. "Kau selalu terlambat, Leon." Doni menatap anak bungsunya yang baru saja masuk kedalam ruangan, ruang kerja anaknya yang berada di kantor tersebut. "Bukannya kalian masih perjalanan bisnis ke Australia?" Leon tidak merespon ayahnya, tapi ia membuka pembicaraan lainnya. "Sudah pulang, Nak. Sekarang ibu dan ayah mampir ke kantor terlebih dahulu," ucap Dinda yang terlihat bahagia melihat anak bungsunya sudah datang. "Oh." Leon hanya manggut-manggut, ia duduk disamping ibunya. Didalam ruang kerja Leon ternyata sudah ada Doni, Dinda, dan Luki. Luki adalah kakak Leon, Luki berpengaruh besar dalam mengelola bisnis DD Company, tapi Doni ingin sekali Leon juga membantu Luki supaya Leon meninggalkan bisnis kotor yang disembunyikan Leon pada keluarganya. Doni tahu apa yang dilakukan oleh Leon selama ini, oleh sebab itu Doni selalu menekan Leon untuk fokus pada DD Company. "Sudah waktunya kau fokus pada urusan kantor dan menikah." Tiba-tiba saja Doni membahas pekerjaan dan menikah. "Oh, kak Luki mau nikah lagi?" Sekilas Leon melirik ke arah kakaknya. "Jadi siapa wanita yang mampu membuat kak Luki jatuh cinta setelah lama menjadi duda?" "Hah?" Luki bingung. "Tasya memang sudah lama membutuhkan sosok seorang ibu, jadi kak Luki memang harus menikah lagi." Terus saja Leon berceloteh seperti itu. Luki tidak paham, selama Luki menjadi duda, ia tidak pernah dekat dengan wanita manapun, ia selalu fokus pada pekerjaan dan menjaga anak semata wayangnya, Tasya. "Bukan Luki yang nikah, tapi kamu!" Doni menegaskan, jika yang menikah bukan anak sulungnya, tapi anak bungsunya. Leon menatap kesal pada ayahnya. "Saya sudah bilang, saya belum menemukan gadis yang cocok, dan saya tidak tau apakah saya akan menikah atau tidak!" Secara tidak langsung, ia menolak. "Nak, tolong, kami akan menikahkan kamu dengan gadis dari keluarga Baskara." Dengan nada lembut, Dinda berharap jika anak sulungnya menerima, ia juga menggenggam lengan sang anak. Leon menepis genggaman itu. "Apa-apaan ini!" Leon tidak terima. "Perjodohan?" Leon kesal. "Perjodohan dalam bisnis tidak ada dalam sejarahku!" tegasnya. Dinda mencoba menenangkan Leon, tapi Leon sudah tidak bisa tenang, bahkan tatapan Leon mengkilap pada Doni. "Ayah, sebaiknya kita bahas ini jangan di sini." Luki mencoba menenangkan situasi. "Jika membahas ini lagi, saya pastikan kalian tidak akan pernah melihat saya lagi!" Leon mengancam, ia mulai bangun dari duduknya dan ingin melangkah pergi. Namun, langkahnya terhenti. "Silakan!" Doni menatap anaknya. "Jika kau tidak menurut, saya akan menghancurkan yang sudah kau bangun selama ini!" Doni tidak mau kalah dengan anaknya, ia kembali mengancam. Leon menoleh kebelakang dan tersenyum mengerikan pada sang ayah. "Silakan, jika kau sudah tidak menyayangi nyawamu!" Leon benar-benar anak nakal, bahkan ia tidak takut dengan ancaman ayahnya. Leon pergi dari ruangannya, ia sudah tidak bisa berbicara apapun lagi dengan keluarganya, karena emosinya akan menguasai dirinya, ia tidak ingin melukai keluarganya sendiri. Jadi, Leon memilih untuk pergi dari sana sebelum hal buruk terjadi. "Brengsek!" Leon mengumpat saat dirinya sudah masuk ke lift. "Perjodohan dengan keluarga Baskara?" Leon berdecih kesal. Leon mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, ia mulai menghubungi seseorang. Leon tidak pernah tertarik dengan perjodohan antar bisnis. Leon ingin menikah, tapi dengan gadis pilihannya, bukan gadis target dalam bisnis keluarganya. ** Pukul 7 malam di sebuah rumah mewah milik Leon. Leon sedang di ruang makan bersama Anya dan Rehan, hidangan bergizi sudah dihidangkan oleh pelayan yang bekerja di rumah Leon, dan suasana tegang mulai menyelimuti ruangan tersebut. "Hanya ingin dilihat saja? Tidak dimakan?" Leon menatap gadis yang sudah menjadi tawanannya. Anya melamun dengan memikirkan banyak rencana untuk pergi, ia tidak menyadari situasi yang ada. "Anya!" Rehan memanggil gadis yang duduk dihadapannya. Namun, lagi-lagi Anya tidak mendengar dan tidak merespon. "SIAL!" Leon mengumpat dengan menggebrak meja makan. "ASTAGA!" Anya terkejut. Leon bangun dari duduknya dan menghampiri Anya, ia kembali menarik rambut Anya dengan kasar dan mulai menyuapi steak yang ada pada piring Anya. Rehan hanya geleng-geleng kepala melihatnya, ia tidak ada hak untuk mencampuri apa yang akan dilakukan Leon saat ini. "MAKAN YANG BANYAK, SETELAH INI KAU HARUS MELAYANIKU DI KAMAR!" Leon berteriak dengan terus menyuapi gadis itu dengan steak. Anya menangis dengan berusaha memakan apa yang ada didalam mulutnya. Anya tidak bisa berkutik jika Leon sudah melakukan ini, Anya takut sekali dengan Leon yang terkadang baik dan terkadang jahat seperti memiliki dua kepribadian, pikir Anya. "Jadi kapan Bima akan melunasi hutangnya?" Leon menatap asistennya setelah puas memasukkan banyak steak kedalam mulut gadis itu. "Saya belum mendapatkan jawaban," ucap Rehan. Anya segera membersihkan mulutnya setelah mulutnya disuapi steak oleh Leon. Hm, tapi sepertinya bukan disuapi, lebih tepatnya di paksa makan. "Anya Freya!" Leon menatap gadis itu dengan senyuman mengerikan. "Ba...bagaimana bos tau nama lengkap ku?" Anya sangat polos. "Bos? Saya bukan bosmu!" Leon menggebrak meja lagi. "Kau harus makan teratur jangan sampai kau mati sebelum waktunya!" Senyum menyeringai mulai terpancar lagi. Perlahan-lahan Anya mengambil pisau yang ada diatas meja, ia seperti akan merencanakan sesuatu. "Satu jam lagi kita berangkat!" Leon menatap asistennya. "Baik." Rehan mengangguk paham. Leon dan Rehan pergi dari ruang makan dan meninggalkan Anya sendirian di sana, tapi tiba-tiba saja Anya bangun dari duduknya dan mengarahkan pisau tersebut ke pundak Leon. "Kamu harus merasakannya!" Anya sudah mengarahkan pisau itu dan ingin menancapkan pisau tersebut.Sebulan berlalu. Setelah Leon melihat musuh bebuyutan masih hidup. Leon sudah tidak mendengar kabar dan melihat apapun lagi.Namun, Leon tetap waspada dengan sekitarnya. Leon tidak ingin keluarganya menjadi sasaran dari musuh bebuyutannya lagi.Leon ingin melindungi keluarganya, dan membahagiakan keluarganya."Sayang, lama banget dandannya?" Leon langsung memeluk tubuh Anya dari belakang. Saat ini posisi Anya sedang berdiri didepan cermin besar."Sebentar lagi, karena ini adalah ulang tahun Tasya, aku harus cantik," ucap Anya."Cantik kamu hanya untukku!""Iya sayang."Leon masih saja posesif. Leon tidak memperbolehkan Anya terlalu cantik jika keluar rumah."Mama, ayo!" Nathalie masuk ke kamar."Iya sebentar."Leon langsung melepaskan pelukannya dan membiarkan Anya memilih tas yang akan dibawa. Leon pergi mengambil handphone yang ada di atas meja rias."Papa, di bawah ada Om Rehan," kata Nathan yang baru saja masuk ke kamar orang tuanya."Oke." Leon melangkah keluar."Yeay, ada Om Re
"Sebentar lagi makan," jawab Leon dengan senyuman.Tangan Leon mengusap-usap kepala Anya, dan Anya mengangguk tanpa banyak pertanyaan.Sesekali Nathan menatap Leon, Nathan yakin jika Leon sedang memikirkan kejadian tadi, tapi Nathan tidak ingin banyak bicara.Walaupun Leon tidak meminta Nathan untuk tutup mulut tentang kejadian tadi, tapi Nathan tidak mudah membicarakan apapun pada orang-orang. Nathan mampu menyembunyikan rahasia."Papa, terima kasih, makanannya enak sekali!" Sudah cukup banyak Nathalie mencicipi menu makan malam."Sama-sama." Leon tersenyum manis.Leon senang saat mengetahui Nathalie menyukai makanan yang ada di restoran tersebut. Leon pastinya akan memberikan makanan yang lezat dan bergizi untuk istri dan anak-anaknya.Handphone Leon berdering, ada panggilan masuk, dan Leon meminta izin untuk menjawab telepon itu.Anya mengizinkan. Leon bangun dari duduknya dan menjauh dari meja untuk menjawab panggilan itu, dan Anya tidak menaruh kecurigaan apapun pada Leon."Janga
Pukul 7 malam. Leon, Anya, Nathan, dan Nathalie makan malam di luar.Leon melakukan reservasi makan malam di restoran mewah yang ada di kotanya. Leon tentunya akan menuruti keinginan istri, dan anak-anaknya.Walaupun hari ini Leon pulang agak terlambat, tapi Leon sudah melakukan reservasi sebelum pulang ke rumah, dan pastinya Leon akan selalu mendapatkan apa yang diinginkan."Terima kasih, Papa!" Nathalie sangat senang."Sama-sama." Leon tersenyum.Leon mengusap-usap kepala Nathalie dengan lembut, dan Nathan sibuk dengan iPad, Nathan sedang bermain game.Leon sudah memilih menu makan malam untuk keluarganya, kini mereka hanya bisa menunggu hidangan disajikan di atas meja.Anya dan Leon saling menatap satu sama lain. Anya tersenyum lebar dan sangat bahagia, begitu pula dengan Leon.Setiap hari mereka merasakan kebahagiaan yang tiada henti. Namun, ada ketakutan yang Anya pendam.Anya takut apa? Entah, beberapa hari ini Anya mimpi buruk.Namun, Anya tidak cerita pada Leon. Anya takut jik
"Aku mau beli ramen, tadi katanya mau ramen.""Beli online aja." Anya tidak ingin ditinggal sendirian."Baiklah." Leon tidak memiliki pilihan lain.Anya tidak ingin ditinggal sendirian, dan Anya terlihat manja sekali."Selain ramen mau apa lagi?" Leon kembali bertanya dengan tangan yang masih menggenggam ponselnya."Aku mau pilih sendiri."Anya merebut handphone Leon, dan Leon tidak keberatan dengan itu, lagi pula Leon tidak pernah menyembunyikan apapun dari Anya, jadi Leon tidak pernah takut jika Anya merebut ponselnya."Aku mau ini, ini, ini." Anya memilih banyak menu makanan.Leon tidak mempedulikan itu karena yang terpenting Anya makan banyak sebelum melakukan operasi, karena kondisi Anya juga harus stabil sebelum melakukan pengangkatan rahim.Sejujurnya Leon sedih dengan hal ini, tapi Leon mencoba kuat didepan Anya. Leon tidak ingin membuat Anya sedih.Leon yakin setelah ini tidak akan ada hal apapun lagi. Leon akan selalu membuat Anya bahagia, Leon sangat mencintai Anya. Anya ad
Anya tertawa kecil mendengar ucapan Nathan."Sudahlah, aku ke bawah dulu." Leon izin."Oke." Anya manggut-manggut dan mengizinkan.Leon keluar dari kamar untuk menemui Rehan di lantai bawah, dan Nathan masih menemani Anya."Ke mana Papa?" tanya Nathalie saat dirinya keluar dari kamar mandi."Ke bawah ketemu ...," jawab Anya yang belum selesai.Namun, Nathalie sudah berlari keluar kamar, tapi saat mendekati pintu kamar, Nathalie terjatuh.Nathalie tidak menangis. Ia segera bangun, dan berlari lagi menuju lantai bawah."Astaga, anak itu!" Anya geleng-geleng kepalanya.Anya tidak menyangka jika Nathalie sangat bersemangat bertemu dengan Rehan."Tuh, Mama liat sendiri, kan? Aku nggak bohong, dia genit banget kalau urusan Om Rehan," ucap Nathan dengan jujur.Anya tertawa lagi dan berkata. "Biarkan, mungkin Nathalie sudah menganggap Om Rehan sebagai kakak tertuanya.""Mana ada begitu." Suara Nathan sangat ketus, tentu ia tidak suka dengan sikap kembarannya yang genit.Anya hanya bisa tertaw
Seminggu berlalu. Anya sudah sadar. Keluarganya bahagia melihat Anya sudah membuka matanya. Namun, Anya masih terlihat linglung."Mama!" Nathan dan Nathalie memeluk Anya yang masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tiba-tiba saja air mata Anya menetes. Anya tahu saat ini dirinya ada di rumah sakit."Sayang!" Leon mengusap lengan Anya dan mengecup lengan itu berkali-kali.Dokter dan asistennya segera memeriksa keadaan Anya, dan akhirnya kondisi Anya sudah membaik. Namun, memang harus banyak istirahat karena baru bangun dari operasi.Anya masih belum membuka mulutnya, Anya belum berbicara sama sekali.Dinda, Luki, dan Tasya sedih yang bercampur bahagia melihat Anya sudah membuka matanya.***Beberapa hari setelah Anya sadar. Anya diizinkan pulang ke rumah, dan pastinya Leon langsung segera membawa Anya pulang ke rumah.Leon tahu jika Anya tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Anya tidak mencium aroma rumah sakit yang memiliki khas tersendiri."Mama, aku buatkan teh hangat untuk mama
Anya tertawa. "Okay, anak Mama memang sudah besar dan sudah dewasa."Nathan hanya terdiam. Nathan duduk dengan tenang, tapi ia seperti sedang memikirkan sesuatu."Kalau Nathalie mau beli apa di mall?" Anya mulai bertanya pada anak perempuannya."Mau beli makanan," jawab Nathalie.Nathan geleng-gele
Selama ini Leon memang tidak mendapatkan kabar dari Varell. Varell seperti hilang ditelan bumi. Namun, Leon tetap memperketat keamanan keluarganya.Leon bukan pria yang bodoh, Leon memiliki banyak insting, dan selalu memiliki rencana setiap hidupnya.Apa lagi saat ini tanggung jawab Leon bertambah,
Indah Dewinta. Ia adalah nama dari wali kelas kembar. Anya akan mengingat nama itu.Nama yang sudah membuat Anya kesal untuk pertama kalinya saat Anya menginjakkan kaki di sekolah elite. Sekolah elite yang menurut Anya tidak sesuai dengan namanya. Attitude wali kelas kembar benar-benar payah.Apaka
7 tahun berlalu. Hari ini adalah hari yang paling bahagia untuk Anya. Hari ini anak kembarnya masuk sekolah dasar seperti anak-anak pada umumnya.Sebenarnya Leon tidak ingin anak kembarnya bersekolah seperti anak-anak biasa. Leon ingin anak kembarnya homeschooling. Namun, Anya menolak.Nathan dan N







