Se connecterNamun, karena lawan Anya adalah seorang Mafia. Leon segera menarik tangan Anya yang sedang mengarahkan pisau pada pundaknya, Leon menjatuhkan Anya ke lantai tepat di kakinya.
Rehan yang mengetahui itu kembali terdiam, Rehan tahu jika kepekaan Leon sangat tajam. "Ternyata kau lebih berani dari pada kakakmu," ucap Leon dengan menatap gadis itu yang sudah terlentang di lantai. "Sakit!" Anya merintih sakit saat punggungnya terasa remuk akibat tubuhnya dibanting. Leon segera menarik rambut panjang Anya, Leon menarik Anya menuju kamar. Leon juga melemparkan Anya ke atas ranjang, Anya mulai takut. "Tu...tuan, jangan." Kali ini Anya memanggil pria menyeramkan itu dengan panggilan tuan. "Kau harus melayaniku sekarang!" Leon mengunci kamar dan segera menghampiri gadis yang sedang ketakutan. "Tu...tuan, aku akan membayar hutang kakakku, tapi jangan dengan tubuhku." Anya yang tadinya merasakan tubuhnya seperti diinjak oleh gajah, kini ia mulai berusaha berlari menuju pintu. Leon tertawa. "Berapa ratus tahun saya harus menunggunya, Anya Freya!" "Se...secepatnya." Anya mencoba meyakinkan. "Lebih baik sekarang kau layani aku, cepat!" Leon sudah membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan menatap gadis yang sudah berdiri di pintu kamar. Anya terdiam, dengan tangan yang mencoba membuka pintu. Namun, tidak berhasil saat kepalanya mendapatkan lemparan dari Leon. Leon melemparkan sesuatu ke arah Anya, dan Anya kembali kesakitan pada kepalanya. "CEPAT LAYANI AKU, JALANG!" Leon berteriak. "Aku harus mencicipi tubuhmu." Tatapannya begitu nakal. Apakah Leon benar-benar akan mencicipi tubuh Anya? Tentu tidak, Leon bukan Mafia yang seperti itu, Leon bukan pria brengsek yang meniduri banyak wanita demi nafsunya sesaat. Lalu kenapa Leon bertingkah seperti itu? Leon hanya ingin menakut-nakuti Anya, karena Leon tahu jika Anya adalah gadis baik dan sangat polos. Leon juga ingin mengurangi kekerasan pada Anya, karena Leon mudah sekali menggunakan tangannya untuk kekerasan. Namun, entah kenapa Leon ingin mengurangi itu pada Anya. Biasanya Leon selalu menghajar setiap orang yang tidak bertanggung jawab, entah orang itu pria atau wanita. "Tu...tuan, saya menjadi pembantu saja di sini, jangan melayani di..." Anya menjeda perkataannya. "Di mana?" Leon masih menatap gadis itu dengan tatapan nakal. Anya membalikkan tubuhnya, ia membelakangi Leon, ia lebih baik menatap pintu dari pada menatap Leon, pikirnya. "Bos, sepertinya kita harus berangkat!" Seseorang mengatakan itu dibalik pintu. Anya tersenyum bahagia lalu membalikkan tubuhnya dan menatap pria yang masih berbaring di sana. "Tuan, sepertinya Tuan harus pergi." Senyuman sangat manis. Leon terpesona akan senyuman Anya, senyuman yang membuat detak jantung Leon berdebar sangat kencang. "Tuan?" Anya melangkah menuju ranjang. Leon masih terdiam dengan tangan yang menyentuh dadanya, ia sedang merasakan detaknya begitu cepat "Tuan Leon?" Anya berdiri dengan tatapan bingung. "I...iya?" Kali ini Leon terlihat gugup. "Sepertinya tuan harus pergi." Anya kembali senyum. Leon segera bangun dari baringnya. "Ya, saya harus pergi, dan kau jangan bertingkah aneh!" Leon menyentuh dagu gadis yang ada didepannya. "I...iya." Leon segera pergi dan meninggalkan Anya, tapi lagi-lagi Anya bertingkah dan mengikuti langkah Leon dibelakangnya. Namun, Anya kembali ketahuan membuat Leon benar-benar murka. "GADIS MENYEBALKAN!" Leon ingin menampar gadis itu. Namun, sang gadis berlutut dihadapannya. "Tu...tuan, maafkan aku." Anya berlutut dan memohon. "Tolong biarkan aku membayar semua hutang kakakku." Anya menangis. "Jangan sakiti kakakku, aku akan menjadi pembantu di sini sampai hutang kakakku lunas." Anya seperti bernegosiasi. Leon tertawa. "Lakukan apa yang kau inginkan!" Seperti mengizinkan apa yang diinginkan sang gadis. "Tapi mulai sekarang kau tidak akan bisa keluar dari sini!" Matanya mengkilap, ia benar-benar kesal. Leon mendorong tubuh Anya kedalam kamar itu, dan Anya terpental kedalam kamar dan jatuh dilantai. Leon menutup pintu dengan kasar dan segera mengunci pintu itu, lalu Leon dan Rehan pergi dari sana. "Sepertinya biarkan Anya tinggal di ruang bawah tanah," celetuk Rehan. "Biarkan dia di kamar itu." Leon terus melangkah lebar, karena ia harus segera pergi. Leon dan Rehan keluar dari rumah dengan mobil yang sudah tersedia didepan pintu utama. Leon segera masuk ke dalam mobil, lalu disusul oleh Rehan. Leon membiarkan Anya terkurung di kamar, Anya harus dikurung seperti itu guna tidak bisa mencoba pergi, atau melukainya lagi. Sebenarnya Leon hampir saja terluka karena Anya, tapi karena Leon memiliki kepekaan yang sangat tajam membuat Leon bisa melindungi dirinya sendiri. *** Dua hari kemudian saat Anya terkurung di kamar, saat ini Anya sedang tergeletak di lantai, tubuhnya lemas karena tidak mendapatkan asupan makan dan minum. Anya tidak diberikan makan maupun minum oleh Leon atau dari orang-orang yang ada di rumah tersebut. Sepertinya Anya sedang mendapatkan hukuman dari Leon, dan wajah Anya sangat pucat sekali seperti hampir mati, karena dua hari sama sekali tidak makan dan minum. "To...tolong, aku harus!" Anya menggedor-gedor pintu kamar, ia berharap seseorang membuka pintu dan membawa minum untuknya. "Tu...tuan!" Pandangan Anya mulai kabur, matanya mulai terpejam. Anya pingsan, karena sudah dua hari tidak diberikan asupan apapun. "TO...TOLONG!" Seorang pelayan wanita terkejut saat melihat tubuh Anya sudah pingsan di lantai. "Tu...tuan Leon!" Ia kembali berteriak. Leon dan Rehan segera menghampiri sumber teriakan itu. "Anya!" Leon menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu. "Tubuhmu sangat lemah." Leon geleng-geleng kepala. "Biarkan saya mengurusnya." Rehan ingin menggendong gadis itu, tapi tidak jadi. Leon menatap tajam asistennya. "Mau apa kau? Biarkan saya mengurusnya!" "Baik." Rehan menurut dan membiarkan bosnya menggendong gadis itu. Leon menggendong Anya menuju ranjang, Anya mulai dibaringkan diatas ranjang, pelayan wanita tadi menyimpan nampan yang sudah dibawanya. Nampan berisi makanan dan minuman untuk Anya. Namun, Anya terlebih dahulu pingsan sebelum makanan dan minuman itu datang. Leon menghela napasnya dengan kasar. "Baru diberi hukuman seperti ini, kau sudah pingsan, dasar lemah." Terus saja Leon menyalahkan tubuh gadis itu yang lemah, padahal semua salah Leon yang memberikan hukuman seperti itu. Leon meminta Rehan menghubungi Dokter yang biasa datang ke rumahnya. Namun, tiba-tiba saja seorang wanita masuk ke kamar tersebut. "Oh, jadi kau memutuskanku karena kau sudah menemukan wanita lain." Rehan segera menghampiri wanita itu dan menutup rapat-rapat pintu kamar tersebut, Rehan juga selalu peka dalam situasi seperti ini. "Sudah dibilang jangan datang ke sini tanpa memberitahu!" Rehan menatap kesal pada wanita itu. Laura menatap kesal pada pria yang ada didepannya. "Urusan saya dengan Leon, bukan denganmu Rehan!" "Kau hanya mantan Leon, jadi berhenti bersikap seolah-olah kau adalah wanita satu-satunya didalam hidup Leon!" tegas Rehan. Laura menampar wajah Rehan, dan Rehan sudah terbiasa mendapatkan itu dari Laura. Laura adalah mantan Leon yang sampai saat ini terus saja mengejar Leon, padahal hubungan mereka sudah berakhir sejak lama. "Pergi selagi saya bersikap baik padamu!" Leon keluar dari kamar dan menatap mantannya. "Sayang, aku tau kau tidak bisa melupakanku." Sepertinya urat malu Laura sudah putus, bahkan ia mengatakan itu tanpa malu. Leon menarik kasar lengan Laura dan memyeret Laura keluar dari rumah. "Aw!" Laura merintih. "Sakit, sialan!" Laura mulai mengumpat. "Jangan pernah menginjakkan kakimu di sini dan saya sudah menemukan gadis yang akan saya nikahi!" Tiba-tiba saja Leon mengatakan itu. "Gadis yang akan kamu nikahi?" Tiba-tiba saja seorang wanita lain datang.Pukul 9 malam di sebuah klub. Leon dan Rehan baru saja tiba di sana, Leon akan menemui seseorang di sana."Menyebar!" Leon memerintahkan itu pada beberapa bodyguard yang ikut masuk kedalam klub tersebut."Siap!" Para bodyguard mulai berpencar, mereka sudah tahu tugasnya masing-masing.Leon dan Rehan duduk di kursi bar. Rehan juga memesan minuman, tapi bukan minuman yang membuat mereka mabuk."Leon!" Rehan memanggil bosnya dengan nama.Leon melirik, Leon tahu jika Rehan sudah memanggil namanya pasti ada sesuatu yang sangat pribadi yang ingin Rehan katakan padanya."Katakan!" Leon sudah sangat mengenal asisten sekaligus sahabatnya itu.Rehan mengatur napas terlebih dahulu, setelah itu ia mengatakan. "Ada hubungan apa kamu sama Anya?" "Hubungan?" Leon tidak paham."Kamu suka sama Anya?" Rehan terus saja menatap serius pria yang ada disampingnya, pria yang sudah bersama dengannya sejak kecil.Leon tertawa. "Buat apa gue suka sama dia."Rehan masih menatap Leon."Sudah, kita fokus pada kl
Leon hanya menatap Anya setelah mengobati jari telunjuk Anya yang terluka karena jarum."Tuan enggak punya makanan kesukaan?" Anya masih menatap. "Makanan favorit," jelasnya."Apapun aku suka.""Oke." Anya manggut-manggut."Asalkan jangan." Leon menjeda perkataannya."Jangan apa?" Anya menatap dengan penuh penasaran.Leon menatap wajah Anya yang terlihat sangat cantik, entah kenapa Anya terlihat seperti gadis yang berbeda bagi Leon, tapi Leon yakin jika Anya adalah gadis yang sangat baik."Asalkan jangan makanan yang isinya racun."Anya sontak tertawa mendengar perkataan Leon, Anya pikir Leon sedang bercanda."Kenapa ketawa?" Wajah Leon sangat datar sekali."Enggak apa-apa." Anya menghentikan tawanya.Leon langsung menyentuh dagu gadis tawanannya. "Sepertinya kamu lebih cocok tertawa!" "Hah?" Anya tidak paham."Ya kamu lebih bagus tertawa dari pada diam dan cemberut seperti ini." Leon melepaskan tangannya dari dagu itu.Anya terdiam dengan mata yang terus menatap Leon, Anya tahu jika
"Maafkan saya, bos." Supir meminta maaf."Bodoh!" Leon mengumpat. "Menyetir yang benar!" "Baik, bos." Supir kembali mengemudi dengan fokus dan hati-hati, ia takut terkena omelan lagi dari bosnya.Rehan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah supir yang ada disampingnya, sekilas Rehan kembali menatap spion untuk melihat ke belakang. Rehan melihat Leon sedang merangkul Anya dengan erat, Leon memang seperti tengah jatuh cinta, tapi Rehan tidak akan berkomentar apapun tentang itu."Bos, kita langsung pulang ke rumah atau mampir ke suatu tempat lagi?" Rehan kembali bertanya pada bosnya untuk memastikan.Leon terdiam saat mendengar pertanyaan dari Rehan, Leon tengah berpikir dan sekilas Leon menatap Anya yang masih memejamkan mata karena masih terpengaruh obat bius."Langsung ke rumah saja," jawab Leon setelah beberapa detik berpikir."Baik." Rehan mengangguk dengan melirik ke arah supir, dan supir paham dengan lirikan itu.Mobil mewah terus melaju menuju rumah. Leon masih merangkul An
Leon yang ada waktu untuk melihat Anya yang ketakutan, ia harus segera sampai di rumah dengan selamat. Leon tidak ingin ada yang terluka, terutama Anya."SERANG TITIK PUSATNYA!" Leon berteriak dengan kembali duduk dikursi tengah, ia juga mulai mengambil sebuah pistol yang disembunyikan dibawah kursinya.Wajah Anya sangat pucat, ia sangat ketakutan. Namun, Anya yakin jika semuanya akan baik-baik saja."Baik!" Rehan menurut dan segera memerintahkan para bodyguard yang sudah sibuk dengan pistolnya masing-masing.Sesekali Leon melihat Anya, Anya semakin takut, tapi Anya terlihat mengimbangi situasi yang ada.'Seumur hidupku, aku baru merasakan seperti ini,' batin Anya yang tidak percaya dirinya merasakan seperti diserang musuh, walaupun sebenarnya itu bukan musuhnya.Anya menangis, tapi tidak membuat orang-orang yang ada didalam mobil mengkhawatirkan dirinya, ia bisa menahan semuanya dari ketakutan ini."Sudah pasti ini ulah Varell," gumam Leon dengan wajah yang kesal.Semuanya saling men
Anya segera membalikkan tubuhnya. "Me...menikah? Apa maksudnya?" Anya kebingungan dengan apa yang sedang dibicarakan oleh pria menyeramkan itu. "Tidak ada maksud." Leon tersadar atas perkataannya yang menurutnya tidak pantas. Anya terdiam, ia terus menatap Leon yang masih menatapnya juga. "Terima kasih tehnya." Leon memberikan senyuman tipis dengan mengambil cangkir teh. "Tu...tuan." Anya dengan takut-takut mencoba memanggil pria menyeramkan itu lagi. "Ya?" "Bolehkah aku bertanya sesuatu?" "Silakan, apa yang ingin kau tanyakan?" Leon mencoba mendengarkan. "A...apakah kakakku tidak berniat me..." Anya menjeda perkataannya. "Menebus kamu dan membawamu kembali ke rumah?" Leon paham dengan pembicaraan itu. "I...iya." Anya menundukkan kepalanya. Seketika Leon teringat jika Bima akan memberikan uang lima ratus juta dan sisanya akan kembali dicicil sampai lunas, tapi Bima ingin Anya kembali ke rumah. Namun, Leon tidak bisa membiarkan Anya kembali ke rumah karena nyawa A
Leon menatap wanita yang baru saja datang ke rumahnya. Leon menatap jengah wanita itu, wanita yang bernama Vera Baskara.Vera Baskara adalah wanita yang dibicarakan oleh ayahnya dua hari lalu, wanita yang akan dijodohkan olehnya. "Rehan!" Leon menatap asistennya. "Baik." Rehan paham dengan apa yang diperintahkan oleh bosnya walaupun bosnya tidak memberikan perintah. Leon melangkah menuju kamar di mana Anya berada, tapi tidak jadi saat suaranya mendengar suara pria. "Jadi, siapa gadis yang akan menikah denganmu?" Leon membalikkan badannya. "Varell, pergi!" Ia mengusir pria itu. "Saya ke sini akan membahas perjodohan kau dengan adik saya!" tegas pria yang bernama Varell. Varell adalah musuh bebuyutan Leon, dan Vera adalah adik Varell. Seperti inilah mengapa Leon tidak ingin menikahi Vera, apa lagi pernikahan yang terikat tentang bisnis perusahaan. "Sudah saya katakan, saya tidak berniat dijodohkan dengan siapapun!" tegas Leon. Leon memerintahkan seluruh bodyguard yang