Compartir

3. Terkurung

Autor: rindiyoon
last update Fecha de publicación: 2026-01-02 13:24:59

Namun, karena lawan Anya adalah seorang Mafia. Leon segera menarik tangan Anya yang sedang mengarahkan pisau pada pundaknya, Leon menjatuhkan Anya ke lantai tepat di kakinya.

Rehan yang mengetahui itu kembali terdiam, Rehan tahu jika kepekaan Leon sangat tajam.

"Ternyata kau lebih berani dari pada kakakmu," ucap Leon dengan menatap gadis itu yang sudah terlentang di lantai.

"Sakit!" Anya merintih sakit saat punggungnya terasa remuk akibat tubuhnya dibanting.

Leon segera menarik rambut panjang Anya, Leon menarik Anya menuju kamar. Leon juga melemparkan Anya ke atas ranjang, Anya mulai takut.

"Tu...tuan, jangan." Kali ini Anya memanggil pria menyeramkan itu dengan panggilan tuan.

"Kau harus melayaniku sekarang!" Leon mengunci kamar dan segera menghampiri gadis yang sedang ketakutan.

"Tu...tuan, aku akan membayar hutang kakakku, tapi jangan dengan tubuhku." Anya yang tadinya merasakan tubuhnya seperti diinjak oleh gajah, kini ia mulai berusaha berlari menuju pintu.

Leon tertawa. "Berapa ratus tahun saya harus menunggunya, Anya Freya!"

"Se...secepatnya." Anya mencoba meyakinkan.

"Lebih baik sekarang kau layani aku, cepat!" Leon sudah membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan menatap gadis yang sudah berdiri di pintu kamar.

Anya terdiam, dengan tangan yang mencoba membuka pintu. Namun, tidak berhasil saat kepalanya mendapatkan lemparan dari Leon.

Leon melemparkan sesuatu ke arah Anya, dan Anya kembali kesakitan pada kepalanya.

"CEPAT LAYANI AKU, JALANG!" Leon berteriak. "Aku harus mencicipi tubuhmu." Tatapannya begitu nakal.

Apakah Leon benar-benar akan mencicipi tubuh Anya? Tentu tidak, Leon bukan Mafia yang seperti itu, Leon bukan pria brengsek yang meniduri banyak wanita demi nafsunya sesaat.

Lalu kenapa Leon bertingkah seperti itu? Leon hanya ingin menakut-nakuti Anya, karena Leon tahu jika Anya adalah gadis baik dan sangat polos.

Leon juga ingin mengurangi kekerasan pada Anya, karena Leon mudah sekali menggunakan tangannya untuk kekerasan. Namun, entah kenapa Leon ingin mengurangi itu pada Anya.

Biasanya Leon selalu menghajar setiap orang yang tidak bertanggung jawab, entah orang itu pria atau wanita.

"Tu...tuan, saya menjadi pembantu saja di sini, jangan melayani di..." Anya menjeda perkataannya.

"Di mana?" Leon masih menatap gadis itu dengan tatapan nakal.

Anya membalikkan tubuhnya, ia membelakangi Leon, ia lebih baik menatap pintu dari pada menatap Leon, pikirnya.

"Bos, sepertinya kita harus berangkat!" Seseorang mengatakan itu dibalik pintu.

Anya tersenyum bahagia lalu membalikkan tubuhnya dan menatap pria yang masih berbaring di sana. "Tuan, sepertinya Tuan harus pergi." Senyuman sangat manis.

Leon terpesona akan senyuman Anya, senyuman yang membuat detak jantung Leon berdebar sangat kencang.

"Tuan?" Anya melangkah menuju ranjang.

Leon masih terdiam dengan tangan yang menyentuh dadanya, ia sedang merasakan detaknya begitu cepat

"Tuan Leon?" Anya berdiri dengan tatapan bingung.

"I...iya?" Kali ini Leon terlihat gugup.

"Sepertinya tuan harus pergi." Anya kembali senyum.

Leon segera bangun dari baringnya. "Ya, saya harus pergi, dan kau jangan bertingkah aneh!" Leon menyentuh dagu gadis yang ada didepannya.

"I...iya."

Leon segera pergi dan meninggalkan Anya, tapi lagi-lagi Anya bertingkah dan mengikuti langkah Leon dibelakangnya. Namun, Anya kembali ketahuan membuat Leon benar-benar murka.

"GADIS MENYEBALKAN!" Leon ingin menampar gadis itu. Namun, sang gadis berlutut dihadapannya.

"Tu...tuan, maafkan aku." Anya berlutut dan memohon. "Tolong biarkan aku membayar semua hutang kakakku." Anya menangis. "Jangan sakiti kakakku, aku akan menjadi pembantu di sini sampai hutang kakakku lunas." Anya seperti bernegosiasi.

Leon tertawa. "Lakukan apa yang kau inginkan!" Seperti mengizinkan apa yang diinginkan sang gadis. "Tapi mulai sekarang kau tidak akan bisa keluar dari sini!" Matanya mengkilap, ia benar-benar kesal.

Leon mendorong tubuh Anya kedalam kamar itu, dan Anya terpental kedalam kamar dan jatuh dilantai. Leon menutup pintu dengan kasar dan segera mengunci pintu itu, lalu Leon dan Rehan pergi dari sana.

"Sepertinya biarkan Anya tinggal di ruang bawah tanah," celetuk Rehan.

"Biarkan dia di kamar itu." Leon terus melangkah lebar, karena ia harus segera pergi.

Leon dan Rehan keluar dari rumah dengan mobil yang sudah tersedia didepan pintu utama. Leon segera masuk ke dalam mobil, lalu disusul oleh Rehan.

Leon membiarkan Anya terkurung di kamar, Anya harus dikurung seperti itu guna tidak bisa mencoba pergi, atau melukainya lagi.

Sebenarnya Leon hampir saja terluka karena Anya, tapi karena Leon memiliki kepekaan yang sangat tajam membuat Leon bisa melindungi dirinya sendiri.

***

Dua hari kemudian saat Anya terkurung di kamar, saat ini Anya sedang tergeletak di lantai, tubuhnya lemas karena tidak mendapatkan asupan makan dan minum.

Anya tidak diberikan makan maupun minum oleh Leon atau dari orang-orang yang ada di rumah tersebut. Sepertinya Anya sedang mendapatkan hukuman dari Leon, dan wajah Anya sangat pucat sekali seperti hampir mati, karena dua hari sama sekali tidak makan dan minum.

"To...tolong, aku harus!" Anya menggedor-gedor pintu kamar, ia berharap seseorang membuka pintu dan membawa minum untuknya. "Tu...tuan!"

Pandangan Anya mulai kabur, matanya mulai terpejam. Anya pingsan, karena sudah dua hari tidak diberikan asupan apapun.

"TO...TOLONG!" Seorang pelayan wanita terkejut saat melihat tubuh Anya sudah pingsan di lantai. "Tu...tuan Leon!" Ia kembali berteriak.

Leon dan Rehan segera menghampiri sumber teriakan itu.

"Anya!" Leon menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu. "Tubuhmu sangat lemah." Leon geleng-geleng kepala.

"Biarkan saya mengurusnya." Rehan ingin menggendong gadis itu, tapi tidak jadi.

Leon menatap tajam asistennya. "Mau apa kau? Biarkan saya mengurusnya!"

"Baik." Rehan menurut dan membiarkan bosnya menggendong gadis itu.

Leon menggendong Anya menuju ranjang, Anya mulai dibaringkan diatas ranjang, pelayan wanita tadi menyimpan nampan yang sudah dibawanya.

Nampan berisi makanan dan minuman untuk Anya. Namun, Anya terlebih dahulu pingsan sebelum makanan dan minuman itu datang.

Leon menghela napasnya dengan kasar. "Baru diberi hukuman seperti ini, kau sudah pingsan, dasar lemah." Terus saja Leon menyalahkan tubuh gadis itu yang lemah, padahal semua salah Leon yang memberikan hukuman seperti itu.

Leon meminta Rehan menghubungi Dokter yang biasa datang ke rumahnya. Namun, tiba-tiba saja seorang wanita masuk ke kamar tersebut.

"Oh, jadi kau memutuskanku karena kau sudah menemukan wanita lain."

Rehan segera menghampiri wanita itu dan menutup rapat-rapat pintu kamar tersebut, Rehan juga selalu peka dalam situasi seperti ini.

"Sudah dibilang jangan datang ke sini tanpa memberitahu!" Rehan menatap kesal pada wanita itu.

Laura menatap kesal pada pria yang ada didepannya. "Urusan saya dengan Leon, bukan denganmu Rehan!"

"Kau hanya mantan Leon, jadi berhenti bersikap seolah-olah kau adalah wanita satu-satunya didalam hidup Leon!" tegas Rehan.

Laura menampar wajah Rehan, dan Rehan sudah terbiasa mendapatkan itu dari Laura. Laura adalah mantan Leon yang sampai saat ini terus saja mengejar Leon, padahal hubungan mereka sudah berakhir sejak lama.

"Pergi selagi saya bersikap baik padamu!" Leon keluar dari kamar dan menatap mantannya.

"Sayang, aku tau kau tidak bisa melupakanku." Sepertinya urat malu Laura sudah putus, bahkan ia mengatakan itu tanpa malu.

Leon menarik kasar lengan Laura dan memyeret Laura keluar dari rumah.

"Aw!" Laura merintih. "Sakit, sialan!" Laura mulai mengumpat.

"Jangan pernah menginjakkan kakimu di sini dan saya sudah menemukan gadis yang akan saya nikahi!" Tiba-tiba saja Leon mengatakan itu.

"Gadis yang akan kamu nikahi?" Tiba-tiba saja seorang wanita lain datang.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Gadis Tawanan sang Mafia   90. Penuh Kebahagiaan

    Sebulan berlalu. Setelah Leon melihat musuh bebuyutan masih hidup. Leon sudah tidak mendengar kabar dan melihat apapun lagi.Namun, Leon tetap waspada dengan sekitarnya. Leon tidak ingin keluarganya menjadi sasaran dari musuh bebuyutannya lagi.Leon ingin melindungi keluarganya, dan membahagiakan keluarganya."Sayang, lama banget dandannya?" Leon langsung memeluk tubuh Anya dari belakang. Saat ini posisi Anya sedang berdiri didepan cermin besar."Sebentar lagi, karena ini adalah ulang tahun Tasya, aku harus cantik," ucap Anya."Cantik kamu hanya untukku!""Iya sayang."Leon masih saja posesif. Leon tidak memperbolehkan Anya terlalu cantik jika keluar rumah."Mama, ayo!" Nathalie masuk ke kamar."Iya sebentar."Leon langsung melepaskan pelukannya dan membiarkan Anya memilih tas yang akan dibawa. Leon pergi mengambil handphone yang ada di atas meja rias."Papa, di bawah ada Om Rehan," kata Nathan yang baru saja masuk ke kamar orang tuanya."Oke." Leon melangkah keluar."Yeay, ada Om Re

  • Gadis Tawanan sang Mafia   89. Jangan Menganggu!

    "Sebentar lagi makan," jawab Leon dengan senyuman.Tangan Leon mengusap-usap kepala Anya, dan Anya mengangguk tanpa banyak pertanyaan.Sesekali Nathan menatap Leon, Nathan yakin jika Leon sedang memikirkan kejadian tadi, tapi Nathan tidak ingin banyak bicara.Walaupun Leon tidak meminta Nathan untuk tutup mulut tentang kejadian tadi, tapi Nathan tidak mudah membicarakan apapun pada orang-orang. Nathan mampu menyembunyikan rahasia."Papa, terima kasih, makanannya enak sekali!" Sudah cukup banyak Nathalie mencicipi menu makan malam."Sama-sama." Leon tersenyum manis.Leon senang saat mengetahui Nathalie menyukai makanan yang ada di restoran tersebut. Leon pastinya akan memberikan makanan yang lezat dan bergizi untuk istri dan anak-anaknya.Handphone Leon berdering, ada panggilan masuk, dan Leon meminta izin untuk menjawab telepon itu.Anya mengizinkan. Leon bangun dari duduknya dan menjauh dari meja untuk menjawab panggilan itu, dan Anya tidak menaruh kecurigaan apapun pada Leon."Janga

  • Gadis Tawanan sang Mafia   88. Ternyata Masih Hidup

    Pukul 7 malam. Leon, Anya, Nathan, dan Nathalie makan malam di luar.Leon melakukan reservasi makan malam di restoran mewah yang ada di kotanya. Leon tentunya akan menuruti keinginan istri, dan anak-anaknya.Walaupun hari ini Leon pulang agak terlambat, tapi Leon sudah melakukan reservasi sebelum pulang ke rumah, dan pastinya Leon akan selalu mendapatkan apa yang diinginkan."Terima kasih, Papa!" Nathalie sangat senang."Sama-sama." Leon tersenyum.Leon mengusap-usap kepala Nathalie dengan lembut, dan Nathan sibuk dengan iPad, Nathan sedang bermain game.Leon sudah memilih menu makan malam untuk keluarganya, kini mereka hanya bisa menunggu hidangan disajikan di atas meja.Anya dan Leon saling menatap satu sama lain. Anya tersenyum lebar dan sangat bahagia, begitu pula dengan Leon.Setiap hari mereka merasakan kebahagiaan yang tiada henti. Namun, ada ketakutan yang Anya pendam.Anya takut apa? Entah, beberapa hari ini Anya mimpi buruk.Namun, Anya tidak cerita pada Leon. Anya takut jik

  • Gadis Tawanan sang Mafia   87. Anya Baik-baik Saja

    "Aku mau beli ramen, tadi katanya mau ramen.""Beli online aja." Anya tidak ingin ditinggal sendirian."Baiklah." Leon tidak memiliki pilihan lain.Anya tidak ingin ditinggal sendirian, dan Anya terlihat manja sekali."Selain ramen mau apa lagi?" Leon kembali bertanya dengan tangan yang masih menggenggam ponselnya."Aku mau pilih sendiri."Anya merebut handphone Leon, dan Leon tidak keberatan dengan itu, lagi pula Leon tidak pernah menyembunyikan apapun dari Anya, jadi Leon tidak pernah takut jika Anya merebut ponselnya."Aku mau ini, ini, ini." Anya memilih banyak menu makanan.Leon tidak mempedulikan itu karena yang terpenting Anya makan banyak sebelum melakukan operasi, karena kondisi Anya juga harus stabil sebelum melakukan pengangkatan rahim.Sejujurnya Leon sedih dengan hal ini, tapi Leon mencoba kuat didepan Anya. Leon tidak ingin membuat Anya sedih.Leon yakin setelah ini tidak akan ada hal apapun lagi. Leon akan selalu membuat Anya bahagia, Leon sangat mencintai Anya. Anya ad

  • Gadis Tawanan sang Mafia   86. Pengangkatan Rahim

    Anya tertawa kecil mendengar ucapan Nathan."Sudahlah, aku ke bawah dulu." Leon izin."Oke." Anya manggut-manggut dan mengizinkan.Leon keluar dari kamar untuk menemui Rehan di lantai bawah, dan Nathan masih menemani Anya."Ke mana Papa?" tanya Nathalie saat dirinya keluar dari kamar mandi."Ke bawah ketemu ...," jawab Anya yang belum selesai.Namun, Nathalie sudah berlari keluar kamar, tapi saat mendekati pintu kamar, Nathalie terjatuh.Nathalie tidak menangis. Ia segera bangun, dan berlari lagi menuju lantai bawah."Astaga, anak itu!" Anya geleng-geleng kepalanya.Anya tidak menyangka jika Nathalie sangat bersemangat bertemu dengan Rehan."Tuh, Mama liat sendiri, kan? Aku nggak bohong, dia genit banget kalau urusan Om Rehan," ucap Nathan dengan jujur.Anya tertawa lagi dan berkata. "Biarkan, mungkin Nathalie sudah menganggap Om Rehan sebagai kakak tertuanya.""Mana ada begitu." Suara Nathan sangat ketus, tentu ia tidak suka dengan sikap kembarannya yang genit.Anya hanya bisa tertaw

  • Gadis Tawanan sang Mafia   85. Akhirnya, Anya Sadar

    Seminggu berlalu. Anya sudah sadar. Keluarganya bahagia melihat Anya sudah membuka matanya. Namun, Anya masih terlihat linglung."Mama!" Nathan dan Nathalie memeluk Anya yang masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tiba-tiba saja air mata Anya menetes. Anya tahu saat ini dirinya ada di rumah sakit."Sayang!" Leon mengusap lengan Anya dan mengecup lengan itu berkali-kali.Dokter dan asistennya segera memeriksa keadaan Anya, dan akhirnya kondisi Anya sudah membaik. Namun, memang harus banyak istirahat karena baru bangun dari operasi.Anya masih belum membuka mulutnya, Anya belum berbicara sama sekali.Dinda, Luki, dan Tasya sedih yang bercampur bahagia melihat Anya sudah membuka matanya.***Beberapa hari setelah Anya sadar. Anya diizinkan pulang ke rumah, dan pastinya Leon langsung segera membawa Anya pulang ke rumah.Leon tahu jika Anya tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Anya tidak mencium aroma rumah sakit yang memiliki khas tersendiri."Mama, aku buatkan teh hangat untuk mama

  • Gadis Tawanan sang Mafia   61. Doni Tidak Merestui

    Doni tertawa kecil. Leon mencoba menahan diri untuk bisa mendapatkan restu dari orang tuanya. Dinda hanya menatap sedih pada Leon.Dinda sebenarnya tidak terlalu memilih gadis seperti apa yang akan menikah dengan Leon. Dinda hanya ingin gadis itu bisa membuat Leon bahagia, itu saja.Namun, saat ini

  • Gadis Tawanan sang Mafia   60. Minta Restu

    Anya tersenyum."Anya. Kamu tau, aku ngga akan pernah menyakiti kamu." Suara Leon terdengar tulus. "Aku sangat mencintaimu, kalau aku nggak mencintaimu, aku nggak akan membiarkan kamu memiliki anak dariku."Anya masih tersenyum dan mengangguk. "Aku tau, kamu adalah pria yang baik."Anya menggenggam

  • Gadis Tawanan sang Mafia   59. Demam

    "Aku pengen ke kolam renang." Tiba-tiba saja Anya ingin ke kolam renang.Sepertinya keinginan Anya mudah berubah-ubah."Baiklah, biarkan Bibi menemani Nona.""Terima kasih.""Sama-sama." Bi Ina mengulas senyum.Bi Ina pastinya senang bisa menemani Nona Anya, apa lagi saat ini sang Nona sedang hamil

  • Gadis Tawanan sang Mafia   58. Mengidam

    "Kenapa kamu pengen ke kantor?" tanya Leon dengan mengernyit."Pengen aja," jawab Anya yang singkat.Leon terdiam, ia enggan mengatakan apapun lagi pada Anya. Leon lebih memilih untuk diam dari pada mood Anya kembali tidak baik."Nggak boleh, ya?" Suara Anya terdengar sedih.Anya menatap Leon denga

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status