LOGINSetelah selesai makan malam, Azalea masih sibuk dengan ponselnya. Carlos yang melihat itu malah menyandarkan tubuh santai di kursinya sambil memperhatikan Azalea.
“Ayo tidur,” katanya santai.
Azalea langsung menoleh curiga.
“Lo nggak bakal apa-apain gue kan?”
Carlos mengangkat alis kecil. “Menurut lo?”
Azalea langsung mendecih kesal.
“Gue serius.”
Carlos menahan tawa kecil melihat wajah galak Azal
Mobil itu melaju pelan di jalanan kota yang mulai padat. Sintia duduk tegak di kursi depan, tangannya memegang dokumen kecil yang tadi ia bawa dari restoran. Matanya sesekali melirik ke arah Carlos yang duduk di belakang, tampak tenang seperti biasa.“Pak Carlos…” suara Sintia akhirnya terdengar hati-hati. “Tadi… benar mau memberikan pekerjaan untuk gadis itu?”Carlos tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela, seolah pikirannya berada di tempat lain.“Dia bukan dari lingkungan yang baik,” lanjut Sintia pelan, mencoba terdengar profesional, tapi jelas ada nada tidak setuju di sana.Carlos akhirnya menoleh sedikit. “Lo juga sama aja,” ucapnya datar.Sintia terdiam.“Jadi jangan banyak membantah apa yang gue perintahkan.”Kalimat itu membuat udara di dalam mobil langsung terasa kaku. Sintia mengepalkan tangannya di pangkuan, tapi ia hanya mengangguk
Carlos sedang duduk di restoran hotel mewah, jasnya rapi, ekspresinya tenang seperti biasa saat membahas bisnis dengan klien di depannya.Di sampingnya, Sintia duduk sebagai sekretaris yang setia mendampingi. Ia sesekali mencatat, sesekali tersenyum profesional setiap kali Carlos berbicara.Obrolan bisnis itu berlangsung lancar, sampai akhirnya klien mereka berdiri dan berjabat tangan.“Kerja sama ini saya rasa akan sangat menguntungkan,” ucap klien itu.Carlos mengangguk singkat. “Saya juga.”Tak lama, klien itu pun pergi meninggalkan meja mereka. Suasana langsung lebih santai. Sintia menoleh pada Carlos dengan senyum tipis.“Jadi… kita langsung pulang?” tanyanya pelan, lalu menambahkan dengan nada sedikit menggoda, “atau mau bermalam di sini?”Carlos tidak langsung menjawab.Tatapannya malah kosong sesaat, pikirannya melayang jauh.Sintia memperhatikan perubahan ek
Di sebuah mall yang cukup ramai, Azalea berdiri di dekat salah satu pintu masuk area kafe sambil sesekali melihat sekeliling.Tangannya menggenggam tali tas, matanya agak gelisah menunggu seseorang. Tidak lama kemudian, Mike muncul dari kejauhan.Di tangannya ada sebuah rangkaian bunga kecil yang sederhana, tapi rapi. Azalea langsung terdiam saat melihatnya.“Lo beneran bawa bunga?” tanyanya kaget begitu Mike mendekat.Mike mengangkat bunga itu sedikit, lalu tersenyum santai.“Kenapa? Berlebihan ya?”Azalea langsung menggeleng cepat. “Bukan… cuma… gue nggak nyangka aja.”Mike tertawa kecil, lalu menyerahkan bunga itu ke Azalea.Azalea menerimanya dengan ragu, lalu menatapnya sebentar. “Terima kasih…”Mike memasukkan tangan ke saku jaketnya.“Jadi, sekarang kita mau ke mana?”Azalea berpikir sebentar. “Ada tempat yang peng
“Carlos…”“Kenapa lo selalu beda?” suara Carlos kali ini lebih rendah. Hampir seperti retakan. “Kenapa cuma lo yang bikin gue… puas?”Azalea mencoba mendorongnya.“Gue bilang lepasin.”Tapi Carlos justru menahan lebih erat. Azalea mendongak, dan di saat itu ia melihatnya. Mata Carlos. Tidak seperti biasanya.Ada sesuatu yang basah di sana sesuatu yang hampir jatuh tapi ditahan sekuat mungkin. Dan itu membuat tangan Azalea berhenti.Seluruh kekuatannya seperti hilang begitu saja. Carlos menunduk sedikit, suaranya lebih pelan.“Jangan pergi lagi tanpa bilang gue.”Azalea terdiam.Tangannya yang tadi mendorong perlahan jatuh di sisi tubuhnya. Tatapan mereka saling bertemu, lalu Carlos pun langsung mencium bibir Azalea tanpa ijin. Tangannya meremas lengan Azalea dengan erat seolah takut kehilangan.Azalea tak
Pagi itu cahaya matahari masuk dari celah tirai apartemen Carlos, jatuh langsung ke wajahnya yang masih setengah tertidur.Namun yang pertama ia rasakan bukan ketenangan. Tapi rasa tidak nyaman. Karena di sampingnya, Angel masih berada dalam pelukannya.Carlos membuka mata perlahan, lalu langsung menarik tangannya dari tubuh perempuan itu. Tatapannya berubah dingin dalam sekejap.Angel yang masih setengah tertidur langsung terbangun.“Carlos?” suaranya pelan, bingung.Carlos duduk di tepi ranjang, tanpa menoleh lama.“Lo bohong sama gue,” katanya datar.Angel langsung menegang. “Apa maksud kamu?”Carlos akhirnya menatapnya. Tatapannya tajam, seperti sudah membaca semuanya tanpa perlu penjelasan.“Gue tau mana yang masih virgin dan mana yang nggak,” ucapnya dingin. “Gue udah tidur sama ribuan wanita. Jangan pikir lo bisa mainin gue.”Wajah Angel langsung p
Azalea berjalan sendirian di trotoar yang sepi, langkahnya pelan tanpa arah jelas. Lampu jalan memantulkan bayangan panjang di aspal, tapi tidak ada satu pun yang terasa nyata baginya.Ia tidak tahu harus ke mana.Apartemen itu… terlalu sesak.Dan di saat yang sama, terlalu penuh untuk ditinggali lagi.Azalea berhenti di pinggir jalan, menatap mobil-mobil yang lewat. Beberapa detik kemudian ia mengangkat tangan dan menghentikan sebuah taksi yang melaju perlahan.“Ke pusat kota,” katanya singkat.Sopir hanya mengangguk dan mobil pun melaju.Sepanjang perjalanan, Azalea hanya menatap keluar jendela. Gedung-gedung tinggi, lampu neon, dan orang-orang yang masih berlalu-lalang di malam hari semuanya terlihat seperti dunia yang berjalan normal.Sementara dirinya… terasa terlepas dari semuanya. Setelah cukup lama, taksi berhenti di depan pusat kota.“Sudah sampai, Nona.”Azalea menga
Di dalam rumah besar itu, Azalea berdiri di depan wastafel kamar Carlos, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan wajah kesal. Tanpa ragu, ia langsung membasuh bibirnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak yang barusan terjadi.“Gila…” gumamnya pelan, tangannya menggosok bibirnya lebih ke
Carlos melepaskan ciumannya dengan napas yang masih memburu. Ia menatap Raisa sekilas, lalu mengusap tengkuknya sendiri dengan ekspresi datar. Ada sesuatu yang terasa kurang, tapi ia sendiri tidak tahu apa.Raisa yang masih bersandar manja di dada Carlos, mengerutkan kening. “Lo kenapa sih akhir-ak
Pagi itu Carlos baru saja tiba di kantornya. Langkahnya tenang memasuki ruangan CEO yang luas dan elegan itu sambil melepas jas mahalnya. Tatapannya jatuh pada layar laptop dan tumpukan dokumen kerja. Tok tok tok. Suara
Akhir pekan Carlos membawa Azalea ke area panjat tebing outdoor yang berada di pinggir tebing batu asli.Udara terasa sejuk dengan angin yang bertiup cukup kencang. Beberapa peserta lain terlihat sedang mempersiapkan alat pengaman mereka.Sementara Azalea menatap dinding batu ti







