LOGINCarlos berjalan santai menghampiri Mike yang masih berdiri. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya tetap tajam. Ia melirik ke sekeliling kebun yang mulai sepi lalu bertanya dengan nada santai,
"Pestanya udah selesai?"
Mike memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Udah."
Lalu ia balik bertanya,
"Untuk apa lo ke sini?"
Carlos tersenyum tipis.
"Kenapa? Gue nggak boleh datang?"
Mike tidak menjawab. Carlos lalu menambahkan sambil men
Di dalam mobil, suasana langsung berubah sunyi. Carlos fokus menyetir, sementara Azalea duduk di sampingnya sambil memandang keluar jendela.Lampu-lampu jalan berlalu begitu saja. Hingga akhirnya Azalea mendengus pelan."Ngapain sih lo ke sana?"Carlos melirik sekilas."Jemput istri gue lah."Azalea langsung menoleh dengan wajah kesal."Istri? Bukannya lo lagi seneng-seneng sama cewek-cewek bule di Bali?"Carlos justru tersenyum kecil."Oh... Kirain lo nggak lihat semua foto dan video yang gue kirim."Azalea mendengus lagi."Gue sibuk. Jadi nggak sempat lihat semuanya. Kalau lo mau seneng-seneng ya seneng-seneng aja. Nggak usah nyepam kayak
Carlos berjalan santai menghampiri Mike yang masih berdiri. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya tetap tajam. Ia melirik ke sekeliling kebun yang mulai sepi lalu bertanya dengan nada santai,"Pestanya udah selesai?"Mike memasukkan kedua tangannya ke saku celana."Udah."Lalu ia balik bertanya,"Untuk apa lo ke sini?"Carlos tersenyum tipis."Kenapa? Gue nggak boleh datang?"Mike tidak menjawab. Carlos lalu menambahkan sambil mengangkat bahu,"Lagi pula Azalea itu anak teman nyokap gue. Nggak aneh kalau gue datang."Mike menatap Carlos beberapa detik. Tatapannya jelas tidak bersahabat."Cuma sayangnya.""Apa?""Azalea nggak bisa ketemu lo."Carlos mengangkat sebelah alis."Siapa lo ngatur-ngatur Azalea?"Nada suaranya berubah dingin. Mike langsung menatap balik."Gue cuma nggak mau Azalea terluka."Kalimat itu membuat Carlos tersenyum miring."
Senja mulai turun ketika pesta rakyat akhirnya selesai.Lampu-lampu gantung yang dipasang sejak pagi mulai menyala satu per satu, menerangi kebun yang kini perlahan kembali sepi.Anak-anak sudah pulang bersama orang tua mereka. Tenda-tenda mulai dibongkar. Beberapa warga masih membantu membereskan meja dan kursi.Sementara itu, Rose dan Bryan tampak sibuk membagikan hasil panen kepada warga yang masih mengantre.Bryan terlihat sangat bahagia."Ambil yang banyak ya! Tahun ini panen kita luar biasa!" serunya sambil tertawa.Rose ikut tersenyum melihat suaminya yang begitu bersemangat. Sedangkan di sisi lain, Azalea masih membantu membereskan sisa-sisa makanan bersama Mike.Namun sejak pagi tadi, tubuhnya terasa semakin tidak nyaman. Perutn
Carlos akhirnya tiba di kamar hotel saat matahari mulai tenggelam di ufuk Bali. Begitu pintu kamar terbuka, Sintia yang sejak tadi berjalan di belakangnya langsung ikut melangkah maju."Pak Carlos, kalau ada yang perlu saya bantu—""Nggak usah."Carlos langsung memotong.Sintia berhenti. "Tapi kita bisa berbagi kehangatan—""Lain kali aja."Carlos membuka pintu lebih lebar lalu menatap sekretarisnya."Gue mau istirahat."Sintia tampak kecewa. Ia sebenarnya berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu berdua dengan Carlos, apalagi mereka sedang berada di luar kota.Namun tatapan dingin pria itu membuatnya tidak berani membantah."Baik, Pak."Carlos mengangguk singkat. Lalu menutup pintu.Klik.Kamar hotel yang luas itu langsung terasa sunyi. Carlos melemparkan kartu kamar ke atas meja. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang besar.Matanya menatap langit-langit.A
Matahari Bali bersinar terik ketika Carlos berdiri di depan bangunan resort yang masih setengah jadi.Debu konstruksi beterbangan tertiup angin.Beberapa pekerja masih terlihat mondar-mandir, namun jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding laporan yang pernah ia terima beberapa bulan lalu.Carlos memasukkan kedua tangan ke saku celananya sambil memperhatikan area proyek yang terbengkalai itu.Semakin lama ia melihatnya, semakin banyak hal yang terasa tidak masuk akal."Masih aneh," gumamnya.Sintia yang berdiri di sampingnya menoleh."Apa yang aneh, Pak?"Carlos menghela napas."Kalau klien memang mau menghentikan proyek, kenapa menunggu sampai pembangunan sejauh ini?"Sintia ikut memandang bangunan tersebut."Kemungkinan masalah dana?"Carlos menggeleng."Kalau masalah dana, mereka nggak mungkin berani mulai proyek sebesar ini."Ia menyipitkan mata."Ada sesuatu yang belum kita tah
Pagi itu langit masih berwarna abu-abu ketika Carlos sudah berada di terminal keberangkatan bandara. Matanya tampak lelah. Ia bahkan masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam.Kemeja yang sedikit kusut. Jas yang digantung asal di lengan. Dan aroma alkohol yang masih menempel samar di tubuhnya.Carlos duduk di ruang tunggu VIP sambil menatap landasan pacu di balik jendela besar. Sudah sejak dini hari ia berada di sana.Dan sejak semalam pula ia tidak kembali ke apartemen. Ponselnya tergeletak di meja. Layar gelap.Tidak ada satu pun pesan yang ia kirim. Tidak ada satu pun telepon yang ia lakukan. Beberapa saat kemudian langkah sepatu hak tinggi mendekat.Sintia datang sambil membawa koper kecil dan beberapa kantong pakaian. Begitu mendekat, wanita itu langsung mengernyit."Pak Carlos..."Carlos melirik sekilas."Hm?"Sintia meletakkan kantong pakaian di sampingnya."Bapak nggak pulang ke rumah?"Car
Carlos makin mendekatkan wajahnya. Tatapannya turun ke bibir Azalea yang langsung membuat Azalea salah tingkah sendiri. Jantungnya mulai nggak karuan. Entah kenapa, dia nggak tahu harus ngomong apa. Napas Carlos terasa dekat banget. Azalea bahkan tanpa sadar mulai memejamkan mata pelan. Tapi… Bukan
Hari pernikahan pun tiba, Azalea duduk diam di depan meja rias dengan gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya. Rambut pendeknya ditata, dan wajahnya dipoles makeup tipis yang membuat sisi feminin dalam dirinya terlihat semakin jelas. Namun, di balik penampilannya, pikirannya terasa kacau. Ucapa
Suara musik lembut mengalun pelan, sementara para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan terbuka. Di depan, Tommy berdiri dengan setelan jas elegan, memegang mikrofon dengan senyum hangat yang selama ini begitu dikenal banyak orang.“Terima kasih karena sudah datang,” ucap Tommy tenang, pandangannya
Di dalam rumah besar itu, Azalea berdiri di depan wastafel kamar Carlos, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan wajah kesal. Tanpa ragu, ia langsung membasuh bibirnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak yang barusan terjadi.“Gila…” gumamnya pelan, tangannya menggosok bibirnya lebih ke







