LOGIN"Iya, aku memang wanita murahan!" bentakku, membuatnya membeku.
Tanpa menunggu responsnya, aku bergegas pergi. Lagipula, sudah banyak mahasiswa yang mulai beraktivitas. Aku tidak mau percakapan kami terdengar oleh orang lain.Aku berjalan cepat menuju lift asrama. Namun, ketika sebelah kakiku sudah berada di dalam lift, Reno tiba-tiba menarik kerah belakangku hingga aku terjatuh ke lantai.Aku menoleh ke arah Reno. Ia menatapku dengan ekspresi mengejek."NaDeria rupanya bergerak cepat. Sepulang dari pertemuan kami, ia sengaja menunjukkan bukti perselingkuhannya dengan Tuan David kepada Nyonya Mayun.Nyonya Mayun langsung murka. Ia memukuli Deria dengan membabi buta. Untungnya, tindakannya segera dihentikan oleh Tuan David yang baru saja pulang dari kantor.Amarah Nyonya Mayun pun beralih kepada suaminya yang tega mengkhianatinya.Tuan David sontak terkejut. Pria itu segera menarik istrinya menuju kamar mereka, lalu mengajaknya berbicara dengan tenang."Pantas saja kamu senang sebulan terakhir, ternyata main gila bersama wanita muda," cibir Nyonya Mayun, menahan rasa jengkel dan sakit hati.Tuan David meraih jemari Nyonya Mayun, kemudian mengelusnya pelan."Mayun, aku mengaku salah. Aku dengannya hanya bermain-main," jelas Tuan David."Sama saja, itu namanya selingkuh! Kamu... Berani menyelingkuhiku!" bentak Nyonya Mayun, menarik tangannya dari genggaman Tuan David.
Satu hari berlalu.Surat panggilan dari kepolisian atas laporan Westen, pria yang kupukul di gudang, akhirnya kuterima.Arlo langsung merebut kertas itu dari tanganku, lalu membacanya dengan saksama. Aku melihat rahangnya mengeras. Jelas sekali dia sedang menahan amarah."Ini pria yang kamu pilih? Melaporkanmu?" bisik Arlo."Bukan urusanmu, Kak!" bentakku.Suara kerasku tak hanya mengejutkan Arlo, tetapi juga dua pria lain yang berada di dalam kamar."Urusanku kalau kamu dipenjara!" tegas Arlo sembari merobek surat panggilan tersebut. "Biar aku selesaikan ini."Ketika Arlo hendak keluar, Reno mencegahnya."Sejak kapan masalah Kean menjadi urusanmu? Dia sudah dewasa. Masalahnya, biar dia selesaikan sendiri," ujar Reno sembari mendorong pundak Arlo agar mundur.Arlo mengernyit tajam. Dia terlihat terganggu dengan perkataan Reno."Yang dikatakan Kak Reno benar. Aku harus menyelesaikannya sendiri,"
"Iya, aku memang wanita murahan!" bentakku, membuatnya membeku.Tanpa menunggu responsnya, aku bergegas pergi. Lagipula, sudah banyak mahasiswa yang mulai beraktivitas. Aku tidak mau percakapan kami terdengar oleh orang lain.Aku berjalan cepat menuju lift asrama. Namun, ketika sebelah kakiku sudah berada di dalam lift, Reno tiba-tiba menarik kerah belakangku hingga aku terjatuh ke lantai.Aku menoleh ke arah Reno. Ia menatapku dengan ekspresi mengejek."Naik tangga sana. Penipu," ucap Reno sebelum pintu lift tertutup.Aku mengernyit.Ada apa dengan sikap Reno? Dia baru saja menciumku, tetapi sekarang malah memperlakukanku seperti ini. Apa dia ingin membalas dendam karena aku sudah menipunya soal jenis kelaminku?"Sungguh pria sejati." Aku tak kuasa menahan cibiran.Aku sudah kelelahan! Fiuuh! Baiklah... Menaiki ratusan anak tangga di pagi hari seharusnya tidak terlalu buruk.Aku menarik napas panjang b
Reno terkejut bukan karena ayahnya menyerahkan seluruh harta pribadinya kepada Lidia, melainkan karena ia memikirkan dampak yang akan menimpa sang adik kelak.Lidia baru saja lulus SMA. Ia masih terlalu muda untuk menanggung risiko sebesar itu. Sebenarnya, apa yang sedang dipikirkan sang ayah?"Tuan Zilo sedang mencari calon suami yang cocok untuk Lidia," lanjut asisten pribadi Reno.Reno menghela napas lelah. Ia sedang patah hati, ditambah kelakuan ayahnya yang mendadak seperti itu. Lengkap sudah penderitaannya.Asisten pribadi Reno kemudian mengingatkannya agar tetap fokus pada kuliahnya karena ia tidak ingin Reno terlambat lulus.Reno mengangguk mengerti.***Keesokan harinya, Qiqi mengajak Arlo mengunjungi Beni untuk mengucapkan salam perpisahan. Sebelumnya, mereka memang sudah saling bertukar pesan.Beni tampak sangat senang melihat kedatangan Arlo. Mood-nya yang sempat merosot tajam seketika kembali membaik. Wajahnya sumringah, bahkan ia terlihat jauh lebih bersemangat ketika me
Deria memberitahu Sarah di mana Beni diamankan ibunya. Tanpa buang-buang waktu, malam itu juga, Sarah meluncur ke tempat Beni. Sampainya di sana, bukannya menghajar habis-habisan Beni, Sarah justru mengajak lelaki itu mengobrol santai.Sarah berterima kasih atas pesta mewah nan megah yang telah disiapkan oleh Beni untuknya. Tapi ia memperingati Beni supaya bertingkah layaknya manusia normal. Sarah berjanji, jika Beni tidak berulah, maka ia akan memohon pada sang ayah untuk mengizinkan Beni kembali ke dunia hiburan.Sayangnya, Beni tidak berkenan mendengarkan atau menuruti perkataan Sarah."Asal kamu tahu, aku sudah tidak peduli dengan karierku. Sekarang, tujuan utamaku hanya satu. Membatalkan pertunanganmu," tandas Beni.Sarah mendengus. Ia tak habis pikir, mengapa ada kakak kandung yang ingin menghancurkan kebahagiaan adiknya? Apa karena Beni iri dengan kehidupan Sarah yang glamor sejak kecil?"Beni, aku menghormatimu karena kamu kakakku
Tuan David memerintahkan anak buahnya untuk memastikan bahwa semua orang yang menghadiri pesta tidak membawa bukti mengenai bobroknya Beni. Setelah seluruh tamu diperiksa, barulah mereka diperbolehkan meninggalkan tempat pesta.Sebenarnya, para tamu undangan tidak terima tas dan ponsel mereka diacak-acak tanda izin. Bagaimanapun juga, mereka bukan orang biasa, melainkan berasal dari kalangan atas. Di lain sisi, mereka juga memahami bahwa tindakan Tuan David semata-mata dilakukan untuk menjaga harga diri keluarganya.Pesta ulang tahun Sarah yang seharusnya menjadi kenangan terindah justru berubah menjadi luka memalukan bagi Sarah dan kedua orang tuanya.Begitu sampai di rumah, Tuan David yang masih dikuasai amarah langsung mengomeli Beni habis-habisan. Saking kesalnya, ia tak ragu melayangkan pukulan ke wajah kinclong putra keduanya itu.Nyonya Mayun bergerak cepat menghentikan aksi suaminya."Jangan pakai kekerasan!" teriak Nyonya Mayun,
Ruang sidang diliputi keheningan yang menekan.Lampu kristal besar di langit-langit memantulkan cahaya putih dingin, menyinari setiap sudut ruangan tanpa ampun.Dinding marmer yang tinggi memantulkan gema napas para hadirin, menciptakan suasana kaku yang membuat siapa pun enggan bergerak sembaranga
"Kalau mau bunuh orang, jangan di tempat terbuka. Dasar bodoh!" bentak Reno. Suara baritonnya menggema di lorong yang sepi. Otot-otot di lengan Reno menegang, rahangnya mengeras. Ia melangkah maju, bersiap melayangkan tendangan ke perut Aldo yang masih meringkuk di lantai. Melihat situasi yang bi
Arlo meraih ponselku dengan gerakan tenang. Jari jempolnya menggeser layar, membaca satu per satu fitnah yang disebar oleh Bella.Tidak ada perubahan drastis di wajahnya, tetapi rahangnya yang menegang dan otot lehernya yang mengeras menjadi bukti nyata bahwa ia menahan amarah."Ini perbuatan Bella
Cahaya matahari pagi belum sepenuhnya menembus tirai kamar asrama, tetapi rentetan getaran dari ponselku sukses menghancurkan sisa tidurku.Dengan kelopak mata yang masih terasa berat, aku meraba nakas. Layar ponselku menyala terang, menampilkan puluhan notifikasi pesan masuk dari nomor-nomor tak d







