MasukMbok Yem menatap kepergian Safitri dengan mata berkaca-kaca, dia membayangkan perasaan Handoko ketika nanti tahu apa yang akan terjadi pada hubungan mereka (Safitri dan Handoko) yang kandas karena Safitri lebih memilih Tejo daripada Handoko."Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa gagal sebagai orang tua, Handoko pasti akan sangat hancur hatinya," ucap Mbok Yem lirih, perempuan paruh baya itu membalikkan badannya menuju ke dalam dengan langkah gemetar."Mbok Yem," sapa seseorang dari luar, Mbok Yem sangat hafal dengan suara tersebut. Dia duduk terlebih dahulu dan menatap pria tampan yang mengikutinya masuk sampai ke ruang tamu."Aku bawakan bubur, beras dan telur, Mbok. Persiapan untuk sahur nanti, kan sepuluh hari lagi sudah mulai puasa," Handoko menaruh barang-barang ke meja sementara Mbok Yem masih terdiam dengan hati yang porak-poranda."Tadi ada mobil ke sini, mobil siapa, Mbok? Pasti mobil Mbak Erna Wulandari (majikan Safitri) ya?" susul Handoko.Tak ada jawaban, Handoko merasa
Niat untuk mengembalikan uang warung yang dipinjam dari Cahyani pun dia urungkan, Safitri bingung mau ke mana dan akhirnya menggunakan uang tersebut untuk perpanjang sewa kamar penginapan langganannya."Aku akan menunggu dia tiga hari di sini, jika tidak aku akan bertindak lebih berani lagi," cetus Safitri saat membuka pintu kamar penginapan."Tapi ... aku kehabisan pakaian bersih. Sebaiknya aku pulang ke rumah Mbak Erna Wulandari saja sebentar lalu ke sini lagi," Safitri yang baru masuk dan duduk di tempat tidur kembali berdiri. Dia ambil tasnya lalu berjalan menuju tangga lke lantai satu untuk mengambil sepeda motor yang dia parkir di bawah."Fit, ngapain kamu di sini?" sapa seseorang yang keluar dari sebuah kamar, Safitri grogi dia kaget tak menyangka bertemu seseorang yang dia kenal di sini."Mas Kus, a--aku ... aku baru jenguk teman kerjaku di jakarta dulu. Dia menginap di kamar atas," ujar Safitri."Benarkah? Aku sama istriku, kebetulan sedang bulan madu. Maklum pengantin baru,"
"Maaf, Bu ... saya ke sini untuk mencari Mas Tejo, ada yang ingin saya sampaikan," ucap Safitri setelah dipersilahkan duduk."Hmmm, heran aku anak jaman sekarang. Dulu pria mencari dan berkunjung ke rumah wanita, sekarang sudah berbalik ... wanita yang datang ke rumah pria. Hampir setiap beberapa hari sekali banyak perempuan mencari anakku, entah mau apa. Ya sudah kamu pulang dulu, nanti ibu sampaikan kalau dia pulang," ucap ibunya Tejo dengan sambil geleng-geleng kepala."Bu, mohon maaf jika lancang. Saya dan Tejo punya hubungan dekat, dan ...," Safitri sebenarnya hendak menyampaikan bahwa dirinya hamil, tapi melihat situasi yang tak memungkinkan dan belum cukup bukti kedekatan dirinya dan Tejo untuk ditunjukkan pada ibunya maka Safitri mengurungkan niatnya dan akhirnya pergi dari sana dengan tangan hampa.Pikiran Safitri tertuju pada uang satu juta yang dia pinjam dari Cahyani, uang itu telah berkurang beberapa ratus ribu. Kini langkahnya gontai menuju warung, entah alasan apa yang
Safitri tersinggung, niatnya untuk membeli alat tes kehamilan pun dia urungkan. Buru-buru dia kembali ke warung tempat dia bekerja, seperti biasanya Safitri datang terlambat di saat pembeli ramai dan dua temannya kerepotan. Bukannya membantu dia justru masuk ke kamar, mengunci pintu dan berbaring. Badannya terasa amat letih, dia tak bersemangat untuk bekerja.Dak dak dak!Pintu digedor kuat dari luar, Safitri yang baru saja terpejam langsung bangkit siap menumpahkan kemarahannya."Yani, kamu tau aku capek!" ujarnya sambil menarik tuas pintu, namun yang berdiri di sana bukan Cahyani ataupun Mas Parjo melainkan Mbak Erna Wulandari."Apa yang kamu lakukan di dalam sini? Kamu enak-enakan sementara yang lain sedang kerja, hah?! Kalau sudah tak mau bekerja di sini, sebaiknya berhenti saja," ujar juragan warung kelontong memasang muka marah. Seketika emosi di hati Safitri meredup, dia tak mungkin akan melawan Erna tanya sebab posisinya yang salah."Mbak, Safitri sedang sakit," bela Mas Parjo
"Hoeeek!" Safitri merasa mual, keringat dingin mengucur deras di kening dan lehernya. Gadis itu lekas mengunci pintu kamar kuatir ibunya masuk ke dalam.Perlahan dia lepaskan semua pakaian, berdiri di cermin kusam lemari usang memandang tubuhnya dari atas sampai bawah. "Aku kok tambah gemuk dan tubuhku tak indah lagi," keluhnya sambil meraba pa-yu dara yang mulai turun mengendur, perutnya juga terlihat berbeda meski jika itu sebuah kehamilan baru berjalan lima bulan. Dia lupa kapan terakhir membeli pembalut saat menstimulasi, rasanya sudah cukup lama sekali."Nduk Fitri, kamu kenapa?" tanya Mbok Yem yang berdiri di balik pintu, dia mencoba mendorong tapi pintu itu terkunci, di dalam sana Safitri terdiam. Dia takut bukan main dan lekas memakai bajunya kembali."Safitri, buka ... biar Mbok kerokin kamu," desak sang ibu."Aku enggak apa-apa, sudah aku mau balik kerja dulu," setelah membuka pintu Safitri langsung pergi, dia tak hiraukan sang ibu yang coba menahannya.Gadis itu bergegas m
Cahyani masih mengalami peristiwa buruk di tempat Erna Wulandari, dia tidak sekedar mimpi buruk tapi mahluk pesugihan itu sudah sering menampakkan diri dan berisi mencelakakan dirinya. Cahyani takut dan cemas akan nasibnya. Pagi itu dia sudah berkemas, siap meninggalkan tempat tersebut untuk berhenti bekerja namun baru hendak menutup pintu Safitri datang dari arah berbeda turun dari mobil yang dikemudikan Tejo. Mobil itu langsung pergi setelah menurunkan Safitri di sana."Eeeh, kamu mau ke mana? Kok berkemas begitu," tegur Safitri."Dia beberapa hari sakit, sudah tak tahan bekerja di sini. Hari ini dia mau pamitan ke rumah Mbak Erna Wulandari," kata Mas Parjo membantu menaruh ransel besar untuk ditaruh di bagian depan sepeda motornya."Kamu itu masih muda, jangan mudah mengeluh dan menyerah. Apalagi cuma berasal dari keluarga pas-pasan, sebaiknya bertahan di sini paling tidak satu tahun biar punya pengalaman," imbuh Safitri berkata nyinyir pada Retno Cahyani."Mbak, sepertinya rumah i
Berita tentang kematian Thole anaknya Mas Wandi membuat Safitri terkejut, entah mengapa gadis cantik itu merasa bersalah atas peristiwa tersebut meskipun belum tentu kematian bocah itu akibat tumbal dari uang dari majikanku yang Safitri berikan padanya. Apalagi saat tidur tadi Safitri juga mengalam
Dengan napas tersengal-sengal Safitri sampai juga di rumah Juragan Yogi sambil membawa payung, sebotol minyak goreng dan dua bungkus mi instan yang semalam Safitri berikan pada perempuan renta tersebut. Gadis berparas ayu itu langsung masuk ke kamar memeriksa kembali uang ratusan dan puluhan ribu y
Safitri sampai berdiri dan beranjak dari ranjang, matanya belum rabun jelas-jelas dia tadi mera_ba bercak darah yang bewarna merah kehitaman dengan aroma anyir yang menyengat tapi ketika dia perhatikan dengan seksama bercak darah itu raib tanpa jejak.Dak dak dak!Nyaris saja Safitri meloncat kaget
Malam itu Safitri berada di kamarnya, dia membuka tas ransel dan memasukkan beberapa pakaian termasuk beberapa setel pakaian dalam. Mbok Yem yang baru pulang dari menjenguk tetangga yang sakit melihat apa yang dilakukan putrinya itu merasa penasaran."Kamu itu mau ke mana? Kok masukin baju ke tas,







