共有

Bab 6

作者: Abu
"Arsen benar-benar murah hati." Dia melonggarkan dasinya. "Dia rela ngasih wanita secantik kamu ke aku pakai tangannya sendiri."

Nadine meronta sekuat tenaga, tetapi dengan mudah ditaklukkan oleh pria itu.

Pria itu menindihnya, jari-jarinya menyusuri pipi Nadine. "Kamu tahu nggak, udah berapa lama aku mendambakanmu?"

"Lepasin aku!" Suara Nadine bergetar hebat. "Jangan sentuh aku!"

Melihat Nadine gemetar ketakutan, Bima tiba-tiba terkekeh. Jari-jarinya kembali mengusap pipi gadis itu. "Gini aja deh, aku kasih kamu satu kesempatan. Telepon Arsen. Kalau dia menjawab, aku lepasin kamu."

Dengan tangan gemetar, Nadine menekan nomor telepon Arsen.

Akan tetapi ….

Satu kali, dua kali, tiga kali ....

Lebih dari seratus panggilan, tidak ada satu pun yang diangkat!

"Lihat 'kan, Nadine? Sekarang di mata dia, kamu nggak berharga sama sekali."

"Mending ikut aku, aku bakal bikin kamu bahagia."

Bima menyeringai kejam sambil menindihnya, merobek pakaiannya dengan kasar.

Tepat saat pria itu hendak menodainya, Nadine akhirnya tersadar. Dia menyambar vas bunga di nakas dan menghantamkannya sekuat tenaga ke kepala Bima.

Pria itu mengerang kesakitan lalu ambruk. Nadine pun memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur.

Hujan malam itu turun sangat deras. Nadine berlari terseok-seok menuju rumah.

Tubuhnya basah kuyup, di sekujur kulitnya masih membekas lebam-lebam bekas perlakuan Bima.

Akan tetapi, begitu pintu terbuka, dia justru melihat Saskia menangis tersedu-sedu dalam pelukan Arsen.

"Kamu benaran rela ngorbanin nyawa istrimu sendiri demi aku?"

Arsen mengusap air mata di pipinya. "Iya, di hatiku, cuma kamu yang paling penting."

Tangis Saskia malah makin pecah. Dengan tatapan tak berdaya, Arsen menangkup wajah gadis itu. "Sayang, 'kan kamu udah kuselamatkan? Kenapa masih ketakutan kayak begini, hmm?"

"Siapa sih yang nggak takut habis diculik."

Arsen menyunggingkan senyum. "Aku punya cara biar kamu nggak takut lagi."

"Aku nggak percaya."

"Mau coba?" tanyanya sambil tersenyum.

Tanpa menunggu jawaban, Arsen menunduk dan melumat bibir Saskia, lalu menindih gadis itu di sofa.

Nadine menyaksikan adegan itu dengan mata kepalanya sendiri, dadanya perih seolah dirobek paksa.

Dia berbalik dan melangkah pergi, guyuran hujan seketika membasahi sekujur tubuhnya.

Dia tak tahu sudah berlari berapa lama, hingga akhirnya terhenti di depan rumah tua yang begitu familier.

Ini adalah tempat Nadine dan Arsen tumbuh bersama. Dulu, keluarga mereka adalah sahabat karib dan mereka menghabiskan masa kecil di dua vila yang bersebelahan.

Air hujan menetes dari ujung rambutnya. Nadine melangkah menuju pohon akasia tua di halaman belakang.

Dia masih ingat, di usia 18 tahun, dia dan Arsen mengubur sebuah kapsul waktu di sini, berjanji akan menggali bersama sepuluh tahun kemudian.

"Nadine, sepuluh tahun lagi kita pasti udah nikah," ucap Arsen remaja dengan senyum cerah sembari memasukkan sepucuk surat ke dalam kotak besi. "Aku nulis surat buat diriku di masa depan, nyuruh dia buat cinta sama kamu selamanya."

Nadine berlutut di atas tanah yang becek, menggali tanah di dekat akar pohon dengan tangan kosong.

Kukunya patah, ujung-ujung jarinya mengeluarkan darah, tetapi dia sama sekali tak merasakan perih.

Kotak besi itu sudah berkarat, tetapi surat di dalamnya masih utuh.

Dengan tangan gemetar, dia membuka lipatan kertas itu. Tulisan tangan Arsen remaja yang rapi terbaca jelas di sana.

[Untuk Arsen di usia 28.

Kalau kamu berani nggak cinta sama Nadine, aku di usia 18 tahun nggak bakal ngasih ampun.

Ingat, dia itu nyawamu.]

Air hujan membasahi kertas surat itu, melunturkan tintanya.

Nadine menempelkan surat itu erat di dadanya, menangis tersedu-sedu hingga tak kuasa bersuara.

Betapa dia merindukan pemuda yang dulu menulis surat cinta dengan pipi merah, Arsen yang dulu bersumpah akan melindunginya selamanya.

"Dia ingkar janji. Dia ingkar janji ...."

Dia mengucapkannya pada udara kosong sambil menangis, seolah Arsen di usia 18 tahun bisa mendengarnya.

Dia duduk di bawah pohon itu cukup lama, hingga hujan akhirnya reda.

Barulah dia mengeluarkan surat cinta ke-98 dari dalam tasnya, lalu membakarnya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 25

    Hari itu, Saskia yang tampak linglung, salah menusukkan jarum. Setelah berkali-kali mencoba, punggung tangan Arsen sampai membiru, bengkak, dan memerah.Dulu, bagaimana Arsen bersikap?Dia malah merasa kebingungan gadis itu terlihat lucu. Saat Saskia menangis memohon maaf, dia justru tersenyum santai dan berkata tak apa-apa, pelan-pelan saja.Sejak saat itu, dia terjebak dalam pusaran pesona wanita itu, terus melangkah ke jalan yang salah dan tak pernah bisa kembali.Namun, kali ini, dia menatap dingin pada Saskia yang sedang memohon maaf, lalu membentak, "Panggil atasanmu ke sini!"Selanjutnya, pihak rumah sakit memberikan ganti rugi berupa sejumlah uang dan langsung memecat Saskia. Sejak hari itu, Saskia benar-benar lenyap dari dunia Arsen.Setelah cairan infusnya habis, sebuah bayangan yang begitu familier melangkah ke arahnya seraya mengulurkan tangan."Arsen, ayo kita pulang."Arsen mendongak, menatap Nadine yang menatapnya dengan mata penuh cinta dan senyuman merekah. Bibirnya pu

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 24

    Napas di seberang sana perlahan memburu, terdengar parau dan bercampur rasa sakit.Namun, Nadine seolah menutup telinga, pura-pura tak mendengarnya sama sekali."Dalam hubungan ini, kamu selalu minta alasan. Bahkan kalau jawabannya udah aku taruh di depan mata, kamu tetap nggak mau lihat. Jadi, akar dari semua masalah ini cuma satu. Kamu nggak peduli."Karena ketidakpedulian itulah, Arsen bisa berselingkuh dengan begitu bebas tanpa memikirkan perasaannya, membiarkan Saskia menginjak-injak harga dirinya, dan membiarkan Nadine berulang kali menerima rasa sakit yang seharusnya tidak perlu dia rasakan."Jadi, alasan kita cerai, kamu pasti udah tahu jawabannya, 'kan?""Arsen, karena kita udah cerai, seharusnya kita nggak perlu berhubungan lagi."Selesai bicara seperti itu, Nadine hendak menutup telepon, tetapi Arsen di seberang sana buru-buru memohon dengan panik."Nggak, nggak, Nadine, kamu nggak bisa kayak gini. Kita ketemu sekali aja, ya? Tolong ...."Dalam ingatan Nadine, Arsen sangat j

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 23

    Meski begitu, Dito tetap sangat tersentuh. Dibandingkan dengan sikap Nadine yang dulu begitu menjauh dan dingin, ini sudah merupakan kemajuan yang sangat besar.Di luar negeri, setelah Nadine membaca pesan dari Dito yang berisi ucapan terima kasih dan betapa dia menyukai hadiah tersebut, gadis itu terpaku cukup lama. Dia membiarkan perasaan rumit itu perlahan-lahan menelannya utuh.Sebenarnya, sudah sejak lama Nadine memaafkan ayahnya.Lagi pula, dalam tragedi waktu itu, Dito sejatinya adalah korban. Hanya saja, dulu dia terlalu membela posisi ibunya dan merasa pria itu telah mengkhianati sang ibu, sehingga dia begitu tegas memutuskan hubungan dengan ayahnya.Setelah itu, dia sendiri mengalami kegagalan rumah tangga. Setelah berurusan dengan berbagai macam orang dan melihat berbagai peristiwa, dia perlahan mulai memahami posisi dan kesulitan ayahnya.Namun, luka itu sudah terlanjur tertoreh. Meski Nadine punya niat untuk menebusnya, dia tak tahu harus memulai dari mana.Oleh karena itu

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 22

    Di kediaman Keluarga Mahardika, Arsen sama sekali tidak tahu rencana Dito untuknya. Pikirannya hanya dipenuhi satu tujuan yaitu, menemukan Nadine.Dia terus menyuruh orang mengirimkan berbagai hadiah permintaan maaf kepada Dito. Bahkan, dia sampai berniat merenovasi makam mendiang Ratih.Namun, semuanya dikembalikan dalam keadaan utuh dan dilempar keluar, tanpa ada satu pun yang dibuka.Arsen tak gentar. Dia hanya memerintahkan bawahannya untuk terus mengirimkan hadiah-hadiah itu lagi dan lagi.Di saat yang sama, anak buahnya yang ditugaskan ke luar negeri untuk melacak Keluarga Atmadja juga dipaksa pulang. Mereka bahkan dicegat sebelum bisa melewati imigrasi."Kamu bilang apa?"Ketika Arsen kembali mendengar kabar bahwa anak buahnya dicekal bepergian ke luar negeri, dia tak bisa lagi duduk diam.Teringat saat dia diusir oleh Dito waktu itu, dia tiba-tiba menyadari satu hal.Meski dia tak tahu apakah Nadine sudah memaafkannya atau belum, kepulangan Dito ke tanah air pasti atas restu wa

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 21

    Dito sampai tertawa sinis mendengar omong kosong Arsen."Yang kamu sebut putus hubungan dengan Saskia itu cuma karena kamu udah bosen. Kalau kamu nggak pernah bosen, apa kamu mau bikin anakku kesepian seumur hidupnya padahal punya suami?""Lagi pula, kamu udah nikah sama anakku, harusnya kamu tahu wataknya yang nggak bisa mentolerir pengkhianatan sedikit pun. Dulu karena kesepian, aku asal nikah sama orang biasa. Harta benda juga udah aku kasih semua ke Nadine. Tapi, coba lihat, bertahun-tahun ini dia nggak pernah mau ngomong sepatah kata pun sama aku. Padahal posisiku waktu itu duda karena ditinggal mati istri. Nah, coba bandingin sama kamu. Kok kamu bisa mikir dia masih cinta sama kamu? Kalau dia benaran cinta, dia nggak bakal ninggalin kamu.""Arsen, berhenti menipu dirimu sendiri. Galeri ini juga nggak usah kamu harapkan. Pulang sana. Mulai sekarang, berhenti bermimpi bisa nemuin dia. Dia nggak akan mau ketemu sama kamu."Selesai bicara, Dito mengangkat cangkir tehnya, memberi isya

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 20

    Pada hari akuisisi galeri mendiang Ratih, Arsen sudah tiba di galeri sejak pagi.Meski staf galeri sudah memberitahunya bahwa Nadine tidak akan datang hari ini, Arsen masih menyimpan secercah harapan. Siapa tahu Nadine benar-benar muncul?Lagi pula, ini adalah hasil jerih payah ibunya semasa hidup. Nadine sangat mencintai ibunya, mana mungkin dia tidak datang.Dengan harapan itu, Arsen terus menunggu Nadine.Akhirnya, terdengar suara langkah kaki yang makin mendekat. Arsen buru-buru duduk tegak, menatap pintu utama yang terbuka lebar dengan penuh harap.Dan tepat di tengah penantiannya yang mendebarkan, sosok berpakaian putih perlahan melangkah masuk.Dia buru-buru bangkit berdiri menatap sosok itu. Nama Nadine belum sempat terucap, tetapi sudah kembali tertahan di tenggorokan."Paman, kenapa Paman yang datang? Di mana Nadine?"Sosok yang datang tak lain adalah Ayah Nadine, Dito.Dito menatap Arsen dengan tatapan dingin. "Di mana dia, aku nggak akan kasih tahu. Tapi, kamu mau beli gale

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status