مشاركة

Bab 5

مؤلف: Abu
Nadine terhuyung mundur, dunianya seketika berputar hebat.

Pinggangnya menghantam batu nisan, sementara lututnya membentur undakan batu dengan keras. Rasa nyeri yang tajam seketika meledak di sekujur tubuhnya.

Akan tetapi, semua rasa sakit fisik itu tak ada apa-apanya dibandingkan perih di hatinya. Siksaan batin yang seolah merobek jiwanya menjadi dua itu membuatnya nyaris tak bisa bernapas.

Arsen bahkan tak sudi melirik padanya. Dia hanya menunduk, mengusap air hujan di wajah Saskia dengan ujung jarinya. "Udah puas?"

Baru setelah mendengar gumaman dari gadis yang sedang menangis sesenggukan itu, Arsen tampak mengembuskan napas lega. Dia melepas jasnya, menyelimuti tubuh Saskia, lalu menggendong gadis itu dalam pelukannya.

Saat berbalik badan, sepatu kulitnya tanpa ampun menginjak dan menggilas abu jenazah yang berserakan di tanah, meninggalkan jejak yang begitu menyayat hati.

Nadine duduk bersimpuh di tengah hujan, merasakan nyeri yang menjalar ke sekujur tubuh hingga membuatnya gemetar.

Dengan tangan gemetar, dia berusaha mengambil serbuk abu kelabu itu. Namun, guyuran hujan menghanyutkannya terlalu cepat, persis seperti cintanya dan Arsen selama bertahun-tahun, sekuat apa pun dia berusaha menggenggam, tetap tak bisa dipertahankan.

"Ibu, aku salah." Suaranya parau menahan tangis. "Aku salah pilih pasangan. Aku nggak seharusnya nikah sama dia ...."

Setelah berhasil mengumpulkan sisa abu yang ada, dia baru mengeluarkan surat cinta ke-97 dari dalam tasnya, lalu membakarnya dengan tangan gemetar.

Saat lidah api melahap kertas itu, terlintas kembali janji Arsen pada ibunya yang sedang sakit keras dulu. "Bibi tenang saja, aku bakal melindungi Nadine seumur hidupku, nggak bakal ada yang berani nindas dia."

'Arsen, ternyata, membela perempuan lain sampai ikut memukulku ... begini caramu melindungiku?'

'Aku menyesal.'

'Mencintaimu, aku sungguh menyesal.'

Nadine mengalami demam tinggi sepanjang malam.

Dia bermimpi dirinya tenggelam di dalam laut yang sedingin es. Abu jenazah ibunya berjatuhan di sekelilingnya bagai serpihan debu yang melayang ditiup angin. Dia ingin meraih serbuk kelabu itu, tetapi sekuat apa pun berusaha, tak satu pun bisa dia genggam.

"Nadine! Nadine!"

Seseorang sedang memanggil namanya.

Nadine bersusah payah membuka mata, tetapi alih-alih di atas tempat tidur, dia mendapati dirinya berada di dalam mobil yang tengah melaju kencang.

Pemandangan di luar jendela melesat mundur. Arsen mencengkeram setir erat-erat, raut wajahnya tampak sangat muram.

"Arsen." Suaranya serak parah. "Kamu mau bawa aku ke mana?"

Arsen tak menoleh, hanya menjawab dengan dingin, "Saskia diculik."

Nadine tertegun, pikirannya yang masih berkabut perlahan kembali jernih. "Terus?"

"Pelakunya minta kamu." Arsen akhirnya menoleh menatapnya sekilas. "Itu Bima Ganendra."

Bima Ganendra.

Nama itu bagaikan pisau yang menusuk telak ke dalam hati Nadine.

Pria gila yang dulu pernah mengejarnya dengan obsesif, sampai akhirnya diusir paksa dari kota oleh Arsen.

"Kamu ... kamu mau menukarku dengan Saskia?" Suara Nadine bergetar hebat.

Cengkeraman Arsen pada setir mengeras. "Bima dulu pernah suka sama kamu. Dia nggak bakal macem-macem."

Nadine seketika merasa seperti dijebloskan ke dalam gua es.

Dia meronta hendak membuka pintu mobil, tetapi baru menyadari bahwa kedua tangannya terikat di balik sabuk pengaman.

"Arsen!" Nadine menjerit. "Kamu gila, ya? Kamu nggak tahu Bima itu orang kayak gimana?"

"Nadine, tenanglah." Nada Arsen terdengar tenang, tetapi mencekam. "Begitu aku antar Saskia pulang, aku bakal langsung nyelamatin kamu."

Mobil berhenti di depan sebuah gudang terbengkalai.

"Orangnya udah kubawa." Arsen mendorong kasar tubuh Nadine ke depan. "Mana Saskia?"

Bima menjentikkan jari. Dua anak buahnya segera menggiring Saskia keluar.

Rambutnya berantakan, pipinya masih basah oleh bekas air mata. Matanya seketika berbinar saat melihat Arsen. "Arsen!"

Arsen buru-buru melepaskan Nadine, melangkah cepat dan langsung menarik Saskia ke dalam pelukannya. "Udah aman, jangan takut. Aku di sini."

Nadine berdiri terpaku, rasa dingin seketika menyelimuti sekujur tubuhnya.

Dia menyaksikan Arsen memeriksa apakah Saskia terluka, menyaksikan pria itu dengan lembut mengusap air mata di pipi gadis itu, dan menyaksikan Arsen bahkan enggan melirik padanya sedikit pun.

"Arsen!"

Nadine tak kuasa lagi menahan diri, dia menjerit histeris.

Baru saat itu Arsen menoleh, berkata lagi, "Jangan takut, aku bakal segera jemput kamu."

Selesai berkata seperti itu, dia merangkul Saskia dan berbalik pergi dengan langkah tegas, tak sedikit pun menoleh ke belakang.

Nadine ingin mengejarnya, tetapi pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik kasar oleh Bima. "Lama nggak ketemu, Nona Nadine."

Embusan napas pria itu menyapu daun telinganya, membuatnya menggigil ngeri.

Bima menyeretnya masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas ke sebuah hotel.

Begitu pintu kamar tertutup, pria itu langsung mendorongnya ke atas kasur.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 25

    Hari itu, Saskia yang tampak linglung, salah menusukkan jarum. Setelah berkali-kali mencoba, punggung tangan Arsen sampai membiru, bengkak, dan memerah.Dulu, bagaimana Arsen bersikap?Dia malah merasa kebingungan gadis itu terlihat lucu. Saat Saskia menangis memohon maaf, dia justru tersenyum santai dan berkata tak apa-apa, pelan-pelan saja.Sejak saat itu, dia terjebak dalam pusaran pesona wanita itu, terus melangkah ke jalan yang salah dan tak pernah bisa kembali.Namun, kali ini, dia menatap dingin pada Saskia yang sedang memohon maaf, lalu membentak, "Panggil atasanmu ke sini!"Selanjutnya, pihak rumah sakit memberikan ganti rugi berupa sejumlah uang dan langsung memecat Saskia. Sejak hari itu, Saskia benar-benar lenyap dari dunia Arsen.Setelah cairan infusnya habis, sebuah bayangan yang begitu familier melangkah ke arahnya seraya mengulurkan tangan."Arsen, ayo kita pulang."Arsen mendongak, menatap Nadine yang menatapnya dengan mata penuh cinta dan senyuman merekah. Bibirnya pu

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 24

    Napas di seberang sana perlahan memburu, terdengar parau dan bercampur rasa sakit.Namun, Nadine seolah menutup telinga, pura-pura tak mendengarnya sama sekali."Dalam hubungan ini, kamu selalu minta alasan. Bahkan kalau jawabannya udah aku taruh di depan mata, kamu tetap nggak mau lihat. Jadi, akar dari semua masalah ini cuma satu. Kamu nggak peduli."Karena ketidakpedulian itulah, Arsen bisa berselingkuh dengan begitu bebas tanpa memikirkan perasaannya, membiarkan Saskia menginjak-injak harga dirinya, dan membiarkan Nadine berulang kali menerima rasa sakit yang seharusnya tidak perlu dia rasakan."Jadi, alasan kita cerai, kamu pasti udah tahu jawabannya, 'kan?""Arsen, karena kita udah cerai, seharusnya kita nggak perlu berhubungan lagi."Selesai bicara seperti itu, Nadine hendak menutup telepon, tetapi Arsen di seberang sana buru-buru memohon dengan panik."Nggak, nggak, Nadine, kamu nggak bisa kayak gini. Kita ketemu sekali aja, ya? Tolong ...."Dalam ingatan Nadine, Arsen sangat j

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 23

    Meski begitu, Dito tetap sangat tersentuh. Dibandingkan dengan sikap Nadine yang dulu begitu menjauh dan dingin, ini sudah merupakan kemajuan yang sangat besar.Di luar negeri, setelah Nadine membaca pesan dari Dito yang berisi ucapan terima kasih dan betapa dia menyukai hadiah tersebut, gadis itu terpaku cukup lama. Dia membiarkan perasaan rumit itu perlahan-lahan menelannya utuh.Sebenarnya, sudah sejak lama Nadine memaafkan ayahnya.Lagi pula, dalam tragedi waktu itu, Dito sejatinya adalah korban. Hanya saja, dulu dia terlalu membela posisi ibunya dan merasa pria itu telah mengkhianati sang ibu, sehingga dia begitu tegas memutuskan hubungan dengan ayahnya.Setelah itu, dia sendiri mengalami kegagalan rumah tangga. Setelah berurusan dengan berbagai macam orang dan melihat berbagai peristiwa, dia perlahan mulai memahami posisi dan kesulitan ayahnya.Namun, luka itu sudah terlanjur tertoreh. Meski Nadine punya niat untuk menebusnya, dia tak tahu harus memulai dari mana.Oleh karena itu

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 22

    Di kediaman Keluarga Mahardika, Arsen sama sekali tidak tahu rencana Dito untuknya. Pikirannya hanya dipenuhi satu tujuan yaitu, menemukan Nadine.Dia terus menyuruh orang mengirimkan berbagai hadiah permintaan maaf kepada Dito. Bahkan, dia sampai berniat merenovasi makam mendiang Ratih.Namun, semuanya dikembalikan dalam keadaan utuh dan dilempar keluar, tanpa ada satu pun yang dibuka.Arsen tak gentar. Dia hanya memerintahkan bawahannya untuk terus mengirimkan hadiah-hadiah itu lagi dan lagi.Di saat yang sama, anak buahnya yang ditugaskan ke luar negeri untuk melacak Keluarga Atmadja juga dipaksa pulang. Mereka bahkan dicegat sebelum bisa melewati imigrasi."Kamu bilang apa?"Ketika Arsen kembali mendengar kabar bahwa anak buahnya dicekal bepergian ke luar negeri, dia tak bisa lagi duduk diam.Teringat saat dia diusir oleh Dito waktu itu, dia tiba-tiba menyadari satu hal.Meski dia tak tahu apakah Nadine sudah memaafkannya atau belum, kepulangan Dito ke tanah air pasti atas restu wa

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 21

    Dito sampai tertawa sinis mendengar omong kosong Arsen."Yang kamu sebut putus hubungan dengan Saskia itu cuma karena kamu udah bosen. Kalau kamu nggak pernah bosen, apa kamu mau bikin anakku kesepian seumur hidupnya padahal punya suami?""Lagi pula, kamu udah nikah sama anakku, harusnya kamu tahu wataknya yang nggak bisa mentolerir pengkhianatan sedikit pun. Dulu karena kesepian, aku asal nikah sama orang biasa. Harta benda juga udah aku kasih semua ke Nadine. Tapi, coba lihat, bertahun-tahun ini dia nggak pernah mau ngomong sepatah kata pun sama aku. Padahal posisiku waktu itu duda karena ditinggal mati istri. Nah, coba bandingin sama kamu. Kok kamu bisa mikir dia masih cinta sama kamu? Kalau dia benaran cinta, dia nggak bakal ninggalin kamu.""Arsen, berhenti menipu dirimu sendiri. Galeri ini juga nggak usah kamu harapkan. Pulang sana. Mulai sekarang, berhenti bermimpi bisa nemuin dia. Dia nggak akan mau ketemu sama kamu."Selesai bicara, Dito mengangkat cangkir tehnya, memberi isya

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 20

    Pada hari akuisisi galeri mendiang Ratih, Arsen sudah tiba di galeri sejak pagi.Meski staf galeri sudah memberitahunya bahwa Nadine tidak akan datang hari ini, Arsen masih menyimpan secercah harapan. Siapa tahu Nadine benar-benar muncul?Lagi pula, ini adalah hasil jerih payah ibunya semasa hidup. Nadine sangat mencintai ibunya, mana mungkin dia tidak datang.Dengan harapan itu, Arsen terus menunggu Nadine.Akhirnya, terdengar suara langkah kaki yang makin mendekat. Arsen buru-buru duduk tegak, menatap pintu utama yang terbuka lebar dengan penuh harap.Dan tepat di tengah penantiannya yang mendebarkan, sosok berpakaian putih perlahan melangkah masuk.Dia buru-buru bangkit berdiri menatap sosok itu. Nama Nadine belum sempat terucap, tetapi sudah kembali tertahan di tenggorokan."Paman, kenapa Paman yang datang? Di mana Nadine?"Sosok yang datang tak lain adalah Ayah Nadine, Dito.Dito menatap Arsen dengan tatapan dingin. "Di mana dia, aku nggak akan kasih tahu. Tapi, kamu mau beli gale

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status