MasukNamun, sebelum membalas dendam pada Andre, ia harus menghadapi dulu teman-teman kerjanya yang telah menyebarkan aibnya. Ia membuka kembali grup WA dan mulai mengetik pesan. Saatnya menunjukkan pada mereka siapa aku sebenarnya.
Delisa:"Kalian semua puas sekarang? Sudah puas menghina dan merendahkan aku?"
Beberapa saat kemudian, Santi membalas pesannya.
Santi:"Lho, kenapa marah-marah? Kan kenyataannya begitu. Lagian siapa suruh keluar hotel
Namun, sebelum membalas dendam pada Andre, ia akan menunjukkan dulu kepada teman-teman kerjanya siapa Andre sebenarnya. Ia membuka kembali grup WA dan mulai mengetik pesan.
Delisa:"Kalian semua sibuk menghina aku? Kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi? Kalian tahu siapa yang sebenarnya menjijikkan di sini?"
Santi langsung membalas dengan sinis.
Santi:"Oh, mau cuci tangan sekarang? Telat, Sayang. Bukti sudah tersebar di mana-mana."
Delisa tersenyum sinis. Justru itu yang ia inginkan.
Delisa:"Bukti? Kalian mau bukti? Oke, aku kasih bukti."
Delisa kemudian mengirimkan beberapa foto dan screenshoot percakapan yang selama ini ia simpan. Foto-foto itu menunjukkan Andre sedang menerima suap dari klien perusahaan, dan screenshoot percakapan itu adalah bukti bahwa Andre telah merencanakan untuk menjebaknya agar ia dipecat.
Setelah mengirimkan semua bukti itu, Delisa mengetik pesan terakhir.
Delisa:"Ini Andre yang sebenarnya. Seorang penipu, pembohong, dan pengkhianat. Sekarang kalian semua sudah tahu siapa yang pantas dihina dan direndahkan. Selamat menikmati."
Tanpa menunggu balasan dari siapa pun, Delisa keluar dari grup WA tersebut. Ia tidak peduli lagi dengan apa yang akan mereka katakan atau pikirkan tentang dirinya. Ia sudah mengatakan yang sebenarnya, dan itu sudah cukup baginya.
Delisa menghempaskan ponselnya ke tempat tidur. Kesal, marah, lelah. Ia ingin berteriak. Cukup! Namun, di tengah emosi negatif itu, secercah harapan mulai tumbuh. Ia bukan lagi korban. Ia pejuang. Delisa menarik napas dalam-dalam. Perjalanan masih panjang. Tapi ia tidak akan menyerah. Ia akan membuktikan kepada semua orang bahwa ia bisa bangkit.
Meskipun amarah masih membara, Delisa sadar ia harus fokus pada masa depan. Mencari pekerjaan baru. Ia tidak mungkin terus mengandalkan tabungannya. Ia harus segera mendapatkan penghasilan. Delisa membuka notebook-nya. Mencari lowongan pekerjaan di berbagai situs web. Melamar semua pekerjaan yang sesuai.
mengirimkan puluhan lamaran setiap hari. Memperbarui profil LinkedIn-nya. Delisa tahu mencari pekerjaan di situasi seperti ini tidaklah mudah. Reputasinya tercoreng. Beberapa perusahaan menolak lamarannya. Mereka hanya melihat skandal itu.
Delisa mulai merasa putus asa. Apakah ia akan selamanya dihantui oleh masa lalunya?
Tiba-tiba, teleponnya berdering. Sebuah perusahaan bernama "Jaya Sentosa" menghubunginya. Mengundangnya untuk wawancara kerja.
Delisa terkejut. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Halo?" jawab Delisa dengan penuh semangat.
"Selamat siang, Ibu Delisa," jawab suara di seberang telepon. "Kami dari perusahaan Jaya Sentosa ingin mengundang Anda untuk menghadiri wawancara kerja di perusahaan kami."
"Benarkah?" tanya Delisa dengan nada tak percaya.
"Benar, Ibu. Kami tertarik dengan kualifikasi dan pengalaman yang Anda miliki," jawab suara itu. "Apakah Ibu bersedia untuk datang?"
"Tentu saja!" jawab Delisa dengan nada antusias. "Kapan saya bisa datang?"
"Besok pagi pukul 09.00, Ibu. Apakah Ibu bersedia?" tanya suara itu.
"Saya bersedia," jawab Delisa dengan mantap. "Saya akan datang tepat waktu."
"Baik, Ibu. Kami tunggu kedatangan Anda besok," jawab suara itu sebelum menutup telepon.
Delisa tersenyum lebar. Ia merasa seolah mendapatkan kesempatan kedua untuk memulai hidupnya dari awal. Ia bertekad untuk memberikan yang terbaik saat wawancara kerja besok. Ia akan membuktikan kepada semua orang bahwa ia layak mendapatkan kesempatan itu.
*****************
Di ruang kerjanya yang megah, Dirga memijat pelipisnya. Kepalanya berdenyut nyeri, bukan karena tekanan pekerjaan, melainkan karena masalah yang tak terduga: Hana, sekretarisnya yang sudah lima tahun bekerja dengannya, tiba-tiba mengundurkan diri. Alasan Hana, ingin pulang kampung merawat ibunya yang sakit-sakitan, terasa begitu klise dan mengecewakan.
Dirga sudah menawarkan solusi. Cuti panjang. Tunjangan. Ia menyukai cara kerja Hana. Cekatan. Efisien. Profesional. Hana itu seperti aset berharga.
Namun, Hana tetap teguh pada pendiriannya. Ia merasa bahwa merawat ibunya adalahPrioritas utamanya, sesuatu yang tidak bisa ditunda atau diwakilkan. Dengan berat hati, Dirga terpaksa menyetujui permintaan Hana, dengan dua syarat: Hana harus tetap bekerja sampai ia menemukan pengganti yang kompeten, dan Hana harus membagi ilmunya pada sekretaris baru tersebut. Hana menyetujui kedua syarat itu, dan Dirga merasa sedikit lega.
Dirga meraih interkom. "Rio, hubungi HRD. Cari pengganti Hana. Kompeten, profesional, dan... bukan tipe wanita yang suka merayu atasan," perintah Dirga dengan nada tegas. Ia tidak ingin kejadian semalam terulang kembali, atau bahkan diperparah oleh sekretaris yang genit dan tidak profesional.
"Baik, Pak," jawab Rio.
Beberapa jam kemudian, Rio kembali menghadap Dirga dengan wajah kebingungan. "Pak, HRD menemui kendala. Mereka hanya menemukan satu kandidat yang memenuhi kriteria Bapak, dan itu pun jika sang pelamar bersedia menjadi sekretaris Bapak."
Dirga mengerutkan kening. "Hanya satu? Apa maksudmu?"
"Ya, Pak. Kandidat lain tidak memenuhi kriteria yang Bapak inginkan. Ada yang terlalu muda, ada yang kurang berpengalaman, dan ada juga yang terindikasi memiliki catatan buruk," jelas Rio. "Satu-satunya kandidat yang memenuhi syarat adalah seorang wanita bernama...."
"Saya tidak perduli siapa dia, yang penting dia punya kemampuan untuk bekerja secara profesional?" tanya Dirga dengan nada penasaran.
"Menurut HRD, Dia adalah seorang manajer yang berpengalaman dengan catatan karier yang gemilang. Ia memiliki kemampuan komunikasi yang baik, mampu bekerja di bawah tekanan, dan memiliki inisiatif yang tinggi," jelas Rio. "Namun, ada satu hal yang perlu Bapak ketahui. Dia baru saja mengalami pemecatan tidak hormat dari perusahaan sebelumnya."
Dirga mengangkat alisnya. "Pemecatan tidak hormat? Apa alasannya?"
"Menurut informasi yang kami dapatkan, Dia dituduh melakukan tindakan penipuan dan penggelapan dana perusahaan," jawab Rio. "Namun, Dia membantah tuduhan tersebut dan mengklaim bahwa ia telah dijebak oleh mantan kekasihnya."
Dirga terdiam. Ia merasa tertarik dengan sosok Wanita ini. Wanita itu memiliki potensi yang besar, namun juga memiliki masa lalu yang kelam. Apakah ia berani mengambil risiko dengan mempekerjakannya sebagai sekretarisnya?
"Rio, atur pertemuan dengan Wanita itu," perintah Dirga akhirnya. "Aku ingin bertemu dan berbicara langsung dengannya. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan apakah ia pantas mendapatkan kesempatan kedua."
"Baik, Pak," jawab Rio. "Akan saya atur secepatnya."
Setelah Rio pergi, Dirga kembali memijat pelipisnya. Ia merasa semakin bingung dan bimbang. Di satu sisi, ia membutuhkan sekretaris yang kompeten dan profesional. Di sisi lain, ia tidak ingin merekrut orang yang bermasalah dan berpotensi membahayakan perusahaannya.
Namun, ada sesuatu dalam diri wanita itu yang membuatnya penasaran. Mungkin, wanita itu memang tidak bersalah dan hanya menjadi korban dari orang terdekatnya. Atau mungkin, ia hanya sedang mencoba memanipulasi dirinya untuk mendapatkan pekerjaan.
Dirga tahu bahwa ia harus berhati-hati dalam mengambil keputusan. Ia tidak ingin menyesal di kemudian hari. Ia harus menggali lebih dalam tentang latar belakang Wanita itu, dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalunya. Sebelum nantinya ia menerimanya bekerja.
Saat Delisa berjalan menuju meja akad, jantung Reno berdegup kencang. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita yang selama ini ia cintai akan menjadi kakak iparnya. Sungguh ironi takdir yang tak terduga. Reno yang berusaha keras mendekati Delisa, namun Dirga yang menikahinya."Tidak mungkin," gumam Reno dalam hati. "Ini pasti mimpi buruk."Reno merasakan dadanya sesak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa sangat terpukul dan hancur. Ia merasa semua usahanya untuk mendekati Delisa selama ini sia-sia belaka. Ia merasa takdir begitu kejam kepadanya.Ia ingat bagaimana dulu ia selalu berusaha mencari perhatian Delisa. Ia selalu berusaha membuat Delisa tertawa. Ia selalu berusaha membantu Delisa dalam segala hal. Namun, semua usahanya itu tidak pernah membuahkan hasil.Delisa selalu menganggapnya hanya sebagai teman biasa. Tidak lebih.Dan sekarang, Delisa akan menjadi istri kakaknya. Delisa akan menjadi bagian dari keluarg
Hari ini, pernikahan Dirga dan Delisa akhirnya dilaksanakan di kediaman orang tua Dirga. Suasana rumah itu terasa suram dan tegang. Tidak ada dekorasi mewah atau pesta meriah. Hanya ada beberapa anggota keluarga inti yang hadir, itupun dengan wajah yang muram dan tanpa senyum.Lima ratus juta rupiah. Angka yang tertera dalam buku nikah itu terasa seperti vonis hukuman seumur hidup bagi Delisa. Di antara gemerlap dekorasi pernikahan yang dipaksakan, ia merasa seperti tahanan yang dipaksa menikah dengan algojonya.Winata Adiwangsa, sang patriark keluarga, duduk di kursi roda, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. "Maafkan Papa, " bisiknya lirih, "Papa hanya ingin yang terbaik untuk kalian." Namun, kata-kata itu terasa hampa di telinga Dirga.Di hadapan meja akad, Dirga Adiwangsa duduk dengan wajah sekeras batu. Jas hitam yang dikenakannya terasa seperti baju besi yang melindungi hatinya dari sentuhan apa pun.Delisa, batinnya berteriak,
Setelah pertemuan yang menyesakkan dengan Dirga di rumah sakit siang tadi, Delisa memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe sepulang dari kantor. Ia berharap secangkir kopi dan suasana yang tenang dapat membantu menjernihkan pikirannya yang kalut. Namun, sepertinya dewi fortuna enggan berpihak padanya.Saat Delisa tengah menikmati kopinya, matanya menangkap sosok yang sangat familiar. Sosok itu adalah Andre, mantan kekasihnya yang telah mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri, Sandra. Jantung Delisa berdegup kencang, dadanya terasa sesak. Ia berusaha untuk tidak memperdulikan keberadaan Andre dan fokus pada kopinya.Namun, sepertinya takdir sedang mempermainkannya. Delisa melihat Andre berlutut di hadapan Sandra, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin berlian. Delisa tersentak kaget. Ia tidak menyangka jika Andre akan melamar Sandra di kafe ini, di tempat yang sama di mana dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama.Suasana di kafe itu tiba-tiba berubah
Delisa terdiam sejenak di taman rumah sakit, menimbang-nimbang permintaan Dirga. Permintaan untuk merahasiakan pernikahan mereka. Ia merasa ada yang janggal, tapi ia tak punya pilihan. "Baiklah," ucap Delisa dengan nada pasrah. "Saya mengerti. Saya berjanji, saya tidak akan memberitahukan pernikahan ini kepada siapa pun."Dirga mengangguk, merasa sedikit lega. Beban di pundaknya seakan sedikit terangkat. "Terima kasih," ucap Dirga singkat. "Saya tahu, saya dapat mengandalkan kamu." Ia menatap Delisa, tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah, tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan Dirga sendiri tidak bisa pahami.Delisa balas menatap Dirga, tatapannya penuh tanya. "Saya hanya ingin mengetahui satu hal," ucap Delisa lirih. "Apakah... apakah Bapak akan mencintai saya?"Dirga terdiam. Pertanyaan itu membuatnya kalut. Ia tidak punya jawaban. Ia tidak punya keinginan untuk mencintai Delisa, tapi ia juga tidak ingin menyakiti wanita itu lebih jauh.
Keesokan hari, Winata akhirnya menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Ia membuka matanya perlahan dan menatap sekeliling dengan pandangan lemah."Papa!" seru Karina dengan nada lega, menggenggam erat tangan suaminya. "Syukurlah, Papa sudah sadar. Bagaimana perasaan Papa?"Winata tersenyum tipis dan berusaha berbicara, namun suaranya sangat lemah. "Aku... baik-baik saja," ucap Winata dengan terbata-bata. "Apa kamu sudah memberitahukan Dewi? Di mana Dirga?"Dirga segera mendekat ke sisi ranjang ayahnya. "Aku di sini, Papa, Tante Dewi sudah ku hubungi dan sebentar lagi dia datang." ucap Dirga cemas. "Bagaimana perasaan Papa? Apa ada yang sakit?"Winata menatap Dirga dengan tatapan serius. "Dirga, ada yang ingin Papa bicarakan padamu," ucap Winata dengan suara lemah, namun penuh dengan penekanan.Karina mengerutkan kening. "Papa, jangan bicara yang berat-berat dulu," ucap Karina dengan k
Helen tersenyum sinis. "Cinta?" ucap Helen. "Apa kau tahu apa arti cinta? Cinta itu adalah kesetiaan, kejujuran, dan kepercayaan. Kau tidak memiliki semua itu, Dirga. Kau hanya memiliki kebohongan dan pengkhianatan."Helen berbalik dan berjalan menuju pintu keberangkatan internasional. Didalam taksi tadi dia sudah memesan tiket untuk kembali ke luar negeri, beruntung dia mendapatkannya di detik-detik terakhir keberangkatan. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tidak ingin melihat Dirga lagi.Dirga berusaha mengejar Helen, namun langkahnya terhenti. Ia merasa kakinya lemas dan tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa terpaku di tempatnya, menatap Helen yang semakin menjauh."Helen! Jangan pergi!" teriak Dirga putus asa.Namun, Helen tidak menghiraukannya. Ia terus berjalan menuju pintu keberangkatan internasional, meninggalkan Dirga yang terpaku dalam penyesalan.Dirga berlutut di lantai de







