Home / Romansa / Gairah Cinta Sang CEO / Bab 6 Tawaran Mengecewakan

Share

Bab 6 Tawaran Mengecewakan

Author: Author92
last update Last Updated: 2025-11-26 19:15:21

Delisa melangkah dengan penuh semangat ke kantor Jaya Sentosa. Panggilan wawancara ini bagaikan setitik cahaya di tengah kegelapan yang melandanya. Ia berharap, pekerjaan ini akan menjadi jembatan menuju kesuksesan, membuktikan bahwa ia mampu bangkit dari keterpurukan dan meraih impiannya.

Semalam, ia sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Ia mempelajari profil perusahaan, berlatih menjawab pertanyaan wawancara, dan memilih pakaian yang profesional namun tetap menunjukkan karakternya. Ia yakin, dengan kemampuan dan pengalamannya, ia bisa meyakinkan pihak HRD bahwa ia adalah kandidat yang tepat untuk posisi manajer yang ia lamar.

Namun, senyumnya memudar saat berhadapan dengan Bapak Handoko. Kabar mengejutkan.

"Delisa, kami terkesan dengan kemampuanmu. Namun, kami menawarkan posisi sekretaris CEO," ujar Bapak Handoko, menyesal.

Delisa tertegun. Sekretaris? Bukan manajer? Ia merasa seperti disambar petir di siang bolong. Semua persiapan dan harapan yang ia bangun selama ini runtuh dalam sekejap.

"Sekretaris?" tanya Delisa, tak percaya. "Tapi, saya melamar sebagai manajer! Saya punya pengalaman!"

Bapak Handoko menghela napas. "Kami tahu, Delisa. Tapi, posisi manajer sedang tidak tersedia. Kami butuh sekretaris kompeten. Kami yakin Anda orang yang tepat."

"Tapi, saya tidak punya pengalaman sebagai sekretaris," bantah Delisa. "Saya seorang manajer. Saya terbiasa mengambil keputusan strategis, memimpin tim, dan mencapai target. Menjadi sekretaris bukanlah passion saya."

"Kami mengerti, Delisa. Tapi, posisi sekretaris CEO di Jaya Sentosa bukanlah pekerjaan yang remeh. Anda akan berinteraksi langsung dengan CEO, terlibat dalam pengambilan keputusan penting, dan memiliki kesempatan untuk belajar dan berkembang," jelas Bapak Handoko. "Selain itu, kami menawarkan nominal gaji yang tinggi, jauh di atas rata-rata gaji sekretaris di perusahaan lain."

Delisa terdiam. Ia memang membutuhkan pekerjaan, dan gaji yang ditawarkan Jaya Sentosa sangat menggiurkan. Dengan gaji sebesar itu, ia bisa melunasi hutang-hutangnya, membayar sewa apartemen, dan memulai hidup baru.

Namun, di sisi lain, ia merasa kecewa dan frustrasi. Ia tidak ingin menjadi sekretaris. Ia ingin menjadi manajer, memimpin tim, dan mencapai kesuksesan dengan kemampuannya sendiri. Menjadi sekretaris bukanlah impiannya.

"Saya butuh waktu untuk berpikir," ujar Delisa akhirnya. "Pekerjaan ini memang menawarkan gaji yang tinggi, tapi tetap saja itu bukan pekerjaan yang saya kuasai dan inginkan."

"Tentu, Delisa. Kami mengerti," jawab Bapak Handoko. "Kami akan memberikan waktu satu hari untuk Anda mempertimbangkan tawaran ini. Kami harap Anda bisa membuat keputusan yang terbaik untuk diri Anda."

Setelah keluar dari ruang HRD, Delisa merasa hancur dan bingung. Ia duduk di taman dekat kantor, mencoba menenangkan diri dan menjernihkan pikirannya.

Apakah ia harus menerima tawaran ini? Gaji yang tinggi memang sangat menggoda, tapi apakah ia akan bahagia menjalani pekerjaan yang tidak sesuai dengan passion-nya? Atau, apakah ia harus menolak tawaran ini dan terus mencari pekerjaan sebagai manajer, meskipun peluangnya semakin tipis?

Delisa merasa terjebak dalam dilema yang sulit. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia membutuhkan pekerjaan, tapi ia juga tidak ingin mengorbankan impiannya.

Tiba-tiba, ia teringat pada pesan yang pernah ia baca di internet: "Jangan pernah mengorbankan kebahagiaanmu demi uang. Uang bisa dicari, tapi kebahagiaan tidak bisa dibeli."

Cukup lama Delisa merenungkan pilihannya, duduk termenung di bangku taman. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan sinar keemasan yang hangat, namun hatinya masih terasa dingin dan bimbang. Tawaran pekerjaan sebagai sekretaris dengan gaji tinggi terus berputar di benaknya, beradu dengan impiannya untuk menjadi seorang manajer sukses.

Hingga suara dering ponsel menyadarkan lamunannya. Ia meraih ponselnya dan melihat nama "Andre" terpampang di layar. Jantungnya berdegup kencang, amarah dan kebencian kembali membuncah dalam dirinya.

Sudah berkali-kali Andre mencoba meneleponnya sejak Delisa mengirimkan bukti-bukti kejahatannya di grup WA kemarin. Entah apa yang ingin dikatakan Andre padanya. Mungkin ia ingin meminta maaf, atau mungkin ia ingin mengancamnya.

Namun, Delisa sama sekali tidak berniat untuk menjawab telepon dari lelaki brengsek itu. Ia tidak ingin mendengar suara Andre, tidak ingin melihat wajahnya, tidak ingin berurusan lagi dengannya. Ia ingin melupakan Andre dan semua kenangan buruk tentangnya.

Delisa mematikan nada dering ponselnya dan meletakkannya kembali kedalam tas. Mengabaikan panggilan dari Andre, berusaha untuk fokus pada masalah yang lebih penting: keputusannya tentang tawaran pekerjaan di Jaya Sentosa.

Namun, panggilan dari Andre seolah membangkitkan kembali luka lama yang belum sembuh. Ia teringat pada semua perbuatan jahat Andre padanya: pengkhianatan, kebohongan, dan penghancuran kariernya. Ia merasa marah dan sakit hati, tapi ia juga merasa kasihan pada dirinya sendiri. Mengapa ia begitu bodoh dan naif hingga bisa diperdaya oleh Andre?

Delisa menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran negatif itu. Ia tidak boleh terus terpuruk dalam masa lalu. Ia harus move on dan membangun masa depannya.

Delisa meraih kembali ponselnya dan membuka aplikasi pesan. Ia mengetik pesan singkat untuk Andre: "Jangan pernah menghubungiku lagi. Aku tidak ingin berurusan dengan pria brengsek sepertimu."

Setelah mengirimkan pesan singkat kepada Andre, Delisa langsung memblokir nomor lelaki itu. Ia merasa sedikit lega, seolah telah memutus rantai yang mengikatnya pada masa lalu yang kelam.

Ia kembali fokus pada dilema yang sedang dihadapinya: menerima tawaran pekerjaan sebagai sekretaris di Jaya Sentosa atau menolaknya dan terus mencari posisi manajer yang sesuai dengan passion-nya.

Tanpa sepengetahuan Delisa, ada sepasang mata mengawasinya dari lantai atas gedung perkantoran itu. Tatapan intens dan sulit diartikan.

tikan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 38

    Saat Delisa berjalan menuju meja akad, jantung Reno berdegup kencang. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita yang selama ini ia cintai akan menjadi kakak iparnya. Sungguh ironi takdir yang tak terduga. Reno yang berusaha keras mendekati Delisa, namun Dirga yang menikahinya."Tidak mungkin," gumam Reno dalam hati. "Ini pasti mimpi buruk."Reno merasakan dadanya sesak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa sangat terpukul dan hancur. Ia merasa semua usahanya untuk mendekati Delisa selama ini sia-sia belaka. Ia merasa takdir begitu kejam kepadanya.Ia ingat bagaimana dulu ia selalu berusaha mencari perhatian Delisa. Ia selalu berusaha membuat Delisa tertawa. Ia selalu berusaha membantu Delisa dalam segala hal. Namun, semua usahanya itu tidak pernah membuahkan hasil.Delisa selalu menganggapnya hanya sebagai teman biasa. Tidak lebih.Dan sekarang, Delisa akan menjadi istri kakaknya. Delisa akan menjadi bagian dari keluarg

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 37

    Hari ini, pernikahan Dirga dan Delisa akhirnya dilaksanakan di kediaman orang tua Dirga. Suasana rumah itu terasa suram dan tegang. Tidak ada dekorasi mewah atau pesta meriah. Hanya ada beberapa anggota keluarga inti yang hadir, itupun dengan wajah yang muram dan tanpa senyum.Lima ratus juta rupiah. Angka yang tertera dalam buku nikah itu terasa seperti vonis hukuman seumur hidup bagi Delisa. Di antara gemerlap dekorasi pernikahan yang dipaksakan, ia merasa seperti tahanan yang dipaksa menikah dengan algojonya.Winata Adiwangsa, sang patriark keluarga, duduk di kursi roda, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. "Maafkan Papa, " bisiknya lirih, "Papa hanya ingin yang terbaik untuk kalian." Namun, kata-kata itu terasa hampa di telinga Dirga.Di hadapan meja akad, Dirga Adiwangsa duduk dengan wajah sekeras batu. Jas hitam yang dikenakannya terasa seperti baju besi yang melindungi hatinya dari sentuhan apa pun.Delisa, batinnya berteriak,

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 36

    Setelah pertemuan yang menyesakkan dengan Dirga di rumah sakit siang tadi, Delisa memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe sepulang dari kantor. Ia berharap secangkir kopi dan suasana yang tenang dapat membantu menjernihkan pikirannya yang kalut. Namun, sepertinya dewi fortuna enggan berpihak padanya.Saat Delisa tengah menikmati kopinya, matanya menangkap sosok yang sangat familiar. Sosok itu adalah Andre, mantan kekasihnya yang telah mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri, Sandra. Jantung Delisa berdegup kencang, dadanya terasa sesak. Ia berusaha untuk tidak memperdulikan keberadaan Andre dan fokus pada kopinya.Namun, sepertinya takdir sedang mempermainkannya. Delisa melihat Andre berlutut di hadapan Sandra, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin berlian. Delisa tersentak kaget. Ia tidak menyangka jika Andre akan melamar Sandra di kafe ini, di tempat yang sama di mana dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama.Suasana di kafe itu tiba-tiba berubah

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 35

    Delisa terdiam sejenak di taman rumah sakit, menimbang-nimbang permintaan Dirga. Permintaan untuk merahasiakan pernikahan mereka. Ia merasa ada yang janggal, tapi ia tak punya pilihan. "Baiklah," ucap Delisa dengan nada pasrah. "Saya mengerti. Saya berjanji, saya tidak akan memberitahukan pernikahan ini kepada siapa pun."Dirga mengangguk, merasa sedikit lega. Beban di pundaknya seakan sedikit terangkat. "Terima kasih," ucap Dirga singkat. "Saya tahu, saya dapat mengandalkan kamu." Ia menatap Delisa, tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah, tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan Dirga sendiri tidak bisa pahami.Delisa balas menatap Dirga, tatapannya penuh tanya. "Saya hanya ingin mengetahui satu hal," ucap Delisa lirih. "Apakah... apakah Bapak akan mencintai saya?"Dirga terdiam. Pertanyaan itu membuatnya kalut. Ia tidak punya jawaban. Ia tidak punya keinginan untuk mencintai Delisa, tapi ia juga tidak ingin menyakiti wanita itu lebih jauh.

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 34

    Keesokan hari, Winata akhirnya menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Ia membuka matanya perlahan dan menatap sekeliling dengan pandangan lemah."Papa!" seru Karina dengan nada lega, menggenggam erat tangan suaminya. "Syukurlah, Papa sudah sadar. Bagaimana perasaan Papa?"Winata tersenyum tipis dan berusaha berbicara, namun suaranya sangat lemah. "Aku... baik-baik saja," ucap Winata dengan terbata-bata. "Apa kamu sudah memberitahukan Dewi? Di mana Dirga?"Dirga segera mendekat ke sisi ranjang ayahnya. "Aku di sini, Papa, Tante Dewi sudah ku hubungi dan sebentar lagi dia datang." ucap Dirga cemas. "Bagaimana perasaan Papa? Apa ada yang sakit?"Winata menatap Dirga dengan tatapan serius. "Dirga, ada yang ingin Papa bicarakan padamu," ucap Winata dengan suara lemah, namun penuh dengan penekanan.Karina mengerutkan kening. "Papa, jangan bicara yang berat-berat dulu," ucap Karina dengan k

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 33

    Helen tersenyum sinis. "Cinta?" ucap Helen. "Apa kau tahu apa arti cinta? Cinta itu adalah kesetiaan, kejujuran, dan kepercayaan. Kau tidak memiliki semua itu, Dirga. Kau hanya memiliki kebohongan dan pengkhianatan."Helen berbalik dan berjalan menuju pintu keberangkatan internasional. Didalam taksi tadi dia sudah memesan tiket untuk kembali ke luar negeri, beruntung dia mendapatkannya di detik-detik terakhir keberangkatan. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tidak ingin melihat Dirga lagi.Dirga berusaha mengejar Helen, namun langkahnya terhenti. Ia merasa kakinya lemas dan tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa terpaku di tempatnya, menatap Helen yang semakin menjauh."Helen! Jangan pergi!" teriak Dirga putus asa.Namun, Helen tidak menghiraukannya. Ia terus berjalan menuju pintu keberangkatan internasional, meninggalkan Dirga yang terpaku dalam penyesalan.Dirga berlutut di lantai de

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status