Share

Dalam Kuasa Tuan Mafia
Dalam Kuasa Tuan Mafia
Author: Rentya Karin

Bab1. Di culik

Author: Rentya Karin
last update Last Updated: 2025-07-16 19:35:35

"Sial! Kenapa aku harus melihat adegan menyeramkan itu?" Clarissa berjalan cepat menyusuri trotoar. Hujan deras tidak membuatnya berhenti walaupun hanya sebentar. Jaket tipis yang membalut tubuhnya tak cukup untuk menahan dinginnya malam. Sepatu haknya terendam genangan air, dan tas kecilnya terayun di bahunya. "Bagaimana ini? Apakah mereka akan membunuhku jika mereka menangkapku? Oh tidak, aku tidak ingin mati sekarang!" Gadis itu terus bergumam sepanjang jalan, langkah kakinya semakin cepat, ingin segera tiba di rumahnya, sebelum orang-orang itu menemukannya.

Namun, Clarissa tidak menyadari jika di balik kaca jendela mobil hitam yang berhenti tidak jauh dari sana, seorang pria bertubuh tegap dan berwajah dingin selalu mengawasi setiap gerak Clarissa. Matanya yang tajam tidak pernah sekalipun beralih dari gadis itu.

Tidak ada emosi yang terpancar dari sorot matanya, hanya terlihat sebuah ketertarikan yang samar.

"Bawa dia. Sekarang." Suaranya rendah dan dalam, cukup membuat seluruh anak buahnya langsung bergerak. Dia adalah Leonardo De Luca, pria berdarah campuran Italia-Indonesia, pemimpin keluarga mafia De Luca yang ditakuti dari Palermo hingga ke Jakarta.

Sementara di tempat lain....

"Bodoh! Kenapa menangkap seorang gadis saja tidak bisa?" seorang pria terlihat begitu murka, dia memukul beberapa anak buahnya yang gagal menjalankan tugas yang dia perintahkan.

"Maaf tuan, kami.... "

"Aku tidak butuh kata maaf. Yang aku mau adalah gadis itu. Tangkap dia, bawa ke hadapanku." Potong pria itu dengan penuh amarah.

Sorot matanya yang tajam, membuat para anak buahnya menunduk ketakutkan. "Pergi, dapatkan gadis itu sekarang!" suara perintah dari pria menyeramkan itu kembali terdengar menggelegar, membuat para anak buahnya langsung bubar dan pergi mencari sosok gadis yang tidak seharusnya menyaksikan sesuatu yang membahayakan.

"Sial! Sepertinya aku harus turun tangan sendiri untuk mencabut nyawa gadis itu. Dia tidak bisa dibiarkan hidup!" geram pria itu, kemudian pergi meninggalkan ruangan gelap yang menjadi sarangnya.

***

Keesokan harinya...

Di sebuah gudang tua di pinggiran kota, Clarissa kini duduk dengan tangan terikat. Tubuhnya menggigil, entah karena dingin atau karena sosok pria di hadapannya.

"Aku tidak tahu apa-apa..." bisiknya pelan, nyaris menangis. Rasa takut selalu menyelimuti gadis berparas cantik itu. Matanya berkaca-kaca, siap meluncurkan kristal bening yang akan membasahi wajahnya.

Clarissa tidak pernah menyangka, jika dirinya akan di culik dan di sekap oleh pria menyeramkan itu.

Leonardo menunduk perlahan, ia mendekat. Jemarinya yang besar dan dingin mengangkat dagu Clarissa, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam matanya.

"Kau terlalu cantik untuk dibunuh. Tapi terlalu berbahaya untuk dilepas," katanya seraya menyeringai kecil, membuat Clarissa semakin ketakutan. "Jadi... kuputuskan kau akan tinggal bersamaku." Lanjutnya lagi dengan tegas.

"Kenapa?!" Clarissa berteriak kencang, amarah serta rasa takut, kini bersatu dalam dirinya.

"Karena aku ingin tahu..." Bisikan lelaki itu mengalir pelan di telinga Clarissa. "Apakah jantungmu berdetak karena takut... atau karena aku." Lanjutnya membuat Clarissa bergidik ngeri.

"Lepaskan aku... Aku benar-benar tidak tahu apa-apa! Aku,,, aku hanya kebetulan.... " suara Clarissa tercekat, saat satu tangan Leonardo atau lebih di kenal dengan sebutan Leo itu, kembali mencengkram dagunya.

Matanya yang sangat tajam, menatap kedua bola mata gadis itu. "Akan aku pastikan sendiri. Kau kebetulan atau memang sengaja," bisiknya benar-benar penuh penekanan.

Setelah itu, Leo pun bangkit dan pergi meninggalkan Clarissa sendirian di dalam ruangan yang di hiasi oleh lampu terang, agar terlihat jelas, bagaimana keadaan ruangan itu.

Namun, sebelum Leo benar-benar pergi, dia kembali menatap gadis yang tengah ketakutan itu.

Seulas senyuman mematikan terbit dari sudut bibirnya, membuat Clarissa kembali menundukkan kepalanya dengan rasa takut yang semakin bertambah.

"Lepaskan aku, ku mohon... " Clarissa memohon sambil menatap kepergian Leo, namun laki-laki itu seolah-olah tuli, dia terus berjalan pergi meninggalkan Clarissa tanpa menoleh sedikitpun.

Clarissa frustasi, ia merasa hidupnya benar-benar terancam sekarang, dia berusaha untuk melepaskan ikatan di tangannya, namun sayang sekali ikatan itu sangat kuat, Clarissa tidak bisa melepaskannya. "Ya Tuhan.... kenapa hidupku malah seperti ini? kesalahan apa yang sudah aku lakukan di masa lalu?" Lirih gadis itu sambil memperhatikan sekeliling ruangan tersebut. Mencari jalan, atau sesuatu untuk melepaskan diri. Namun dia sama sekali tidak menemukannyamenemukannya. Hal ini benar-benar membuat Clarissa frustasi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   137 selama aku ada

    Pagi datang dengan suara langkah kecil di koridor rumah.Clarissa terbangun bukan karena mimpi buruk, melainkan karena aroma roti panggang yang samar masuk ke kamarnya.Ia membuka mata perlahan.Tidak ada Leo di kursi dekat jendela.Jantungnya langsung berdebar.“Leo…?” panggilnya pelan.Tidak ada jawaban.Clarissa bangkit dari ranjang dan membuka pintu kamar, kemudian ia melangkah keluar dan menuruni anak tangga. Di dapur, Leo berdiri dengan celemek sederhana yang jelas tidak cocok dengan tubuh tinggi dan wajah dinginnya. Tangannya sibuk membalik roti di atas wajan.Clarissa terpaku beberapa detik.Ketua De Lucas Syndicate… memasak sarapan.“Kamu sudah bangun, sayang," kata Leo tanpa menoleh. “Aku hampir selesai.”Clarissa mendekat pelan.“Kamu… masak?”Leo mengangkat bahu.“Aku mencoba.”Clarissa tersenyum kecil.“Ini pertama kalinya

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   136 apakah kita bergerak

    Pagi datang dengan langkah pelan.Tidak membawa suara sirene. Tidak membawa pesan ancaman. Tidak membawa darah atau jeritan.Hanya cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai dan aroma kopi dari dapur.Clarissa membuka mata perlahan.Hal pertama yang ia lihat adalah punggung Leo di kursi dekat jendela. Seperti biasa, laki-laki itu terjaga lebih dulu. Jaket hitamnya tergantung di sandaran kursi, kemejanya sedikit kusut karena semalaman tidak benar-benar tidur.“Leo…” panggil Clarissa lirih.Leo langsung menoleh.“Kamu sudah bangun?” tanyanya lembut. Clarissa mengangguk sambil duduk di ranjang. “Kamu lagi-lagi tidak tidur.”Leo berjalan mendekat.“Aku tidur sedikit, sayang. Itu sudah cukup."Clarissa menyentuh wajahnya.“Kamu bohong. Matamu lelah.”Leo menangkap tangan Clarissa dan menempelkannya ke dadanya.“Aku baik-baik saja selama kamu di sini.”Clarissa terd

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   135 kau tidak cocok di dunia normal

    Malam turun dengan cepat, membawa udara yang terasa lebih berat dari biasanya.Clarissa duduk di sofa rumahnya, kedua tangannya saling menggenggam erat. Matanya menatap pintu depan, seolah berharap Gio masuk kapan saja sambil tersenyum dan berkata semuanya hanya salah paham.Namun pintu itu tidak pernah terbuka.Leo berdiri di dekat jendela, ponsel di telinganya, suaranya dingin dan terkontrol.“Cari semua kamera di sekitar kampus. Jangan ada satu sudut pun yang terlewat.”Ia memutus sambungan, lalu menoleh ke arah Clarissa.“Kita akan menemukan Gio.”Clarissa berdiri.“Jangan dengan cara lama, Leo.”Leo menatapnya.“Aku belum melakukan apa pun.”“Tapi aku tahu matamu,” ucap Clarissa lirih. “Kalau kamu marah seperti itu… dunia di sekitarmu bisa hancur.”Leo berjalan mendekat.“Mereka menyentuh orangku.”Clarissa mengangkat wajah.“Dan aku takut mereka ingin kamu kembali jadi seperti dulu.”Leo terdiam.“Aku tidak mau kamu kehilangan dirimu karena aku,” lanjut Clarissa.Leo memegang ba

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   134 benar-benar di mulai

    Pagi itu terasa berbeda.Bukan karena hujan, bukan karena langit, tapi karena udara di sekitar Clarissa terasa… waspada.Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya, sementara Leo duduk di kursi dekat pintu kamar. Sejak kejadian di kampus kemarin, Leo tidak lagi menyembunyikan kegelisahannya."Kamu benar-benar mau kembali ke kampus hari ini?" tanya Leo untuk ketiga kalinya.Clarissa menghela napas kecil."Leo… kalau aku berhenti sekarang, mereka menang."Leo menatapnya lama."Aku tidak peduli siapa yang menang. Aku hanya peduli kamu pulang hidup-hidup."Clarissa berjalan mendekat dan berdiri di antara kedua lutut Leo."Kamu tidak bisa melindungiku dengan cara mengurungku lagi."Leo mengangkat wajahnya."Aku tidak mengurungmu lagi.""Kamu menjagaku seperti dunia ini hanya milikmu."Leo terdiam sesaat."Karena memang begitu."Clarissa tersenyum tipis."Itu manis… tapi juga menakutkan."Leo menarik Clarissa ke dalam pelukan."Dengarkan aku. Mulai hari ini, kamu belajar menjaga dirimu

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   133 bab baru sudah di mulai

    Hujan turun sejak subuh.Langit abu-abu menggantung rendah di atas rumah Clarissa, seolah ikut menyimpan sesuatu yang tidak diucapkan.Clarissa berdiri di depan cermin, mengenakan jaket tipis dan merapikan rambutnya. Hari ini ia tidak merasa setenang kemarin. Ada perasaan aneh di dadanya… seperti sedang diawasi.Ia melirik ke jendela.Kosong.Namun perasaan itu tidak hilang.Pintu kamar diketuk."Clarissa," suara Leo terdengar dari luar. "Sarapan sudah siap."Clarissa membuka pintu.Leo berdiri dengan kemeja hitam dan mantel panjang. Wajahnya terlihat serius, jauh lebih dingin dari biasanya."Kamu mimpi buruk?" tanya Clarissa.Leo menggeleng pelan. "Tidak. Aku cuma tidak suka hujan."Clarissa tersenyum kecil. "Mafia takut hujan?""Hujan membuat semua jejak jadi samar," jawab Leo datar. "Dan aku tidak suka hal yang tidak bisa kulihat."Clarissa mena

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   132 tidak berjalan mulus

    Pagi berikutnya datang dengan udara yang lebih sibuk dari biasanya.Clarissa berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya dengan sedikit gugup. Seragam kampusnya kembali melekat di tubuhnya setelah sekian lama hanya mengenakan pakaian rumah.Ia menarik napas panjang."Hari pertama lagi…" gumamnya.Pintu kamar diketuk pelan."Masuk," ucap Clarissa.Leo muncul di ambang pintu. Ia mengenakan kemeja hitam sederhana, tanpa jas mafia, tanpa aura mengintimidasi seperti biasanya. Tapi tatapannya tetap tajam… hanya saja lembut saat melihat Clarissa."Kamu cantik," katanya datar tapi jujur.Clarissa tersenyum kecil. "Aku cuma mau ke kampus.""Justru itu," jawab Leo. "Dunia luar tidak pantas melihatmu sembarangan."Clarissa memutar bola mata. "Tuan mafia posesif banget."Leo mendekat, berdiri tepat di belakangnya, menatap pantulan mereka di cermin."Kau tahu apa yang paling kutakutkan?"Clarissa menoleh. "Apa?""Kau menemukan dunia yang tidak membutuhkanku lagi."Clarissa terdiam sesaat, lalu me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status