LOGINTubuh Alana seketika terasa lemas sepenuhnya, lututnya nyaris ambruk ke tanah seandainya Tiara dan Ayu tak segera menahan bahu serta lengannya dengan cepat. Darah di wajahnya lenyap, meninggalkan pucat yang menyayat hati.
“Kamu dipanggil langsung ke ruangan Rektor…” bisik Ayu pelan, suaranya ikut gemetar menahan kekhawatiran. “Bagaimana bisa begini, Alana… Siapa yang sudah tega menempelkan semua foto itu di papan pengumuman? Siapa pelakunya?” bisik Tiara di samping telinganya, matanya penuh kebingungan dan rasa ingin tahu yang bercampur takut. Alana hanya terdiam, matanya menatap kosong ke kerumunan orang yang masih menunjuk‑nunjuk ke arahnya. Di dalam hatinya, tebakan itu sudah terungkap dengan jelas dan tajam — tak ada orang lain yang sanggup bertindak sejauh ini selain Kara. Semua ini pasti balas dendam karena semalam ia berani mengabaikan perintah pria itu untuk datang ke kamar hotel. Hatinya terasa diremas kuat, namun ia tak berani mengucapkannya dengan suara keras. Ia takut semakin banyak yang tahu, semakin mudah bagi Kara menghancurkan sisa‑sisa hidupnya. “Tak perlu bertanya lebih jauh… aku sudah tahu siapa yang melakukannya,” bisik Alana parau, matanya berkaca namun tak meneteskan air mata. “Karena semalam… aku tak menuruti apa yang ia minta.” Tubuh Alana masih terasa lemas meski ditopang kedua sahabatnya, namun belum sempat ia melangkah jauh, suara‑suara tajam meledak dari sekelilingnya, menusuk telinga hingga ke dalam tulang. “Sugar Baby!” teriak seorang mahasiswa, disusul seruan lain yang makin kasar. “Ayam kampus!” “Wanita simpanan yang pandai menyembunyikan sifat aslinya!” Hati Alana terasa diremas kuat seolah hendak pecah, namun ia terus memaksakan kaki melangkah maju. “Oh my God… ternyata di balik sebutan wanita cerdas dan baik hati itu tersimpan bakat terpendam menjadi seorang jalang,” suara nyinyir terdengar tajam, membuat bahunya sedikit menegang. “Gila sungguh, ternyata mainannya om-om kaya,” tambah yang lain. “Bukan sekadar om-om, sudah tua bangka pula!” “Hei Aluna, daripada melayani orang yang sudah jompo, lebih baik bersamaku saja — masih muda, bugar, dan kuat!” “Kau tak mengerti, yang dicarinya bukan kekuatan, tapi uangnya… semuanya demi uang!” Di antara kerumunan, Yasmine maju ke depan diiringi dua temannya, tertawa sinis sambil menatap tajam ke arah Alana. “Kata orang, gosip itu adalah fakta yang baru tertunda,” ucapnya lantang disertai tawa yang terdengar menyakitkan. Meski matanya mulai berkaca‑kaca dan dadanya terasa sesak menahan perih yang tak terlukiskan, Alana tak menoleh sedikit pun, tak membalas sepatah kata pun. Ia terus berjalan lurus menuju gedung rektorat, berusaha menutup telinga dari segala hinaan yang terus mengekor di belakangnya. Di sudut koridor yang agak gelap, sepasang mata menatap tajam, penuh kepuasan tak tersembunyi. Tak lain adalah Kara — pria tampan itu berdiri bersandar pada tiang beton, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kemenangan yang dingin. Ia menyaksikan setiap langkah Aluna yang terlihat goyah, seolah menikmati pemandangan gadis itu nyaris runtuh sepenuhnya. “Inilah akibatnya jika kau berani membantahku…” desisnya pelan, suaranya penuh penekanan yang kejam. Tangannya meremas pelan, seolah sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. “Ini belum seberapa, Alana Aurellia… Masih banyak lagi yang menanti jika kau belum juga sadar siapa yang kau lawan.” Ia terus menatap punggung gadis itu hingga menghilang di balik pintu gedung rektorat, lalu berbalik perlahan dengan langkah santai seolah tak pernah ikut campur dalam kekacauan yang baru saja terjadi. –– Pintu ruangan rektor tertutup rapat di belakangnya, menyisakan keheningan yang jauh lebih menindas dibandingkan suara hinaan di luar. Di balik meja besar berwarna cokelat tua, Rektor menatapnya dengan pandangan kecewa dan tegas, disertai dua orang pejabat kampus yang duduk di sisi kiri‑kanan. Alana berdiri tegak meski lututnya masih gemetar, menundukkan pandangan sejenak sebelum mengangkatnya kembali. “Aluna Aurellia,” suara Rektor terdengar berat dan dingin sambil melemparkan berkas berisi foto‑foto itu ke atas meja hingga bergeser tepat di hadapan gadis itu. “Apakah kamu punya penjelasan atas semua bukti yang tersebar luas ini? Nama baik kampus sudah ternoda parah.” “Saya… saya tidak melakukan apa‑apa yang dituduhkan, Pak Rektor,” jawab Alana pelan namun tegas, suaranya tak bergetar meski hatinya terasa remuk. “Semua ini diatur dan disebar dengan sengaja untuk menjatuhkan saya.” Rektor menghela napas kasar sambil menatap tajam. “Tapi bukti ada di depan mata, tersebar ke seluruh penjuru kampus. Aturan tetaplah aturan — saya sudah menandatangani surat keputusan pemberhentianmu serta pencabutan beasiswa dan hak mengikuti lomba nasional itu.” Deg! Dada Alana seolah ditusuk benda tajam berkali‑kali. Matanya melebar tak percaya. “Pak… tolong beri saya kesempatan membuktikan kebenaran… ada orang di balik semua ini yang ingin menghancurkan saya karena saya tak mau menuruti keinginannya…” “Siapa orang itu? Ada bukti nyata?” potong pejabat di sebelah kiri dengan nada meremehkan. “Hanya alasan untuk membenarkan diri sendiri.” Alana terdiam, tak mampu mengemukakan nama Kara — ia sadar betul betapa kuatnya pengaruh pria itu di lingkungan ini, seolah seluruh pintu keadilan sudah tertutup rapat sejak awal. Air matanya jatuh perlahan membasahi pipi pucatnya. “Keputusan sudah bulat, Alana,” tegas Rektor kembali. “Kau harus segera mengurus surat pemberhentian dan mengosongkan asrama hari ini juga.” Pintu ruangan terbuka perlahan, tubuh Alana melangkah keluar seolah membawa beban seribu batu di atas bahunya. Wajahnya pucat tanpa darah, matanya basah dan kosong menatap lantai. Tiara dan Ayu yang sudah menunggu di depan segera berlari menghampiri, wajah mereka penuh cemas. “Bagaimana, Alana? Apa Rektor percaya padamu?” tanya Ayu dengan suara gemetar. Alana hanya menggeleng pelan, air matanya akhirnya jatuh deras tak terbendung lagi. “Aku… sudah dikeluarkan… beasiswaku dicabut… dan aku harus mengosongkan asrama hari ini juga…” suaranya tersendat, nyaris tak terdengar. “Tidak mungkin… ini tidak adil!” seru Tiara menahan tangis, memeluk bahu sahabatnya erat‑erat. “Mereka tak mau mendengar penjelasanmu sedikit pun?” “Semua sudah diatur rapi… tak ada celah untuk membela diri,” bisik Alana di sela isaknya. Rasanya seluruh mimpi, kerja keras bertahun‑tahun, serta harapan yang ia bangun perlahan hancur berkeping‑keping di hadapannya sendiri. Di kejauhan, bayangan Kara masih terlihat berdiri diam, menatap dengan senyum puas yang samar — seolah menjadi saksi terakhir atas kehancuran yang ia ciptakan sendiri. Alana memejamkan mata, menenggelamkan wajahnya di bahu Ayu. “Kara… dia benar‑benar berhasil merenggut segalanya dariku… Tapi aku tidak boleh menyerah aku harus membuktikan kalau aku benar-benar tidak salah.”bisik hatinya kemudian ia mengusap air mata dengan kasar lalu dia membuka ponsel dan menekan salah satu nomor yang ada di layar ponselnya itu. — Hening seketika menggantikan keributan yang tadi bergemuruh. Dari dalam mobil mewah yang baru berhenti, turunlah seorang pria bertubuh tinggi, berwajah tegas dan maskulin — rambutnya memutih sebagian oleh uban, namun masih memancarkan wibawa yang berat dan tak tertandingi. Tak lain adalah Jayden Javindra. Seluruh pandangan tertuju padanya dengan rasa kagum yang bercampur takut. Dikta yang sedang duduk di atas sepeda motor pun terperanjat, matanya terbelalak mengenali sosok itu. Ia segera menoleh ke arah Kara yang tak jauh di sisinya. “Kara… bukannya itu om Jayden… Daddymu?” Seketika tubuh Kara berputar tajam, wajahnya seketika memerah menahan amarah yang meluap‑luap. Matanya menatap tajam ke arah ayahnya yang baru saja melangkah masuk ke lingkungan kampus. “Jadi kau sekarang mencoba bersembunyi dan berlindung di belakang Daddyku, Alana?” desis Kara dengan suara tertahan, rahangnya mengeras, tangannya mengepal hingga buku‑jarinya memutih. Kemarahan itu makin membakar dadanya — baru beberapa saat yang lalu ia menelepon Daddynya, namun hanya dijawab dengan alasan pria itu sedang sangat sibuk. Dan kini, Jayden malah muncul tepat di saat yang tak terduga, seolah‑olah datang membela gadis yang baru saja ia hancurkan. “Dasar orang tua sialan… tua bangka tak tahu diri!” umpatnya dalam hati, suaranya hampir meledak namun ia tahan rapat‑rapat agar tak terdengar orang lain.Di jalan lingkar luar kota yang sepi dan remang‑remang, suara raungan mesin motor gahar membelah udara dingin malam. Kara memacu kendaraannya sekuat tenaga, menundukkan badan, matanya menatap lurus ke depan seolah ingin melesat meninggalkan segala rasa kekalahan yang membakar dadanya. Angin malam memukul wajahnya keras‑keras, namun tak sanggup mendinginkan amarah yang masih mendidih di dalam dada. Ia menyalip satu demi satu peserta balapan liar itu dengan gerakan tajam dan berbahaya, seolah tak peduli nyawanya sendiri. “Dasar sialan… kenapa kau harus muncul saat itu juga?” gerutunya parau, teriakan tertelan suara gemuruh mesin. Di kepalanya terus terbayang wajah Daddynya, Jayden, yang merusak rencana matang itu seketika. Juga bayangan Alana yang kembali berdiri tegak, seolah mengejek ketidakberdayaannya. Kakinya menekan tuas gas hingga batas maksimal, motor itu melesat bagai anak panah. Keringat dingin bercampur amarah membasahi pelipisnya. Ia ingin memacu lebih cepat lagi, hingga
Jayden terus melangkah tegas, wibawanya membuat kerumunan otomatis menyingkir. Tak sekalipun ia menoleh ke arah Kara, seolah tak mengenali pemuda itu. Begitu juga Kara — ia tetap diam di tempat, tak berniat mendekat, tak mau berhadapan dengan pria yang baru saja ia maki dalam hati. Hanya Dikta, Alex, dan Yasmine yang menyaksikan semuanya dengan mata terbelalak, tahu persis hubungan keduanya namun tak berani bersuara sepatah kata pun.Alana pun tak curiga sedikit pun, kalau Jayden adalah ayah dari Kara bukannya hanya pemilik kampus saja.“Siapa yang memberi hak mengeluarkan mahasiswa berprestasi ini tanpa bukti yang sah?” suara berat Jayden bergema, tepat saat Rektor bergegas keluar dari gedung.Rektor terkejut setengah mati, segera membungkuk sopan. “Tuan Javindra… kami bertindak berdasarkan bukti yang tersebar luas…”“Bukti palsu dan hasil rekayasa,” potong Jayden dingin sambil menyerahkan berkas tebal. “Di sini tercatat jejak pengeditan, asal akun penyebar, serta bukti bahwa gadis i
Tubuh Alana seketika terasa lemas sepenuhnya, lututnya nyaris ambruk ke tanah seandainya Tiara dan Ayu tak segera menahan bahu serta lengannya dengan cepat. Darah di wajahnya lenyap, meninggalkan pucat yang menyayat hati.“Kamu dipanggil langsung ke ruangan Rektor…” bisik Ayu pelan, suaranya ikut gemetar menahan kekhawatiran.“Bagaimana bisa begini, Alana… Siapa yang sudah tega menempelkan semua foto itu di papan pengumuman? Siapa pelakunya?” bisik Tiara di samping telinganya, matanya penuh kebingungan dan rasa ingin tahu yang bercampur takut.Alana hanya terdiam, matanya menatap kosong ke kerumunan orang yang masih menunjuk‑nunjuk ke arahnya. Di dalam hatinya, tebakan itu sudah terungkap dengan jelas dan tajam — tak ada orang lain yang sanggup bertindak sejauh ini selain Kara. Semua ini pasti balas dendam karena semalam ia berani mengabaikan perintah pria itu untuk datang ke kamar hotel.Hatinya terasa diremas kuat, namun ia tak berani mengucapkannya dengan suara keras. Ia takut sema
Malam yang ditunggu‑tunggu dengan penuh gejolak hati oleh Kara akhirnya tiba. Pria tampan bertubuh tinggi tegap itu kini sudah berdiri di dalam kamar nomor 134. Ia terpaku di depan kaca jendela besar, menatap kilauan lampu ibu kota Jakarta yang berkelap‑kelip di antara gedung‑gedung pencakar langit—indah bagi siapa saja, namun terasa makin membakar amarah di matanya.Kara tak mampu menyembunyikan rasa tak sabar. Berkali‑kali matanya melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir sepuluh menit ia menunggu kedatangan Alana.“Cih… wanita sialan. Berani‑beraninya membuatku menunggu,” gerutunya parau. Memang, menunggu adalah hal yang paling ia benci—apalagi baginya yang dikenal sebagai bad boy yang paling ditakuti seisi kampus. Ini pertama kalinya ia harus menunggu seseorang, terlebih wanita yang paling ia benci sekaligus perlahan berubah menjadi obsesi yang tak bisa ia lepaskan.Wajahnya makin tampak mencekam, rahangnya mengeras. Ia merogoh saku celana, men
Tangan Kara mengepal hingga buku‑jarinya memutih, sesekali ia meninju udara seolah melampiaskan amarah yang meledak di dada. Tatapannya tajam, gelap, tak terlepas dari mobil mewah yang perlahan menjauh bersama Alana di dalamnya.“Tunggu saja nanti malam, Alana… jalang sialan!” desisnya dengan suara parau penuh kebencian, lalu melangkah lebar memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, seolah menahan diri agar tidak langsung berlari mengejar.Begitu sampai di mobil yang sudah menunggu, Dikta segera bersuara dengan nada kesal: “Kau dari mana saja? Lama sekali.”Kara tak menjawab sepatah kata pun. Ia langsung masuk ke kursi paling belakang, wajahnya kaku dan dingin seolah tak ada nyawa yang tersisa, namun tatapannya menyimpan amarah yang siap meledak kapan saja.Alex meliriknya dengan pandangan heran. “Ada masalah apa?”Tetap tak ada jawaban. Kara hanya memejamkan mata, dadanya naik‑turun hebat—gambaran jelas betapa beratnya emosi yang ia tahan. Di benaknya terus terbayang pemandangan
“Tidurlah bersamaku malam ini!” Suara berat dan rendah itu berbisik tepat di telinganya, membuat Alana tersentak hebat hingga mundur selangkah dan punggungnya menabrak dinding. Jantungnya berpacu cepat—bukan karena senang, melainkan karena terkejut dan takut. “Apa kamu sudah gila? Berani sekali berbicara tidak sopan padaku?” suaranya bergetar, matanya menatap tajam namun tak bisa menyembunyikan kegugupan. “Ini di lingkungan kampus, orang bisa melihat!” Askara malah tersenyum miring, tatapan matanya yang gelap menyapu seluruh wajah dan tubuh Alana seolah sedang menilai benda miliknya. Ia kembali melangkah maju hingga tak tersisa ruang gerak sedikit pun. “Jangan bersikap seolah paling suci,” ucapnya dingin dan penuh nada merendahkan. “Sebutkan saja tarifmu untuk menemaniku malam ini. Berapa pun jumlahnya, aku sanggup membayarnya lunas. Bahakan melebihi bayaran sugar Daddy mu.” Alana merasa wajahnya terbakar menahan marah dan terkejut. Ia mengepal kedua tangannya di samping tubuh.







