LOGINTubuh Esther seketika menegang. Refleks ia menunduk. Benar yang dikatakan Erland. Tanda merah itu begitu menarik perhatian.
Mengapa dirinya tidak sadar? Esther berdecak dalam hati. Merutuki diri sendiri. Ini pasti ulah Arion yang meninggalkan jejak secara sembarangan. Mengapa dirinya sangat ceroboh membiarkan tanda itu dilihat oleh Erland? “Ah…ini…” Esther mengerjap berkali-kali. Mencoba menjadi sumber jawaban. Meski terlihat tenang, tetap saja ia merasa gugup. “Tadi di toilet tiba-tiba ada serangga menggigitku,” kata Esther. ‘Serangga kepala hitam,’ batin Esther. Teringat akan tingkah Arion. Erland mengangguk. “Begitu, rupanya.” “Iya ini sangat gatal, sepertinya kita harus segera pulang. Aku ingin mandi dan memberi obat gatal,” ucap Esther sembari menggaruk bagian yang merah tadi. Ia harus meyakinkan Erland dan menghilangkan kecurigaan. Sementara Tiara merasa aneh. Ia teringat dengan bayCorrina sedikit puas saat melihat wajah pucat Daxton. Pria itu pasti tidak akan menduga bahwa cucu kesayangannya itu bertindak kotor seperti itu. Menyukai istri kakaknya sendiri adalah sesuatu yang sangat menjijikkan. Corrina yakin, Daxton pasti sangat kaget. Bersyukur bila sampai jantungan dan meninggal. Justru itu akan menjadi sesuatu yang menguntungkan baginya. Daxton meninggal karena Arion, kira-kira seperti itulah narasinya. “Ayah bisa menanyakannya pada Arion. Aku yakin saat ini cucu ayah itu sedang menyembunyikan Esther.” Corrina terus saja memprovokasi Daxton. Tetapi sepertinya pria itu sama sekali tidak terpengaruh. Alih-alih menyalahkan Arion. Daxton justru menyalahkan Erland. “Itu karena Erland menduakan Esther.” Mendengar itu, Corrina mendelik. Bisa-bisanya pria itu menyalahkan putranya. Corrina jelas tidak terima. “Pernikahan kedua Erland terjadi atas persetujuan ayah!” seru Corrina. “Tapi tidak dengan Esther,” sahut Daxton cepat yang membuat Corrina seketika terceng
Arion spontan membulatkan matanya. Terlebih kala melihat tatapan tajam Esther yang dihunuskan pada dirinya. Sesaat Arion tidak mengerti dengan apa yang terjadi. “Kenapa, Esther?” tanya Arion. Entah mengapa wanita itu tiba-tiba menolak sentuhan yang ia berikan. Esther tersenyum sinis. “Masih tanya kenapa? Tanya pada sendiri? Lagi pula untuk apa kau pulang? Bukannya kau sangat betah di rumah sakit?” Esther melipat kedua tangan di depan dada. Dagunya terangkat tinggi. Tatapannya masih seperti pertama kali Arion melihatnya, dingin dan tajam. Ia merasakan aura permusuhan dalam diri wanita itu. “Bukankah aku sudah bilang pada Sui, kalau Eric mengalami kecelakaan?” Arion belum menyadari kesalahan yang ia lakukan. Ia pikir Esther benar-benar mempercayai ucapannya. Namun setelah melihat kemarahan wanita itu, Arion pola pikir Arion. Pasti telah terjadi sesuatu yang membuat Esther murka kepada dirinya. Lagi-lagi Esther menyunggingkan senyumnya. Kemudian dengan sinis berkata, “Eric? S
Hening menggantung di udara. Tiara tampak gugup. Ia yakin, ia tidak memiliki kewenangan untuk menjawab, sehingga ia memilih untuk diam. Sementara Corrina terlihat tenang. Meski begitu ia tahu apa yang harus ia berikan, yaitu jawaban yang memuaskan untuk Daxton. Ia tahu, Esther adalah cucu menantu kesayangan pria itu. Kecemasan tampak dirasakan Erland. Pertanyaan yang dilontarkan Daxton terdengar sangat santai diucapkan. Tetapi, ia yakin pertanyaan itu lebih dari sebuah interogasi yang tegas. Erland menatap Corrina berharap mendapat bantuan untuk menjawab. Satu tatapan tajam, diterima Erland dan itu cukup membuatnya paham akan maksud Corrina yang memerintahkan dirinya untuk tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Corrina menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur napas. “Ayah, duduklah dulu dan bergabunglah bersama kami.” Daxton menyeret langkahnya mendekati meja makan. Ketukan tongkat beradu dengan sepatu terdengar nyaring. Di usia yang memasuki angka 80, Daxton terlihat masih gag
Esther menajamkan penglihatannya. Mencoba memastikan bahwa sosok yang ada di dalam foto itu bukanlah Arion, pria yang ada di dalam hatinya. Akan tetapi, dilihat dari segi mana pun, pria itu jelas Arion.Esther meremas ponsel di tangan. Hatinya memanas, dadanya bergemuruh, kepalanya mendidih. Ia merasakan sebuah gelombang emosi yang sangat besar. Apa ini yang dinamakan cemburu? Ya, jelas saja Esther merasa cemburu. Setelah apa yang ia lalui bersama pria itu. Wajar bila dirinya merasa cemburu saat melihat Arion bersama dengan wanita lain. Esther teringat dengan ucapan Sui. Bahwa Arion sedang berada di rumah sakit untuk melihat kondisi Eric. Tapi apa yang baru saja ia lihat? Esther kembali melihat postingan Valencia Agraris. Di sana tertulis sebuah caption yang membuat Esther tak mampu lagi menahan emosinya. Pada akhirnya ia memanggil Sui. “Sui!” teriak Esther. Mendengar suara Esther yang melengking, Sui segera meninggalkan pekerjaannya, lalu melangkah cepat menghampiri Esther. “Ya
Arion menegang, semua terjadi begitu cepat sehingga ia tidak sempat menghindar. Pelukan Valencia begitu erat sehingga Arion tidak bisa lepas dengan mudah. Ia juga tidak bisa melepaskan diri begitu saja mengingat Valencia sedang dalam kondisi tidak sehat. Arion merasa jantungnya berdegup kencang. Tetapi ia yakin ini bukan perasaan semacam itu karena ia hanya mencintai Esther. “Nona Vale.” Arion memegang kedua bahu Valencia, perlahan menjauhkan tubuh wanita itu darinya. Membuat jarak. “Maaf, Tuan Arion.” Wajah Valencia bersemu merah. Ia baru sadar dengan apa yang ia lakukan. Ketika aroma tubuh pria itu tercium olehnya, Valencia merasa melayang. “Kau bukalah dulu, apa sesuai dengan keinginanmu,” kata Arion mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Valencia membuka segel kotak ponsel. Dari luarnya saja, Valencia bisa melihat merek ponsel dan ia bisa menebak harga. “Ini lebih bagus dan lebih canggih dari ponselku yang sebelumnya,” kata Valencia sambil meneliti detail benda pipih keluara
Kedua tangan Arion mengepal kuat. Sudah ia duga sebelumnya, bahwa semua yang terjadi sudah diatur oleh seseorang. Tujuannya adalah ingin menghabisi dirinya. Dan Arion bisa menebak siapa orang yang memiliki kemungkinan besar melakukannya. Yaitu Corrina. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Sebenarnya kau sudah membuat sakit hati berapa wanita sampai-sampai mereka ingin mencelakaimu?” Suara Inspektur Willy menyadarkan Arion dari lamunannya. Pria itu menatap pria berseragam di depannya dengan tatapan tajam. “Tutup mulutmu!” sergah Arion yang membuat Inspektur Willy tergelak. Sebenarnya ia tahu Inspektur Willy tidak benar-benar menanyakannya, pria itu hanya ingin menggodanya. Tetapi waktunya memang kurang pas. Alhasil pria itu membuatnya kesal. Arion mengenal Inspektur Willy sejak di bangku SMP dan mereka cukup dekat. Sempat terpisah saat Inspektur Willy memasuki akademi kepolisian. Namun, hubungan mereka sama sekali tidak merenggang. Bahkan Arion kerap kali menyelesaikan masalah admist







