MasukEsther tersentak kala punggungnya dirapatkan ke dinding oleh seorang pria dengan kedua tangannya yang mengurung dirinya. Ketika Esther mengetahui siapa pria itu, Esther seketika membulatkan mata.
“Arion…kau…”Belum sempat Esther menyelesaikan ucapannya, Arion langsung menyibak rambutnya, dan menenggelamkan kepalanya di antara ceruk leher dan bahu.Kecupan serta gigitan diberikan pria itu.Esther pun memejamkan mata. Tubuhnya menegang seketika. Satu tangannya yang kosong terangkat ke atas, meremas rambut pria itu.“Arion…kumohon hentikan…” Suara Esther sangat berat.Mendengar itu, Arion segera mengikis jarak. Tatapannya sangat tajam, menggoda.“Aku merindukanmu, Kakak ipar,” ucap Arion dengan suara tak kalah berat. Sebelah sudut bibirnya terangkat. “Sepertinya kau sangat menikmati pertunjukan sehingga kau melupakanku,” lanjutnya. Kali ini senyum tipis ditampakkan pria itu.Hening menggantung di udara. Tiara tampak gugup. Ia yakin, ia tidak memiliki kewenangan untuk menjawab, sehingga ia memilih untuk diam. Sementara Corrina terlihat tenang. Meski begitu ia tahu apa yang harus ia berikan, yaitu jawaban yang memuaskan untuk Daxton. Ia tahu, Esther adalah cucu menantu kesayangan pria itu. Kecemasan tampak dirasakan Erland. Pertanyaan yang dilontarkan Daxton terdengar sangat santai diucapkan. Tetapi, ia yakin pertanyaan itu lebih dari sebuah interogasi yang tegas. Erland menatap Corrina berharap mendapat bantuan untuk menjawab. Satu tatapan tajam, diterima Erland dan itu cukup membuatnya paham akan maksud Corrina yang memerintahkan dirinya untuk tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Corrina menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur napas. “Ayah, duduklah dulu dan bergabunglah bersama kami.” Daxton menyeret langkahnya mendekati meja makan. Ketukan tongkat beradu dengan sepatu terdengar nyaring. Di usia yang memasuki angka 80, Daxton terlihat masih gag
Esther menajamkan penglihatannya. Mencoba memastikan bahwa sosok yang ada di dalam foto itu bukanlah Arion, pria yang ada di dalam hatinya. Akan tetapi, dilihat dari segi mana pun, pria itu jelas Arion.Esther meremas ponsel di tangan. Hatinya memanas, dadanya bergemuruh, kepalanya mendidih. Ia merasakan sebuah gelombang emosi yang sangat besar. Apa ini yang dinamakan cemburu? Ya, jelas saja Esther merasa cemburu. Setelah apa yang ia lalui bersama pria itu. Wajar bila dirinya merasa cemburu saat melihat Arion bersama dengan wanita lain. Esther teringat dengan ucapan Sui. Bahwa Arion sedang berada di rumah sakit untuk melihat kondisi Eric. Tapi apa yang baru saja ia lihat? Esther kembali melihat postingan Valencia Agraris. Di sana tertulis sebuah caption yang membuat Esther tak mampu lagi menahan emosinya. Pada akhirnya ia memanggil Sui. “Sui!” teriak Esther. Mendengar suara Esther yang melengking, Sui segera meninggalkan pekerjaannya, lalu melangkah cepat menghampiri Esther. “Ya
Arion menegang, semua terjadi begitu cepat sehingga ia tidak sempat menghindar. Pelukan Valencia begitu erat sehingga Arion tidak bisa lepas dengan mudah. Ia juga tidak bisa melepaskan diri begitu saja mengingat Valencia sedang dalam kondisi tidak sehat. Arion merasa jantungnya berdegup kencang. Tetapi ia yakin ini bukan perasaan semacam itu karena ia hanya mencintai Esther. “Nona Vale.” Arion memegang kedua bahu Valencia, perlahan menjauhkan tubuh wanita itu darinya. Membuat jarak. “Maaf, Tuan Arion.” Wajah Valencia bersemu merah. Ia baru sadar dengan apa yang ia lakukan. Ketika aroma tubuh pria itu tercium olehnya, Valencia merasa melayang. “Kau bukalah dulu, apa sesuai dengan keinginanmu,” kata Arion mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Valencia membuka segel kotak ponsel. Dari luarnya saja, Valencia bisa melihat merek ponsel dan ia bisa menebak harga. “Ini lebih bagus dan lebih canggih dari ponselku yang sebelumnya,” kata Valencia sambil meneliti detail benda pipih keluara
Kedua tangan Arion mengepal kuat. Sudah ia duga sebelumnya, bahwa semua yang terjadi sudah diatur oleh seseorang. Tujuannya adalah ingin menghabisi dirinya. Dan Arion bisa menebak siapa orang yang memiliki kemungkinan besar melakukannya. Yaitu Corrina. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Sebenarnya kau sudah membuat sakit hati berapa wanita sampai-sampai mereka ingin mencelakaimu?” Suara Inspektur Willy menyadarkan Arion dari lamunannya. Pria itu menatap pria berseragam di depannya dengan tatapan tajam. “Tutup mulutmu!” sergah Arion yang membuat Inspektur Willy tergelak. Sebenarnya ia tahu Inspektur Willy tidak benar-benar menanyakannya, pria itu hanya ingin menggodanya. Tetapi waktunya memang kurang pas. Alhasil pria itu membuatnya kesal. Arion mengenal Inspektur Willy sejak di bangku SMP dan mereka cukup dekat. Sempat terpisah saat Inspektur Willy memasuki akademi kepolisian. Namun, hubungan mereka sama sekali tidak merenggang. Bahkan Arion kerap kali menyelesaikan masalah admist
“Tuan Arion? Kau datang?” Valencia tidak dapat menahan rasa bahagianya ketika melihat kemunculan Arion. Ia seketika melupakan kebingungannya. Wajahnya terlihat berbinar dengan senyum yang terus terukir di bibir tipisnya. Valencia menahan napas, menekan detak jantungnya yang tidak karuan. Valencia membenahi rambutnya yang sedikit berantakan. Dalam kondisi apa pun, ia harus terlihat cantik di depan Arion. “Nona Vale, bagaimana keadaanmu?” tanya Arion berdiri di dekat brankar Valencia. “Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit luka lecet saja. Em…tapi pahaku sedikit robek.” Valencia menyibak selimutnya, kemudian menaikkan dress rumah sakitnya, menunjukkan bagian pahanya yang kini diperban. Arion refleks menatapnya, namun dengan segera mengangkat pandangannya. Bisa-bisanya wanita itu dengan terang-terangan menunjukkan area tubuh yang menurut Arion cukup sensitif. Sementara Eric hanya bisa menahan senyumnya. Ia sudah tahu luka itu, tetapi ia tidak menyangka bahwa Valencia akan menunjukkannya
Arion memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, membelah padatnya lalu lintas seolah tidak ada satu pun yang mampu menghalangi langkahnya. Sorot matanya tajam dan penuh kegelisahan, ketika ia mendengar kabar tentang kecelakaan yang menimpa Eric. Eric adalah orang kepercayaannya yang paling setia. Arion bahkan menganggap pria itu sebagai saudara laki-lakinya. Saat mendengar bahwa pria itu mengalami kecelakaan, Arion segera meninggalkan rumah, dan berpesan kepada Sui untuk menjaga Esther. Sebab mungkin saja urusannya kali ini akan panjang, dan saat bangun, bisa saja wanita itu menanyakan keberdaan dirinya. Tangan Arion mencengkeram kemudi dengan kuat, sementara deru mesin mobil berpadu dengan detak jantungnya yang kian memburu. Lampu-lampu jalan dan gedung-gedung di sepanjang perjalanan hanya tampak sebagai bayang-bayang yang melintas cepat di balik kaca jendela. Dalam pikirannya, Arion membayangkan berbagai kemungkinan terburuk, membuat dadanya terasa semakin sesak.Terlebih ada







