Home / Urban / Godaan Penghuni Kos Puteri / Malam Bersama Imas

Share

Malam Bersama Imas

Author: NomNom69
last update Last Updated: 2025-10-19 14:11:21
Setelah semua obrolan panjang itu selesai, Raga melirik jam di dinding ruang tamu.

Jarum panjang sudah melewati angka dua belas. Malam makin sunyi, hanya suara jangkrik di luar rumah yang terdengar samar.

Raga berdiri, meraih jaketnya yang terlipat di sandaran kursi.

“Udah malem banget, Tan. Aku balik dulu, ya,” katanya sambil tersenyum kecil.

Intan ikut berdiri, menatapnya dengan sedikit ragu.

“Udah jam segini, Ga. Tidur di sini aja, ya? Gak enak kalo pulang tengah malam gini,” ucapnya lembut.

Raga menggeleng pelan.

“Gak usah, Tan. Aku janji, abis ini bakal sering datang lagi,” katanya sambil menatap Intan dengan ekspresi tenang.

Intan mengernyit, menatapnya seolah mencari kesungguhan di matanya.

“Datang buat bahas Arman lagi?” tanyanya pelan.

Raga tersenyum samar.

“Enggak,” jawabnya singkat. “Datang buat kamu.”

Seketika Intan terdiam. Senyumnya muncul perlahan, tapi kali ini tak bisa disembunyikan—senyum yang tulus, hangat, dan sedikit canggung.

“Janji, ya?”
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Kehangatan Pagi With Wulan x Kepulangan Vanya

    Cahaya matahari pagi menyelinap lewat celah gorden kamar Raga, Raga mengerjapkan mata, merasakan beban hangat di dadanya yang ternyata adalah kepala Wulan yang bersandar nyaman. Saat Raga mencoba menggeser tubuhnya pelan untuk beranjak dari ranjang, pelukan Wulan justru semakin mengencang secara tiba-tiba. Wulan menggeliat kecil, kelopak matanya terbuka perlahan. Ia mengerucutkan bibirnya, menatap Raga dengan pandangan yang seolah melarang pria itu pergi selangkah pun dari jangkauan tangannya. "Mas... mau ke mana sih? Jangan bangun dulu kenapa, di sini aja temenin aku," rengek Wulan dengan suara serak-serak basah yang menggoda. "Udah siang, Lan. Nanti Laura nyariin kalau aku nggak ke Kosan," jawab Raga sambil mengelus pipi Wulan lembut. "Biarin aja, sebentar doang kok, gak sampe sejam." sahut Wulan sambil menarik leher Raga agar kembali berbaring di sampingnya. Raga akhirnya menyerah, ia kembali merebahkan tubuhnya dan membiarkan Wulan menindih sebagian tubuhnya dengan posis

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Kecurigaan Wulan x Kondisi Lucy

    Malam semakin larut ketika Marni memutuskan kembali ke kosan. Ia keluar dari rumah Tante Maya, menyusuri gang sempit dengan langkah santai. Raga sempat menawarkan untuk mengantar, tapi Marni menolak dengan alasan jaraknya dekat. Setibanya di gerbang kosan, Marni membuka lalu menguncinya kembali. Ia berjalan ke arah kiri, melewati deretan kamar lantai bawah, rambutnya masih sedikit lembap, tubuhnya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Saat Marni tepat di depan kamar Elistia, pintu kamar itu tiba-tiba terbuka. Elistia berdiri bersandar di kusen pintu, segelas bir di tangan kiri dan sebatang rokok di tangan kanan. “Eh, Mar,” sapa Elistia sambil menyipitkan mata. “Kamu habis dari mana? Seger banget kayak abis berenang.” Marni terkejut sesaat, lalu tertawa kecil. “Eh, kamu Lis. Aku kira kamu udah tidur.” “Aku tadi numpang mandi di rumah Tante Maya.” Mendengar itu, ekspresi Elistia berubah sedikit serius. Ia menurunkan gelasnya. “Serius? Emang kamar mandi kamu kenapa?”

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Numpang Mandi x Numpang Berkeringat

    Marni akhirnya tiba di rumah Tante Maya bersama Raga. Rumah itu sudah sunyi, lampu ruang tengah masih menyala. Raga membuka pintu, lalu melangkah ke samping memberi jalan. “Masuk,” katanya singkat. Marni melangkah masuk sambil menenteng perlengkapan mandinya. Matanya sempat menyapu seisi rumah, lalu berhenti ketika Raga menutup pintu dan mengunci perlahan. “Sepi ya,” gumam Marni ringan. Raga hanya mengangguk. Ia berjalan lebih dulu, lalu berhenti di depan sebuah pintu yang letaknya tepat di samping kamarnya. “Kamar mandinya di sini,” ucap Raga sambil menunjuk. “Airnya aman.” Marni mendekat, jaraknya cukup dekat hingga aroma sabun dari tubuhnya masih samar terasa. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu, tapi gerakannya terhenti. Ia menoleh, menatap Raga dengan senyum kecil yang sengaja ditahan. “Mas Raga gak mau nemenin aku mandi?” katanya pelan, nadanya setengah bercanda, setengah menggoda. Raga terkekeh pendek. Ia menggaruk tengkuknya sebentar, lalu menggeleng.

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Paula x Carmella, Kecerobohan Lucy

    Siang harinya di kediaman Nyonya Besar. Ruang makan itu dipenuhi cahaya siang dan suara alat makan yang beradu pelan. Carmella duduk anggun di ujung meja panjang, tersenyum profesional pada para klien yang tengah berbincang soal bisnis. Tangannya baru saja meraih sendok ketika ponsel di samping piringnya bergetar. Nomor tak dikenal. Carmella melirik layar ponsel sekilas, alisnya bergerak tipis. Ia mengangkat telepon itu tanpa banyak pikir, masih mempertahankan senyum sopan. “Siang,” jawabnya singkat. “Siang, Carmella.” Suara itu membuat jemari Carmella langsung menegang. Senyumnya menghilang seketika, Ia mengenali suara itu bahkan tanpa perlu memperkenalkan diri. Carmella berdiri perlahan, menggeser kursinya tanpa suara, lalu memberi isyarat halus pada para klien sambil melangkah menjauh ke sudut ruangan yang lebih sepi. “Paula?” ucapnya pelan tapi dingin. “Dari mana kau dapat nomor saya?” Tatapan Carmella kosong menatap jendela besar di depannya. “Kamu tidak pe

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Godaan Marni x Info Vanya

    Keesokan paginya, Raga sedang menyapu halaman rumah kos. Matahari belum tinggi, udara masih lembap, dan suara sapu lidi bergesekan dengan tanah terdengar pelan. Dari arah tangga bangunan baru, Marni muncul. Ia mengenakan daster tipis bermotif bunga, rambutnya masih terurai acak, seolah baru bangun tidur. “Pagi, Mas Raga,” sapa Marni sambil meregangkan badan sedikit lebih lama. Raga menoleh sekilas. “Pagi, Mbak.” Marni melangkah lebih dekat, berdiri tak sampai satu meter dari Raga. Tatapannya turun naik, memperhatikan lengan Raga yang tegang saat menyapu. “Rajin banget ya pagi-pagi udah bersih-bersih,” ucap Marni sambil tersenyum miring. “Biasa, Mbakk. Namanya juga kerja.” jawab Raga singkat, kembali fokus ke halaman. Marni terkekeh kecil. “Mas Raga tuh dingin banget. Bikin aku makin penasaran.” Raga berhenti menyapu sebentar, menoleh, menatap Marni datar. “Enggak lah, Mbak. Mbak belum sarapan?” Marni terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil lagi. “Belu

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Menyelidiki Paula x Lucy

    Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul sembilan tepat. Ia berdiri di dekat jendela, tirai setengah terbuka, rokok mati terjepit di antara jari tanpa sempat dinyalakan. Vanya menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar, lalu suara yang ia kenal menjawab dari seberang. “Ya, Van.” Vanya menarik napas pendek. “Nyonya,” katanya hati-hati. “Aku mau lapor soal file itu.” Di seberang sana, suara Nyonya terdengar tenang. “Lanjutkan.” Vanya melangkah mendekati kursi, lalu duduk. Punggungnya menegak, Matanya menatap ke arah jendela. “File itu sepertinya bukan di Julian,” ucapnya. “Saya dapat satu nama soal file itu dari Julian, yaitu Paula." Hening sejenak. Hanya terdengar bunyi sendok kecil menyentuh cangkir di seberang telepon. “Kamu yakin?” tanya Nyonya pelan. “Kamu gak lagi di bohongi sama Julian lagi kan, Van?" Vanya menutup mata sesaat, lalu membukanya kembali. Jarinya mengetuk ringanbatang rokok yang berada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status