LOGINDina melangkah ragu-ragu mendekati Clarisa yang masih bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin. Suara tangis Clarisa kini telah berubah menjadi tawa getir yang menyeramkan—tipe tawa seseorang yang baru saja kehilangan segala yang ia banggakan dalam satu kedipan mata."Bu... Bu Clarisa," panggil Dina lirih. "Keamanan sudah berdiri di depan pintu. Mereka meminta kita untuk segera... mengosongkan tempat ini.""Diam!" bentak Clarisa, meski suaranya terdengar serak dan pecah. Ia mendongak, matanya yang sembab menyala dengan api kebencian yang masih membara. "Lihat semua ini, Dina! Dia mengganti semuanya! Hanya dalam hitungan menit, dia menghapus jejakku seolah-olah aku ini sampah yang mengotori ruangannya!"Di luar jendela besar ruangan itu, sebuah crane besar mulai bergerak lambat. Para pekerja sedang menurunkan papan nama raksasa yang selama ini menjadi kebanggaan Clarisa. Logo emas Vanderbilt Group sudah siap untuk dipasang, berkilau tajam di bawah sinar matahari sore, seolah-ola
Clarisa berdiri mematung, jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Ia menatap Juno yang berdiri tegak dengan aura yang sangat berbeda—lebih gelap, lebih berkuasa, dan benar-benar tak tersentuh.Juno tidak menunggu Clarisa pulih dari keterkejutannya. Pria itu mengangkat satu tangannya, memberikan instruksi tanpa perlu mengeluarkan satu kata pun. Seketika, enam orang pria berseragam hitam masuk ke dalam ruangan luas itu. Mereka mulai mengosongkan meja kerja Clarisa dengan gerakan yang sangat efisien dan tanpa ampun."Apa yang kalian lakukan?! Hentikan! Ini kantorku!" teriak Clarisa histeris. Ia mencoba menahan salah satu petugas yang sedang memasukkan tumpukan dokumennya ke dalam kotak plastik."Buang semuanya," perintah Juno datar. Suaranya dingin, tidak ada sedikit pun keraguan di sana. "Semua benda yang pernah disentuh oleh wanita ini, singkirkan dari pandanganku."Belum sempat Clarisa membalas, beberapa karyawan dari toko furnitur ternama masuk membawa so
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti jalanan desa yang berbatu. Suara kicau burung gereja bersahutan, seolah ingin ikut melepas kepergian penghuni rumah kayu yang selama tiga bulan terakhir telah menjadi bagian dari ketenangan desa tersebut. Namun, suasana damai itu pecah oleh deru mesin mobil yang halus namun bertenaga.Sebuah sedan mewah berwarna hitam mengkilap—jenis yang belum pernah dilihat warga desa sebelumnya—berhenti tepat di depan pagar kayu rumah Juno. Di belakangnya, dua mobil SUV hitam lainnya mengikuti dengan sigap, menciptakan kontras yang mencolok antara kemewahan kota dan kesederhanaan desa.Edward Harjo turun dari mobil pertama, membukakan pintu dengan sikap hormat yang kaku. "Tuan Juno, Nyonya Vivian, semua sudah siap. Kita harus berangkat sebelum lalu lintas kota mulai padat."Di teras rumah, Bi Inah dan suaminya, berdiri berdampingan. Bi Inah tak henti-hentinya menyeka air mata dengan ujung daster batiknya. Isakannya terdengar berat, seolah baru saja kehilan
Malam itu, di sebuah penthouse mewah yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit Jakarta, suasananya sangat kontras dengan ketenangan desa tempat Juno dan Vivian berada. Botol-botol minuman keras berserakan di atas meja marmer yang mahal. Bau alkohol yang tajam menyengat hidung siapa pun yang masuk ke ruangan itu.Clarisa duduk di sofa beludru merahnya, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan. Matanya merah, bukan hanya karena alkohol, tapi juga karena rasa marah yang sudah mengerak selama tiga bulan terakhir."Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" gumam Clarisa dengan suara serak. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Juno dan Vivian saat acara pembukaan galeri tahun lalu. "Di mana kalian bersembunyi? Kenapa kau tak kunjung datang mengemis padaku, Juno?"Clarisa meneguk sisa wiski di gelasnya hingga tandas. Ia membayangkan Juno akan datang padanya dengan lutut gemetar, memohon bantuan finansial setelah bisnis kecil yang dibangun pria itu
Angin sore berembus lebih kencang, menggoyangkan dahan pohon kamboja di halaman, namun Juno dan Vivian seolah membeku di tempatnya. Suasana teras yang tadinya hangat karena sisa matahari kini berubah menjadi formal dan kaku."Silakan duduk, Pak Edward, Pak Satya," ujar Juno akhirnya, mencoba memecah keheningan meski suaranya terdengar sedikit berat. Ia menuntun Vivian untuk duduk di kursi rotan, memastikan kaki istrinya yang baru saja sembuh itu dalam posisi nyaman.Edward Harjo mengangguk, lalu memberi kode pada Satya. Pria yang menjabat sebagai notaris itu membuka sebuah map kulit tebal dan mengeluarkan selembar kertas dengan kop surat resmi yang terlihat sangat kuno namun elegan."Tuan Juno, saya tidak akan bertele-tele," buka Edward dengan nada bicara seperti orang yang sedang mengobrol biasa, namun tetap berwibawa. "Kedatangan kami adalah untuk menunaikan pesan besar. Pak Satya, silakan dibacakan bagian intinya."Satya membetulkan letak kacamatanya, lalu mulai membaca dengan
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar, membawa kehangatan yang lembut ke dalam ruangan berlantai kayu itu. Vivian mengerjapkan matanya, merasakan tubuhnya jauh lebih segar setelah tidur yang sangat lelap. Secara naluriah, ia menggerakkan ujung jemari kaki kanannya."Eh?" Vivian bergumam pelan. Rasa nyut-nyutan yang kemarin sempat membuatnya hampir pingsan kini telah mereda, berganti dengan rasa hangat yang masih tersisa dari balutan ramuan Mak Salmah.Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk pelan. Bi Inah masuk membawa nampan berisi baskom air kecil, kain bersih, dan bungkusan daun pisang yang baru. "Selamat pagi, Nyonya. Bagaimana perasaannya? Masih sakit sekali?""Pagi, Bi. Ajaib, Bi! Sakitnya berkurang drastis. Hanya terasa sedikit kaku saja," jawab Vivian sambil mencoba duduk bersandar pada kepala tempat tidur.Bi Inah tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Mak Salmah memang jempolan kalau soal urusan kaki terkilir. Sekarang, ayo kita ganti ramuannya







