Share

Gairah Obsesi Bos Kejamku
Gairah Obsesi Bos Kejamku
Author: Purplexyiii

Pengkhianatan

Author: Purplexyiii
last update publish date: 2026-08-23 17:48:49

London sedang berada di puncak musim dingin yang menyiksa, tapi suhu di dalam kantor pusat Sterling Industries terasa jauh lebih dingin. Ivy Collins bisa merasakan tatapan tajam bosnya, Arthur Sterling, menembus tengkuknya saat dia mencoba merapikan tumpukan dokumen di meja pria itu.

"Kau bergetar, Collins. Apa kau sedang mengidap parkinson atau kau hanya tidak kompeten pagi ini?" tanya Arthur halus, tapi mengandung racun yang sanggup melubangi harga diri siapa pun.

Ivy menarik napas tajam, jemarinya yang pucat mencengkeram tepi meja.

"Saya hanya kurang tidur. Laporan audit yang Anda minta sudah selesai pukul tiga pagi tadi."

Arthur berdiri dari kursi, bergerak dengan keanggunan seekor predator yang sedang bosan. Dia melangkah mendekat hingga Ivy bisa mencium aroma oud dan wiski mahal yang menjadi ciri khas pria itu. Arthur berhenti tepat di depan Ivy, menunduk hingga napas hangatnya menyentuh telinga wanita itu.

"Kau terlihat berantakan. Mata merah dan bibir pecah-pecah ... kau merusak estetika kantorku," bisik Arthur dingin.

Dia meraih selembar memo, lalu melemparnya ke dada Ivy.

"Pulanglah. Aku tidak ingin melihat wajah mayatmu di sini sampai besok pagi. Jangan berterima kasih, aku hanya tidak ingin kau pingsan dan menuntut asuransi perusahaanku."

Ivy tertegun. Arthur Sterling, pria yang dikenal tidak punya hati, baru saja memberinya setengah hari libur? Meskipun alasannya kasar, Ivy tidak peduli. Dia butuh menjauh dari pria brengsek ini. Dia butuh Liam, tunangannya yang hangat, yang selalu menjadi penawar racun setelah seharian menghadapi Arthur.

"Terima kasih, Sir," ucap Ivy singkat, sebelum berbalik dan nyaris berlari keluar dari ruangan itu.

Di dalam lift, Ivy memeriksa pantulan dirinya di cermin. Benar kata Arthur, dia tampak hancur. Namun, bayangan Liam yang sedang menunggunya di apartemen membuat Ivy tersenyum tipis. Liam adalah segalanya bagi Ivy. Pria itu adalah alasan Ivy bertahan bekerja di bawah tekanan iblis seperti Arthur selama dua tahun terakhir.

Dua puluh menit kemudian, Ivy sudah berada di depan pintu apartemennya. Dia sengaja tidak menelepon Liam. Dia ingin memberi kejutan. Dia membayangkan mereka akan memesan pizza, menonton film di balik selimut, dan mungkin melakukan sesuatu yang jauh lebih panas untuk merayakan kepulangannya yang lebih awal.

Ivy memasukkan kunci dan memutarnya dengan pelan. Pintu pun terbuka tanpa suara.

Suasana apartemen sangat sunyi, tapi ada sesuatu yang aneh. Aroma parfum wanita yang menyengat, seperti aroma bunga melati yang sangat ia kenal, kini tercium di ruang tamu.

Itu bukan parfum Ivy. Itu parfum Chloe, sahabat karibnya sekaligus rekan kerjanya di firma hukum lain.

Ivy mengernyit.

Apakah Chloe ada di sini?

Lalu, suara itu terdengar.

Sebuah erangan panjang dan berat dari arah kamar tidur di lantai atas. Ivy sontak membeku. Jantungnya mulai berdegup kencang, seperti menghantam tulang rusuknya dengan keras. Dia menaruh tas tangannya di atas meja, tangannya mulai gemetar hebat.

Dia menaiki tangga dengan langkah sepelan mungkin, telinganya menangkap suara-suara yang membuat perutnya mual. Suara kulit yang beradu, suara napas yang terengah-engah, dan tawa kecil yang terdengar sangat menjijikkan.

Pintu kamar mereka tidak tertutup rapat. Ada celah kecil yang memperlihatkan pemandangan yang seketika menghancurkan seluruh hidup Ivy.

Di sana, di atas tempat tidur yang seprainya baru saja Ivy ganti kemarin pagi, Liam sedang berada di atas Chloe. Punggung Liam yang berotot bergerak maju-mundur dengan ritme yang buas. Chloe melilitkan kakinya di pinggang Liam, kukunya yang panjang mencakar punggung pria itu dan meninggalkan garis-garis merah.

"Oh, Liam ... ya, terus ... jangan berhenti," rintih Chloe, kepalanya mendongak ke belakang, matanya terpejam dalam ekstasi.

Liam menggeram, suaranya terdengar seperti binatang. "Kau jauh lebih baik daripada dia, Chloe. Ivy tidak pernah mau melakukannya seperti ini. Dia terlalu 'suci' untukku."

"Bukankah itu alasanmu menyukainya? Dia wanita baik-baik yang bekerja keras untuk membiayaimu, bukan?" Chloe tertawa sinis di tengah desahannya.

"Persetan dengan kebaikannya. Aku butuh wanita jalang di tempat tidur, bukan sekretaris yang kaku," sahut Liam kasar, sebelum kembali menghujamkan tubuhnya ke dalam Chloe dengan kekuatan yang membuat ranjang itu berderit keras.

Ivy merasa seolah dunia di sekitarnya runtuh dan terbakar. Rasa sakitnya begitu hebat hingga ia tidak bisa mengeluarkan suara. Jadi ini alasannya? Ini balasan untuk semua jam kerja lembur yang ia jalani demi membantu Liam melunasi utang judinya? Ini balasan untuk kesetiaan yang ia jaga selama empat tahun?

Mual meluap di kerongkongannya. Ivy ingin lari, tapi amarah yang dingin tiba-tiba mengambil alih tubuhnya. Dia tidak akan menjadi korban yang menangis di pojokan.

Matanya menyapu sekitar dan mendarat pada sebuah botol anggur mahal yang masih tertutup, hadiah yang ia siapkan untuk hari jadi mereka minggu depan yang tergeletak di meja rias dekat pintu.

Ivy mengambil botol itu. Cengkeramannya sangat kuat hingga buku jarinya memutih.

Dengan tenang, dia mendorong pintu kamar hingga terbuka lebar.

BRAKK!

Kedua orang di atas ranjang itu tersentak hebat. Liam hampir terjatuh dari tubuh Chloe. Wajahnya yang tadi penuh gairah seketika berubah menjadi pucat pasi, seolah-olah seluruh darahnya baru saja disedot keluar.

"Ivy! Aku ... aku bisa menjelaskan!" Liam mencoba menarik selimut, menutupi tubuhnya dan Chloe yang kini tampak panik.

Ivy berdiri di sana, tegak dan dingin. Matanya menatap mereka seolah-olah mereka adalah kecoak yang baru saja ia temukan di tempat sampah.

"Menjelaskan apa, Liam? Menjelaskan bagaimana kau menggunakan uang tabunganku untuk menyewa pelacur berkedok sahabat di tempat tidurku sendiri?" Ivy berusaha tenang, tapi setiap katanya mengandung belati.

"Ivy, dengar ... ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya ... aku hanya kesepian karena kau selalu sibuk dengan bosmu yang brengsek itu!" Liam mencoba membela diri, meskipun suaranya bergetar ketakutan.

Ivy tertawa kering dan mengerikan. Dia berjalan mendekat ke tepi tempat tidur, botol itu berayun di tangannya. Liam mundur hingga terpojok ke sandaran tempat tidur.

"Kesepian?" Ivy melirik Chloe yang sekarang mencoba menutupi dadanya dengan bantal. "Lalu kau, Chloe. Terima kasih sudah mengingatkanku bahwa 'jalang' memang memiliki tempat tersendiri. Kau bisa memilikinya sekarang. Pria ini, utang-utangnya, dan semua kebohongannya. Dia milikmu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Licik

    Markas inti Aegis terletak di sebuah bunker bawah tanah di bawah menara pencakar langit Sterling. Di sana, ratusan analis bekerja di depan layar-layar raksasa yang menampilkan aliran data global. Begitu Ivy dan Arthur masuk, atmosfer di sana seketika berubah menjadi sangat siaga."Lacak sinyal dari folder 'Genesis-Override'. Folder itu dipasangi pelacak radioaktif cair, bukan?" perintah Arthur pada kepala analis."Sedang dilacak, Tuan. Sinyalnya muncul di area dermaga lama, tempat yang sama dengan gudang koordinat kemarin."Ivy mengernyit. "Mereka kembali ke sana? Itu terlalu mudah. Dalton Vance tidak sebodoh itu.""Mereka tidak sedang bersembunyi. Mereka sedang memanggil kita," ucap Arthur dingin. Ia menarik Ivy menuju ruang kendali pribadi yang dibatasi kaca anti peluru.Di dalam ruangan itu, Arthur menekan beberapa tombol dan seketika layar menampilkan video pesan yang dikirim secara anonim. Di layar, Beatrice Sterling berdiri dengan wajah yang penuh dengan dendam. Di sampingnya, s

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Janji

    "Aku melakukannya karena aku tidak bisa membayangkan duniaku berhenti berputar jika aku kehilangan koordinatmu selama satu detik saja." Arthur mencium leher Ivy, memberikan gigitan kecil yang membuat Ivy mendesah pelan. "Kau adalah jantung dari Aegis, Ivy. Aku tidak akan membiarkan jantungku berdetak tanpa pengawasanku."Ivy merasakan tangannya yang terkunci mulai lemas. Ia membenci betapa mudahnya Arthur mengubah kemarahannya menjadi gairah. "Kau selalu punya alasan, ya, Monster Posesif.""Monster ini sangat lapar sekarang." Arthur melepaskan kuncian di tangan Ivy, tapi ia langsung menyusupkan tangannya ke balik kemeja tidur Ivy yang tipis.Gairah yang menyusul di atas tempat tidur itu terasa lebih intens daripada hari-hari sebelumnya. Penyingkapan tentang Proyek Genesis membuat Arthur seolah ingin mengklaim Ivy berkali-kali lipat lebih beringas. Ia menyentuh Ivy seolah-olah ia sedang mencoba menghapus setiap tanda tangan kontrak lama dari tubuh istrinya, menggantinya dengan tanda ke

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Merepotkan

    "Arthur, kalau kau terus meremas gelas wiski itu seolah-olah itu leher Xander, kau akan berakhir dengan pecahan kaca di tanganmu, dan aku tidak sudi membalut lukamu tengah malam begini."Ivy menyandarkan punggungnya di jok kulit limusin yang bergerak halus. Ia melirik Arthur yang duduk di sampingnya. Pria itu tampak seperti patung es yang sedang mendidih di dalam, rahangnya mengeras, dan matanya tidak sedetik pun lepas dari layar tablet yang menampilkan rincian data 'Proyek Genesis 1994'."Dia menyentuh Anna, Ivy. Dia meletakkan ancaman tepat di depan mata anak itu." Suara Arthur tajam yang biasanya membuat para pialang saham di bursa seketika menghentikan transaksi mereka karena takut. "Xander sudah melewati batas. Aku seharusnya membiarkan helikopter itu meledak saat dia masih di dalamnya.""Jadi itu membuatku menjadi saksi pembunuhan di depan anak kecil?" Ivy mendengkus. Ia merenggut tablet dari tangan Arthur, mengabaikan tatapan tajam suaminya. "Berhenti menjadi diktator selama li

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Tajam

    Di tengah latihan, Ivy menyadari ada sesuatu yang berbeda. Musik piano yang mengalun dari sistem audio mendadak berubah ritmenya menjadi lebih dramatis dan lebih gelap. Ia menoleh ke arah ruang kontrol kaca di lantai atas studio. Di sana, Arthur berdiri, menatapnya dari balik kegelapan ruangan itu.Arthur telah masuk diam-diam dan mengambil alih kendali atmosfer. Pria itu tidak hanya menonton, ia sedang mendikte tarian Ivy melalui musik.Ivy mengikuti ritme itu. Ia berputar lebih kencang, melompat lebih tinggi dan membiarkan peluh membasahi seluruh kulitnya. Di bawah tatapan obsesif Arthur, Ivy merasa seperti mahakarya yang sedang dipahat. Saat musik mencapai puncaknya dan Ivy mengakhiri gerakannya dengan posisi reverence yang sempurna, Arthur turun dari ruang kontrol."Kau terlihat sangat berbahaya saat kau sedang mencoba melampaui batasmu sendiri," puji Arthur menggema di studio yang sunyi. Ia mendekat, menyerahkan handuk putih bersih."Kau merusak jadwal latihanku dengan musik aneh

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Suapan

    "Hei, Felix bisa melihat kita dari kaca spion," bisik Ivy, meskipun jemarinya sudah mulai membuka kancing kemeja abu-abu suaminya."Felix dibayar mahal untuk pura-pura buta dan tuli, Sayang. Jangan khawatirkan dia." Arthur kemudian membungkam bibir Ivy dengan ciuman yang kasar.Gairah yang menyusul di dalam mobil yang bergerak membelah jalanan kota pusat itu terasa sangat intens. Arthur mendominasi Ivy dengan cara yang menegaskan bahwa meski Ivy sekarang adalah ratu yang berkuasa di Collins-Sterling, ia tetaplah mangsa yang paling dicintai oleh sang predator Sterling. Sentuhan Arthur di kulit Ivy seolah-olah sedang menghapus segala sisa stres dan kemarahan yang Ivy rasakan pagi ini."Kau sungguh monster yang paling sombong yang pernah kutemui," desah Ivy di sela-sela napasnya yang memburu."Kau juga satu-satunya orang yang berhasil membuat monster ini berlutut demi mendapatkan perhatianmu," balas Arthur penuh oleh keinginan yang tak terbendung.Setelah badai fisik itu mereda, Ivy bers

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Candu

    Uap panas masih menggantung di udara saat Ivy melangkah keluar dari bilik pancuran, kulitnya memerah dan segar dengan handuk putih tebal yang membalut tubuhnya. Ia menyugar rambutnya yang basah ke belakang, sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang mulai berembun. Di sana, di pangkal lehernya, sebuah tanda kemerahan hasil kerja keras Arthur tadi pagi masih tercetak jelas."Kau sengaja melakukannya di tempat yang tidak bisa ditutupi oleh kerah baju mana pun, bukan?" Ivy berseru memantul di dinding kamar mandi yang luas.Pintu kaca bergeser terbuka dan Arthur masuk dengan ketenangan seorang penguasa. Ia sudah berganti pakaian celana panjang hitam dengan potongan tajam dan kemeja abu-abu baja yang belum dikancingkan sepenuhnya. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi di matanya sudah kembali ke mode predator bisnis."Itu adalah tanda peringatan untuk siapa pun di ruangan Aegis nanti agar mereka tetap menjaga jarak aman dua meter darimu," sahut Arthur datar. Ia mengambil handuk kec

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status