Share

Tawaran

Author: Purplexyiii
last update publish date: 2026-08-23 18:05:21

"Ivy, maafkan aku, aku tidak bermaksud—" Chloe mencoba bicara, tapi Ivy mengangkat tangannya.

"Keluar sekarang juga. Sebelum aku menggunakan botol ini untuk melakukan sesuatu yang akan membuatmu kehilangan wajah cantikmu yang palsu itu," perintah Ivy tegas.

Mereka tidak butuh waktu lama. Liam dan Chloe berebut memakai pakaian mereka yang berserakan di lantai, tampak seperti pengecut yang lari dari medan perang. Dalam tiga menit, apartemen itu kembali sunyi.

Begitu pintu depan tertutup, Ivy menjatuhkan botol sampanye itu ke lantai. Botol itu pecah, cairannya membanjiri karpet. Ivy jatuh terduduk di tepi tempat tidur, air mata mulai mengalir deras tanpa suara. Dia merasa kotor. Dia merasa hancur.

Tiba-tiba, ponsel di saku mantelnya bergetar. Sebuah nomor yang sangat ia kenal. Arthur Sterling.

Ivy mengangkatnya dengan tangan gemetar. "Halo?"

"Collins." Suara Arthur terdengar tajam di seberang sana. "Aku meninggalkan jam tanganku di mejamu. Bawakan ke hotelku sekarang. Aku punya rapat mendadak dengan klien dari Dubai."

"S–saya tidak bisa, Sir," bisik Ivy menahan diri.

Hening sejenak di ujung telepon.

"Kau menangis?"

"Bukan urusan Anda." Ivy mencoba menutup telepon, tapi suara Arthur menghentikannya.

"Beritahu aku di mana kau sekarang, Collins. Atau aku akan memecatmu saat ini juga."

"Saya di rumah! Liam berselingkuh! Semuanya hancur! Apakah itu cukup bagimu, Sir?!" Ivy tanpa sadar berteriak ke ponselnya, melepaskan semua rasa frustrasi yang ia pendam.

Tiga detik keheningan yang menyesakkan.

"Sepuluh menit. Jika kau belum ada di lobi gedungmu dalam sepuluh menit, kau benar-benar akan kehilangan pekerjaanmu."

Klik. Sambungan terputus.

Ivy menatap ponselnya dengan benci. Pria itu benar-benar iblis. Dia baru saja mendapati dunianya kiamat, dan Arthur Sterling masih memikirkan jam tangannya. Namun, Ivy tidak bisa melawan. Dia butuh pekerjaan ini lebih dari apapun sekarang.

Dengan wajah yang masih basah dan hati yang mati rasa, Ivy bangkit. Dia tidak tahu bahwa malam ini, di tangan seorang bos yang ia benci, hidupnya yang hancur baru saja akan dimulai kembali dengan cara yang paling tidak terduga.

***

Angin malam London menusuk hingga ke tulang, tapi Ivy Collins tidak merasakannya. Dia berdiri di depan lobi apartemennya dengan maskara yang luntur dan tangan yang masih gemetar, menggenggam kotak jam tangan Patek Philippe milik Arthur seolah itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra.

Tepat pada menit kesembilan, Bentley hitam itu berhenti di depannya. Pintu belakang terbuka secara otomatis.

"Masuk." Suara Arthur terdengar dari kegelapan kabin mobil, singkat dan tidak menerima bantahan.

Ivy masuk. Aroma antara kertas baru, kulit mahal, dan aftershave maskulin, seketika mengepungnya. Arthur duduk di sana, kakinya bersilang dengan elegan, jemarinya sibuk dengan layar iPad. Dia bahkan tidak menoleh saat Ivy duduk di sampingnya, menjaga jarak sejauh mungkin.

"Ini jam tangan Anda, Sir," bisik Ivy, menyodorkan kotak itu.

Arthur akhirnya menoleh. Matanya yang kelabu menyapu wajah Ivy dari dahi hingga dagu. Dia tidak mengambil kotak itu. Alih-alih, dia menatap pipi Ivy yang sedikit bengkak, bekas tamparan Chloe atau mungkin hanya sisa dari tangisannya yang hebat.

"Kau terlihat seperti sampah yang dipungut dari Sungai Thames, Collins," ucap Arthur datar.

Ivy memejamkan mata, menelan rasa sakit yang baru. "Anda meminta saya datang dalam sepuluh menit. Saya tidak punya waktu untuk merias wajah setelah hidup saya hancur."

"Hidupmu tidak hancur. Kau hanya baru saja membuang parasit yang selama ini mengisap rekening bankmu." Arthur kembali menatap iPad-nya. "Buka laci di depanmu. Ada tisu basah dan cermin. Bersihkan wajahmu. Kita akan pergi ke The Shard."

"Untuk apa? Anda bilang ada rapat dengan klien Dubai." Ivy mulai membersihkan noda hitam di bawah matanya dengan gerakan kasar, hampir menyakiti kulitnya sendiri.

"Rencana berubah. Syekh Al-Maktoum membawa istrinya. Dia sangat menjunjung tinggi nilai keluarga. Dia juga sudah mendengar rumor bahwa aku adalah pria lajang yang dingin dan tidak tersentuh."

Arthur berhenti bicara, lalu menoleh sepenuhnya pada Ivy. Sudut bibirnya terangkat sedikit, seringai yang tidak menandakan kebaikan.

"Aku butuh sesuatu untuk melunakkan citraku malam ini. Aku butuh seorang tunangan."

Ivy terhenti, tisu basah itu menggantung di dekat pipinya. "Cari wanita lain, Sir. Ada ratusan model di London yang akan mati-matian berpura-pura menjadi tunangan Anda."

"Mereka tidak berutang budi padaku dan tidak memiliki keputusasaan yang sedang terpancar dari matamu saat ini."

Arthur mencondongkan tubuh, mempersempit jarak di antara mereka hingga Ivy bisa merasakan panas tubuh pria itu.

"Liam menguras tabunganmu, bukan? Aku tahu tentang utang judinya yang kau bayar bulan lalu. Aku juga tahu ibumu butuh prosedur transplantasi yang tidak ditanggung asuransi dasar."

Ivy merasa seolah Arthur sedang menelanjanginya, melihat semua luka dan rahasia yang ia simpan rapat-rapat.

"Bagaimana Anda tahu?"

"Aku membayar gajimu, Collins. Aku berhak tahu ke mana uangku pergi."

Arthur menarik selembar dokumen dari saku jasnya. "Tanda tangani ini. Enam bulan. Kau akan tinggal di apartemenku, menghadiri setiap acara bersamaku, dan berakting seolah kau adalah wanita paling bahagia di dunia."

"Apa imbalannya?" tanya Ivy dengan suara serak.

"Aku akan melunasi seluruh utang Liam atas namamu agar kau tidak perlu berurusan dengan penagih utang lagi. Aku akan memindahkan ibumu ke fasilitas pribadi di Swiss dengan dokter terbaik. Setelah enam bulan, kau akan menerima bonus yang cukup untuk membuatmu tidak perlu bekerja lagi seumur hidup."

Ivy menatap dokumen itu. Ini bukan sekadar kontrak pekerjaan. Ini adalah kontrak penjualan jiwa.

"Bagaimana jika saya menolak?"

"Maka kau kembali ke apartemenmu malam ini, tidur di kasur yang baru saja digunakan tunanganmu untuk berselingkuh, dan besok pagi kau akan menerima surat pemecatan karena aku tidak suka asisten yang emosionalnya tidak stabil."

Arthur tidak memberinya pilihan. Dia memberikan ancaman yang dibungkus dengan pita emas. Ivy melihat ke luar jendela, ke arah lampu-lampu London yang buram karena hujan. Dia memikirkan Liam, pengkhianatan itu, dan wajah ibunya yang pucat di bangsal rumah sakit.

Ivy mengambil pena dari tangan Arthur. Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, dia menandatangani namanya.

"Pilihan yang cerdas," gumam Arthur. Dia mengambil kembali dokumen itu, lalu tangannya bergerak ke leher Ivy.

Ivy tersentak, mencoba mundur, tapi tangan Arthur kuat. Jemari pria itu yang panjang dan dingin mengusap rahang Ivy, memaksa Ivy menatap matanya.

"Mulai detik ini, kau adalah milikku, Ivy. Jangan pernah biarkan pria lain menyentuhmu, jangan pernah biarkan namamu diseret dalam skandal, dan yang paling penting ... jangan pernah jatuh cinta padaku."

Ivy mendengkus, sebuah tawa getir yang terdengar seperti luka. "Jatuh cinta pada Anda, Sir? Itu hal terakhir yang akan saya lakukan di dunia ini."

"Baguslah. Karena aku tidak butuh cinta. Aku butuh kepatuhan."

Mereka sampai di restoran mewah di puncak The Shard. Arthur tidak membiarkan Ivy keluar sendirian. Dia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Ivy, melingkarkan tangannya di pinggang Ivy dengan posesif yang terasa sangat asing.

"Tersenyumlah, Collins. Kau baru saja bertunangan dengan pria paling diinginkan di Inggris. Bertingkahlah seolah kau menyukainya," bisik Arthur tepat di telinganya sebelum mereka memasuki lift kaca.

Ivy memaksakan sebuah senyuman. Di dalam lift, dalam pantulan kaca, mereka tampak seperti pasangan sempurna. Arthur yang tinggi, dominan, dan tenang, bersanding dengan Ivy yang tampak rapuh namun elegan setelah Arthur menyuruhnya memakai jas wol hitam miliknya untuk menutupi pakaian kantor yang kusut.

Rapat dengan Syekh Al-Maktoum berjalan dengan penuh ketegangan yang tersembunyi. Ivy terkejut melihat bagaimana Arthur berubah. Pria yang biasanya kasar itu kini menjadi sosok yang penuh perhatian. Dia menarikkan kursi untuk Ivy, memotongkan daging steak untuknya, dan beberapa kali mengusap tangan Ivy di atas meja dengan ibu jarinya, gerakan yang terasa begitu intim hingga membuat bulu kuduk Ivy berdiri.

"Anda sangat beruntung, Mr. Sterling," ucap Syekh Al-Maktoum dalam bahasa Inggris yang fasih. "Miss Collins memiliki ketenangan yang jarang ditemukan. Dia tampak. tulus."

Arthur menatap Ivy, tatapannya begitu dalam seolah-olah dia benar-benar memuja wanita itu. "Dia adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras di dunia yang gila ini, Syekh."

Ivy hampir tersedak anggurnya. Pembohong besar.

Setelah rapat selesai dan kesepakatan bernilai miliaran poundsterling ditandatangani, mereka kembali ke mobil. Begitu pintu tertutup, kemesraan itu menguap seperti embun. Arthur melepaskan tangan Ivy seolah Ivy adalah benda yang baru saja membakar kulitnya.

"Kau berakting dengan cukup baik," puji Arthur sambil melonggarkan dasinya.

"Terima kasih. Apakah tugas saya selesai untuk malam ini?"

"Belum. Kita pergi ke apartemenku. Aku sudah menyuruh orang untuk mengambil barang-barangmu dari tempat Liam. Kau tidak akan pernah kembali ke sana lagi."

Ivy menoleh tajam. "Anda melakukan apa? Tanpa izin saya?"

"Itu ada dalam kontrak, Collins. Pasal empat. 'Domisili tunangan harus berada di bawah pengawasan pihak pertama'. Aku tidak ingin tunanganku diculik oleh mantan pacarnya yang pecandu judi di tengah malam."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Tunduk

    "Tembak dia, Arthur." Dua kata itu meluncur dari bibir Ivy tanpa keraguan. Nadanya dingin, sekeras baja seperti meluruhkan sisa air mata yang tadi sempat singgah di pipinya. Rasa sakit atas pengkhianatan Liam dan Chloe, dua orang yang paling ia percayai dalam hidupnya, telah menguap, berganti menjadi jelaga kehitaman yang membakar habis nuraninya. Arthur menatap Ivy selama beberapa detik. Seringai tipis dan kebanggaan langsung terbit di bibirnya. Tanpa membuang kata, pria itu mengarahkan moncong pistolnya tepat ke celah jendela. Dor! Satu dentuman keras menggelegar. Di luar sana, Liam tersungkur di tanah sambil mencengkeram lututnya yang tertembak. Jeritan histeris seorang wanita memecah udara, itu adalah Chloe. Perempuan yang Ivy anggap sahabat terdekatnya itu berlari keluar dari semak-semak, berlutut panik sambil memeluk tubuh Liam yang bersimbah darah. "Ivy! Tolong kami! Jangan bunuh dia!" teriak Chloe, matanya bergerak liar menyapu kegelapan gedung tempat Ivy bersembunyi. "Bi

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Gairah

    Arthur menangkap kedua pergelangan tangan Ivy dengan satu tangan, menguncinya di atas kepala Ivy. Napas mereka berdua memburu, bersahutan di ruangan yang sempit dan panas itu. Suhu udara seolah naik beberapa derajat. "Kau pikir aku tidak paham? Kau pikir aku menikmati melihat pria tua itu menatapmu seolah kau adalah miliknya? Kau pikir aku suka melihat tangan-tangan kotor itu menyentuh kulitmu?" "Lalu kenapa kau melakukannya?!" Ivy berteriak tertahan, wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajah Arthur. "Karena aku harus mengakhiri ini, Ivy!" Arthur menggeram. Dia melepaskan tangan Ivy, tapi bukannya menjauh, dia justru mencengkeram rahang Ivy dengan kasar. "Aku melakukannya karena itu satu-satunya cara untuk menarik Julian keluar dari lubangnya. Sekarang, di tengah semua kekacauan ini, kau masih saja mencoba melawanku?" Mata mereka bertemu dalam kegelapan yang remang. Ketegangan di antara mereka bukan lagi tentang benci, tapi sesuatu yang jauh lebih posesif. Rasa takut akan kemat

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Sandiwara

    Ivy merasa darahnya mendidih. Dia hendak membuka mulut untuk membela diri, tapi Arthur lebih cepat. "Hati-hati dengan ucapanmu, Elena." Suara Arthur sangat rendah yang membuat orang di sekitarnya berhenti bernapas. "Atau aku akan memastikan sisa aset keluarga Vance yang masih ada di bursa saham lenyap sebelum fajar. Lalu soal Liam, katakan padanya, jika dia berani mendekati Ivy lagi, aku tidak akan hanya mengirimnya ke jalanan. Aku akan mengirimnya ke liang lahat." Elena ternganga, wajahnya merah padam karena malu dan marah. Dia berbalik dan pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan mereka di tengah perhatian tamu lainnya. "Terima kasih," bisik Ivy, merasa sedikit lega. "Jangan berterima kasih. Aku melakukannya untuk reputasiku, bukan untukmu," sahut Arthur dingin, matanya terus menyapu ruangan seolah mencari mangsa. Tiba-tiba, kerumunan di ujung ruangan terbelah. Seorang pria tua dengan rambut perak dan jas hitam klasik berjalan perlahan menuju mereka. Dia tidak terlihat sepe

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Kalung

    Arthur menatap bibir Ivy, lalu kembali ke matanya. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di wajahnya yang dingin. Dia menegakkan tubuh, melepaskan bahu Ivy dan kembali ke sisi meja yang lain. "Kebencian dan gairah hanya dipisahkan oleh selembar kertas tipis, Ivy. Kita lihat berapa lama kau bisa mempertahankan dinding itu." Arthur mengambil ponselnya yang bergetar. "Satu hal lagi. Saat di Cotswolds nanti, jika kau melihat seorang pria bernama Julian Vane, jangan pernah lepaskan tanganku." Ivy mengerutkan kening, rasa penasarannya terusik di balik rasa sakitnya. "Siapa Julian Vane?" Arthur berhenti di pintu ruangan, membelakangi Ivy. Bahunya tampak kaku, dan Ivy melihat celah dalam topeng ketenangan pria itu. "Dia adalah pria yang membunuh ayahku," ucap Arthur dingin tanpa menoleh. "Alasan sebenarnya kenapa aku memilihmu dari sekian banyak wanita, adalah karena kau memiliki sesuatu yang sangat dia inginkan." Ivy terpaku di kursinya, kopi hitamnya kini sudah dingin.

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Iblis

    "Liam bukan pecandu judi! Dia hanya ...." Ivy terhenti. Dia sadar dia masih mencoba membela pria yang baru saja mengkhianatinya."Dia adalah sampah. Mulai sekarang, kau akan belajar untuk memiliki selera yang lebih baik." Arthur memerintahkan sopirnya untuk melaju ke kawasan elite Chelsea.Apartemen Arthur adalah sebuah penthouse dua lantai dengan pemandangan Sungai Thames yang menakjubkan. Minimalis, maskulin, dan sangat sepi."Kamar tidurmu ada di lantai atas, sebelah kanan. Kamarku ada di paling ujung. Jangan masuk ke sana kecuali aku memintamu." Arthur berjalan menuju bar pribadinya, menuangkan wiski tanpa menawarkan pada Ivy.Ivy berdiri di tengah ruang tamu yang luas, merasa sangat kecil. Kelelahan fisik dan mental akhirnya menghantamnya sekaligus."Kenapa Anda melakukan ini, Sir? Maksud saya, benar-benar melakukannya? Anda bisa mendapatkan siapa saja. Kenapa harus saya yang sedang berantakan?"Arthur menyesap wiskinya, menatap Ivy dari balik gelasnya. Matanya berkilat dengan se

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Tawaran

    "Ivy, maafkan aku, aku tidak bermaksud—" Chloe mencoba bicara, tapi Ivy mengangkat tangannya."Keluar sekarang juga. Sebelum aku menggunakan botol ini untuk melakukan sesuatu yang akan membuatmu kehilangan wajah cantikmu yang palsu itu," perintah Ivy tegas.Mereka tidak butuh waktu lama. Liam dan Chloe berebut memakai pakaian mereka yang berserakan di lantai, tampak seperti pengecut yang lari dari medan perang. Dalam tiga menit, apartemen itu kembali sunyi.Begitu pintu depan tertutup, Ivy menjatuhkan botol sampanye itu ke lantai. Botol itu pecah, cairannya membanjiri karpet. Ivy jatuh terduduk di tepi tempat tidur, air mata mulai mengalir deras tanpa suara. Dia merasa kotor. Dia merasa hancur.Tiba-tiba, ponsel di saku mantelnya bergetar. Sebuah nomor yang sangat ia kenal. Arthur Sterling.Ivy mengangkatnya dengan tangan gemetar. "Halo?""Collins." Suara Arthur terdengar tajam di seberang sana. "Aku meninggalkan jam tanganku di mejamu. Bawakan ke hotelku sekarang. Aku punya rapat men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status