MasukSemalaman Elyssa nyaris tidak bisa tidur. Foto Albert bersama wanita lain terus muncul di kepalanya. Setiap kali memejamkan mata, hatinya kembali perih. Ia tidak tahu harus langsung percaya atau tidak, harus langsung marah atau bagaimana. Yang jelas, matanya terasa panas dan berat saat fajar datang.
Keesokan paginya, Sean sudah bangun lebih dulu. Ia melangkah ke dapur, berniat menyiapkan sarapan untuk Elyssa.
Sementara itu, di dalam kamar, Elyssa berdiam diri. Ia terlalu malu untuk keluar karena belum mandi. Keran shower di kamar mandinya rusak.
Setelah beberapa waktu, akhirnya Elyssa memberanikan diri menemui Sean di dapur.
“M-maaf mengganggu, apa kamu bisa membetulkan keran air di kamar mandiku? Sepertinya macet,” tanyanya pelan.
Sean mengangguk. “Tentu. Kamu punya perkakas?”
“Ada di gudang.”
Setelah mengambil alat, Sean melangkah ke kamar mandi Elyssa, diikuti oleh wanita itu di belakangnya. Elyssa memperhatikan gerak Sean yang tenang dan telaten saat memperbaiki keran.
Sementara Sean sendiri agak kesulitan. “Sebentar ya, agak keras,” katanya.
Elyssa hanya mengangguk kecil.
Tanpa diduga, suara krek terdengar, diikuti semburan air deras yang memercik ke segala arah.
Elyssa terlonjak kecil, menutup wajahnya dari cipratan air, bahkan kaos putihnya telah basah. “Aahh!”
Sean pun buru-buru mencoba menahan aliran itu.
"Astaga, maaf!" seru Sean panik. Ia buru-buru membuka bajunya dan menyumpalkan kain itu ke lubang keran untuk menghentikan air. Keduanya kini basah kuyup.
Tanpa sadar, pandangan Sean sempat tertuju pada Elyssa. Kaos putih yang basah membuat lekuk tubuh wanita itu terlihat jelas. Ia buru-buru menunduk, tapi Elyssa sudah sadar arah pandangannya.
Refleks, Elyssa menyilangkan kedua tangannya menutupi dada. Wajahnya memerah, antara malu dan tidak percaya hal itu baru saja terjadi.
Sean pun langsung membuang pandangannya. “Maaf… aku gak bermaksud melihat.”
Suasana mendadak hening, hanya suara tetesan air dari keran yang masih bocor.
“Nanti aku coba cariin tukang, ya,” lanjut Sean buru-buru, lalu beranjak keluar dengan wajah tegang.
Elyssa berdiri mematung beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil. Dipuji saja tidak, tapi tatapan Sean barusan entah kenapa membuat dadanya berdebar. Ia segera menepuk pipinya pelan. “Astaga, sadar, Elyssa! Dia sahabat suamimu!”
****
Sore itu, Elyssa kembali mencoba menghubungi ponsel suaminya, tetapi panggilannya selalu ditolak. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Itu dari Albert.
[Aku lagi rapat. Nanti aku kabari]
Elyssa membuang napas panjang. Ia bahkan tidak punya kesempatan untuk bertanya tentang wanita yang dilihat temannya di bandara. Pesan-pesannya selalu dibalas singkat.
Elyssa tahu Albert sangat mencintai pekerjaannya, tetapi haruskah sampai mengabaikannya berhari-hari seperti ini?
Tiba-tiba bel berbunyi. Entah mengapa, langkah kaki Elyssa begitu cepat menuju pintu utama. Ia tahu itu Sean dan ia ingin menyambutnya.
Sean masuk dengan senyum manis, memamerkan kantong belanjaan yang berisi makanan dan cemilan.
Elyssa mengambilnya, namun makin lama ia merasa tidak enak.
"Kamu gak perlu repot-repot setiap hari bawain makanan.”
Sean terkekeh pelan. “Gapapa, Elyssa. Gak repot sama sekali kok."
Saat Sean sedang mandi, Elyssa hendak ke dapur, berniat membuatkan minuman untuk Sean sebagai bentuk terima kasih karena Sean sudah menyiapkan makanan untuknya. Namun, langkahnya terhenti saat ponselnya berdering.
Elyssa menghela napas panjang saat melihat layar ponselnya. Itu Albert. Akhirnya, suaminya yang dingin itu menghubunginya juga. Sudah saatnya ia bertanya soal wanita yang bersamanya di bandara.
Panggilan tersambung. Belum sempat Elyssa menyapa, Albert langsung bersuara lebih dulu.
"Bagaimana kondisi rumah? Kamu menjaganya dengan baik, kan?"
"Iya, Mas. Oh ya, aku mau nanya sesuatu—"
"Kamu gak malu-maluin aku kan? Ingat pesanku! Kamu harus selalu tampil cantik dan rapi saat ada tamu! Kamu juga harus telaten! Jangan sampai nama baikku tercoreng karena memiliki istri pemalas dan lusuh."
Elyssa merasa sedih mendengarnya. Albert bahkan tidak bertanya kabarnya, malah lebih memikirkan citra baiknya sebagai suami yang memiliki istri sempurna.
"Mas, aku gak pernah malu-maluin kamu kok," jawabnya.
"Ya, baguslah."
Elyssa menggigit bibir bawahnya. Ia pun kembali membahas foto di bandara itu. "Mas, kemarin aku dapat foto dari temanku. Kamu lagi bareng—"
Namun, belum sempat Elyssa menyelesaikan kalimatnya, panggilan itu langsung terputus.
Elyssa menghela napas kecewa. Lagi-lagi sikap Albert membuatnya terluka. Namun, sebagai seorang istri, ia tetap menuruti perintah suaminya. Ia masuk ke kamar untuk memperbaiki penampilannya.
Seperti kata Albert, ia harus tampil cantik dan rapi di depan tamu. Ia lalu memoleskan bedak tipis, memakai pewarna bibir, dan menyemprotkan parfum ke sekujur tubuhnya.
“Oke, Mas! Aku bakalan tampil cantik di depan temanmu! Kalau bisa, aku bakalan tampil seksi sekalian!!” geram Elyssa, kesal dengan suaminya.
Saat berada di meja makan, Sean mencuri-curi pandang ke arah Elyssa. Ia bingung kenapa Elyssa berdandan padahal hari sudah malam, bahkan memakai baju yang sedikit lebih terbuka dibanding kemarin-kemarin.
‘Apakah dia sedang menggodaku?’ batin Sean.
Namun, Sean segera menyingkirkan pikiran itu dan melanjutkan makannya.
Setelah makanan habis, mereka tetap bertahan di meja makan. Obrolan mengalir di antara mereka, terasa hangat.
Sean bercerita banyak soal perjalanannya, dari masa sekolah hingga mengenal Albert di bangku kuliah.
Senyum Elyssa tidak mau luntur. Ia menyimak cerita itu, tetapi tanpa sadar sebenarnya ia hanya menikmati suara lembut dan senyuman Sean.
Ketika topik obrolan berubah menjadi candaan, Elyssa tanpa sadar tertawa lepas. Sudah lama ia tidak bisa tertawa seperti itu.
Selama ini, rumah tangganya bersama Albert terasa dingin, bahkan tidak ada obrolan yang terjadi di meja makan.
Namun, kehadiran Sean mengubah segalanya. Elyssa jadi terlihat ceria. Ia merasa hidup kembali.
Hingga larut malam, mereka masih asik menghabiskan waktu bersama di ruang tengah, sambil menonton televisi. Mereka duduk bersebelahan, tubuh mereka sangat dekat tanpa jarak.
Tangan Sean terulur meraih tangan Elyssa. Wanita itu diam saja saat Sean menggenggamnya.
"Elyssa, apa kamu menikah dengan Albert karena cinta?"
Elyssa sontak menoleh, menatap Sean lekat.
"Apa kamu mencintai Albert?" ulang Sean.
Elyssa tak lekas menjawab. Pandangannya kembali menunduk, memikirkan Albert. Ia ragu dengan perasaannya sendiri. Apakah masih ada cinta untuk Albert, karena perlakuan Albert yang dingin membuatnya terasa hambar.
Elyssa bahkan tidak tahu kenapa ia masih bertahan menjalani rumah tangga yang hambar ini.
Sean mengamit dagu Elyssa, agar wanita itu kembali menatapnya.
Mereka bertatapan intens dan cukup lama.
Jujur, Sean terpesona dengan Elyssa. Kecantikan dan kepolosan wanita itu membuatnya terangsang.
Kini, fokus Sean tidak lagi melihat mata Elyssa, melainkan bibir ranum itu.
“Apa aku boleh menciummu, Elyssa?”
Hari-hari berlalu dengan sunyi. Elyssa masih setia dengan keputusannya untuk menutup diri, mengabaikan tumpukan pesan yang masuk ke ponselnya, terutama dari Sean dan kedua orang tuanya.Suasana di apartemen pun tak lagi sama. Juan tidak pernah lagi datang berkunjung setelah perdebatan soal Brody.Selena pun terasa semakin jauh dan menjaga jarak. Elyssa sama sekali tidak menyadari adanya benang kusut cinta segitiga yang melibatkan dirinya, Juan, dan Selena.Meski mereka masih bicara, Elyssa bisa merasakan perubahan sikap Selena yang kini lebih pendiam, canggung, dan kehilangan keceriaannya.Malam itu, saat Selena sedang berkutat dengan tugas kuliah di kamarnya, ia tiba-tiba keluar dan menghampiri Elyssa yang sedang melamun di balkon."Kak, ada chat dari Sean," ucap Selena, memberitahu.Elyssa mengernyit bingung. "Sean? Kok ke kamu?""Iya, katanya suruh kamu baca pesan darinya. Aku juga bingung dia dapat nomorku dari mana,” jawab Selena pelan.‘Padahal dia juga gak tau kalau aku tinggal
Tatapan mereka bertemu. Mata Sean yang sayu menatap langsung ke arah mata Elyssa yang terbelalak kaget.Tatapan sayu Sean perlahan berubah menjadi binar kerinduan yang menyakitkan. Sebelum Elyssa sempat menarik tangannya kembali, Sean dengan gerakan cepat— meski tenaganya tak sekuat biasanya— menarik pergelangan tangan Elyssa hingga wanita itu jatuh ke dalam dekapan hangatnya di atas ranjang."Sean! Lepas!" seru Elyssa tertahan, jantungnya berdegup tidak karuan.Bukannya melepaskan, Sean justru melingkarkan kedua lengannya dengan erat di pinggang Elyssa, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu. Napasnya terasa panas menerpa kulit Elyssa."Jangan pergi lagi... tolong," bisik Sean dengan suara serak. "Tetap di sini sebentar saja."Elyssa berusaha melepas pelukan. "Sean, lepaskan! Aku ke sini bukan untuk ini. Aku cuma mau—""Aku tau aku salah. Aku bajingan," potong Sean, suaranya terdengar pecah. Ia semakin mengeratkan pelukannya seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saj
Elyssa terbungkam, tak tahu harus menjawab apa."Atau begini saja," lanjut Juan sambil memijat pelipisnya. "Soal foto mesra kita di hp Sean, kamu punya nomor pengirimnya? Biar aku lacak. Mungkin dari situ kita punya petunjuk.""Kalau ada pasti langsung aku kasih ke kamu,” jawab Elyssa lesu.Juan menghela napas kasar. “Aku harus punya nomer itu. Aku harus melacaknya segera!”Elyssa menarik napas dalam. Meski hatinya masih sakit dan ia ingin menjauh dari Sean, rasa penasaran dan rasa takut jika foto-foto itu tersebar luas jauh lebih besar."Aku akan minta nomornya ke Sean," ucap Elyssa lirih, seolah bicara pada dirinya sendiri.Juan segera mencegah, tangannya bergerak sedikit seakan ingin menahan Elyssa. “Tunggu dulu, El. Apa Sean belum melacak nomor itu? Rasanya aneh pria sepertinya tidak melakukan apa-apa."Elyssa menggeleng lemah. "Dia bilang dia langsung drop saat nerima foto mesra kita. Aku gak yakin dia sempat untuk melacaknya."Juan menyandarkan punggungnya di kursi, lalu menggel
Selena mendadak tersentak. Ia segera menggelengkan kepalanya dengan kuat, seolah ingin mengusir pikiran gelap yang baru saja melintas. Genggaman tangannya yang tadi terasa dingin perlahan melemas. Ternyata, semua itu hanyalah halusinasi semata. Ia tidak benar-benar memegang pisau, apalagi sampai tega mengakhiri hidup Elyssa.Napas Selena memburu. Rasa ngeri sekaligus bersalah menghantam dadanya karena sempat berpikiran sekeji itu.Dengan langkah terburu-buru, ia segera keluar dari kamar Elyssa.Selena berlari masuk ke kamarnya sendiri dan langsung mengunci pintu. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, merosot jatuh ke lantai sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.“Apa yang ada dalam pikiranku?” rutuknya. “Masa gegara cemburu doang aku jadi berpikiran kriminal? Astaga!”Di tengah kesunyian malam, Selena berusaha menenangkan diri, merutuki betapa besarnya rasa cemburu yang hampir saja meracuni akal sehatnya.****Pagi itu, Elyssa terbangun saat sinar matahari sudah mulai meni
Namun, sosok itu jelas bukan Sean, melainkan Juan.Elyssa segera melepaskan pelukan pria itu dari tubuhnya, tampak syok. “J-juan…”Juan memang sudah memantau sekitar mansion Sean sejak tadi— entah apa yang ia harapkan, mungkin ia hanya ingin merasa dekat dengan Elyssa meski wanita itu berada di dalam rumah.Begitu melihat Elyssa keluar menaiki taksi, ia langsung mengikutinya tanpa ragu."Kamu ngapain di sini sendirian? Nunggu seseorang?" tanya Juan dengan nada datar, namun terselip kekhawatiran.Elyssa justru balik bertanya, "Kamu kok bisa di sini?”"Hanya kebetulan lewat," bohong Juan. "Di sini dingin, baju kita juga mulai basah kena percikan air. Lebih baik masuk ke mobil.""Enggak, makasih. Aku di sini saja, Juan.”"Hujannya semakin deras, El. Kamu bisa sakit kalau terus di sini."Elyssa sempat ragu, namun rasa dingin yang mulai menusuk tulang akhirnya membuatnya menyerah. Ia bangkit dan melangkah masuk ke dalam mobil Juan.Begitu pintu tertutup, suhu hangat dari AC mobil langsung
Sementara itu, Sean telah menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi lagi. Elyssa mendengarkan, ia mencoba mengerti dan mulai belajar memaafkan. Meski begitu, hatinya masih menyimpan rasa kesal karena pernah dijadikan alat balas dendam, walaupun sekarang Sean mengaku sudah benar-benar jatuh cinta padanya."Kamu boleh membalas dan memanfaatkanku sebanyak apa pun yang kamu mau, Elyssa," ucap Sean lirih, seolah menyerahkan dirinya sepenuhnya.Elyssa mengukir senyum tipis, sebuah senyuman yang terasa menyakitkan untuk dilihat. "Aku gak akan membalas ataupun memanfaatkanmu, Sean. Cintaku tulus. Karena itu, aku hanya berharap kamu juga mencintaiku tanpa ada tujuan lain di baliknya."Ia menjeda kalimatnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku... aku gak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti saat aku menikah dengan Albert. Karena dulu dia juga sama sepertimu, manis pada awalnya dan ngomong cinta setiap hari. Aku bener-bener udah gak bisa bedain mana omongan pria yang jujur atau berbohong.







