Mag-log inAdhelard membuka matanya perlahan.Udara dingin dini hari memenuhi tenda tahanan itu.Dari celah kain tenda, cahaya gelap kebiruan mulai terlihat.Malam akan segera berakhir.Tatapan Adhelard turun pada rantai yang membelenggu kedua tangannya.Lalu—Dengan tenang ia menggerakkan pergelangan tangannya perlahan.Suara besi kecil terdengar samar.Klik.Rantai itu langsung terlepas begitu saja.Seolah benda itu tidak pernah mampu menahannya.Adhelard menggerakkan sedikit pergelangan tangannya yang memerah lalu berdiri.Tatapannya jatuh pada pedangnya yang disandarkan di dekat meja.Mereka benar-benar terlalu meremehkannya.Adhelard mengambil pedang itu lalu menariknya perlahan dari sarung.Sret.Tatapan matanya langsung berubah tajam.Saat keluar dari tenda—Dua penjaga langsung menoleh kaget.Namun mereka bahkan tidak sempat membuka mulut.Slash!Pedang Adhelard bergerak cepat membelah udara.Tubuh kedua penjaga langsung jatuh bersamaan.Darah mengalir di tanah dingin.Adhelard berjalan
Adhelard berdiri lemah di dalam tenda tahanan. Kedua tangannya terikat rantai besi.Suara api unggun dan langkah para penjaga terdengar samar dari luar.Sehari lalu—Ia ditukar dengan Arthur di depan gerbang benteng Eterdal.Arthur dalam keadaan setengah sadar saat dibawa kembali.Tubuh pria itu penuh luka.Darah bahkan masih terus menetes dari lengannya.Namun saat itu Adhelard tetap berdiri tenang.Ia hanya memberi perintah singkat pada Maxime.“Bawa dia masuk.”Dan setelah itu—Pasukan suku Belian langsung mundur membawa Adhelard menuju perkemahan mereka.Kini ia berada di sini.Sebagai tawanan.Pintu tenda terbuka.Putri Relia masuk bersama beberapa pengawal.Tatapan tajam wanita itu langsung jatuh pada Adhelard.Namun beberapa detik kemudian Relia memberi isyarat.“Kalian keluar.”Para pengawal langsung menunduk dan meninggalkan tenda.Kini hanya mereka berdua.Adhelard menatap wanita itu datar tanpa mengatakan apa pun.Relia berjalan pelan mendekat.Ia melirik nampan makanan di
Langit berwarna jingga tua.Matahari turun perlahan di balik pegunungan utara, menyisakan cahaya redup yang memantul di ujung pedang dan baju zirah para prajurit.Debu beterbangan.Suara benturan logam tidak pernah berhenti.Adhelard masih di garis depan.Kudanya bergerak cepat, menembus barisan musuh. Pedangnya terangkat, lalu turun dengan tegas. Tidak ragu.Di sampingnya, Arthur tidak pernah jauh darinya.“Yang Mulia, kita mulai terdesak di sisi kiri!” teriak Arthur di tengah riuh pertempuran.Adhelard melirik sekilas.Benar.Pasukan mereka mulai kewalahan.Jumlah suku Belian terlalu banyak, dan mereka bergerak liar, tidak beraturan—namun justru itu yang membuat mereka sulit ditebak.“Kita tahan sampai senja,” jawab Adhelard singkat.Napasnya berat.Namun matanya tetap tajam.Pasukan Kabut Putih yang dipimpin Maxime… belum juga datang.Badai di perjalanan jelas memperlambat mereka.Dan di medan seperti ini—Setiap detik terasa terlalu lama.Angin mulai berubah.Dingin.Kabut tipis m
Gelap.Lalu perlahan… cahaya terlihat.Adhelard membuka matanya.Pandangan kabur itu perlahan menajam, memperlihatkan langit-langit kamarnya sendiri. Napasnya terasa berat, dadanya seperti ditekan dari dalam.Ia mencoba bergerak.Namun tubuhnya lemah.“Yang Mulia…”Suara Arthur terdengar di sampingnya.Adhelard menoleh sedikit.Arthur segera membantu menopangnya, mengangkat tubuhnya agar bersandar.Wajah Adhelard pucat.Bahkan lebih pucat dari sebelumnya.“Tenang,” gumam Arthur pelan, jelas menahan kekhawatiran. “Anda sudah kembali ke kamar.”Adhelard belum sempat menjawab—Langkah kaki lain terdengar.Tenang.Teratur.Teon.Ia masuk tanpa banyak kata.Di tangannya, sebuah obat—bulat, cukup besar, berwarna gelap.Teon berdiri di hadapan Adhelard.“Telan ini,” katanya singkat.Nada suaranya datar.Tidak memohon.Tidak memaksa.Adhelard menatap obat itu beberapa detik.Lalu—tanpa komentar—ia mengambilnya.Menelannya.Pahit langsung menyebar di tenggorokannya.Teon mengangkat tangannya.
Pintu kamar Alice terbuka pelan.Daniel melangkah masuk tanpa banyak suara.Di dalam, suasana terasa hangat. Alice baru saja selesai mandi. Rambut panjangnya masih basah, terurai hingga punggung. Reina berdiri di belakangnya, mengeringkan rambut itu dengan kain lembut, gerakannya hati-hati dan penuh perhatian.Dari cermin besar di depan, Alice melihat sosok kakaknya berdiri di ambang ruangan.Diam.Menatapnya.Agak lama.Alis Alice terangkat.“Ada apa?” tanyanya, sedikit heran melihat ekspresi Daniel yang tidak biasa.Daniel tidak langsung menjawab.Ia melangkah mendekat, tetap menatap Alice melalui pantulan cermin.“Benarkah,” katanya akhirnya, suaranya datar namun tertahan, “kau memanah Teon di kuil?”Alice tidak kaget.Sedikit pun.Ia hanya mengangguk sekali.Jawaban singkat itu justru membuat Daniel membeku.“Alice…” nafasnya tertahan. “Apa kau sudah tidak waras?”Reina refleks berhenti sejenak.Suasana mendadak menegang.“Dia keluarga kekaisaran,” lanjut Daniel, suaranya mulai na
Kabar itu menyebar seperti api.Cepat.Tak terbendung.Kebenaran tentang keluarga Jerome—tentang Dirgo, tentang Rose, tentang darah yang bukan miliknya—mengalir ke seluruh penjuru kekaisaran. Dari istana hingga sudut-sudut kota, semua orang membicarakannya.Dan seperti yang diharapkan—Ayah asli Rose akhirnya muncul.Seorang pelukis tua.Hidup sederhana di pinggiran kota.Namun kini… menjadi pusat perhatian.Di lantai dua kedai rotinya, Alice duduk santai.Secangkir teh hangat di tangannya.Tatapannya tenang, menikmati setiap bisikan yang naik dari bawah.“Katanya dia bukan anak Jerome…”“Putri bangsawan ternyata anak pelukis?”“Memalukan sekali…”Alice menyesap tehnya perlahan.Senyum tipis muncul di bibirnya.Sementara itu, keluarga Jerome mulai panik.Mereka mengadakan rapat darurat.Berusaha mempertahankan sisa kehormatan… sisa gelar… sisa pengaruh yang masih bisa diselamatkan.Namun Alice tahu—Itu sudah terlambat.Langkah kaki terdengar mendekat.Louis.Ia duduk di hadapan Alice
Riuh rendah terdengar dari arah kastil yang menjadi kediaman Pangeran Evrard dan selir kesayangannya, Lady Carolie. Kerumunan pelayan memenuhi halaman depan, beberapa di antaranya berbisik-bisik, sementara yang lain menutup mulut menahan keterkejutan.Pangeran Adhelard baru saja menuruni kudanya, A
Udara pagi di kediaman keluarga Adelaide terasa segar. Matahari baru saja naik, sinarnya lembut menembus dedaunan dan menari di permukaan cangkir teh yang dipegang Alice. Ia duduk anggun di bawah naungan paviliun kecil di kebun belakang, ditemani harum bunga mawar yang bermekaran. Gaun santainya be
Alice menutup pintu ruang kerjanya dengan sedikit tenaga, nafasnya masih belum teratur. Louis mengikutinya, wajahnya gelisah sejak mereka melihat Teon bersama ibunya di kereta tadi. Alice berjalan menuju meja kayu besar miliknya, meletakkan sarung tangannya lalu duduk. Jemarinya mengetuk permukaan
Alice tak sempat bereaksi ketika Pangeran Adhelard menarik pergelangan tangannya, membawanya menaiki tangga butik dengan langkah besar. Nafas Alice tercekat, gaunnya sedikit terangkat karena langkah cepat mereka. Begitu tiba di lantai dua, Adhelard hanya menoleh sekilas pada Meriana yang berdiri te







