Share

Bab 6

Penulis: irisamayeontan
last update Tanggal publikasi: 2025-06-25 22:33:16

Tangan Adhelard menuntun Alice dengan tegas, meski langkah mereka pelan menyusuri koridor panjang menuju aula pesta. Jemarinya dingin namun mantap, dan cengkeramannya menyiratkan kuasa, seolah berkata: kau aman bersamaku, tapi jangan bertanya terlalu banyak.

Alice tak bisa berkata-kata. Ucapan Adhelard sebelumnya masih menggema di telinganya.

“Karena dia akan menjadi keluargaku juga nanti.”

Kalimat itu mengganggu pikirannya. Apakah itu hanya untuk menyingkirkan Rose? Atau… ada makna tersembunyi?

Begitu mereka tiba di pintu aula, Alice ingin segera melepaskan diri. Tapi detik itu pula, seorang wanita bergaun emas dengan mahkota kristal kecil di rambut peraknya berdiri di hadapan mereka.

Ibu Suri.

Permaisuri Chloe.

Ibu tiri Adhelard dan ibu kandung dari Pangeran Evrard.

Senyum Chloe manis, tapi matanya seperti pisau yang tajam. Ia memandangi Adhelard dengan angkuh, lalu menurunkan tatapannya pada Alice, sebelum kembali ke Adhelard.

“Oh, lihat siapa yang akhirnya kembali dari medan perang,” ucapnya dengan nada yang halus. “Tanpa pemberitahuan. Tanpa kabar. Tapi… tetap membawa drama, seperti biasa.”

Alice menegang. Ia bisa merasakan ketegangan di antara mereka. Adhelard hanya tersenyum tipis, seolah sudah terbiasa disambut seperti itu.

“Aku datang bukan untuk berpesta, Yang Mulia. Aku datang hanya untuk menyapa Anne.” Ia menoleh sekilas pada Alice. “Kami berteman lama. Dan aku dengar dia akan dijodohkan dengan Evrard. Aku hanya ingin menyampaikan harapan terbaikku… secara pribadi.”

Chloe mendongakkan dagunya. “Sungguh manis. Tapi tetap saja—tidak sopan datang ke pesta keluarga kerajaan menggunakan baju zirah dan membuat perhatian para tamu tertuju padamu, bukan sang putra mahkota yang berulang tahun. Aku jadi penasaran, sedekat apa hingga membuat pangeran Adhelard berlari menemui Lady Anne tanpa mengganti bajunya.”

“Aku belum sempat menemui Kaisar,” lanjut Adhelard tenang tanpa menghiraukan rah bicara ibu tirinya. “Aku akan menyapanya setelah pesta usai.”

Lalu tanpa menunggu balasan, Adhelard melepaskan tangan Alice dengan lembut, dan melangkah menjauh.

Alice nyaris memanggilnya—tapi tak sempat.

Ia kini berdiri berhadapan langsung dengan wanita paling ditakuti di istana: Permaisuri Chloe.

Chloe menatapnya lekat. “Kau tampak gugup.”

Alice berusaha tersenyum sopan. “Hanya sedikit lelah, Yang Mulia.”

“Lelah... atau takut?” Chloe melangkah maju, suaranya lembut namun menusuk. “Kau tidak perlu takut padaku, Nona Anne. Tidak... jika kau tahu bagaimana membawa dirimu di istana ini.”

Alice menunduk. “Terima kasih atas pengingatnya.”

Chloe tersenyum. “Kau tampak lebih menarik dari biasanya. Mungkin kita bisa berbincang. Aku ingin mengenal calon menantuku sedikit lebih dalam.” Ia melingkarkan lengannya ke lengan Alice. “Ikutlah denganku. Kita minum teh.”

---

Di ruang perjamuan kecil, dinding-dinding dihiasi permadani emas dan lukisan para permaisuri terdahulu. Chloe menuangkan teh dari teko porselen langka. Aromanya harum dan menenangkan, tapi suasananya... mencekam.

“Kau tahu,” ujar Chloe seraya menyeruput tehnya, “anak lelakiku, Evrard, terlalu mudah percaya pada orang lain. Itu kelemahan yang tidak bisa dimaafkan dalam dunia ini.”

Alice mengangguk. “Mungkin itu juga yang membuatnya disukai banyak orang.”

Chloe menoleh tajam. “Disukai bukan berarti dihormati.”

Alice menyadari sesuatu: Chloe tidak benar-benar mempercayai anaknya sendiri. Ada jarak, kecurigaan, dan—yang lebih penting—ego.

Sebuah ide muncul di benaknya. Peluang untuk mempermainkan papan catur istana.

Alice meneguk tehnya pelan. Aroma melati bercampur madu memenuhi hidungnya, tetapi tak ada ketenangan di balik rasa itu. Ia duduk dengan punggung tegak di ruang perjamuan kecil bersama Permaisuri Chloe, sang ibu suri yang wajahnya seperti topeng porselen—lembut, namun rapuh karena waktu dan kekuasaan.

Mereka duduk berhadapan di meja kecil, diapit tirai berat berwarna emas dan permadani bergambar lambang kerajaan.

Chloe memandangi Alice dengan mata tajam yang biasa ia gunakan saat membaca laporan keuangan istana.

“Kau tampak lebih dewasa dibanding terakhir kita bertemu,” ujarnya sambil meletakkan cangkir teh di piringnya.

Alice tersenyum sopan. “Waktu… dan kehidupan di istana mengajarkan banyak hal, Yang Mulia.”

Chloe menyesap tehnya. “Dan kau tampaknya cepat belajar.”

Alice menunduk sejenak, lalu mengangkat wajah dengan senyum lembut. Tapi kali ini… senyum itu mengandung sedikit luka. Luka yang dipoles rapi.

Ia berpura-pura ragu. “Saya tak tahu apakah pantas menyampaikan ini…”

Chloe meletakkan cangkirnya. “Katakan saja.”

Alice menahan napas sejenak. Ia harus memilih kata-kata dengan sangat hati-hati.

“Saya tidak keberatan jika hati Pangeran Evrard belum sepenuhnya untuk saya,” katanya lirih, nada suaranya nyaris seperti pengakuan dosa. “Saya tahu... cinta tidak bisa dipaksakan. Tapi...”

Ia berhenti. Chloe mencondongkan tubuh, penasaran.

“Tapi?” ulang sang Permaisuri.

Alice mengangkat matanya—bening, jujur, namun dalam.

“Ada hal-hal yang... sulit saya terima. Bukan karena saya cemburu, tetapi karena saya mengkhawatirkan nama baik kerajaan.”

Chloe menegakkan bahunya. “Apa maksudmu?”

“Saya tidak tahu bagaimana menyampaikan ini tanpa terdengar kasar,” bisik Alice. “Namun malam ini... Pangeran Evrard datang bersama seorang wanita. Seorang perempuan muda... yang jelas bukan bangsawan, bukan terdidik... bahkan mungkin bukan rakyat bebas. Maafkan saya, Yang Mulia...”

Chloe mematung. Cangkir tehnya berhenti di udara.

Alice menunduk sejenak, lalu melanjutkan perlahan—masih dengan nada sedih, bukan marah.

“Saya tahu saya tidak punya hak menilai. Lagipula... Yang Mulia sendiri juga bukan istri pertama Kaisar, bukan?”

Diam.

Alice menatap mata Chloe, memastikan pesannya tersampaikan tanpa menghina, namun tetap menggores. Ia memberi jeda yang tepat, sebelum menambahkan:

“Tapi... paling tidak, Yang Mulia berasal dari darah bangsawan. Terhormat. Berpendidikan. Saya ingin seperti itu pula. Jika suatu hari saya harus menerima wanita lain disisi Pangeran Evrard, saya hanya berharap—dia bukan budak. Bukan perempuan murahan yang dipungut dari jalan.”

Chloe tidak menjawab.

Tangannya perlahan meletakkan cangkir ke piring porselen dengan bunyi klik kecil.

Alice melihat tatapan itu—dingin, menahan murka, dan tersinggung bukan karena dirinya disinggung, tapi karena statusnya sebagai selir dulu juga sedang dibandingkan.

Dengan lembut, Alice berdiri dan membungkuk hormat. “Saya hanya ingin melindungi kehormatan keluarga kerajaan, Yang Mulia. Bukan karena saya ingin menguasai. Tapi karena saya ingin... dihargai.”

***

Lorong menuju kamar pangeran sunyi, hanya diiringi derap langkah Permaisuri Chloe yang cepat dan menghentak. Gaunnya berkibar, suaranya nyaris lebih keras dari napas para pelayan yang menunduk ketakutan saat ia lewat.

Ia mendorong pintu kamar Evrard dengan kasar, membuat engselnya berderit.

“Di mana dia?” tanyanya tajam, tanpa basa-basi.

Evrard, yang tengah melepaskan mantel luar pestanya, menoleh cepat. “Siapa?”

“Jangan pura-pura bodoh,” desis Chloe sambil menutup pintu di belakangnya. “Gadis rendahan yang kau sembunyikan itu. Wanita jalang dengan gaun murah yang bahkan tidak layak berdiri di aula kerajaan.”

Evrard menarik napas panjang. “Ibu... dia tidak ada di sini.”

Chloe berjalan ke sudut ruangan. Membuka tirai, membuka lemari, menyibak lipatan kain di balik kursi besar. Hanya udara kosong yang menyambutnya. Tak ada siapa pun.

Ia kembali menatap anaknya, wajahnya sudah merah karena murka yang ditahan.

“Kau pikir bisa mempermainkan istana seolah ini panggung pasar? Membawa wanita simpanan seolah dia harta rahasia?” Chloe berdiri tegak. “Jika kau punya harga diri sebagai putra mahkota, sembunyikan setidaknya dengan elegan.”

Evrard tidak menjawab.

“Aku tidak akan membiarkan perempuan biasa—bahkan budak!—mengotori garis keturunan ini!” lanjut Chloe. “Kau adalah pewaris kerajaan ini! Bukan pedagang yang tidur dengan pelacur jalanan!”

Hening sesaat. Chloe mengatur napas, lalu mengeluarkan sebuah surat dari balik mantel panjangnya.

“Dan seakan itu belum cukup,” ucapnya dingin, “kau bahkan tidak sadar ada konspirasi yang kau biarkan tumbuh di bawah hidungmu.”

Ia melempar surat itu ke dada Evrard.

Pangeran itu menangkapnya. Kertasnya ringan, tapi mengandung beban yang tak bisa ditimbang.

Dengan wajah tegang, ia membuka dan membaca tulisan tangan halus itu:

Adhelard... aku akan melakukan apapun agar kau kembali ke tempatmu yang sejati. Jika rakyat kembali percaya padamu, maka mereka akan tahu siapa yang pantas berdiri di sisimu dari dulu hingga sekarang.— R.J.

“Rose Jerome,” bisik Evrard. Matanya menyipit.

“Ya,” kata Chloe cepat. “Dan aku berhasil menghentikan surat itu sebelum sampai ke Adhelard. Tapi berapa banyak surat seperti ini yang sudah kau biarkan lolos?”

Evrard meremas surat itu. Tangannya gemetar. Tapi bukan karena takut. Melainkan karena, ia sudah muak dikendalikan.

Ia menatap ibunya dengan pandangan yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya—tenang, berbahaya, penuh perhitungan.

“Kalau begitu, izinkan aku memperjelas satu hal, Ibu,” ucapnya, datar.

Chloe mengangkat dagu. “Apa maksudmu?”

Evrard maju satu langkah. “Jika Ibu tidak bisa menerima keberadaan Carolie... jika Ibu tidak bisa menerima bahwa aku butuh kendali atas hidupku, maka... aku tidak akan menikahi Lady Anne.”

Chloe menegang. “Apa kau bilang?”

“Aku akan memilih Natalie sebagai istriku. Meskipun dia tidak punya darah sihir, meskipun dia bukan keturunan keluarga besar. Tapi setidaknya dia milikku, bukan milik Ibu.”

Chloe membeku. Matanya melebar. “Kau... tak akan berani.”

Evrard menyeringai tipis. “Justru karena aku putra mahkota... aku berhak memilih.”

“Lady Anne membawa garis keturunan sihir yang dibutuhkan kerajaan!” bentak Chloe. “Kau tahu betul, hanya dengan sihir itu... cucuku bisa menjadi penguasa sejati!”

“Tapi Kaisar... tidak pernah memaksaku. Ayah hanya berkata, pilih yang kau yakini mampu berdiri di sisimu.” Evrard menoleh. “Dan mungkin aku akan memilih seseorang yang tidak mencoba mengendalikan ibu kandungku dengan provokasi.”

Chloe tercekat.

Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti catur yang terjebak di sudut papan.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 75 Rencana Licik

    Evrard duduk dengan tenang di sebuah meja kayu di dalam tenda tahanan suku Belian.Anehnya, ia sama sekali tidak terlihat seperti seorang tawanan.Tidak ada rantai di tangannya. Tidak ada luka yang menunjukkan bahwa ia baru saja ditangkap. Bahkan pakaiannya masih rapi, seolah ia sedang duduk di salah satu ruangan istana.Di seberangnya, Ketua Suku Belian terus memperhatikannya dengan tatapan penuh curiga.Kesepakatan mereka telah dibuat sejak malam sebelumnya.Evrard akan menjadi tawanan.Suku Belian akan mengumumkan bahwa Putra Mahkota Kekaisaran Livy telah ditangkap dalam perjalanan menuju benteng.Dan ketika saatnya tiba, mereka akan menggunakan Evrard sebagai alat untuk pertukaran tawanan.Namun sejak pertama kali bertemu dengan Putra Mahkota itu, Ketua Suku Belian masih belum bisa memahami satu hal.Mengapa?Beberapa waktu lalu, Evrard datang secara diam-diam dengan menyamar. Ia tidak datang membawa pasukan. Tidak pula datang sebagai seorang putra mahkota.Ia datang membawa sebua

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 74 Perang segera pecah

    Alice berlari menyusuri tangga batu menuju puncak benteng tanpa sempat mengatur nafasnya. Begitu tiba, ia langsung melihat sosok yang paling ia khawatirkan.Pangeran Adhelard.Dengan zirah perang berwarna hitam keperakan, lelaki itu berdiri di bibir benteng memandang hamparan bukit di kejauhan. Angin utara menerbangkan jubah panjangnya. Wajahnya masih pucat, tetapi sorot matanya tetap setajam biasanya.Alice segera menghampirinya."Adhelard!"Tanpa memperdulikan para prajurit yang berjaga, Alice langsung menarik lengan lelaki itu. "Apa yang sedang kau lakukan? Bukankah aku sudah memintamu tetap beristirahat? Kakakku akan segera datang membawa pasukan bantuan. Biarkan mereka yang menghadapi pertempuran ini."Adhelard menoleh. Senyum tipis muncul di bibirnya. "Aku sudah jauh lebih baik.""Itu bohong. Ada Pangern Teon disini, aku mohon.." Alice dapat merasakan tubuh Adhelard masih dingin. Bahkan berdiri lama saja seharusnya sudah melelahkan baginya.Namun Adhelard perlahan melepaskan gen

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 73 Suku Belian Kembali

    Sore itu, gerbang Benteng Eterdal akhirnya terbuka lebar.Deretan kereta yang membawa gandum, tepung, daging kering, serta berbagai bahan pangan memasuki benteng satu per satu. Para prajurit yang sejak beberapa hari terakhir bertahan dengan jatah makan yang semakin sedikit, memandang iring-iringan itu dengan wajah lega.Alice yang sedari tadi menunggu di depan gerbang tersenyum tipis.Akhirnya... bantuan itu datang.Ia melangkah menghampiri Louis yang baru saja menghentikan kudanya."Perjalanan kalian lancar?"Louis mengangguk sambil turun dari kudanya."Syukurlah, tidak ada penyergapan."Alice mengangguk pelan, tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti.Pandangannya tertuju pada kereta paling belakang.Pintu kereta perlahan terbuka.Seseorang turun dengan jubah putih khas pendeta kerajaan.Teon.Alice sedikit terdiam.Baru saat itu ia teringat.Sebelum dirinya menghilang karena sihir liontin Adhelard, Teon memang sedang berusaha menghentikannya pergi ke perbatasan.Teon menatap Alice bebe

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 72 Alice mengetahui semua

    Jari-jari Alice mulai gemetar. Cahaya putih yang keluar dari telapak tangannya terus mengalir memasuki tubuh Adhelard, namun luka di dada lelaki itu masih mengeluarkan darah hangat yang membasahi pahanya. “Bangun Adhelard…” bisiknya lirih. “Jangan bercanda sekarang…” Angin dingin hutan utara berhembus pelan. Bau darah bercampur tanah basah memenuhi udara. Rambut Alice berantakan tertiup angin, gaun putihnya ikut ternoda merah karena darah Adhelard yang terus mengalir tanpa henti. Maxime berdiri beberapa langkah dari mereka. Lelaki itu terlihat benar-benar kehilangan ketenangan. “Lady Alice…” suaranya berat. “Kereta medis sudah hampir sampai.” Alice tidak menjawab. Tangannya masih menempel di luka dada Adhelard. Cahaya suci yang ia curi dari Teon terus dipaksakan keluar. Sedikit demi sedikit warna pucat di wajah Adhelard mulai berubah, namun napas lelaki itu tetap lemah. Lalu… Batuk kecil keluar dari bibir Adhelard. Darah segar kembali mengalir dari sudut bibirnya. M

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 71 Kematian

    Alice melambaikan tangan dari balik jendela kereta.Ayah dan kakaknya berdiri di depan kediaman Adelaide sambil memperhatikannya pergi.Daniel masih terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.Sedangkan ayahnya hanya menghela napas pasrah melihat putrinya tetap keras kepala.Alice tersenyum kecil.Namun matanya sempat mencari satu sosok.Ibunya.Dan benar saja—Wanita itu tidak datang.Alice tidak terlalu terkejut.Memang sejak dulu ibunya tidak pernah terlalu menyukainya.Kereta mulai bergerak menjauh.Suara roda memenuhi jalan batu.Alice akhirnya bersandar santai di kursinya.Tak lama kemudian—Louis masuk ke dalam kereta.Ia langsung menghela napas panjang.Alice meliriknya lalu tersenyum kecil.“Sepertinya ada yang ingin kau tanyakan.”Louis tidak berputar-putar kali ini.“Apa yang diberikan Ibu Teon padamu?”Tatapan Alice langsung turun pada liontin di lehernya.Ia tersenyum tipis.“Akhirnya kau bertanya juga.”Louis diam memperhatikannya.Dan untuk pertama kalinya—Alice mulai m

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 70 Hidup bersama atau mati bersama?

    Adhelard membuka matanya perlahan.Udara dingin dini hari memenuhi tenda tahanan itu.Dari celah kain tenda, cahaya gelap kebiruan mulai terlihat.Malam akan segera berakhir.Tatapan Adhelard turun pada rantai yang membelenggu kedua tangannya.Lalu—Dengan tenang ia menggerakkan pergelangan tangannya perlahan.Suara besi kecil terdengar samar.Klik.Rantai itu langsung terlepas begitu saja.Seolah benda itu tidak pernah mampu menahannya.Adhelard menggerakkan sedikit pergelangan tangannya yang memerah lalu berdiri.Tatapannya jatuh pada pedangnya yang disandarkan di dekat meja.Mereka benar-benar terlalu meremehkannya.Adhelard mengambil pedang itu lalu menariknya perlahan dari sarung.Sret.Tatapan matanya langsung berubah tajam.Saat keluar dari tenda—Dua penjaga langsung menoleh kaget.Namun mereka bahkan tidak sempat membuka mulut.Slash!Pedang Adhelard bergerak cepat membelah udara.Tubuh kedua penjaga langsung jatuh bersamaan.Darah mengalir di tanah dingin.Adhelard berjalan

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 4

    Kilau permata dan gaun sutra membanjiri aula istana utama. Pesta ulang tahun Pangeran Kedua, Evrard, telah menarik seluruh bangsawan dari empat penjuru kerajaan. Lampu gantung kristal bersinar seperti langit berbintang di atas kepala, dan aroma mawar serta anggur tua memenuhi ruangan.Di ambang pin

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 3

    Angin pagi belum berhenti menggoyangkan tiang-tiang tenda saat Alice menyiapkan senjatanya. Rambut merahnya tergerai, tak lagi terikat dalam simpul prajurit. Matanya memandangi bayangan samar di cermin kecil, bayangan yang bukan milik seorang tentara, melainkan seorang wanita yang baru saja mencium

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 2

    Tenda itu sunyi. Hanya suara lembut kain yang tertiup angin malam, sesekali berderak oleh hembusan udara. Aroma logam, darah kering, dan sisa dupa dari medan perang masih melekat di udara. Di tengah cahaya lentera yang remang, Alice terbangun dengan napas terengah.Kesadaran menghantamnya dalam sat

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 1

    Hujan baru saja berhenti di ujung perkemahan, menyisakan kabut tipis yang menggantung di antara tenda-tenda para prajurit. Api unggun besar menyala di pusat kamp, di mana sorak-sorai dan tawa keras menggema—para tentara tengah merayakan kemenangan besar atas serangan suku barbar di perbatasan utara

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status