LOGIN"Kau yakin wanita itu akan datang kemari?"
Seorang wanita paruh baya sedang makan dengan lahapnya, dia terlihat begitu sibuk dengan notepad yang ada atas meja makan itu.Kania. Dia adalah ibu dari Andri dan juga Raka, mertua Mona. Wanita paruh baya itu memang jarang sekali terlihat di rumah, dia selalu sibuk dengan pekerjaan kantor yang begitu menumpuk. Seperti hari ini, rencananya untuk libur harus gagal karena rapat dadakan di kantor. Padahal menantunya sendiri akan datang dengan maksud yang baik, Mona ingin bertemu dengan ibu dari lelaki yang dia cintai."Iya, Mona akan datang kemari. Tidak bisakah Ibu libur hari ini saja? Kak Mona begitu kesepian di rumah, jadi dia aku ajak main kemari saja."Andri memang bermaksud baik, dia ingin membuat kakak iparnya itu bahagia. Di hari-harinya yang penuh dengan perasaan sepi, setidaknya wanita itu akan merasa terhibur di sini. Bertemu dengan mertua, dan juga adik iparnya. Namun sayang, Kania adalah tipikal orang yang sibuk. Dia sangat menyukai dunia bisnis, sama seperti anak sulungnya Raka."Ibu tidak bisa sayang, hari ini ada rapat yang sangat penting di perusahaan. Jika dia kemari, kau saja yang temani ya."Wanita paruh baya itu seolah tidak merasa khawatir. Padahal mereka sudah sangat dewasa, bahkan tidak pantas untuk tinggal bersama di rumah. Hal yang tidak di inginkan bisa saja terjadi pada keduanya, dan membuat rumah tangga anak sulungnya hancur. Tapi Kania seolah tidak perduli tentang hal itu, sekali dia fokus dengan satu hal, maka akan terus seperti itu."Iya sudah, sepertinya rapat itu memang lebih penting dari pada menantu Ibu," ucap Andri dengan lancarnya.Kania menatap anak bungsunya itu, Andri memang sangat spontan jika berbicara. Apalagi tentang pernikahan kakaknya itu. Dia seolah ingin ikut campur dengan semua permasalahan mereka, padahal tidak seharusnya hal itu terjadi. Kania sendiri tidak terlalu paham, kenapa Andri bisa seperhatian itu? Terlebih pada kakak iparnya."Kau tidak suka Ibu mengurus perusahaan? Kalau begitu kau saja yang menggantikan Ibu, bagaimana?" Tanya wanita paruh baya itu dengan nada sinis nya.Andri tidak suka dengan pembahasan seperti ini, sejak awal lelaki itu tidak pernah ingin terjun ke dunia bisnis. Dan ketika sang ibu memintanya untuk kedua kali, Andri semakin malas saja untuk membahas."Please Bu, aku tidak ingin membahas tentang hal ini. Aku tidak pernah sudi terjun ke dunia seperti itu, menghabiskan waktu!" Jawab Andri sinis."Iya sudah, kalau begitu Ibu berangkat sekarang. Kau jangan kemana-mana, jaga rumah!" Tegas Kania pada anak bungsunya.Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan anak bungsunya, sedangkan Andri hanya bisa menatap dengan perasaan kesal. Sang ibu memang cuek sekali, pada anaknya dan juga menantu. Mungkin karena hal ini, dia tidak pernah memiliki suami lagi.Karena sudah berjanji akan menjemput Mona di rumahnya, Andri pun bersiap-siap. Namun ternyata wanita itu sudah ada di depan teras dengan tas kecil di tangannya. Dia terlihat sangat cantik, dengan dress merah atas lutut."Loh kak Mona?" Ucap Andri dengan mata yang membulat.Wanita itu tersenyum manis, "Aku datang sendiri ya Ndri, maaf tidak mengabari.""Kakak kemari dengan siapa?" Tanya lelaki itu."Aku naik taksi tadi, habis kau lama sekali menjemputku!" Jawab Mona.Andri menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "Maaf ya Kak, tadi aku ada urusan dulu dengan Ibu.""Oh iya Ibu dimana? Lama sekali aku tidak bertemu dengannya."Mona masuk begitu saja ke dalam rumah, bahkan tanpa harus menunggu Andri mempersilahkannya. Matanya mencari dimana keberadaan sang mertua, yang sudah pergi ke kantor sejak tadi itu."Bu..." Panggil Mona penuh semangat.Andri berjalan mendahuluinya, dia duduk di sofa dengan santai sembari tersenyum manis kepada kakak iparnya itu."Ibu pergi ke kantor, katanya ada rapat dadakan."Wanita itu membulatkan matanya, dia pun ikut duduk di sofa dengan wajah penuh kekecewaan. Padahal dengan sengaja Mona datang kemari untuk bertemu dengan mertuanya. Tapi wanita paruh baya itu malah mementingkan rapat dari pada sang menantu."Aku kira dia di rumah, lalu kita hanya berdua disini?"Sebuah pertanyaan yang langsung membuat Andri berpikir mesum, karena di dalam rumah ini mereka hanya berdua. Apa yang akan keduanya lakukan?"Iya berdua, memangnya dengan siapa lagi?" Tanya balik Andri pada wanita itu.Mona juga mungkin baru menyadari, jika mereka hanya berdua. Hal yang sebenarnya dia tidak sukai, karena pikiran wanita ini selalu berlarian Kemanapun. Jika saja ada sang mertua, mungkin Mona tidak akan tiba-tiba canggung seperti ini."Kalau begitu, kita pergi keluar saja bagaimana?" Ajak Mona pada adik iparnya itu.Ctarr!Suara petir menyambar begitu kuat, tidak bisa di duga jika tiba-tiba hujan di pagi ini. Andri menatap ke luar jendela, begitu juga Mona. Kini keduanya saling menatap, apa yang akan mereka lakukan di tengah hujan?"Bisa-bisanya hujan di pagi hari seperti ini. Padahal tadi cuaca terlihat cerah sekali, apa ini pertanda kit tidak boleh pergi ya?" Tanya Mona dengan wajah polosnya.Andri refleks mengangguk, "Iya tentu saja. Mungkin sesuatu yang buruk bisa saja terjadi di luar sana, oleh karena itu lebih baik kita diam saja di rumah.""Apa yang akan kita lakukan Andri?" Tanya Mona pada lelaki itu."Mungkin sesuatu yang menyenangkan. Oh iya aku ingin mengajak Kakak ke ruangan atas, di sana ada bekas kamar kak Raka."Seketika wanita itu langsung tertarik, dia memang sedang merindukan suaminya itu. Jadi dengan melihat semua kenangan tentangnya, mungkin bisa sedikit mengobati hatinya yang kelam.Tanpa berpikiran macam-macam, Mona mengikuti Andri yang berjalan di depannya. Mereka menuju lantai dua dengan penuh hati-hati, melewati lorong-lorong untuk sampai ke tempat tujuan.Sebuah pintu coklat, dengan gagang yang mulai rusak, menjadi tempat keduanya terdiam. Andri membuka kamar itu untuk mempersilahkan Mona masuk, dan wanita itu pun dengan santai berjalan ke dalam sana.Matanya menatap sekitar, tentang foto dan barang-barang klasik yang tertata begitu rapi. Dengan cepat Mona menyentuhnya, melihat secara detail benda milik suaminya itu. Seketika air matanya menetes, melihat sebuah bingkai foto pernikahan mereka berdua. Benda itu masih ada di sana, dan tetap menjadi pajangan paling indah.Ingin sekali Mona menjerit, merasakan hatinya yang sakit. Kenapa semua ini bisa terjadi? Ketika pernikahan indah yang sebelumnya dia impikan, berubah menjadi begitu dingin. Entah apa yang sudah terjadi pada suaminya itu, hingga membuat Andri tega meninggalkan dia di rumah seorang diri.Mona sempat berfikir, jika sang suami memiliki wanita atau istri idaman lain. Tapi Raka tidak mungkin juga melakukan itu padanya, dia memang fokus pada pekerjaan, bukan hal lain."Kakak kenapa menangis?" Tanya Andri dengan wajah penuh penyesalan. Dia merasa sudah salah membawa kakak iparnya kemari, karena hal itu Mona menangis tanpa sebab. Wanita itu bahkan memeluk erat sebuah bingkai foto, hingga membuat Andri ingin merebutnya."Lebih baik, Kakak berikan saja bingkai foto itu padaku!" Ucap Andri dengan nada sedikit membentak.Mona menatap sang adik ipar dengan perasaan heran, "Kenapa? Aku hanya ingin memeluk foto pernikahan kami."Prank!Andri merebut lalu melempar bingkai foto itu hingga pecah, pecahan beling nya sampai berceceran ke lantai. Mona menatap sedih , dia menyayangkan sikap yang dilakukan oleh Andri padanya."Lupakan saja lelaki brengsek itu! Kau hanya akan sedih jika terus mencintainya!"Hari itu langit mendung, seakan tahu bahwa hari itu akan jadi akhir dari segalanya. Ruang sidang terasa sesak. Setiap kata dari hakim terdengar seperti hantaman palu di dada Mona."Hak asuh anak jatuh kepada pihak suami, Raka Wijaya, mengingat tergugat terbukti berselingkuh dan dinilai tidak stabil secara emosional." Kata-kata itu menamparnya keras. Tubuh Mona bergetar. Matanya berair, tapi dia berusaha menahan diri agar tidak terlihat rapuh. Di seberang meja, Raka menunduk. Tatapannya dingin, tapi di baliknya ada luka yang sama dalamnya. Di barisan belakang, Andri duduk dengan wajah pucat. Baru beberapa minggu dia bebas dari tahanan, namun luka batinnya jauh lebih dalam dari tembok penjara mana pun. Ketika palu sidang diketuk terakhir kali, Mona merasa seluruh dunianya runtuh. Anaknya, satu-satunya alasan dia bertahan hidup akan diambil darinya."Aku tidak akan membiarkan anakku diambil... tidak akan." Setelah kehilangan semua kebahagiaan dalam hidupnya. Mona bertekad, jika dia
Hujan pagi itu masih turun lembut, seolah langit ikut berduka bersama seorang perempuan yang berjalan dengan langkah gontai di bawah payung kecil yang sudah sobek di ujungnya. Tubuh Mona masih lemah, bekas operasi di perutnya kadang terasa nyeri setiap kali ia menarik napas terlalu dalam. Namun, rasa sakit itu tak seberapa dibanding perih yang terus mencabik jiwanya. Matanya sembab, wajahnya pucat, dan langkahnya seperti tak lagi tahu arah. Tapi ada satu tujuan yang tertanam di pikirannya, Andri. Satu-satunya orang yang mungkin masih bisa mengerti, satu-satunya yang dulu pernah memperjuangkannya, meski dengan cara yang salah. Di kantor polisi, udara terasa pengap. Ruangan itu berbau lembap dan sedikit amis, sisa dari malam sebelumnya yang diguyur hujan. Seorang petugas menatap Mona yang berdiri di depan meja, mencoba menenangkan dirinya sebelum berbicara."Permisi… saya ingin menemui Andri Wijaya," suaranya lirih, hampir tenggelam oleh suara hujan di luar. Petugas itu sempat mena
Suasana rumah malam itu mencekam. Hujan turun pelan, mengguyur halaman besar kediaman Raka. Petir menyambar di kejauhan, menimbulkan pantulan cahaya di kaca besar ruang tengah. Mona berdiri di sana, menggendong bayinya dengan erat seolah takut kehilangan. Wajahnya pucat, matanya sembab karena menangis sejak diseret paksa oleh suaminya. Dari arah pintu, suara langkah kaki berat terdengar. Raka baru pulang dari kantor polisi, wajahnya dingin dan lelah, namun sorot matanya begitu tajam menatap Mona dan bayi yang berada di pelukannya. Di belakangnya, Kania berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatap menantunya dengan ekspresi penuh penghakiman."Raka," ucap Mona pelan, suaranya serak. "Kenapa kau membawaku lagi ke sini?" Raka tidak menjawab. Dia hanya berjalan mendekat, menatap bayi mungil itu lama, lalu mengulurkan tangan. "Berikan anak itu padaku." Mona segera mundur satu langkah, memeluk bayinya lebih erat lagi. "Tidak, jangan! Dia butuh aku. Aku ibunya, Raka!""Mona…" nada su
Hujan turun semakin deras. Langit seperti meratap bersama mereka. Petir menyambar di kejauhan, menyinari ladang kosong yang kini menjadi saksi pelarian dua orang berdosa Andri dan Mona. Andri menyalakan mesin mobilnya dengan terburu-buru, tangannya bergetar saat mencoba menyalakan wiper yang tak mau bekerja sempurna. Mona duduk di kursi belakang, memeluk bayinya erat-erat dengan kain selimut tebal. Bayinya merengek kecil, mungkin karena udara dingin yang menusuk tulang."Andri, jangan terlalu cepat," pinta Mona dengan napas terengah. "Kita harus hati-hati. Bayinya-" "Aku tahu," potong Andri cepat, matanya tajam menatap jalan gelap di depan. "Tapi kalau kita tidak segera keluar dari sini, mereka akan menemukan kita." Namun belum sempat dia melangkah jauh, cahaya lampu menembus kegelapan dari arah berlawanan. Satu mobil, dua, tiga hingga akhirnya lebih dari lima kendaraan berhenti di sekitar mereka. Sorotan lampu menembus kaca depan mobil mereka, membuat mata Andri silau. Lalu suara
Angin malam berhembus tajam, menusuk kulit. Di dalam mobil yang melaju kencang di jalan luar kota, Mona duduk di kursi belakang sambil mendekap bayinya erat-erat. Wajahnya pucat, matanya sembab karena tangis yang tak henti sejak mereka meninggalkan rumah sakit. Bayinya tidur tenang di pelukannya, tak tahu badai besar yang kini tengah mengancam. Andri, di balik kemudi, menatap jalanan dengan fokus penuh. Tangan kirinya menggenggam setir, sementara tangan kanannya sesekali mengecek kaca spion, memastikan tidak ada mobil yang mengikuti mereka. Wajahnya tegang, rahang terkunci rapat. "Pegang bayinya baik-baik, Mona. Kita hampir sampai," ucapnya pelan, suaranya bergetar tapi berusaha tenang. Mona menatapnya melalui pantulan kaca depan. "Andri… apa yang kita lakukan ini benar?" Matanya memohon, seolah berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk. Andri menarik napas panjang. "Aku tidak tahu apa yang benar, Mona. Tapi aku tahu satu hal, aku tidak akan membiarkan mereka mengam
Suasana rumah sakit malam itu terasa ganjil, terlalu tenang untuk hati yang sedang bergejolak. Lampu-lampu lorong berpendar lembut, menciptakan bayangan panjang di dinding putih yang dingin. Aroma antiseptik menyeruak kuat di udara, bercampur dengan hawa tegang yang menggelayuti setiap langkah dua orang yang baru saja tiba di sana. Raka berjalan cepat di samping Kania, wajahnya keras dan rahangnya mengatup rapat. Dia tidak bisa tdour nyenyak sejak dua hari terakhir, dan malam ini, dia datang dengan satu keputusan pasti. Mengakhiri segalanya. Kania di sampingnya menatap lurus ke depan, tatapannya tegas, penuh amarah yang sudah dipendam terlalu lama."Setelah ini, tidak ada lagi keraguan," kata Kania dingin, suaranya pelan tapi menusuk. "Kau akan menceraikannya, Raka. Itu keputusan yang paling benar." Raka tidak menjawab. Tangannya terkepal. Hatinya sudah terlalu hancur untuk bisa membantah.Langkah mereka semakin cepat, mendekati ruangan tempat Mona dan bayi itu dirawat. Raka menah







