Home / Rumah Tangga / Gairah Saudara Ipar / Menggoda Adik Ipar

Share

Menggoda Adik Ipar

Author: Nona Lee
last update Last Updated: 2022-12-01 20:58:08

"Kau itu terlalu cantik untuk menderita, jadi bagaimana jika kita bersenang-senang?"

"Bersenang-senang apa Ndri?"

Otak wanita cantik itu langsung berkeliaran kemana-mana. Mungkin karena mendengar kata bersenang-senang langsung dari mulutnya. Padahal mungkin, kata bersenang-senang yang di ucapkan oleh Andri, berati hal lain.

Pelukan itu sangat hangat, hingga membuat Mona merasakan kenyamanan. Dia menatap sang adik ipar, dalam sekali. Sedangkan Andri hanya tersenyum, dengan pelukan yang masih begitu erat.

"Apa yang sedang Kakak pikirkan? Wajah kak Mona merah seperti itu," bisik Andri.

Mona memang sedang membayangkan yang tidak-tidak. Terlebih ketika pelukan yang dia rasakan begitu dalam sekali. Sebuah benda asing pun kian wanita itu rasakan, hangat dan sedikit menonjol.

"Aku tidak memikirkan apapun, wajahku merah karena gerah!" Tegas Mona pada adik iparnya itu.

"Bohong, Kakak pasti sedang memikirkan yang tidak-tidak. Aku tahu itu loh kak Mona.."

Andri senang sekali menggoda kakak iparnya itu. Padahal jika Mona mau, dia bisa membuat lelaki itu tak berdaya dengan kata-katanya.

Hingga sebuah ide konyol pun Mona pikirkan. Dia melepaskan pelukan yang erat itu, kemudian menatap Andri dengan senyuman kecil diwajahnya. Membuat lelaki itu seketika terdiam, yang tadinya menggoda sang kakak ipar.

Lengan mungil itu mengusap wajah tampan Andri, turun hingga ke dada. Seketika lelaki itu pun merasakan sensasi yang luar biasa, menyelinap ke seluruh tubuhnya. Nikmat dan penuh gairah.

Padahal Mona hanya sedang mengusap tubuhnya, bukan menggoda dalam hal lain.

"Kau berusaha untuk menggodaku? Jangan salah, jika aku lebih hebat melakukan hal itu daripada dirimu.."

Bisikan wanita itu semakin membuat Andri tak karuan. Dia ingin sekali berteriak kencang, menyerah dengan apa yang sudah dia mulai terlebih dahulu. Mona adalah kelemahan Andri, dia tidak bisa menahan daya tarik istri kakaknya itu.

Andri meminta sang kakak ipar untuk mundur, jangan sampai hal buruk terjadi jika dia sudah kelewatan. Andri adalah seorang lelaki dewasa, dia juga memiliki batas kesabaran dalam godaan seperti ini. Apalagi jika Mona terlalu berlebihan dalam melakukan segalanya, bisa-bisa mereka terbuai oleh nafsu.

"Kak aku mau pulang sekarang saja, kebetulan perutku sakit sekali."

Andri berusaha untuk menghindar, dia tidak ingin terlibat lebih jauh dalam hal menggairahkan seperti ini. Namun kakak ipar mengetahuinya, Andri pasti sedang mencari sebuah alasan untuk pergi, dan itu tidak bisa di biarkan. Dia menahan tubuhnya, sembari memasang wajah menyebalkan. Bisa-bisanya lelaki itu ingin lepas dari permainan yang sudah dia buat sendiri, tidak akan bisa.

"Kau ini banyak sekali alasan. Bukankah kau sendiri yang sudah memulai? Kenapa berhenti secara tiba-tiba?" Tanya wanita itu pada adik iparnya.

"Aku hanya bercanda Kak, maaf juga karena sudah memeluk mu. Harusnya aku tidak boleh melakukan hal seperti itu, kak Mona ini, kan kakak iparku."

Kini lelaki itu mungkin merasa bersalah, dengan semua tindakan yang sudah dia lakukan. Andri tidak pantas melakukan hal seperti itu, karena mirip seperti pelecehan.

Namun Mona sendiri tidak terlalu mempermasalahkan, karena berkat Andri kesedihannya hilang. Dia sempat terpuruk karena memikirkan nasibnya, tapi lelaki itu memeluk erat tubuhku begitu saja. Hal yang membuat hati seorang wanita seperti Mona luluh, perempuan yang tenggelam dengan begitu banyak kesedihan di dalam hidupnya.

"Kau tidak perlu minta maaf, lagi pula itu hanya sebuah pelukan iba, bukan hal lainnya. Oh iya kau mau membawa sedikit masakannya? Akan aku bungkuskan. Terima kasih karena sudah mau datang kemari ya Ndri, kau menghiburku sekali."

Mona pergi meninggalkan Andri di sana, dia akan membungkus sedikit makanan untuk lelaki itu. Mertuanya juga mungkin bisa mencicipi sedikit masakan buatannya, walau tidak terlalu enak.

Kepala wanita itu mulai pusing, mungkin karena efek kesedihan yang selalu dia tahan. Mona adalah wanita yang sangat kuat, dia bisa melewati semuanya sendirian tanpa didampingi seorang suami. Orang yang seharusnya selalu ada di saat dia membutuhkan sebuah pelukan.

Dengan sebuah senyuman terpaksa, Mona membawa keresek di tangan kanannya. Andri pun sudah bersiap-siap disana dengan jaket yang dia gunakan. Mungkin lebih baik jika dia cepat pulang, dari pada terlibat gairah yang akan membuatnya celaka.

"Ini bawa pulang, berikan juga pada ibu mertua. Terima kasih sudah mengajakmu pergi ya Ndri, semoga saja kapan-kapan kita bisa bermain lagi."

Andri mengambil kantong keresek itu, kemudian tersenyum manis padanya. Semoga yang dia lakukan hari ini benar-benar menyenangkan, mereka bisa pergi bersama dan menikmati waktu berdua. Walaupun ini bukan sebuah kencan, setidaknya bisa membuat hati keduanya merasa bahagia.

"Kakak terlalu banyak mengucapkan terima kasih, lagi pula itu hanya sebuah jalan-jalan. Oh iya, jika Kakak mau, besok main saja ke rumah. Dari pada terus disini sendirian," ucap Andri.

"Iya boleh juga Ndri, besok tolong jemput Kakak ya," ucap Mona antusias.

"Baik, kalau begitu aku pulang ya Kak. Sampai jumpa besok!"

Sekarang lelaki itu sudah pergi meninggalkan rumah ini. Sedangkan Mona bersiap untuk tidur, dia akan bermimpi indah malam ini. Dengan semua hal manis yang dia lewati dari pagi hingga malam.

Drasss

Hujan turun membasahi langit malam, membuat suasana terasa semakin sepi. Andri menatap jendela kamarnya yang mengembun. Air hujan dan suhu udara yang dingin, membuat jendela kaca di sekitar kamar dipenuhi uap uap air. Seketika pikirannya pun melayang, memikirkan betapa hangatnya pelukan yang Andri lakukan pada kakak iparnya tadi. Entah sejak kapan, pikiran lelaki itu menjadi sangat mesum. Mungkin karena sebelumnya dia belum pernah bersentuhan dengan lawan jenis, kecuali Mona.

"Jika saja aku sedang berada dirumahnya sekarang. Jika saja wanita itu adalah istriku, mungkin aku akan sangat bahagia. Bodoh sekali, karena Raka menyia-nyiakan wanita secantik kak Mona. Apa yang kurang pada diri wanita itu? Dia sudah sangat sempurna hanya dengan tubuh dan wajah yang seperti itu. Andri kau sudah gila! Bagaimana mungkin dirimu menginginkan kakak iparmu sendiri? Kau bisa sangat berdosa jika sampai merebutnya dari kakakmu!"

Andri mengusap wajahnya, dia tidak boleh serakah tentang wanita. Apalagi jika wanita yang dia inginkan itu adalah milik kakaknya sendiri, Raka. Sampai kapanpun, Mona tidak akan pernah mungkin berpaling padanya.

Kedua mata lelaki itupun akhirnya terpejam, dia akan memiliki Mona di alam mimpi saja. Karena di dunia nyata, wanita itu adalah milik kakaknya.

Sementara itu dilain tempat, Mona sedang asyik memandangi foto pernikahannya dengan Raka. Di sana terdapat foto keluarga, yang ada Andri di dalamnya. Entah bagaimana bisa wanita itu malah mengelus wajah sang adik ipar di sana, bukan membayangkan suaminya.

Pelukan yang Andri lakukan, benar-benar sudah mengubah sesuatu. Dia menjadi begitu ambisius tentang apa yang dirasakannya. Mona menginginkannya lagi, sebuah pelukan di malam yang dingin ini.

"Mona tidurlah! Kau tidak boleh membayangkan hal yang tidak-tidak. Kesepian memang bisa membuat seseorang menjadi gila, tapi tidak denganmu! Andri adalah seorang adik ipar, dan dia tidak mungkin memberikan kehangatannya padamu! Eh atau mungkin bisa jika aku menggodanya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Saudara Ipar   Perjuangan Terakhir Mona

    Hari itu langit mendung, seakan tahu bahwa hari itu akan jadi akhir dari segalanya. Ruang sidang terasa sesak. Setiap kata dari hakim terdengar seperti hantaman palu di dada Mona."Hak asuh anak jatuh kepada pihak suami, Raka Wijaya, mengingat tergugat terbukti berselingkuh dan dinilai tidak stabil secara emosional." Kata-kata itu menamparnya keras. Tubuh Mona bergetar. Matanya berair, tapi dia berusaha menahan diri agar tidak terlihat rapuh. Di seberang meja, Raka menunduk. Tatapannya dingin, tapi di baliknya ada luka yang sama dalamnya. Di barisan belakang, Andri duduk dengan wajah pucat. Baru beberapa minggu dia bebas dari tahanan, namun luka batinnya jauh lebih dalam dari tembok penjara mana pun. Ketika palu sidang diketuk terakhir kali, Mona merasa seluruh dunianya runtuh. Anaknya, satu-satunya alasan dia bertahan hidup akan diambil darinya."Aku tidak akan membiarkan anakku diambil... tidak akan." Setelah kehilangan semua kebahagiaan dalam hidupnya. Mona bertekad, jika dia

  • Gairah Saudara Ipar   Sisa Nafas Seorang Ibu

    Hujan pagi itu masih turun lembut, seolah langit ikut berduka bersama seorang perempuan yang berjalan dengan langkah gontai di bawah payung kecil yang sudah sobek di ujungnya. Tubuh Mona masih lemah, bekas operasi di perutnya kadang terasa nyeri setiap kali ia menarik napas terlalu dalam. Namun, rasa sakit itu tak seberapa dibanding perih yang terus mencabik jiwanya. Matanya sembab, wajahnya pucat, dan langkahnya seperti tak lagi tahu arah. Tapi ada satu tujuan yang tertanam di pikirannya, Andri. Satu-satunya orang yang mungkin masih bisa mengerti, satu-satunya yang dulu pernah memperjuangkannya, meski dengan cara yang salah. Di kantor polisi, udara terasa pengap. Ruangan itu berbau lembap dan sedikit amis, sisa dari malam sebelumnya yang diguyur hujan. Seorang petugas menatap Mona yang berdiri di depan meja, mencoba menenangkan dirinya sebelum berbicara."Permisi… saya ingin menemui Andri Wijaya," suaranya lirih, hampir tenggelam oleh suara hujan di luar. Petugas itu sempat mena

  • Gairah Saudara Ipar   Kita Bercerai

    Suasana rumah malam itu mencekam. Hujan turun pelan, mengguyur halaman besar kediaman Raka. Petir menyambar di kejauhan, menimbulkan pantulan cahaya di kaca besar ruang tengah. Mona berdiri di sana, menggendong bayinya dengan erat seolah takut kehilangan. Wajahnya pucat, matanya sembab karena menangis sejak diseret paksa oleh suaminya. Dari arah pintu, suara langkah kaki berat terdengar. Raka baru pulang dari kantor polisi, wajahnya dingin dan lelah, namun sorot matanya begitu tajam menatap Mona dan bayi yang berada di pelukannya. Di belakangnya, Kania berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatap menantunya dengan ekspresi penuh penghakiman."Raka," ucap Mona pelan, suaranya serak. "Kenapa kau membawaku lagi ke sini?" Raka tidak menjawab. Dia hanya berjalan mendekat, menatap bayi mungil itu lama, lalu mengulurkan tangan. "Berikan anak itu padaku." Mona segera mundur satu langkah, memeluk bayinya lebih erat lagi. "Tidak, jangan! Dia butuh aku. Aku ibunya, Raka!""Mona…" nada su

  • Gairah Saudara Ipar   Malam Penangkapan Andri

    Hujan turun semakin deras. Langit seperti meratap bersama mereka. Petir menyambar di kejauhan, menyinari ladang kosong yang kini menjadi saksi pelarian dua orang berdosa Andri dan Mona. Andri menyalakan mesin mobilnya dengan terburu-buru, tangannya bergetar saat mencoba menyalakan wiper yang tak mau bekerja sempurna. Mona duduk di kursi belakang, memeluk bayinya erat-erat dengan kain selimut tebal. Bayinya merengek kecil, mungkin karena udara dingin yang menusuk tulang."Andri, jangan terlalu cepat," pinta Mona dengan napas terengah. "Kita harus hati-hati. Bayinya-" "Aku tahu," potong Andri cepat, matanya tajam menatap jalan gelap di depan. "Tapi kalau kita tidak segera keluar dari sini, mereka akan menemukan kita." Namun belum sempat dia melangkah jauh, cahaya lampu menembus kegelapan dari arah berlawanan. Satu mobil, dua, tiga hingga akhirnya lebih dari lima kendaraan berhenti di sekitar mereka. Sorotan lampu menembus kaca depan mobil mereka, membuat mata Andri silau. Lalu suara

  • Gairah Saudara Ipar   Pengejaran

    Angin malam berhembus tajam, menusuk kulit. Di dalam mobil yang melaju kencang di jalan luar kota, Mona duduk di kursi belakang sambil mendekap bayinya erat-erat. Wajahnya pucat, matanya sembab karena tangis yang tak henti sejak mereka meninggalkan rumah sakit. Bayinya tidur tenang di pelukannya, tak tahu badai besar yang kini tengah mengancam. Andri, di balik kemudi, menatap jalanan dengan fokus penuh. Tangan kirinya menggenggam setir, sementara tangan kanannya sesekali mengecek kaca spion, memastikan tidak ada mobil yang mengikuti mereka. Wajahnya tegang, rahang terkunci rapat. "Pegang bayinya baik-baik, Mona. Kita hampir sampai," ucapnya pelan, suaranya bergetar tapi berusaha tenang. Mona menatapnya melalui pantulan kaca depan. "Andri… apa yang kita lakukan ini benar?" Matanya memohon, seolah berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk. Andri menarik napas panjang. "Aku tidak tahu apa yang benar, Mona. Tapi aku tahu satu hal, aku tidak akan membiarkan mereka mengam

  • Gairah Saudara Ipar   Pelarian Mona Dan Andri

    Suasana rumah sakit malam itu terasa ganjil, terlalu tenang untuk hati yang sedang bergejolak. Lampu-lampu lorong berpendar lembut, menciptakan bayangan panjang di dinding putih yang dingin. Aroma antiseptik menyeruak kuat di udara, bercampur dengan hawa tegang yang menggelayuti setiap langkah dua orang yang baru saja tiba di sana. Raka berjalan cepat di samping Kania, wajahnya keras dan rahangnya mengatup rapat. Dia tidak bisa tdour nyenyak sejak dua hari terakhir, dan malam ini, dia datang dengan satu keputusan pasti. Mengakhiri segalanya. Kania di sampingnya menatap lurus ke depan, tatapannya tegas, penuh amarah yang sudah dipendam terlalu lama."Setelah ini, tidak ada lagi keraguan," kata Kania dingin, suaranya pelan tapi menusuk. "Kau akan menceraikannya, Raka. Itu keputusan yang paling benar." Raka tidak menjawab. Tangannya terkepal. Hatinya sudah terlalu hancur untuk bisa membantah.Langkah mereka semakin cepat, mendekati ruangan tempat Mona dan bayi itu dirawat. Raka menah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status