Beranda / Urban / Gairah Sopir dan Majikan / Bab 148 Penjaga Di Balik Bayangan

Share

Bab 148 Penjaga Di Balik Bayangan

Penulis: Irbapiko
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-12 08:00:13

Pagi itu, suasana di kantor pusat Sonya Fast tampak tenang, namun bagi Arya, setiap dering telepon terasa seperti detak bom waktu yang siap meledak. Setelah kejadian sabotase di gudang tempo hari, ia menyadari bahwa ancaman terhadap perusahaan tidak hanya datang dari satu arah. Ia duduk di ruang kerjanya yang luas, menatap layar monitor yang menampilkan grafik operasional, mencoba mencari celah yang mungkin masih terbuka.

Di tengah keheningan itu, ponsel cadangan yang

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 171 Persinggahan Panas di Jantung Kota

    Kereta api Taksaka Malam yang mereka tumpangi perlahan merapat di peron Stasiun Gambir saat fajar menyingsing. Udara Jakarta yang lembap langsung menyambut mereka begitu turun dari gerbang eksekutif. Sepanjang perjalanan tujuh jam dari Yogyakarta, Jessy hampir tidak bisa tidur nyenyak. Bukan karena kursi kereta yang tidak nyaman, melainkan karena getaran halus yang ia rasakan setiap kali tangan Brian meremas jemarinya atau saat napas Brian menyentuh lehernya di kegelapan gerbang.Cincin di jari manis Jessy seolah menjadi pemantik api yang kini berkobar hebat di dalam dadanya. Trauma masa lalu itu benar-benar telah terkubur, digantikan oleh gairah yang menuntut untuk segera diluapkan."Mas," bisik Jessy saat mereka sedang berjalan menuju pintu keluar stasiun."Iya, Sayang? Kita langsung pesan taksi ke Kemang?" tanya Brian sambil menjinjing dua koper besar.Jessy menarik lengan Brian, menghentikan langkah pria itu di sudut yang agak sepi. Matanya m

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 170 Semesta di Parangtritis

    Pagi di Bantul disambut dengan kokok ayam jantan yang bersahutan dan aroma kayu bakar yang khas dari dapur Bu Rahmi. Jessy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar. Tidak ada lagi sesak di dada atau waspada yang berlebihan saat mendengar suara pintu terbuka. Di sini, di rumah limasan milik keluarga Brian, ia merasa benar-benar terlindungi oleh alam dan kesederhanaan.Setelah sarapan nasi pecel dan tempe mendoan hangat, Brian sudah siap dengan motor tua namun terawat milik adiknya. Ia mengenakan kaos putih polos yang mencetak jelas otot-otot dadanya yang bidang, kontras dengan kulitnya yang sawo matang terbakar matahari Jogja."Siap jalan-jalan, Tuan Putri? Hari ini rutenya agak jauh, kita mau ke selatan," goda Brian sambil memakaikan helm ke kepala Jessy."Siap, Mas! Tapi beneran ya, jangan ngebut-ngebut. Aku mau nikmatin pemandangan sawahnya," sahut Jessy sambil memeluk pinggang Brian erat saat motor mulai melaju membelah jalanan desa yang asri menuju ke

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 169 Kereta Senja Menuju Jogja

    Pagi itu, Stasiun Gambir masih diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam. Suasana riuh rendah calon penumpang yang berlalu-lalang membawa koper tidak sedikit pun mengusik ketenangan di sudut ruang tunggu eksekutif. Brian berdiri dengan sigap, mengenakan jaket denim dan celana jins gelap, sementara tangannya tidak sedetik pun melepas genggaman dari tangan Jessy.Jessy tampak cantik dengan gaya kasual; sweter rajut berwarna krem dan celana kulot hitam. Wajahnya yang dulu sering terlihat murung kini memancarkan binar yang berbeda. Ada rasa gugup yang manis karena hari ini adalah hari pertamanya menempuh perjalanan jauh sebagai calon istri Brian."Mas, koperku sudah masuk semua kan? Jangan sampai ada yang ketinggalan, apalagi oleh-oleh buat Bapak sama Ibumu di Jogja," tanya Jessy sambil mengecek kembali tas jinjingnya.Brian terkekeh, suaranya yang berat menenangkan kegelisahan Jessy. "Sudah aman semua di bagasi mobil tadi sebelum dipindah ke kereta, Sayang. Bakpia

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 168 Kejutan di Rumah Kemang

    Lampu-lampu di halaman rumah Kemang sudah menyala terang saat mobil Brian memasuki gerbang. Suasana malam itu terasa jauh lebih sejuk bagi Jessy dan Brian. Di dalam mobil, tangan mereka saling bertautan erat, sebuah janji bisu yang baru saja mereka meterai di rumah Ampera masih terasa hangat di ingatan. Jessy berkali-kali merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mencoba menyembunyikan rona merah yang masih tersisa di pipinya setelah sesi percintaan yang luar biasa tadi."Kamu siap, Jess?" tanya Brian lembut saat mesin mobil dimatikan.Jessy menarik napas panjang, menatap Brian dengan penuh keyakinan. "Siap, Mas. Apapun reaksinya nanti, aku nggak akan berubah pikiran."***Mereka melangkah masuk ke ruang tengah. Di sana, Pak Baskoro, Sonya, dan Arya sedang duduk melingkar sambil menikmati buah potong. Televisi menyala pelan, namun perhatian mereka langsung tersita saat melihat kedatangan Jessy dan Brian yang pulang dengan aura yang sangat berbeda&mdash

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 167 Puncak Penyatuan dan Janji Suci

    Suasana di kamar utama rumah Ampera itu telah mencapai titik didih yang paling maksimal. Suara hujan yang tadinya menderu di luar seolah tenggelam oleh suara aktivitas yang terjadi di atas ranjang besar tersebut. Jessy masih dalam posisi menungging, membelakangi Brian, memperlihatkan lengkungan punggung yang indah dan pantat yang putih kenyal tepat di depan mata Brian. Brian, dengan napas yang memburu dan keringat yang mengucur deras di dahi serta dada bidangnya, memegang pinggul Jessy dengan mantap.Tanpa menunggu lebih lama, Brian kembali menghujamkan torpedonya yang besar dan panjang ke dalam liang syurgawi Jessy dari arah belakang."OHHH! MASSS! DALEM BANGET!" teriak Jessy, wajahnya terbenam sebentar di bantal sebelum ia mendongak dengan mata terpejam rapat.Brian mulai menggenjot dengan irama yang beringas. Setiap genjotannya masuk hingga mencapai pangkal, menciptakan suara benturan kulit yang khas—plok... plok... plok...—yang menggema

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 166 Pembuktian Cinta di Atas Ranjang

    Suara gerimis di luar rumah Ampera semakin menderu, menciptakan simfoni alam yang seolah menutup dunia luar dari apa yang terjadi di dalam kamar utama itu. Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan rona keemasan pada kulit mereka yang bersentuhan. Brian kini berada di posisi yang sangat menentukan, bertumpu pada kedua tangannya di sisi kepala Jessy, menatap tajam ke dalam manik mata wanita cantik itu yang sudah sayu, berkabut oleh gairah yang sudah meluap-luap."Mas... tolong, sekarang..." bisik Jessy, suaranya hampir hilang, tercekik oleh rasa ingin yang luar biasa.Brian menatap Jessy dengan cinta yang mendalam, namun ada sedikit kilat kenakalan di matanya. Meski tangannya agak gemetar karena menahan beban birahinya sendiri, ia tidak langsung menuruti permintaan Jessy. Ia memegang pinggul Jessy yang sintal, menariknya sedikit lebih dekat, lalu perlahan ia hanya menggesek-gesekkan kepala torpedonya yang besar dan panas itu ke bibir lubang kenikmatan Jessy yang sudah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status