Home / Urban / Gairah Sopir dan Majikan / Bab 180 Gemerlap Syukur di Rumah Kemang

Share

Bab 180 Gemerlap Syukur di Rumah Kemang

Author: Irbapiko
last update Last Updated: 2026-02-20 08:00:07

Rumah besar di kawasan Kemang itu tidak pernah terasa sehidup ini. Sejak kepulangan Sonya dan bayi Anya Baswira dari rumah sakit tiga hari yang lalu, suasana sunyi yang biasanya menyelimuti lorong-lorong rumah seketika sirna, digantikan oleh suara tangis bayi yang merdu dan langkah kaki yang terburu-buru namun penuh semangat. Pagi ini, persiapan untuk acara syukuran dan aqiqah sederhana sedang berlangsung. Meskipun hanya mengundang keluarga inti dan kerabat sangat dekat, Pak Baskoro ingin sem

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 183 Akhir Pelabuhan Dewata

    Pagi terakhir di Uluwatu disambut dengan suara deburan ombak yang lebih tenang, seolah alam Bali ikut merasakan keharuan karena pasangan ini harus segera kembali ke realita ibu kota. Brian terbangun lebih awal, ia berdiri di balkon villa hanya dengan mengenakan celana pendek, membiarkan angin laut menyapu dada bidangnya yang kini terlihat lebih kecokelatan karena paparan sinar matahari selama di Nusa Penida.Di atas ranjang, Jessy mulai menggeliat. Ia merasakan kekosongan di sampingnya dan perlahan membuka mata. Senyumnya langsung terkembang melihat siluet suaminya yang gagah berdiri membelakangi cahaya matahari pagi."Mas... sudah bangun dari tadi?" tanya Jessy dengan suara serak, ia duduk sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.Brian menoleh, lalu berjalan mendekat dan duduk di tepi kasur. Ia mengusap pipi Jessy dengan lembut. "Sudah, Sayang. Lagi mikir, rasanya baru kemarin kita sampai, eh nanti sore sudah harus ke bandara lagi. Cepat banget ya kal

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 182 Biru Nusa Penida dan Harapan Baru

    Matahari Bali baru saja mengintip dari ufuk timur ketika Brian sudah sibuk menyiapkan tas perlengkapan untuk perjalanan mereka hari ini. Di atas ranjang besar yang sprei sutranya masih tampak berantakan sisa pergulatan panas semalam, Jessy menggeliat malas. Ia menarik selimut hingga ke dagu, matanya masih terasa berat namun bibirnya menyunggingkan senyum simpul saat melihat punggung tegap suaminya yang sedang memilah tabir surya."Mas... jam berapa sih ini? Kok sudah grasak-grusuk saja?" gumam Jessy dengan suara serak khas bangun tidur.Brian menoleh, ia menghampiri ranjang dan mengecup kening Jessy dengan lembut. "Sudah jam tujuh, Sayang. Kapal pesiar kecil yang aku sewa sudah siap di dermaga Sanur jam sembilan nanti. Kita harus berangkat sekarang kalau nggak mau kejebak macet di jalan. Ayo bangun, Istriku yang cantik."Jessy menarik tangan Brian, membuatnya terduduk di tepi kasur. "Badanku pegel semua, Mas. Kamu semalam bener-bener nggak kasih ampun ya. Kayakn

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 181 Cakrawala Cinta di Pulau Dewata

    Pagi itu, Bandara I Gusti Ngurah Rai disambut dengan langit biru bersih tanpa awan. Aroma dupa dan semilir angin laut yang khas langsung menyapa Brian dan Jessy saat mereka melangkah keluar dari pintu kedatangan domestik. Satu minggu setelah acara aqiqah Anya Baswira di Jakarta, akhirnya pasangan pengantin baru ini bisa benar-benar melepaskan diri dari segala hiruk-pikuk ibu kota.Brian tampak santai dengan kemeja linen putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya yang kecokelatan. Sementara Jessy terlihat sangat segar dengan sundress berwarna kuning cerah dan topi pantai lebar. Wajahnya yang dulu sering murung kini memancarkan aura kebahagiaan yang begitu nyata."Mas, akhirnya kita sampai juga!" seru Jessy sambil menghirup udara Bali dalam-dalam. "Rasanya beban di pundakku langsung hilang pas liat patung Satria Gatotkaca di depan tadi."Brian merangkul pinggang istrinya erat, menariknya mendekat. "Ini baru bandara

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 180 Gemerlap Syukur di Rumah Kemang

    Rumah besar di kawasan Kemang itu tidak pernah terasa sehidup ini. Sejak kepulangan Sonya dan bayi Anya Baswira dari rumah sakit tiga hari yang lalu, suasana sunyi yang biasanya menyelimuti lorong-lorong rumah seketika sirna, digantikan oleh suara tangis bayi yang merdu dan langkah kaki yang terburu-buru namun penuh semangat. Pagi ini, persiapan untuk acara syukuran dan aqiqah sederhana sedang berlangsung. Meskipun hanya mengundang keluarga inti dan kerabat sangat dekat, Pak Baskoro ingin semuanya tampak sempurna sebagai bentuk syukur atas keselamatan Sonya dan lahirnya sang cucu pemersatu.Di ruang tengah, Brian tampak sibuk membantu Pak Dirman menata kursi-kursi tambahan. Meskipun statusnya kini adalah menantu bangsawan bisnis, Brian tidak pernah canggung untuk turun tangan langsung dalam urusan teknis, sebuah kebiasaan yang terbawa dari masa-masa sulitnya di Jogja."Den Brian, sudah... biar saya saja yang angkat mejanya. Den Brian kan hari ini tuan rumah juga," cega

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 179 Fajar Baru di RS Bersalin

    Lorong rumah sakit bersalin kelas VIP itu terasa sangat sunyi, hanya deru pendingin udara yang terdengar stabil di antara detak jantung orang-orang yang menunggu dengan cemas. Jam dinding menunjukkan pukul 04.15 dini hari. Cahaya lampu lorong yang putih pucat memantul di lantai marmer yang mengilap. Pak Baskoro masih duduk di kursi tunggu, punggungnya tegak namun kedua tangannya yang saling bertaut memperlihatkan kegelisahan yang mendalam.Di sampingnya, Jessy menyandarkan kepala di bahu Brian. Brian sendiri terus mengelus punggung tangan istrinya, memberikan kehangatan di tengah udara dingin rumah sakit. Mereka sudah berada di sana selama hampir enam jam sejak air ketuban Sonya pecah di rumah Kemang tadi sore."Mas... sudah lama ya di dalam? Apa nggak ada kabar dari dokter?" bisik Jessy, suaranya parau karena kelelahan dan rasa khawatir.Brian mengecup pucuk kepala Jessy. "Sabar, Sayang. Melahirkan anak pertama memang biasanya butuh waktu lebih lama. Mas Arya a

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 178 Semburat Pagi di Kemang

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar utama di rumah Kemang, menciptakan garis-garis emas di atas sprei sutra yang masih sedikit berantakan. Ini adalah minggu pertama setelah acara pernikahan besar itu usai. Jessy menggeliat pelan di balik selimut tebal, merasakan lengan kekar Brian masih melingkar protektif di pinggangnya. Aroma maskulin suaminya bercampur dengan wangi sisa perawatan tubuhnya semalam menciptakan rasa nyaman yang membuat Jessy enggan beranjak."Mas... sudah bangun?" bisik Jessy sambil memutar tubuhnya menghadap Brian.Brian membuka matanya perlahan, sebuah senyuman langsung terkembang. Ia mengecup kening Jessy dengan lembut. "Sudah dari tadi, Sayang. Cuma lagi betah saja lihat wajah tidurmu. Ternyata bener ya kata orang, punya istri itu bikin males berangkat kerja."Jessy tertawa kecil, ia menyentuh rahang Brian yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. "Gombal. Inget lho, Mas sudah janji hari ini mau ajak aku ke kantor yayasan. Aku pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status