LOGINPagi di Yogyakarta terasa jauh lebih emosional saat Brian dan Jessy bersiap untuk kembali ke Jakarta. Berita kehamilan Jessy yang dikonfirmasi di Puskesmas desa kemarin seolah mengubah atmosfer di rumah Pak Tejo menjadi penuh dengan kehati-hatian yang luar biasa. Brian, yang biasanya tenang dan praktis, mendadak berubah menjadi pria yang sangat waspada. Ia bahkan tidak membiarkan Jessy mengangkat tas kecilnya sendiri.
"Mas, ini cuma isi alat mandi sama baju ganti satu stel. Aku bisa ba
"Mas... ahh, jangan berhenti... terusss, Mas!"Desahan Sonya pecah di antara keheningan kamar utama Rumah Kemang, beradu dengan suara deru AC yang seolah tak mampu mendinginkan suhu tubuh mereka yang kian memuncak. Arya tidak menyahut dengan kata-kata; ia hanya merespons dengan dorongan yang lebih dalam, lebih bertenaga. Keringat bercucuran dari keningnya, menetes jatuh ke dada Sonya yang membusung, menciptakan kilap gairah di bawah temaram lampu tidur yang sengaja diredupkan. Arya sempat terhenti sejenak, menatap bayangan sebuah vas bunga di sudut ruangan yang tampak ganjil terkena cahaya—sebuah distraksi psikologis yang muncul akibat saraf yang terlalu tegang—sebelum akhirnya ia kembali memacu gerakannya, menenggelamkan diri dalam kehangatan liang intim istrinya yang menjepitnya dengan begitu nikmat."Kamuuu... kamu milikku, Nya. Cuma milikkuuu," bisik Arya parau, suaranya berat oleh gairah yang meluap.Sonya tidak menjawab, ia hanya menjerit kecil
"Mas... Anya sudah lelap?"Suara Sonya nyaris berupa bisikan yang tertelan oleh tebalnya pintu jati kamar mereka. Di luar sana, lorong lantai atas rumah Kemang itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan dengung halus dari mesin pendingin ruangan. Babysitter baru saja membawa Anya ke kamar sebelah setelah sesi dongeng singkat yang berakhir dengan dengkur halus sang balita. Arya tidak segera menyahut. Ia justru memutar kunci pintu dengan gerakan perlahan, bunyi klik logam yang beradu terasa begitu final, memutus koneksi mereka dengan dunia luar. Ia sempat terhenti sejenak, menatap bayangan lampu taman yang menembus celah gorden—sebuah distraksi psikologis yang tak relevan—memikirkan apakah Pak Dirman sudah mengunci garasi bawah, sebelum akhirnya seluruh fokusnya tersedot pada sosok wanita di depannya.Sonya berdiri mematung di tepi ranjang. Ia masih mengenakan gaun terusan hitam sisa acara kantor tadi siang. Bahunya tampak layu, dan dalam tem
Gelas berisi kopi hitam di meja kerja jati itu sudah tidak lagi mengeluarkan uap, menyisakan noda melingkar yang mengering di atas tumpukan berkas laporan keuangan. Arya menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran mendiang mertuanya, menatap keluar jendela kaca besar yang menghadap langsung ke riuhnya jalanan Kemang. Ia sempat terhenti sejenak, meraba sandaran tangan kursi yang kulitnya terasa dingin—sebuah pengingat bahwa sosok Macan yang biasanya duduk di sini kini telah beristirahat di bawah tanah merah. Distraksi itu pecah saat pintu jati ruang kerja terbuka dengan dentuman pelan."Mas Arya, pengacara dari pihak Sita sudah di depan. Mereka bawa surat dari pengadilan," suara Sonya terdengar datar, namun Arya bisa melihat jemari istrinya yang gemetar saat memegang gagang pintu.Arya bangkit, melangkah menghampiri Sonya. Ia tidak langsung menjawab, melainkan merengkuh bahu istrinya, memberikan remasan pelan yang sarat akan dukungan. "Tenang, Nya. Mereka cuma mau
"Pompa lagi! Jangan sampai lepas!"Suara dokter bedah itu terdengar seperti guntur di telinga Cindy yang masih menempel di kaca ruang operasi. Di balik sana, pemandangan itu terasa seperti film bisu yang mengerikan. Tubuh Slamet melenting, jatuh, lalu diam. Garis di monitor itu masih lurus, mengeluarkan bunyi denging panjang yang seolah sedang menghitung mundur sisa napas terakhir sang supir pangkalan. Cindy sempat terhenti sejenak, menatap bayangan dirinya sendiri di kaca yang buram oleh uap napasnya, menyadari betapa hancur penampilannya—kerudung yang miring dan mata yang bengkak—sebelum akhirnya kesadarannya ditarik kembali oleh hentakan alat pacu jantung untuk yang kelima kalinya."Mas Slamet... nggih, Mas... bangun..." gumam Cindy, suaranya kini hanya berupa bisikan kering.Tiba-tiba, bunyi beeeeep yang panjang itu terputus. Garis lurus itu bergejolak, membentuk satu bukit kecil, lalu satu lagi. Lemah, sangat lemah, tapi itu adalah tand
"Den Arya! Layar ponselnya! Jangan sampai Cindy lihat!"Suara Brian memecah keheningan koridor rumah sakit, nyaris menyerupai desisan ular yang terdesak. Arya tersentak, tangannya yang masih memegang botol air mineral yang sudah tidak dingin lagi mendadak kaku. Ia sempat terhenti sejenak, menatap butiran embun yang merayap turun di dinding kaca ruang tunggu—sebuah distraksi psikologis yang tak relevan di tengah badai—sebelum matanya menangkap notifikasi video yang masuk serentak ke puluhan grup WhatsApp supir pangkalan."B-b-bajingan... mereka beneran sebarin itu sekarang?" Arya bergumam, suaranya parau, nyaris habis tertelan kegelisahan.Ia segera melangkah, nyaris berlari menuju Cindy yang masih terisak di lantai, mendekap koin seribu rupiah berdarah milik Slamet. Cindy tidak sadar bahwa ponselnya yang tergeletak di atas ubin putih dingin itu baru saja menyala, menampilkan cuplikan video hitam putih dengan kualitas rendah namun cukup jelas untuk me
"Mas, bangun! Jangan tinggalin aku di sini, Mas!"Jeritan Cindy membelah kesunyian area pemakaman yang baru saja ditinggalkan sebagian besar pelayat. Suaranya serak, pecah di udara yang lembap oleh sisa gerimis. Di depannya, tubuh Slamet melenting setiap kali kejut jantung dari alat defibrilator itu dihantamkan ke dadanya. Bunyi desis listrik berpadu dengan isak tangis yang tertahan dari Brian yang berdiri mematung. Slamet sempat terhenti dalam ketidaksadarannya—sebuah kilas balik tentang rasa permen karet yang ia kunyah saat pertama kali menginjakkan kaki di Marunda tiba-tiba melintas begitu saja—sebelum rasa sakit yang luar biasa kembali menyentak kesadarannya."Ritme jantung kembali! Cepat, dorong ke IGD Medistra!" teriak salah satu perawat.Ambulans itu menderu menjauh, meninggalkan jejak ban di atas rumput makam yang becek. Di belakangnya, pusara Pak Baskoro sudah tertutup tanah merah sempurna, menyisakan tumpukan bunga melati dan mawar yang mul
Dalam ruang rapat yang tenang, Bu Sonya duduk di ujung meja dengan pandangan serius. Cindy, Jodi, dan Arya duduk mengelilingi meja rapat. Ruangan itu penuh dengan kekhawatiran namun juga tekad untuk melawan rencana jahat yang telah terungkap."Dengan informasi yang telah Arya berikan, kita memiliki
Hari itu di sebuah kafe, Pak Jaka dan Pak Hadi duduk di sebuah meja, menunggu dua orang lainnya yang belum datang. Suasana yang tegang terasa di udara, seolah-olah ada sesuatu yang besar akan terjadi.Tak lama kemudian, dua sosok yang dikenal oleh Pak Jaka dan Pak Hadi datang menghampiri m
Ditengah kekalutan Sita dalam menghadapi masalah rumah tangganya dengan bertemu Arya, ia seolah merasa menemukan kembali kehangatan dan kepedulian seorang laki-laki. Sita pun nampak sepenuh hati mencium dan memeluk tubuh Arya yang kini ada di bawahnya di kasur itu. Jantung Arya pun mulai berdegup
Jodi pun melumat bibir seksi milik Cindy yang sebenarnya sedari tadi juga sudah ingin bermesraan dengan Jodi. Ini karena besok mereka sudah harus kerja kembali sehingga mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan.“Cuppp...cuppp..mphhh...mmmuachh!” bunyi kecupan dua bibir yang bertemu di kamar res







