LOGINLampu kristal di ruang tengah rumah Kemang sudah diredupkan, menyisakan pendar kuning keemasan yang memantul di atas lantai marmer yang dingin. Sonya menyandarkan punggungnya di pintu kayu jati kamar utama yang baru saja ia kunci rapat. Nafasnya masih sedikit memburu, bukan karena lelah, tapi karena sisa adrenalin dari ketegangan interogasi Mbak Tini yang baru saja usai. Di luar, suara hujan yang tadinya menderu kini berubah menjadi rintik halus, menciptakan melodi statis yang justru memperte
"Met, cepet! Jangan sampe ketauan satpam komplek kalau kita bongkar-bongkar malem begini!"Suara Arya terdengar tertahan, nyaris menyerupai desisan di tengah keheningan ruang kerja Rumah Kemang. Slamet tidak menyahut; ia sibuk mengatur napasnya yang menderu pelan. Jemarinya yang kasar menyentuh permukaan meja jati besar milik mendiang Pak Baskoro, merasakan dinginnya kayu yang seolah membawa hawa dari masa lalu. Ia sempat terhenti sejenak, menatap debu yang menari-nari di sorot lampu senter ponselnya, sementara hatinya masih terasa remuk mengingat bunyi datar mesin EKG di rumah sakit tadi. Ada distraksi psikologis yang aneh; Slamet mendadak merasa gatal di ujung hidungnya, namun ia mengabaikannya demi fokus pada laci meja yang terkunci rapat."Sabar, Den. Kuncinya pasti ada di sekitar sini," bisik Slamet. Ia merogoh laci paling bawah, tangannya gemetar hebat hingga terdengar bunyi gesekan kayu yang nyaring di ruangan sunyi itu."Gue nggak tenang, Met. Bayangin k
"Mas Arya, Slamet... masuk sekarang, Bapak sudah nunggu."Suara Tante Lina yang bergetar di depan pintu ICU itu nyaris tenggelam oleh desis mesin ventilator, tapi bagi Slamet, kalimat itu seperti lonceng yang memanggilnya ke tepi jurang. Ia sempat terhenti sejenak, menatap ubin putih rumah sakit yang memantulkan cahaya neon dengan dingin, sebelum akhirnya memberanikan diri melangkah masuk ke dalam ruangan yang pengap oleh bau obat dan maut yang mengintai. Slamet meraba saku celananya, mencari koin keberuntungannya yang tadi ia putar-putar dengan gelisah, namun jemarinya justru menemukan lipatan sapu tangan yang sudah basah oleh keringat dingin."Bapak... ini Slamet, Pak," bisik Slamet, ia mendekat ke sisi ranjang yang dipenuhi kabel-kabel monitor yang berkedip tanpa henti.Pak Baskoro terbaring sangat lemah. Masker oksigen menutupi sebagian wajahnya yang kuyu, namun matanya terbuka sedikit—redup, namun tetap memiliki sisa-sisa wibawa Macan Kemang yang dulu
“Mas, koper yang isi oleh-oleh bakpia sudah masuk bagasi taksi, kan?"Cindy bertanya sembari merapikan anak rambutnya yang berantakan terkena angin pagi bandara YIA yang kencang. Slamet hanya mengangguk pelan, jemarinya masih sibuk memainkan kunci motor yang ia simpan di saku jaket—sebuah distraksi kecil yang selalu ia lakukan saat merasa gelisah. Ia sempat terhenti sejenak, menatap aspal landasan pacu yang mulai berkilau tertimpa matahari pagi, lalu menghela napas panjang. Ada rasa berat yang menggelayut di pundaknya, seolah-olah meninggalkan Jogja berarti meninggalkan sebagian beban, namun ia tahu Jakarta sudah menyiapkan badai yang lebih besar."Sampun, Cin. Semua sudah aman," jawab Slamet pendek. Ia meraih tangan Cindy, merasakan jemari istrinya yang sedikit dingin. "Kamu capek? Kalau di pesawat nanti mau tidur, tidur aja. Biar Mas yang bangunin pas mendarat.""Nggak tahu, Mas. Rasanya malah nggak bisa merem. Kepikiran Papa terus," Cindy menggigi
"Mas, kancingnya copot satu, ya?"Cindy bergumam pelan sembari jemarinya sibuk mengutak-atik ujung kemeja Slamet. Mereka sedang duduk bersila di atas ambal tipis di sudut kamar hotel, sementara di luar jendela, kerlap-kerlip lampu Yogyakarta tampak seperti butiran permata yang tumpah di atas kain beludru hitam. Slamet sempat terhenti sejenak, menatap bayangan mereka di kaca jendela yang sedikit buram karena embun AC. Ia baru saja hendak menyesap sisa kopi tubruknya yang sudah mendingin dan menyisakan ampas tebal di dasar gelas, namun urung karena perhatian istrinya."Halah, paling gara-gara ditarik preman di Kotagede tadi pagi, Cin," jawab Slamet santai. Ia meletakkan gelasnya, lalu mengusap tengkuknya yang mendadak terasa gatal. "Nggak apa-apa, besok kan kita sudah balik ke Jakarta. Biar nanti aku benerin di rumah Tebet."Cindy mendongak. Matanya yang jernih tampak sedikit sembab, sisa dari tangisnya setelah mendengar pengakuan jujur Pak Broto beberapa jam lalu
"Ngapain kamu bawa map kusam itu ke sini, Met?"Suara Pak Broto terdengar berat, memecah kesunyian ruang kerja yang hanya ditemani detak jam dinding tua bermerek Seiko. Slamet masih berdiri di ambang pintu, jari-jarinya merasakan tekstur kasar map cokelat yang terasa panas di genggamannya. Di luar, suara hujan sisa semalam yang membasahi aspal jalanan Tebet mulai menguap, meninggalkan bau lembap yang khas dan menusuk hidung. Slamet sempat terhenti sejenak, menatap debu-debu yang menari di bawah lampu meja, sementara pikirannya sibuk merangkai kata agar tak salah ucap."Ini... ini titipan dari Jogja, Bapak," jawab Slamet pelan. Ia melangkah maju, meletakkan dokumen itu di atas meja kayu jati yang kokoh.Pak Broto melepas kacamata bacanya. Jemarinya yang mulai keriput tampak gemetar saat menyentuh ujung map tersebut. "Pramono? Kamu sudah ketemu dia?""Sampun, Bapak. Mas Arya dan Mas Brian juga ikut. Masalah Pramono sudah beres, dia nggak bakal ganggu keluar
Gelas kopi plastik di atas meja bundar itu sudah mulai mendingin, meninggalkan lingkaran cokelat lengket di permukaan marmer yang kusam. Slamet mengusap sudut bibirnya yang masih berdenyut nyeri, sisa dari perkelahian di gang Kotagede tadi pagi. Ia menatap kerumunan orang di kawasan Titik Nol Yogyakarta yang mulai memadat; suara musisi jalanan beradu dengan bising knalpot kendaraan, menciptakan hiruk-pikuk yang seolah berusaha menelan kegelisahan di dadanya. Slamet sempat terhenti sejenak, meraba saku jaketnya, memastikan sebuah alat penyadap kecil yang dipasang Brian masih menempel dengan aman di balik lipatan kain."Met, lo yakin dia bakal dateng sendiri?" bisik Brian lewat earpiece yang tersamar. Brian sedang mendekam di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari lokasi, memantau layar laptop dengan jemari yang terus bergerak lincah.Slamet menarik napas panjang, menatap lampu merkuri yang mulai menyala redup. "Wong kemaruk kayak gitu nggak bakal mau bagi has







