Mag-log inSelepas dari mengantar Bu Sonya ke kantornya, Arya pun memacu mobil hitam milik majikannya itu menerobos jalan-jalan di ibu kota.
Namun, karena Arya belum hafal lika-liku di kota besar itu, maka Arya akhirnya memutuskan untuk kembali dulu ke rumah mewah sang majikan.
Sesampainya di rumah mewah itu, mobil pun ia masukkan kembali ke dalam garasi yang di dalamnya juga ada beberapa kendaraan lainnya, seperti ada sejumlah motor gede dan dua mobil mewah lainnya.
“Wahhh ... benar-benar kaya raya ini Bu Sonya!” ucap Arya sambil geleng-geleng kepala melihat sekian banyak kendaraan yang dimiliki sang majikan.
Selesai memarkirkan mobil itu, Arya pun segera bergegas menuju dapur untuk mengambil minum sejenak.
Tampak Mbak Tini sedang duduk di meja makan sendirian karena hari itu ia memang sendirian menunggui rumah besar itu, dikarenakan Pak Dirman sedang pulang kampung menemui anak istrinya.
Terlihat Mbak Tini kembali memakai kaos ketat dan seksinya itu, sehingga lekuk tubuh montoknya itu sangat nyata tercetak jelas di mata Arya.
“Hemm ... pantas saja Pak Dirman gak tahan, wong ia jauh dari istri dan di rumah ini ada Mbak Tini yang sangat aduhai. Ditambah lagi Mbak Tini ini tipe perempuan agresif kalo melihat bagaimana semalam ia mengatur cara maen dalam berhubungan dengan Pak Dirman.
Plus, yang membuat Arya yakin bahwa Mbak Tini ini punya gairah yang tinggi karena percumbuan tadi malam dilakukan justru di kamar Pak Dirman dan bukan di kamar Mbak Tini sendiri. Artinya Mbak Tinilah yang berinisiatif mendatangi kamar Pak Dirman.”
“Ehh ... Mas Arya koq sudah balik?” ucap Mbak Tini keheranan, tapi ia juga terlihat semringah dengan kedatangan Arya di rumah itu.
Karena ini kesempatan kembali bagi Mbak Tini untuk melancarkan godaannya ke Arya, mumpung sedang sepi rumah ini karena hanya mereka berdua yang ada di rumah itu.
“Owh iya, Mbak, saya nanti balik lagi mungkin sekitar pukul 14.00 karena Bu Sonya tadi yang suruh saya maen dulu. Ternyata tadi di jalan saya belum hafal jalanan, sehingga saya gak berani muter-muter. Mending balik dulu ke sini deh, hehe!” timpal Arya sambil membuka lemari es besar untuk mengambil air dingin.
“Owh gituh, yayaya! Ehhh ... Mas Arya biar aku yang ambilkan makanan ya, Mas, biar Mas Arya makan dulu, mungkin sudah lapar lagi!” ucap Mbak Tini sambil berdiri dari duduknya menuju lemari makanan di dapur besar itu.
“Aku sebenarnya masih kenyang sih, Mbak, paling pengen ngemil aja sih!”
“Owh ya sudah, aku gorengin kentang dan sekalian bikinkan Mas Arya burger deh ya!”
“Wahhh ... makasih, Mbak!”
“Yo wis Mas Arya ke kamar aja istirahat dulu, nanti aku antarkan makanannya ke kamar!” ucap Mbak Tini sambil membuka lemari makanan untuk menyiapkan kentang dan burger buat Arya.
Arya pun segera masuk ke kamarnya dan langsung membuka baju dan celana panjangnya.
Kini Arya bertelanjang dadanya yang cukup bidang serta hanya memakai celana pendek ketat.
Meski kamarnya berpendingin, tapi sudah jadi kebiasaan Arya untuk memakai celana pendek saja kalo di rumah.
Setengah jam kemudian, Mbak Tini datang ke kamar Arya membawakan baki berisi kentang goreng, burger, dan segelas air minum teh hangat untuk Arya.
“Aduhhh ... Mbak Tini makasih ya, ini lengkap banget cemilannya! Maafin ya, Mbak, jadi repot ini!”
Arya tersenyum lebar melihat bawaan Mbak Tini itu ke kamarnya.
“Gak papa toh Mas Arya, kan memang sehari-hari tugas saya ya kayak gini ... melayani, hehehe!” sambil mata genit Mbak Tini keluar lagi mengedipkan satu matanya ke Arya.
“Ya termasuk melayani Pak Dirman di kasur kan?” ucap Arya dalam hati, geli mengingat kejadian tadi malam yang begitu membuat Arya horny tingkat tinggi.
“Aku kembali ke kamarku dulu yo, Mas, mo istirahat sebentar!” ucap Mbak Tini sambil berbalik badan meninggalkan kamar Arya.
Arya sejenak tertegun melihat bagian belakang Mbak Tini yang besar dan menggoda itu lenggak-lenggok di matanya saat berbalik badan meninggalkan kamar Arya.
“Hemm ... pantas saja Pak Dirman seneng banget semalam disajikan bagian belakang montok gitu. Ahhh ... andai aku yang ada di posisi Pak Dirman, pasti aku juga dapat nikmat!” gumam Arya dalam hati sambil menelan salivanya saat tadi melihat bagian belakang indah Mbak Tini tadi.
Setengah jam Arya sambil ngemil dan memainkan HP-nya di kamar itu, tiba-tiba ada pesan notif masuk ke ponselnya.
Tingggg ...! Ternyata itu pesan dari Mbak Tini.
“Mas bisa ke kamarku gak?”
Degggg ...
“Ada perlu apa Mbak Tini panggil aku ke kamarnya?” tanya Arya dalam hati.
Tapi kata hati Arya ini adalah kesempatan emas baginya untuk bisa lebih sering menatap tubuh montok sang asisten rumah tangga itu, apalagi kini ia diminta ke kamarnya Mbak Tini.
“Owh ... oke tunggu bentar!” Arya pun segera menghabiskan minumnya dulu, lalu ia bergegas menuju kamarnya Mbak Tini yang agak jauh letaknya dari kamarnya dan kamar Pak Dirman.
Kamar Mbak Tini letaknya dekat dengan kolam renang pribadi milik Bu Sonya yang terletak di bagian belakang rumah mewah itu.
Tok ... tok ... tokkk! “Mbak, ini Arya!”
“Owh masuk aja, Mas, gak dikunci koq!”
Ceklek ... tet ...! Pintu kamar Mbak Tini pun dibuka Arya. Terlihat Mbak Tini sedang rebahan santai dengan memakai kaos ketatnya itu.
“Ada apa Mbak Tini panggil aku ke sini?”
“Ini Mas, aku koq kayaknya rada pegel-pegel. Mas Arya bisa bantu pijet sebentar gak, Mas?”
Degggg ...
Arya tertegun, “Apa ini kode keras dari Mbak Tini untuk menggodanya?”
“Owh pegel-pegel ya, Mbak. Aku pernah sih beberapa kali pijet kedua ortuku di kampung!” ucap Arya. Jantungnya terasa berdegup kencang mendengar permintaan Mbak Tini saat itu.
“Syukurlah ... jadi Mas Arya bisa pijet aku donk ya?” ucap Mbak Tini, terlihat wajahnya kegirangan dengan jawaban Arya tadi.
“Aku coba ya, Mbak. Takutnya pijetanku gak berasa di badan Mbak Tini!”
Ucap Arya yang makin terasa gugup sebenarnya, karena kini ia malah dikasih kesempatan untuk menjamah kemolekan tubuh mbak ini yang sejak kemarin menghantui pikiran mesumnya. Apalagi Arya sudah melihat sendiri bagaimana ganasnya Mbak Tini dalam bercinta semalam dengan Pak Dirman.
“Gak papa toh Mas Arya, bisa dicoba dulu, kalo gak dicoba kan kita gak tau enak atau tidak pijetan Mas Arya,” ucap Mbak Tini sambil berbalik badan dan ia seketika tengkurap di kasurnya.
Kamar Mbak Tini ini lebih lebar dan lebih bagus dari kamar Arya karena memang kamar ini dikhususkan bagi asisten rumah tangga perempuan, sehingga terlihat lebih apik dan juga sangat wangi harum aroma kamar Mbak Tini ini, yang secara tak langsung bisa meningkatkan gairah bagi siapa pun yang masuk ke kamar itu.
Di kamar itu juga ada layar TV datar berukuran besar, sehingga Mbak Tini bisa santai nonton acara tipi kapan pun, sekaligus juga ia bisa menonton acara apa pun dari internet.
Setelah posisi Mbak Tini tengkurap, Arya mencoba duduk di samping tubuh montok itu di pinggir kasur Mbak Tini.
“Mulai dari pundakku aja ya, Mas Arya. Di bagian itu berasa pegel banget, Mas!” pinta Mbak Tini sambil menunjuk bagian pundaknya.
Arya menelan salivanya berkali-kali karena pikirannya sudah ke mana-mana saat melihat sekujur tubuh montok Mbak Tini yang meski masih tertutup kaos panjangnya, tapi ini sudah sangat mengganggu pikiran kotornya yang mulai menjalari.
Sempat Arya menatap bagian belakang Mbak Tini yang dalam posisi tengkurap itu.
Arya makin deg-degan jantungnya menahan nafsu yang makin terasa membuncah.
Tak terasa senjata Arya mulai bangkit dari balik celana pendeknya karena Arya datang ke kamar Mbak Tini dengan kain sarung dan kaos pendek saja.
Tangan dan jemari Arya pun mulai memijat bagian pundak Mbak Tini.
“Nah iya di situ, Mas ... erghhh ... erghhhh!” ucap Mbak Tini sambil mencoba menilai dan merasakan kualitas pijatan tangan dan jari-jari Arya di pundaknya.
“Gini ya, Mbak?” ucap Arya yang mulai terasa bergetar suaranya karena dirinya masih mencoba mengatasi kegugupannya menghadapi tubuh montok Mbak Tini yang jelas-jelas ada di depannya saat ini.
"Pompa lagi! Jangan sampai lepas!"Suara dokter bedah itu terdengar seperti guntur di telinga Cindy yang masih menempel di kaca ruang operasi. Di balik sana, pemandangan itu terasa seperti film bisu yang mengerikan. Tubuh Slamet melenting, jatuh, lalu diam. Garis di monitor itu masih lurus, mengeluarkan bunyi denging panjang yang seolah sedang menghitung mundur sisa napas terakhir sang supir pangkalan. Cindy sempat terhenti sejenak, menatap bayangan dirinya sendiri di kaca yang buram oleh uap napasnya, menyadari betapa hancur penampilannya—kerudung yang miring dan mata yang bengkak—sebelum akhirnya kesadarannya ditarik kembali oleh hentakan alat pacu jantung untuk yang kelima kalinya."Mas Slamet... nggih, Mas... bangun..." gumam Cindy, suaranya kini hanya berupa bisikan kering.Tiba-tiba, bunyi beeeeep yang panjang itu terputus. Garis lurus itu bergejolak, membentuk satu bukit kecil, lalu satu lagi. Lemah, sangat lemah, tapi itu adalah tand
"Den Arya! Layar ponselnya! Jangan sampai Cindy lihat!"Suara Brian memecah keheningan koridor rumah sakit, nyaris menyerupai desisan ular yang terdesak. Arya tersentak, tangannya yang masih memegang botol air mineral yang sudah tidak dingin lagi mendadak kaku. Ia sempat terhenti sejenak, menatap butiran embun yang merayap turun di dinding kaca ruang tunggu—sebuah distraksi psikologis yang tak relevan di tengah badai—sebelum matanya menangkap notifikasi video yang masuk serentak ke puluhan grup WhatsApp supir pangkalan."B-b-bajingan... mereka beneran sebarin itu sekarang?" Arya bergumam, suaranya parau, nyaris habis tertelan kegelisahan.Ia segera melangkah, nyaris berlari menuju Cindy yang masih terisak di lantai, mendekap koin seribu rupiah berdarah milik Slamet. Cindy tidak sadar bahwa ponselnya yang tergeletak di atas ubin putih dingin itu baru saja menyala, menampilkan cuplikan video hitam putih dengan kualitas rendah namun cukup jelas untuk me
"Mas, bangun! Jangan tinggalin aku di sini, Mas!"Jeritan Cindy membelah kesunyian area pemakaman yang baru saja ditinggalkan sebagian besar pelayat. Suaranya serak, pecah di udara yang lembap oleh sisa gerimis. Di depannya, tubuh Slamet melenting setiap kali kejut jantung dari alat defibrilator itu dihantamkan ke dadanya. Bunyi desis listrik berpadu dengan isak tangis yang tertahan dari Brian yang berdiri mematung. Slamet sempat terhenti dalam ketidaksadarannya—sebuah kilas balik tentang rasa permen karet yang ia kunyah saat pertama kali menginjakkan kaki di Marunda tiba-tiba melintas begitu saja—sebelum rasa sakit yang luar biasa kembali menyentak kesadarannya."Ritme jantung kembali! Cepat, dorong ke IGD Medistra!" teriak salah satu perawat.Ambulans itu menderu menjauh, meninggalkan jejak ban di atas rumput makam yang becek. Di belakangnya, pusara Pak Baskoro sudah tertutup tanah merah sempurna, menyisakan tumpukan bunga melati dan mawar yang mul
"Mas Slamet! Angkat, Mas! Jangan bikin aku gila!"Suara Cindy yang melengking dari pelantang ponsel di atas lantai gudang yang berdebu itu terdengar seperti lonceng kematian yang beradu dengan deru napas Slamet yang kian pendek. Slamet terbatuk, cairan hangat berasa karat memenuhi rongga mulutnya, sementara pandangannya mulai digerogoti bintik-bintik hitam yang menari-nari. Ia sempat terhenti sejenak, menatap rembesan darah yang kian melebar di kemeja putihnya—kemeja yang harusnya ia pakai untuk mengantar Pak Baskoro ke peristirahatan terakhir—dan mendadak ia teringat bahwa ia belum membayar iuran kas pangkalan bulan ini. Distraksi konyol itu menghilang saat bayangan pria berjaket kulit—sang pengacara suruhan Sita—melangkah mendekat dengan kilatan logam di tangannya.Dor!Gema tembakan itu merobek kesunyian gudang, membuat kawanan burung gereja di atap seng terbang berhamburan."Ti-ti-tiarap, bajingan!" Suara serak Brian m
"Bajingan! Lihat ini, Met!"Suara Brian menggelegar di lorong rumah sakit yang biasanya sunyi senyap, memantul di antara dinding-dinding porselen yang dingin. Ia menyodorkan ponselnya tepat ke depan wajah Slamet yang masih kuyu karena terjaga semalaman. Slamet sempat terhenti sejenak, menatap butiran embun yang menempel di kaca jendela besar ICU—sebuah distraksi kecil yang tak relevan—sebelum matanya menangkap barisan judul berita di portal media nasional yang baru saja meledak.Skandal Korupsi Miliaran Rupiah: Direksi Perusahaan Logistik Diduga Bangun Perusahaan Cangkang."Data kita tembus, Mas Brian?" tanya Slamet pelan, suaranya parau karena debu ruko semalam masih terasa menyumbat tenggorokannya. Ia meraba saku celananya, mencari koin seribu rupiah kesayangannya, meremasnya kuat-alih-alih membalas antusiasme Brian."Bukan cuma tembus, Met! Hancur lebur itu rencana konferensi pers pengacaranya Sita. Barusan intel pangkalan lapor, s
"Gila! Lo beneran bawa map itu keluar lewat lorong tikus, Met?"Suara Brian meledak di tengah sunyinya ruko tua di pinggiran Jakarta Selatan yang mereka sulap menjadi kantor bayangan. Brian tidak menunggu jawaban; ia langsung merenggut map hitam dari tangan Slamet yang masih kotor oleh tanah taman Kemang. Slamet tidak langsung menyahut. Ia lebih memilih menjatuhkan bokongnya di kursi plastik, napasnya masih memburu, sementara jemarinya yang lecet tanpa sadar meraba saku jaket—mencari sensasi dingin koin seribu rupiah yang entah bagaimana terasa seperti jangkar kewarasannya saat ini. Di sudut ruangan, kipas angin berderit berisik, memutar udara pengap yang berbau debu dan kabel terbakar."Bukan cuma map, Bri. Di luar tadi ada empat orang, kayaknya suruhan pengacara Sita. Kalau Slamet nggak tahu celah pagar belakang, mungkin sekarang kita sudah dikeroyok di teras Kemang," Arya menimpali, suaranya parau. Ia menyandarkan punggungnya di tembok kusam, matanya terpejam
Jessy kini dalam posisi agak terombang-ambing antara siap dan tidak siap menerima ‘terjangan’ yang sesaat lagi akan ia terima dari sang tunangan. Namun, deru nafsu terlalu besar membakar seluruh tubuh bugilnya saat ini dan itu dikarenakan dengan dahsyatnya rangsangan Dave kepada dirinya. Lagipula Je
Hari kedua Arya mengantar Bu Sonya ke kantornya sebagai sopir pribadi sang majikan. Pagi yang hening dan cerah menyinari kota setelah hujan semalam.Arya, dengan setelan sopan dan rapi, sekali lagi memasuki kantor Bu Sonya. Kali ini, Arya kembali seperti biasa menunggu di luar ruang kerja saat sang
“Kalo sama pacar di desa, kami cuma pernah pegangan tangan saja, Mbak! Hihi!” ucap Arya tertawa kecil.“Serius? Trus pacar Mas Arya cantik gak? Tubuhnya montok gak kayak aku?” kepo Mbak Tini makin menjadi sambil menahan geli karena lelaki yang sekarang mencumbunya benar-benar masih polos alias belu
Setelah menunggu cukup lama, Sore itu, sekitar pukul 16, setelah Arya mengantar pulang Bu Sonya dari kantornya, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Arya. Ia membaca pesan tersebut dengan seksama. Ternyata, pesan itu berasal dari Bu Sonya. Dalam pesan tersebut, Bu Sonya memintanya untuk bersiap







