LOGINArya pun buru-buru segera berjingkat masuk ke kamarnya karena tak ingin ketahuan oleh mbak Tini apalagi oleh pak Dirman yang berbadan kekar itu. Jantungnya masih berdegup kencang karena baru kali ini ia menyaksikan langsung orang yang bersetubuh. Selama ini Arya cuma melihat di HPnya lewat situs-situs dewasa yang sempat ia buka juga lewat cerita-cerita dewasa. Gaya pacarannya pun dengan mantan pacarnya dulu yaitu Sita di desanya itu cuma pernah saling pegang tangan dan belum pernah lebih dari itu. Karena di desa mereka sangat memegang erat adat ketimuran dan juga agama yang melarang melakukan persetubuhan bagi yang belum sah sebagai sepasang suami istri.
Saat Arya sedang menutup pintu kamarnya nampak olehnya mbak Tini sedang lewat di depan pintu kamarnya Arya, mengendap-ngendap keluar dari kamar pak Dirman, dilihatnya si mbak Tini itu sudah memakai kaso ketatnya lagi. Hanya saja masih terlihat keringat di sekujur tubuh montok mbak Tini itu. Sekilas Arya melihat ca
Pulang dari kantor dengan perasaan yang masih terasa tegang setelah rapat evaluasi, Bu Sonya merasa bahwa dirinya dan timnya membutuhkan waktu untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas kerja yang menguras energi. Dia punya ide untuk menginap semalam di Putri Duyung Resort di Ancol, tempat yang menawarkan suasana pantai yang indah dan sejuk.Akhirnya sesuai janjian sebelumnya malam itu Arya membawa laju mobil sang majikan menuju arah utara Jakarta yaitu kawasan Ancol. Tiba di resort, mereka berdua, Bu Sonya dan Cindy, merasakan hembusan angin laut yang menyegarkan saat mereka memasuki lobby. Mereka memesan tiga kamar, satu untuk Bu Sonya dan Cindy, satu lagi untuk Jodi, pacar Cindy yang juga bekerja di kantor Bu Sonya, dan yang terakhir untuk Arya.Setelah mengambil kunci kamar mereka, mereka berpisah untuk menuju ke kamar masing-masing dan bersiap untuk refreshing. Bu Sonya membuka pintu kamar dengan perasaan harap-harap cemas tentang apa yang menantinya. Namun, ket
Hari itu, suasana di kantor Sonya Fast terasa berbeda. Para kepala unit cabang dan manajer berkumpul di ruang rapat yang besar, menunggu kehadiran Bu Sonya. Arya berada di luar ruang rapat, tetapi ia bisa merasakan ketegangan di udara. Ia tahu bahwa rapat kali ini adalah rapat evaluasi yang penting.Setelah beberapa saat, pintu ruang rapat terbuka, dan Bu Sonya masuk dengan langkah mantap yang didampingi oleh sang sekretaris canntiknya yang keturuna Belanda yaitu Cindy dengan tampilan menawan serta sekisnya. Pada saat itu, semua mata tertuju pada kedua wanita tersebut. Lalu, dalam balutan pakaian bisnis yang elegan, Bu Sonya tampak sebagai sosok yang penuh wibawa."Apa kabar, semua?" sapa Bu Sonya dengan suara yang tenang namun tegas."Baik, Bu Sonya," jawab para peserta rapat dengan serempak.Bu Sonya duduk di ujung meja, mengambil posisi sebagai pemimpin rapat. Sementara, di sebelahnya sang sekretaris sibuk mencatat semua hal yang perlu ia catat sebagai
Bu Sonya melangkah kembali ke dalam kamarnya namun ia sepertinya ia sengaja tidak menutup pintu kamarnya itu agar Arya sang sopir pribadinya itu bisa melihat aktivitasnya. Dalam hatinya Bu Sonya memang ingin menguji sejauh mana kekuatan hati Arya kala ia melihat bagaimana Sonya mencobai baju daleman yang baru saja ia beli di mal mewah tadi.Sementara disisi lain Arya masih berdegup-degup jantungnya menunggu apa yang akan dilakukan sang majikan di kamarnya itu. Jantung Arya makin berdegup kencang dan jakunnya turun naek karena kini ia mellihat dengan sangat jelas bagaimana bu Sonya membuka baju daleman yang disebut lingerie itu di hadapannya. Mata Arya kali ini benar-benar terbelalak karena baru sekali ini ia melihat langsung bagaimana bu Sonya berganti baju daleman di hadapannya. Posisi bu Sonya saat itu sedang menghadap ke arah kaca lemarinya yang berukuran besar di dalam kamarnya yang mewah itu. Sehingga Arya menatap tubuh indah sang majikan dari arah belakang
Setelah menunggu cukup lama, Sore itu, sekitar pukul 16, setelah Arya mengantar pulang Bu Sonya dari kantornya, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Arya. Ia membaca pesan tersebut dengan seksama. Ternyata, pesan itu berasal dari Bu Sonya. Dalam pesan tersebut, Bu Sonya memintanya untuk bersiap-siap karena mereka akan pergi ke sebuah mal mewah di Jakarta untuk membeli beberapa pakaian dalam buat bu Sonya sendiri.Dengan cepat, Arya menyiapkan mobilnya dan menjemput Bu Sonya di depan rumahnya. Bu Sonya keluar dengan pakaian yang kembali begitu rapi dan anggun serta cukup memperlihatkan lekuk tubuh indahnya itu yang tinggi semampai. Agak berbeda dengan sang adik, Jesy yang lebih pendek dibanding bu Sonya meski Jesy pun juga berwajah cantik dan mulus kulitnya.Perjalanan menuju mal mewah itu berlangsung dalam suasana yang nyaman. Kali ini, mereka tidak terlibat dalam percakapan panjang, karena Bu Sonya tampaknya sedang sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri. Arya fokus
Arya pun menunggu di depan pintu rumah mewah milik Jessy. Ia merasa agak canggung dan tegang karena tadi ia sempat cukup lama mengintip aktivitas hot sang tuan rumah dengan tunangannya itu baik di kolam renang maupun di dalam rumah Jessy. Namun Arya juga sekaligus lega karena akhirnya bisa juga menjalankan tugas yang diberikan oleh bosnya yang terkenal galak, Bu Sonya. Tugas itu adalah mengantarkan kue istimewa untuk Jessy, adik Bu Sonya, yang pesanannya diberikan saat tadi pagi sedang mengantar bu Sonya menuju kantornya.Arya mencoba menjaga ketenangan dan profesionalismenya. Ia tahu bahwa tugas ini adalah tanggung jawabnya sebagai sopir pribadi Bu Sonya, dan ia harus melakukannya dengan baik. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa cemas mulai mengganggu pikirannya. Ia bertanya-tanya apakah pesanan ini akan benar-benar disambut dengan baik oleh Jessy dan apakah semuanya akan berjalan lancar.Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya pintu rumah itu terbuka perlahan, da
Jessy kini dalam posisi agak terombang-ambing antara siap dan tidak siap menerima ‘terjangan’ yang sesaat lagi akan ia terima dari sang tunangan. Namun, deru nafsu terlalu besar membakar seluruh tubuh bugilnya saat ini dan itu dikarenakan dengan dahsyatnya rangsangan Dave kepada dirinya. Lagipula Jessy merasa yakin bahwa Dave akan bertanggung jawab dengan tetap menikahinya segara sesuai jadwal yang sudah mereka tetapkan sebelumnya.Dave yang kini sudah ikut bugil pun seketika sudah menindih tubuh Jessy dan mengajak untuk berciuman lagi. Setelah berciuman saat yang mendebarkan bagi Jessy pun akhirnya datang. Dilihatnya Dave sedang mecoba mengarahkan kepala timunnya ke pintu lubang Jessy. Dan saking takutnya, Jessy pun masih mencoba untuk mengingatkan sang kekasih untuk tidak terlalu buru-buru.“Dave....pelan-pelan yahhhh!” Ucap Jessy sambil menatap lelaki pujaannya itu.“Iya sayang, mungkin awalnya agak sakit, tapi selanjutnya kamu a







