Home / Male Adult / Gairah Sopir dan Majikan / Bab 4 Hari Pertama Sopir Pribadi

Share

Bab 4 Hari Pertama Sopir Pribadi

Author: Irbapiko
last update publish date: 2025-12-19 08:00:30

“Ok, tahan ya, Dik Tini ... aku dorong lagi ya!” ucap suara Pak Dirman terdengar jelas di telinga Arya yang makin deg-degan jantungnya karena tak mengira malam itu, di hari pertamanya ia akan bekerja sebagai sopir, malah mendapatkan pertunjukan gratis di hadapannya.

Maka terdengarlah suara beradunya kulit dari kamar Pak Dirman itu yang menandakan bertemunya sepasang tubuh dua insan di kamar itu.

Tak berapa lama kemudian, Pak Dirman nampak menggeser posisi dirinya yang sekarang ia naik berlutut di atas kasur, sementara Mbak Tini dengan tubuh sintalnya makin terlihat oleh Arya masih berposisi menungging di kasur kamar Pak Dirman itu.

Arya melongo melihat tubuh polos Mbak Tini itu. Terlihat bagian atas tubuhnya ikut berguncang karena gerakan tekanan Pak Dirman dari arah belakang Mbak Tini.

Terlihat di remang-remang lampu kamar itu ada tampak tubuh Pak Dirman sedang menyatu dengan bagian belakang tubuh indah milik Mbak Tini.

Sehingga terdengarlah suara lenguhan dan desahan Mbak Tini yang nampaknya membuat gairah Pak Dirman makin berkobar untuk terus bergerak.

“Argghhh!” Suara beradunya tubuh Pak Dirman dan Mbak Tini serta lenguhan dan desahan menggema malam itu di kamar Pak Dirman.

Arya pun makin lama makin terbawa suasana penampakan yang ia lihat saat itu. Tangan kirinya secara tak sadar mengelus ritsleting celana panjangnya.

“Pak, kita rebahan yuk!” ajak Tini. Nampaknya mereka berdua ingin melanjutkan pertempuran mereka dengan gaya tradisional.

Arya melihat Mbak Tini kini berposisi telentang di kasur Pak Dirman. Arya melihat Mbak Tini melebarkan kedua pahanya, sementara Pak Dirman mulai berposisi di atas tubuh berisi Mbak Tini.

Nampak Pak Dirman menatap intens bagian dada ranum itu.

Jakun Arya terus-menerus turun naik karena menelan salivanya melihat dua insan itu nananina di depan matanya.

Setelah puas memanjakan tubuh bagian atas itu, Pak Dirman merosot ke arah bawah dan kini ia mengecup area sensitif Mbak Tini. Kedua paha mulus itu ia kecup dan habiskan sampe ke ujung jari kaki Mbak Tini.

Mbak Tini makin liar bergerak ke sana kemari, sambil kini kedua tangannya memegang kepala Pak Dirman yang sekarang sudah mulai menyerang bagian area pribadinya.

“Sakit gak?” terdengar suara Pak Dirman bertanya ke Mbak Tini.

“Sedikit, Pak ... tapi pelan-pelan ya, Pakkkk!” ucap Mbak Tini, meski merasakan agak sakit karena ukuran tubuh Pak Dirman.

Dan akhirnya, setelah sekitar beberapa saat mereka bertempur dengan posisi itu, Pak Dirman bilang kalo ia pun akhirnya gak tahan.

“Aku mo keluar, Dik ...!” Keringat mengucur deras di kedua tubuh mereka.

Arya terbelalak melihat posisi Mbak Tini yang membuat bagian belakang itu terlihat indah sempurna.

Arya membayangkan andai ia bisa merasakan hal yang sama yang kini dialami Pak Dirman, tentu akan sangat menakjubkan baginya.

Akhirnya, dengan kondisi sudah bercucuran keringat di sekujur tubuhnya, Pak Dirman pun menuntaskan hasratnya. Posisi itu untuk kedua kalinya mereka lakukan di ranjang itu.

Arya pun buru-buru segera berjingkat masuk ke kamarnya karena tak ingin ketahuan oleh Mbak Tini, apalagi oleh Pak Dirman yang berbadan kekar itu.

Jantungnya masih berdegup kencang karena baru kali ini ia menyaksikan langsung orang yang nananina.

Selama ini, Arya cuma melihat di HP-nya lewat situs-situs dewasa yang sempat ia buka, juga lewat cerita-cerita dewasa.

Gaya pacarannya pun dengan mantan pacarnya dulu, yaitu Sita, di desanya itu cuma pernah saling pegang tangan dan belum pernah lebih dari itu. Karena di desa, mereka sangat memegang erat adat ketimuran dan juga agama yang melarang melakukan hubungan badan bagi yang belum sah sebagai sepasang suami istri.

Saat Arya sedang menutup pintu kamarnya, nampak olehnya Mbak Tini sedang lewat di depan pintu kamarnya Arya, mengendap-ngendap keluar dari kamar Pak Dirman. Dilihatnya si Mbak Tini itu sudah memakai kaos ketatnya lagi.

Hanya saja masih terlihat keringat di sekujur tubuh padat Mbak Tini itu.

Sekilas Arya melihat cara berjalan Mbak Tini yang agak mengangkang, mungkin karena efek gempuran dahsyat dari Pak Dirman tadi.

“Hemmm ... ternyata mereka punya affair ya? Atau mereka suami istri? Tapi koq kamar mereka berbeda sih?” Berbagai pertanyaan bergelayut di benak Arya malam itu.

***

Saat memasuki ruang kerjanya, tiba-tiba Sonya disambut sang sekretaris yang cantik dan seksi, blasteran Indonesia-Belanda.

Good morning, Mam Sonya!” ucap Cindy sambil tersenyum dan terlihat sangat cantik dengan hidung mancung dan rambut berwarna cokelat pirangnya.

Cindy memakai pakaian kemeja ketat dan rok pendek yang memperlihatkan kaki putih mulusnya yang berjenjang. Serta memakai sepatu berhak cukup tinggi.

Mirip dengan penampilan Bu Sonya. Bedanya, Bu Sonya berwajah mirip artis India Kareena Kapoor, sedangkan Cindy lebih terlihat Eropa karena memang ia keturunan Belanda dari sang ayah. Sedangkan ibunya asli asal Bandung, Jawa Barat.

Morning, Cindy!” balas Sonya sambil mengarah ke meja kerjanya.

Arya sejenak tertegun melihat gedung kantor itu, mulai dari lantai satu hingga lantai lima ini yang terlihat sangat mewah. Ditambah lagi, kini ia melihat penampilan sang sekretaris yang terlihat layaknya seorang model cantik.

Who is he, Mam?” tanya Cindy sambil menatap Arya dari bawah hingga ke wajah Arya, seolah ingin menilai penampilan Arya.

He is my new private driver! His name is Arya!

Owh, hello Arya, glad to meet you!” ujar Cindy sambil menjulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.

Arya pun menyambut jabatan tangan Cindy itu. “Arya!”

“Cindy van Eiken! But you can call me just Cindy!” ucap Cindy sambil tersenyum semringah menatap wajah ganteng Arya.

Cindy, come here. I want to know from you about the problem from branch 4 and branch 7!

Ucap Sonya dari meja kerja, memanggil Cindy untuk membicarakan kantor unit cabang ke-4 dan ke-7 yang kabarnya sedang bermasalah.

Seketika Cindy melangkah ke arah meja kerja Sonya dan ia sempat menatap kembali Arya yang masih berdiri mematung di depan pintu ruang kerja Sonya.

Sonya baru menyadari kalo Arya masih mematung di tempatnya, sehingga Sonya kembali berdiri dari meja kerjanya dan melangkah ke arah Arya berdiri.

“Kamu boleh pulang dulu atau jalan-jalan ke mana aja yang kamu mau, karena hari ini saya gak akan ke mana-mana selain berkantor di sini. Ini saya kasih untuk kamu jajan!”

Ucap Sonya sambil menyerahkan sepuluh lembar ratusan ribu ke Arya.

Arya bengong disodorin duit segitu banyak hanya untuk ia jalan pagi itu.

“Wah, banyak sekali, Bu?” Arya masih bingung menerima uang itu.

“Kamu gak mau?” bentak Sonya melotot yang nampak tersinggung dengan sikap bingung Arya itu.

“Owh, baik, terima kasih, Bu!” ujar Arya sambil tangannya menerima uang 1 juta rupiah itu dari tangan Sonya.

Setelah Arya beranjak pergi dari lantai lima itu, Cindy berkata, “Arya itu lebih cocok jadi artis, Mam!”

“Hemmm ... ya saya juga berpikiran sama. Tapi itu pilihan hidupnya!” timpal Sonya sambil kembali duduk di meja kerjanya.

“Hemmm ... semoga aja dia kuat kerja sama Mam Sonya, hihihi!” Cindy tahu banget karena sopir pribadi sebelumnya tak ada yang tahan lama kerja dengan Sonya.

Sonya pun cuma mendelik ke arah Cindy. Namun, karena Cindy ini andalan di perusahaannya, maka Sonya tak menggubris ucapan sindiran Cindy itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 279 Antara Hidup dan Mati

    "Pompa lagi! Jangan sampai lepas!"Suara dokter bedah itu terdengar seperti guntur di telinga Cindy yang masih menempel di kaca ruang operasi. Di balik sana, pemandangan itu terasa seperti film bisu yang mengerikan. Tubuh Slamet melenting, jatuh, lalu diam. Garis di monitor itu masih lurus, mengeluarkan bunyi denging panjang yang seolah sedang menghitung mundur sisa napas terakhir sang supir pangkalan. Cindy sempat terhenti sejenak, menatap bayangan dirinya sendiri di kaca yang buram oleh uap napasnya, menyadari betapa hancur penampilannya—kerudung yang miring dan mata yang bengkak—sebelum akhirnya kesadarannya ditarik kembali oleh hentakan alat pacu jantung untuk yang kelima kalinya."Mas Slamet... nggih, Mas... bangun..." gumam Cindy, suaranya kini hanya berupa bisikan kering.Tiba-tiba, bunyi beeeeep yang panjang itu terputus. Garis lurus itu bergejolak, membentuk satu bukit kecil, lalu satu lagi. Lemah, sangat lemah, tapi itu adalah tand

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 278 Fitnah yang Membara

    "Den Arya! Layar ponselnya! Jangan sampai Cindy lihat!"Suara Brian memecah keheningan koridor rumah sakit, nyaris menyerupai desisan ular yang terdesak. Arya tersentak, tangannya yang masih memegang botol air mineral yang sudah tidak dingin lagi mendadak kaku. Ia sempat terhenti sejenak, menatap butiran embun yang merayap turun di dinding kaca ruang tunggu—sebuah distraksi psikologis yang tak relevan di tengah badai—sebelum matanya menangkap notifikasi video yang masuk serentak ke puluhan grup WhatsApp supir pangkalan."B-b-bajingan... mereka beneran sebarin itu sekarang?" Arya bergumam, suaranya parau, nyaris habis tertelan kegelisahan.Ia segera melangkah, nyaris berlari menuju Cindy yang masih terisak di lantai, mendekap koin seribu rupiah berdarah milik Slamet. Cindy tidak sadar bahwa ponselnya yang tergeletak di atas ubin putih dingin itu baru saja menyala, menampilkan cuplikan video hitam putih dengan kualitas rendah namun cukup jelas untuk me

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 277 Sumpah di Nisan

    "Mas, bangun! Jangan tinggalin aku di sini, Mas!"Jeritan Cindy membelah kesunyian area pemakaman yang baru saja ditinggalkan sebagian besar pelayat. Suaranya serak, pecah di udara yang lembap oleh sisa gerimis. Di depannya, tubuh Slamet melenting setiap kali kejut jantung dari alat defibrilator itu dihantamkan ke dadanya. Bunyi desis listrik berpadu dengan isak tangis yang tertahan dari Brian yang berdiri mematung. Slamet sempat terhenti dalam ketidaksadarannya—sebuah kilas balik tentang rasa permen karet yang ia kunyah saat pertama kali menginjakkan kaki di Marunda tiba-tiba melintas begitu saja—sebelum rasa sakit yang luar biasa kembali menyentak kesadarannya."Ritme jantung kembali! Cepat, dorong ke IGD Medistra!" teriak salah satu perawat.Ambulans itu menderu menjauh, meninggalkan jejak ban di atas rumput makam yang becek. Di belakangnya, pusara Pak Baskoro sudah tertutup tanah merah sempurna, menyisakan tumpukan bunga melati dan mawar yang mul

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 276 Pusara yang Menagih Janji

    "Mas Slamet! Angkat, Mas! Jangan bikin aku gila!"Suara Cindy yang melengking dari pelantang ponsel di atas lantai gudang yang berdebu itu terdengar seperti lonceng kematian yang beradu dengan deru napas Slamet yang kian pendek. Slamet terbatuk, cairan hangat berasa karat memenuhi rongga mulutnya, sementara pandangannya mulai digerogoti bintik-bintik hitam yang menari-nari. Ia sempat terhenti sejenak, menatap rembesan darah yang kian melebar di kemeja putihnya—kemeja yang harusnya ia pakai untuk mengantar Pak Baskoro ke peristirahatan terakhir—dan mendadak ia teringat bahwa ia belum membayar iuran kas pangkalan bulan ini. Distraksi konyol itu menghilang saat bayangan pria berjaket kulit—sang pengacara suruhan Sita—melangkah mendekat dengan kilatan logam di tangannya.Dor!Gema tembakan itu merobek kesunyian gudang, membuat kawanan burung gereja di atap seng terbang berhamburan."Ti-ti-tiarap, bajingan!" Suara serak Brian m

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 275 Pagi Yang Berdarah

    "Bajingan! Lihat ini, Met!"Suara Brian menggelegar di lorong rumah sakit yang biasanya sunyi senyap, memantul di antara dinding-dinding porselen yang dingin. Ia menyodorkan ponselnya tepat ke depan wajah Slamet yang masih kuyu karena terjaga semalaman. Slamet sempat terhenti sejenak, menatap butiran embun yang menempel di kaca jendela besar ICU—sebuah distraksi kecil yang tak relevan—sebelum matanya menangkap barisan judul berita di portal media nasional yang baru saja meledak.Skandal Korupsi Miliaran Rupiah: Direksi Perusahaan Logistik Diduga Bangun Perusahaan Cangkang."Data kita tembus, Mas Brian?" tanya Slamet pelan, suaranya parau karena debu ruko semalam masih terasa menyumbat tenggorokannya. Ia meraba saku celananya, mencari koin seribu rupiah kesayangannya, meremasnya kuat-alih-alih membalas antusiasme Brian."Bukan cuma tembus, Met! Hancur lebur itu rencana konferensi pers pengacaranya Sita. Barusan intel pangkalan lapor, s

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 274 Konfrontasi di Kantor Bayangan

    "Gila! Lo beneran bawa map itu keluar lewat lorong tikus, Met?"Suara Brian meledak di tengah sunyinya ruko tua di pinggiran Jakarta Selatan yang mereka sulap menjadi kantor bayangan. Brian tidak menunggu jawaban; ia langsung merenggut map hitam dari tangan Slamet yang masih kotor oleh tanah taman Kemang. Slamet tidak langsung menyahut. Ia lebih memilih menjatuhkan bokongnya di kursi plastik, napasnya masih memburu, sementara jemarinya yang lecet tanpa sadar meraba saku jaket—mencari sensasi dingin koin seribu rupiah yang entah bagaimana terasa seperti jangkar kewarasannya saat ini. Di sudut ruangan, kipas angin berderit berisik, memutar udara pengap yang berbau debu dan kabel terbakar."Bukan cuma map, Bri. Di luar tadi ada empat orang, kayaknya suruhan pengacara Sita. Kalau Slamet nggak tahu celah pagar belakang, mungkin sekarang kita sudah dikeroyok di teras Kemang," Arya menimpali, suaranya parau. Ia menyandarkan punggungnya di tembok kusam, matanya terpejam

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 8 Bu Sonya yang Galak

    Usai mendapatkan pengalaman pertama untuk bercinta dengan seorang perempuan, Arya benar-benar merasakan takjub luar biasa. Ia merasa benar-benar sebagai seorang lelaki perkasa di atas ranjang, sehingga sangat mungkin membuat Arya merasa pede untuk merasakannya kembali, entah dengan Mbak Tini ataupu

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 6 Suguhan Mbak Tini

    Mbak Tini tahu bahwa Arya sedang gugup, sehingga untuk menghilangkan kekakuan suasana di kamar itu, ia pun mengajak Arya untuk sejenak berbincang.“Di desa, Mas Arya sudah punya pacar belum?” Tiba-tiba Mbak Tini menanyakan hal yang sebenarnya sifatnya privasi. Arya agak kaget mendengarnya, namun ka

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 15 Akhirnya Jebol Juga

    Jessy kini dalam posisi agak terombang-ambing antara siap dan tidak siap menerima ‘terjangan’ yang sesaat lagi akan ia terima dari sang tunangan. Namun, deru nafsu terlalu besar membakar seluruh tubuh bugilnya saat ini dan itu dikarenakan dengan dahsyatnya rangsangan Dave kepada dirinya. Lagipula Je

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 12 Gelora di Rumah Jessy

    Hari berikutnya tiba dengan cuaca yang cerah, dan kembali pukul 8 pagi, Arya sudah siap untuk melaksanakan tugas utamanya, mengantar Bu Sonya ke kantor. Ia telah terbiasa dengan rutinitas ini, dan setiap pagi, mobil mewah milik Bu Sonya sudah bersiap di depan rumah.Setelah Bu Sonya naik k

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status