로그인"Dokter! Mana tim medisnya?!"
Arya meraung, suaranya menggelegar di lobi gedung Sonya Fast yang masih dipenuhi kepulan asap sisa kebakaran. Ia mendekap Anya dengan posisi tangan yang gemetar hebat, matanya menatap nanar pada noda biru kecil di lengan bayi itu yang kian menggelap. Napas Anya terdengar pendek, sangat halus, seolah oksigen di ruangan itu telah berubah menjadi racun yang mencekik paru-paru kecilnya.
Sonya jatuh terduduk di samping Arya, jemarinya mencengker
"Tunjukkan sertifikat kalibrasi timbangan digital pos ini sebelum Anda menyuruh supir saya menurunkan peti keramik ke tanah lapang, Petugas!" gertak Arya Baswira seraya melangkah turun dari pintu kabin kemudi Fuso nomor satu dengan wibawa Alpha membeku.Kedua sepatu bot kulit Arya menjejak pelat baja jembatan timbang dengan suara mantap, menampakkan sorot mata elang dingin yang menghunus ke arah dua petugas berseragam dinas perhubungan.Petugas lapangan berkumis tipis itu tersentak mundur satu langkah, didera wibawa pria berbadan tegap yang sama sekali dilarang memperlihatkan kegentaran."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, itu lampu sensor timbangan di pos jaga kok kedip-kedip merah kek lampu disko pangkalan!" bisik Juna agak gagap panik seraya melongok dari balik pintu Fuso kedua."Tetap di posisimu dan jangan menyentuh pedal gas sebelum ada aba-aba dari Mas Arya, Juna!" tegur Slamet kaku memper
"Tiga puluh menit cukup bagi supir pangkalan untuk mengosongkan piring nasi sebelum konvoi tebu melintas, Mandor!" sahut Arya Baswira dengan senyuman tenang seraya menepuk pundak sang mandor lokal dan melangkah masuk ke dalam rumah makan Padang berdinding kayu jati tersebut.Aroma rempah santan kental, asam padeh, dan wangi rendang daging yang dipanaskan di atas kuali besar seketika menyengat hidung lapar seluruh rombongan.Pelayan rumah makan berpeci hitam menyusun belasan piring lauk bertingkat di kedua tangannya, menghidangkan deretan menu di atas meja panjang kayu."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, itu gulai tunjang kikil sapi kuahnya kuning mengkilap kek oli samping baru!" seru Juna agak gagap panik seraya langsung menyambar piring nasi putih porsi jumbo."Cuci tanganmu pakai air kobokan dulu dan jangan langsung main comot kek orang dilarang makan tiga hari, Juna!" tegur Slamet kaku memper
"Tahan emosimu sebentar, Sonya, urusan anak muda penjaga jembatan kampung begini dilarang diselesaikan pakai pasal hukum atau nada bentakan orang kota!" bisik Arya Baswira seraya menepuk lembut paha majikannya di kursi kernet Fuso nomor satu.Arya Baswira membuka pintu kabin kemudi dengan santai, melangkah turun menjejak tanah berkerikil di ujung jembatan kayu darurat.Kabut fajar yang membayangi aliran sungai pedalaman perlahan tersapu oleh sinar merah matahari pagi dari balik rimbunnya pohon kelapa sawit."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, itu pemuda bertato kumisnya melintang kek kawat sling baja, 'batin saya beneran mulas takut kepala Fuso dipalak batu'!" bisik Juna agak gagap panik seraya melongok dari balik kaca Fuso kedua."Duduk diam di kursimu dan jangan pasang muka nantang kalau dilarang mau dilempar ke sungai, Juna!" tegur Slamet kaku memperingatkan seraya melangkah turun menyusul Ary
"Ambil balok kayu ulin dari bak Fuso nomor satu dan pasang di bawah bantalan sasis sekarang juga, Juna!" seru Arya Baswira seraya berlari cepat mendekati roda belakang Fuso kedua yang amblas di tepi parit tanah kebun sawit.Sorot lampu tembak Fuso pertama menyinari kepulan debu tanah merah dan dua ban ganda belakang yang robek mencium pelek baja.Juna merangkak keluar dari bawah kolong bak truk dengan muka belepotan lumpur sawit bercampur peluh hitam."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, dongkrak hidrolik cadangan ini beratnya kek anak gajah, 'batin saya beneran mulas takut pinggang saya patah dua'!" jerit Juna agak gagap panik seraya menyeret dongkrak besi tiga puluh ton."Jangan banyak mengeluh, pasang dongkrak itu tepat di bawah as roda gardan dan pompa tuasnya bersama saya!" bentak Slamet kaku memperingatkan seraya mengusir kerumunan nyamuk kebun yang mendengung di telinganya.
"Kunci pintu mobilnya dari dalam sekarang juga, Arya, udara pantai ini dingin amat tetapi tubuh majikanmu mendadak terasa panas membakar!" bisik Sonya Baskoro dengan suara mendesah parau seraya menarik kerah kaos oblong Arya ke jok tengah kabin.Deburan ombak pesisir Kalianda bergemuruh pelan di balik kaca jendela mobil yang tertutup rapat.Arya Baswira menekan tombol kunci sentral satset, mengunci rapat kabin kendaraan dari keremangan malam pantai Lampung.Aroma wangi parfum mawar mewah Sonya berpadu sensual dengan aroma maskulin keringat supirnya di dalam ruang sempit ber-AC dingin."Waduhhh… te-te-tetapi Sonya, celana jins ketatmu ini kancingnya keras amat kek dipalu montir!" bisik Arya agak gagap terpana seraya meraba kancing celana sang Ratu Besi."Tarik ke bawah celana jins ini dan jangan biarkan supir pribadimu cuma memandangi lekuk pantat majikannya, Arya!" tuntut
"Tarik tuas pengunci kerek tambang bajanya sekarang juga, Slamet, jangan biarkan peti piring giok bergeser satu milimeter pun saat roda Fuso menyentuh rampa dermaga!" seru Arya Baswira seraya melompat ke atas bak truk dan menarik tali baja pengikat peti dengan hentakan tenaga lengannya yang kokoh.Krakkk… krek!Kait baja pengunci berputar kencang, mengunci peti kayu berlapis busa tebal itu menempel mati pada lantai bak truk Fuso nomor satu.Rampa besi kapal feri menghantam dermaga Bakauheni dengan suara berdentang keras, membuka akses keluar menuju jalan raya lintas Sumatra."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, jalanan aspal di luar gerbang pelabuhan kok gelap gulita kek dilarang ada tiang listriknya!" jerit Juna agak gagap panik seraya memutar kemudi Fuso nomor dua mengekor di belakang."Nyalakan lampu kabut kuningmu dan jaga jarak aman di belakang bak truk Mas Arya, Juna!"







