Beranda / Male Adult / Gairah Sopir dan Majikan / Bab 402 Racun di Urat Nadi

Share

Bab 402 Racun di Urat Nadi

Penulis: Irbapiko
last update Tanggal publikasi: 2026-04-28 08:10:13

"Dokter! Mana tim medisnya?!"

Arya meraung, suaranya menggelegar di lobi gedung Sonya Fast yang masih dipenuhi kepulan asap sisa kebakaran. Ia mendekap Anya dengan posisi tangan yang gemetar hebat, matanya menatap nanar pada noda biru kecil di lengan bayi itu yang kian menggelap. Napas Anya terdengar pendek, sangat halus, seolah oksigen di ruangan itu telah berubah menjadi racun yang mencekik paru-paru kecilnya.

Sonya jatuh terduduk di samping Arya, jemarinya mencengker

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 747 Malam Panik di Kamar Bawah Laut

    "Buktikan kalau supir kasarmu ini beneran berani meremukkan tubuh Ratu Besi yang basah kuyup ini, Arya!" rintih Sonya Baskoro mendesah parau seraya menarik ikat pinggang taktis Arya Baswira di atas ranjang kabin bawah geladak.Hawa hangat di dalam kamar kapten berpadu dengan aroma wangi parfum mawar basah yang menguar pekat dari gaun beludru Sonya.Arya Baswira merobek ritsleting gaun malam basah majikannya satset, menampakkan lekuk tubuh putih mulus nan montok yang menggoda iman."Waduhhh… te-te-tetapi Sonya, guncangan ombak di luar beneran bikin ranjang besi ini goyang-goyang dilarang karuan!" bisik Arya agak gagap terpana menatap bukit kembar kenyal sang Ratu Besi."Persetan dengan ombak samudra, Arya... kunci tangan saya dan tancapkan seluruh keperkasaan jantanmu sekarang juga!" potong Sonya merintih menuntut kepasrahan raga.'Sialan, Ratu Besi yang paling ditakuti se-

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 746 Pengakuan Cinta Sonya di Atas Kapal Tanker

    "Singkirkan rasa ragumu di depan lautan luas ini, Arya, karena sejak detik pertama kamu memegang kemudi mobil saya, takhta dan raga Ratu Marunda ini beneran sudah kamu kuasai seutuhnya!" rintih Sonya Baskoro bersuara parau seraya memeluk dada bidang Arya Baswira dari belakang di atas geladak kapal tanker.Angin laut malam Selat Malaka berhembus kencang menerbangkan helai rambut hitam Sonya yang harum semerbak wangi mawar.Di bawah geladak besi raksasa kapal tanker Marunda Perkasa Satu, riak ombak memecah buih putih yang memantulkan pendar rembulan temaram.Arya Baswira berdiri kokoh bagai tiang pancang baja, membiarkan jemari halus majikannya melingkar erat di perut berototnya."Waduhhh… te-te-tetapi Mbak Sonya, angin buritan ini dingin amat bikin masuk angin, 'batin saya beneran mulas takut disuruh ngerokin bos besar'!" bisik Juna agak gagap panik dari balik tangga anjungan.

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 745 Kemunculan Pewaris Bayangan Singapura

    "Nyalakan layar proyektor ruang rapat sekarang juga, Cindy, saya mau melihat langsung muka orang yang berani mengaku sebagai darah daging Baskoro dari Singapura!" bentak Sonya Baskoro dingin seraya menghentakkan kedua telapak tangannya ke atas meja kaca direksi.Pendar cahaya biru dari layar proyektor raksasa seketika membelah keremangan ruang rapat lantai dua pangkalan Jakarta.Suara desis frekuensi panggilan video satelit berkedip cepat, menyambungkan jaringan internet pangkalan ke gedung pencakar langit Marina Bay.Gambar video berkualitas tinggi memunculkan sosok pria muda berjas sutra perak yang duduk angkuh di kursi kulit hitam berlatar pemandangan pelabuhan Singapura."Waduhhh… te-te-tetapi Mbak Sonya, garis hidung sama rahang cowok itu beneran mirip sekali sama Mas Arya!" bisik Juna agak gagap panik dari samping lemari arsip."Kunci mulut konyolmu dan perhatikan ge

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 744 Skandal Lama Mendiang Papa Baskoro

    "Buka kunci koper kulit tua berstempel Singapura ini sekarang juga, Jessy, saya mau melihat sendiri rahasia apa yang disembunyikan Papa selama tiga puluh tahun!" perintah Sonya Baskoro dengan suara bergetar tertahan seraya berdiri tegang di balik meja direksi pangkalan Jakarta.Suasana ruang kerja utama mendadak hening mencengkeram, hanya menyisakan suara hembusan pendingin ruangan yang berdesir halus.Koper kulit cokelat kusam berlapis pelat kuningan yang dibawa dari pengadilan arbitrase diletakkan di atas meja kaca.Jessy Baskoro memutar kombinasi angka kunci koper satset, membuka engsel logam yang berderit nyaring di udara ruangan."Waduhhh… te-te-tetapi Mbak Sonya, koper antik begini baunya apek amat kek karung beras zaman penjajahan!" bisik Juna agak gagap panik dari samping pintu."Kunci mulut konyolmu dan jangan mengotori meja majikan dengan celetukanmu, Juna!" tegu

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 743 Batin Panik Supir Pangkalan Diinterogasi Polisi

    "Jangan gerak sembarangan dan jawab pertanyaan penyidik dengan jujur, Supir!" bentak perwira reserse seraya menyorotkan senter patroli tepat ke muka Juna di pelataran pos pangkalan.Kilatan lampu rotator biru mobil polisi berputar-putar di dinding garasi Fuso, menambah hawa dingin mencekam di pelataran parkir.Juna berdiri gemetar seraya mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara, membiarkan lututnya saling beradu kaku."Waduhhh… te-te-tetapi Pak Polisi, saya berani sumpah cuma supir serep pembawa surat jalan solar!" jerit Juna agak gagap panik seraya menatap borgol besi di pinggang petugas."Turunkan tanganmu dan jangan bersikap konyol kek buronan kelas kakap, Juna!" tegur Slamet kaku memperingatkan seraya berdiri tegap di sampingnya.'Hadeuhhh… saya cuma supir pembawa surat jalan, Pak Polisi! Jangan masukkan saya ke sel bareng preman!' jerit Juna panik dala

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 742 Teror Kaleng Belerang di Pos Pangkalan

    "Waduhhh… bau belerang ini kek kentut gajah! Kalau saya pingsan di sini, siapa yang ngurus surat jalan?" jerit Juna seraya membekap hidungnya pakai handuk basah di pintu belakang pos pangkalan Marunda.Gumpalan asap kuning pekat mengepul keluar dari celah kolong lantai kayu pos supir, menyebarkan aroma menyengat yang bikin mata perih.Tiga supir senior terbatuk-batuk seraya merayap keluar dari pos menuju pelataran parkir Fuso yang terbuka.Juna menyiramkan seember air comberan ke arah lantai, memutar matanya liar menatap kaleng seng yang mendesis panas."Hahhh... te-te-tetapi Mas Arya, itu kaleng sengnya kok mengeluarkan percikan api kek petasan banting!" teriak Juna agak gagap panik seraya mundur teratur."Mundur sepuluh langkah dan jangan hirup asap kuningnya, Juna!" bentak Arya Baswira dengan suara berat berdarah dingin.'Sialan, para tikus Sindhu b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status