Mag-log inSuatu hari di kediaman Sonya, Arya merasa momen itu adalah saat yang tepat untuk memberikan sebuah kejutan kepada Sonya. Dia telah merencanakan ini dengan matang, dan hari ini adalah saat yang tepat untuk melakukannya.
Pagi itu, Sonya sedang duduk di ruang keluarga, memeriksa beberapa dokumen perusahaan. Arya datang dengan senyuman lebar di wajahnya. Dia mendekati Sonya dengan perlahan, membawa sebuah kotak kecil berbingkai cantik.
"Bu Sonya, saya pun
"Brakkk…!"Hantaman kepalan tangan bercincin batu giok milik Tetua Sindhu menghantam meja rapat marmer hingga cangkir keramik teh bergetar nyaring.Ruang bawah tanah sebuah gedung tua di kawasan Menteng Jakarta mendadak diselimuti hawa panas ketegangan yang mencekam.Tujuh petinggi sisa-sisa Klan Sindhu tertunduk kaku dengan wajah pucat pasi, menatap layar monitor yang menampilkan berita penyerahan aset Sektor Selatan."Sialan! Bagaimana mungkin Konsorsium Barat di Singapura hancur lebur dan Nona Muda Sektor Selatan menyerahkan seluruh dermaganya pada Sonya?!" bentak Tetua Sindhu menggelegar."Waduhhh… te-te-tetapi Tetua, supir pribadi Sonya yang bernama Arya itu beneran punya wibawa dan kekuatan fisik gila!" jawab salah satu anggota dewan Sindhu agak gagap panik.'Kalau kita tidak bisa menumbangkan Marunda di laut, kita hancurkan nama baik Arya
"Angkat kepalamu dari karpet itu, Nona Muda, saya dilarang butuh air mata buaya dari wanita yang tadi pagi mencoba merayu supir pribadi saya!" gertak Sonya Baskoro dingin seraya berdiri anggun di balik meja kerjanya.Suasana ruang kerja direksi pangkalan Marunda Fast Jakarta mendadak hening membeku, diselimuti aroma wibawa sang Ratu Besi yang tak tertandingi.Nona Muda Sektor Selatan bersujud bertumpu pada kedua lututnya di atas karpet marmer, meletakkan map segel merah di depan ujung sepatu hak tinggi Sonya.Gaun beludru merah yang tadi pagi dipakainya dengan angkuh kini tampak kusut berdebu, mencerminkan kehancuran total martabat keluarganya."Waduhhh… te-te-tetapi Mbak Sonya, cewek sombong itu beneran nangis sesenggukan kek anak kehilangan balon!" bisik Juna agak gagap panik dari balik pintu kaca."Tutup mulut konyolmu dan biarkan Mbak Sonya menuntaskan urusan penyeraha
Brugghh…!Tendangan tumit sepatu lars Slamet mendobrak daun pintu kayu kantor cabang hingga selot besinya jebol terpelanting ke lantai semen.Slamet menerjang masuk bagai banteng liar, menyambar pergelangan tangan pria penyusup yang sedang menodongkan belati ke leher Cindy.Satu hantaman kepala kunci pas nomor empat puluh delapan melayang telak ke rahang penyusup, merobohkan pria itu pingsan seketika di kolong meja."Waduhhh… te-te-tetapi Kang Slamet, musuhnya beneran langsung pingsan cuma sekali getok!" jerit Juna agak gagap panik dari ambang pintu."Seret bajingan ini keluar dan kunci gerbang pelabuhan cabang sekarang, Juna!" perintah Slamet berdarah dingin seraya membanting pintu kembali.Juna menyeret tubuh pingsan penyusup itu terburu-buru, meninggalkan keheningan pekat di dalam ruang kerja eksekutif cabang yang terkunci dari dalam
"Mundur sepuluh langkah dari tangki solar Fuso ini sebelum besi baja kunci pas saya meratakan tempurung lutut kalian!" bentak Slamet menggelegar seraya mengacungkan kunci pas nomor empat puluh delapan di tangannya.Slamet berdiri tegap membusungkan dada berototnya di depan deretan sepuluh truk Fuso cadangan di dermaga pelabuhan cabang.Sepuluh pria kekar berbaju serba hitam utusan Sektor Selatan mengepung posisi Slamet seraya mengayunkan rantai kapal dan pipa besi berkarat."Waduhhh… te-te-tetapi Kang Slamet, jumlah preman itu beneran terlalu banyak buat dihadapi sendirian!" teriak Juna agak gagap panik dari atas bak truk."Mau pengawal kota atau preman pelabuhan, kunci pas supir tua ini dilarang pilih-pilih lawan!" tegas Slamet tegap membumi dalam batinnya yang mendidih amarah.Brugghh…!Dua pengawal musuh melompat maju b
"Jangan pernah berpikir kamu bisa melangkah keluar dari ruangan ini hidup-hidup kalau mulut kotormu masih berani mengancam pangkalan Marunda!" bentak Arya Baswira dengan suara dingin menghunjam lantai.Arya Baswira melangkah maju dua tindakan tegap, menginjak serpihan cek lima puluh miliar rupiah di bawah sol sepatu larsnya hingga hancur menjadi abu debu.Hawa dingin berdarah dingin memancar pekat dari dada bidang sang pengawal, mengunci gerak tubuh Nona Muda Sektor Selatan di atas sofa kulit."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, cewek aristokrat itu beneran punya koneksi ke puluhan preman pelabuhan!" seru Juna agak gagap panik dari celah pintu."Kunci mulut konyolmu dan saksikan bagaimana supir pangkalan ini menginjak harga diri musuhnya, Juna!" potong Arya melirik tajam.'Kembali ke Sektor Selatan dan sampaikan pada majikanmu, pangkalan Marunda bakal meratakan seluruh bisnis
"Tarik tanganmu dari dada saya sebelum jemari lentikmu itu patah jadi dua bagian!" bentak Arya Baswira berdarah dingin seraya mencengkeram pergelangan tangan Nona Muda Sektor Selatan.Arya Baswira menarik raga molek Nona Muda menjauh dari jangkauan amukan Sonya Baskoro, menyeret wanita angkuh itu melangkah masuk ke ruang transit direksi.Pintu kaca peredam suara ruang transit ditutup rapat, memisahkan perdebatan panas dari tatapan mata para staf dan supir pangkalan."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, jangan berduaan di kamar transit sama cewek ular itu!" teriak Juna agak gagap panik dari balik jendela kaca."Kunci bibir konyolmu dan awasi perimeter luar, Juna!" bentak Arya memotong lewat tatapan mata tajam.'Laki-laki mana yang sanggup menolak tawaran harta dan raga Nona Muda Sektor Selatan?' dengus Nona Muda dalam batinnya yang penuh kesombongan aristokrat.







