MasukKedipan lampu indikator merah kaku pada panel sekuritas luar segera dipotong oleh gerakan cepat jemari Cindy di atas papan ketik terenkripsi Kuningan.
Deggg...
"Abaikan dulu ancaman penahanan fisik dari kejaksaan agung lama itu, Mas Slamet, ketelitian administrasi saya berhasil menembus manifes logistik Sektor Barat!" seru Cindy lantang.
Selembar draf kertas kerja komparatif hasil cetak manual langsung disentakkan Cindy ke atas meja bundar ruang tengah, memecah k
Suasana di dalam sudut kafe kecil yang agak tersembunyi di kawasan pinggiran kota sore itu tampak sunyi, tenang, dan jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota besar yang melelahkan fisik maupun mental.Arya Baswira duduk menyendiri di meja pojok ruangan berpenyejuk udara sambil mengenakan jaket kulit hitam gelap untuk menyamarkan identitas aslinya sebagai Manajer Keuangan korporasi besar.Pria berbadan kekar itu melirik jam tangan peraknya berulang kali, menunggu kedatangan seorang informan lapangan yang berjanji menyerahkan data tambahan terkait proyek hibah pelabuhan regional."Waduhhh... Mana orangnya ini, sudah lewat sepuluh menit dari jadwal perjanjian tapi batang hidungnya belum juga kelihatan di pintu masuk kafe," gumam Arya kesal sambil melipat tangan di dada.Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berjas kusam dan berkacamata tebal berjalan tergesa-gesa menghampiri meja pojok tempat Arya menu
Pagi hari yang sibuk di kawasan depo logistik regional pelabuhan niaga tampak dipenuhi oleh deru mesin truk kontainer dan aktivitas bongkar muat barang yang sangat padat.Arya Baswira melangkah turun dari mobil pribadinya mengenakan kemeja flanel gelap dan topi lapangan, menyamar sebagai pengawas audit independen dari kantor pusat perusahaan.Pria berbadan kekar itu berjalan tenang menyusuri area gudang penyimpanan logistik yang luas, mengamati setiap aktivitas keluar-masuk muatan secara cermat tanpa menarik perhatian.Sebagai Manajer Keuangan Marunda Fast, Arya harus bergerak cepat mengamankan bukti digital transaksi fiktif sebelum disembunyikan oleh oknum kepala depo yang berkhianat."Waduhhh... Laporan harian solar di depo ini kelihatannya tidak sinkron dengan jumlah armada truk tronton yang beroperasi setiap harinya di lapangan," gumam Arya meneliti catatan fisik di tangannya.
Lampu kristal mewah di ruang kerja direktur utama lantai tiga gedung Marunda Fast memancarkan cahaya temaram kekuningan yang sangat hangat dan menenangkan.Pintu kayu jati berukuran besar berlapis pernis mengkilap tersebut terkunci rapat dari dalam, memastikan tidak ada satu pun staf kantor yang bisa masuk mengganggu privasi.Sonya Baskoro duduk di atas kursi kerjanya dengan napas yang sedikit memburu, memandangi tumpukan laporan ancaman dari utusan misterius di pangkalan utama tadi siang.Blazer abu-abu gelap berpotongan elegan yang melekat di tubuh indahnya tampak sedikit kusut akibat ketegangan mental yang ia rasakan sepanjang perjalanan pulang dari Limo."Mereka benar-benar mencoba menekan kita dari segala penjuru, Arya... Konsorsium lawan tampaknya tidak mau menyerah begitu saja setelah somasi mereka kita mentahkan," keluh Sonya.Keluhan tersebut keluar dengan nada suara man
Suasana di dalam ruang operasional pangkalan utama Marunda Fast di kawasan , Depok, mendadak terasa jauh lebih tegang dari biasanya pada siang hari itu.Slamet berdiri di dekat meja administrasi utama sambil memegang selembar kertas brosur provokatif yang baru saja disita dari tangan salah seorang kernet truk senior.Pria bertubuh gempal berambut cepak itu tampak mengerutkan dahi dengan ekspresi wajah kesal, menatap tajam ke arah halaman parkir pangkalan yang dipadati truk tronton."Waduhhh... Kalau masalah ini dibiarkan berlarut-larut, bisa-bisa para supir senior kita termakan hasutan murahan dari orang luar yang tidak bertanggung jawab!" gerutu Slamet kesal.Cindy yang duduk di samping meja administrasi segera merapikan tumpukan berkas surat jalan, menatap suaminya dengan ekspresi wajah yang ikut serius."Memangnya apa isi brosur hasutan itu, Mas Slamet? Coba bawa ke sini biar
Suasana di dalam ruang divisi keuangan lantai tiga gedung pusat Marunda Fast pagi itu dipenuhi oleh tumpukan berkas tebal dan layar monitor komputer yang menyala terang benderang.Arya Baswira duduk tegap di kursi kerjanya, mengenakan kemeja putih dengan lengan kemeja yang dilipat rapi hingga siku memperlihatkan otot lengan yang kekar dan terlatih.Pria bertubuh tegap itu memegang kendali penuh atas audit investigasi mendalam terhadap seluruh pembukuan logistik lintas wilayah yang beroperasi di bawah bendera korporasi besar."Kita harus memeriksa ulang setiap sen aliran dana dan setiap lembar surat jalan lintas provinsi tanpa ada satu pun yang terlewat oleh pemeriksaan teliti," instruksi Arya tegas.Para staf akuntansi junior mengangguk patuh mendengarkan perintah atasannya, bergerak cepat menyortir ribuan data transaksi digital yang tersimpan di dalam server pusat perusahaan.An
Suasana di dalam ruang rapat pleno lantai empat gedung pusat Marunda Fast pagi itu terasa sangat dingin, kaku, senyap, dan penuh tekanan mental yang luar biasa berat.Meja rapat panjang berbahan kayu jati hitam pekat dikelilingi oleh para direktur regional dan kepala divisi hukum korporasi yang duduk dengan wajah tegang berkeringat dingin.Sonya Baskoro duduk di kursi utama Direktur Utama dengan balutan blazer hitam legam yang sangat elegan, memancarkan aura Ratu Besi yang kejam dan sama sekali tak tersentuh.Di sebelah kanannya, Arya Baswira duduk tegap mengenakan setelan jas formal berwarna abu-abu gelap, memegang tablet kontrol keuangan yang menampilkan data audit investigasi lengkap."Kita tidak boleh panik menghadapi somasi murahan dari konsorsium saingan yang mencoba mencari panggung di pengadilan niaga," ucap Sonya dingin dengan suara berwibawa yang menggelegar.Suara bari







