LOGINKotak logam berisi draf keputusan darurat kepabeanan Singapura dari lantai generator segera disita oleh Arya Baswira, lalu dia mengunci pintu jati berlapis baja kamar utama paviliun atas guna meredam ketegangan saraf siber Sonya Baskoro malam ini.
Lampu dinding temaram memancarkan pendar kuning keemasan, membentuk siluet raga yang sarat akan gairah dewasa tak terbendung.
Kecupan bibir yang dalam, basah, dan menuntut pembalasan fisik langsung dilepaskan oleh Arya tepat di depan l
Aroma parfum bunga lili yang harum menyeruak lembut di dalam ruangan VIP Restoran Danau Surabaya.Maya Fransiska menyilangkan kakinya yang mulus, membiarkan gaun malam merah marunnya tersingkap tipis memperlihatkan lekuk paha indahnya.Di seberang meja kayu jati, Arya Baswira duduk dengan posisi tegap, melipat kedua tangannya di dada bidangnya."Minum dulu anggurnya, Pak Arya... Suasana privat begini sangat cocok buat membicarakan bisnis besar," bisik Maya bernada sangat mesra.Arya bahkan tidak menyentuh gelas kristal di depannya, menatap wanita utusan Konsorsium itu dengan pandangan dingin."Saya datang ke sini bukan untuk minum-minum, Bu Maya," tegur Arya bernada datar dan berat."E-ehmm... M-maksud saya, kita santai sedikit kan tidak ada salahnya?" sahut Maya tersenyum manis dengan sedikit kegagapan.Maya berdiri pelan dari kursinya,
Deru mesin disel belasan truk tronton meraung bersahut-sahutan di pelataran Pangkalan Marunda Fast Surabaya.Arya Baswira melangkah keluar dari kabin Alphard hitam, mengancingkan kemeja lengan panjangnya yang digulung sampai siku.Di sampingnya, Slamet mengawasi sekeliling pangkalan dengan pandangan mata tajam khas supir senior pangkalan."Kondisi sepuluh kontainer yang dilempar batu tadi bagaimana, Met?" tanya Arya bersuara berat dan tenang."Kaca depan dua truk retak, Pak Arya... Tapi seluruh barang muatan aman tidak ada yang rusak," jawab Slamet sigap.Koordinator pangkalan Surabaya langsung berlari menghampiri Arya dengan wajah pucat penuh rasa cemas."Pak Arya, orang-orang bentukan Konsorsium masih bertahan di depan gerbang tol Dupak!" seru koordinator pangkalan itu panik."E-ehmm... M-maksud saya, mereka mengancam bakal pecahkan kac
Tangan mulus Sonya membenarkan letak gaun kerjanya dengan gerakan super cepat dan panik.Arya mengancingkan kemejanya santai, lalu melangkah menuju pintu kayu jati untuk membukakannya sedikit."S-sebentar, Cin! Lagi ada penyesuaian angka laporan!" seru Sonya bernada agak kaku dari atas sofa.Cindy yang berdiri di luar pintu mengernyitkan dahi, mendengar suara sang Direktur Utama yang terdengar sedikit serak.Saat pintu terbuka separuh, Arya muncul dengan senyum tenang khas Manajer Keuangan."Mana berkas revisinya, Cin? Biar saya yang bawa masuk," ucap Arya sambil mengulurkan tangan."E-eh, ini Pak Arya... Berkas jadwal operasional pangkalan yang baru," sahut Cindy sambil menyerahkan map tebal.Arya mengambil berkas itu, menepuk pelan bahu sekretaris istrinya lalu menyuruhnya kembali ke meja kerja."Terima kasih, Cin.
Layar laptop premium di meja kayu jati itu masih menyala. Sonya Baskoro menyilangkan kaki mulusnya, menatap Arya dengan pandangan dingin dan tajam."Klausul akuisisi lima belas armada Konsorsium Jawa-Sumatra ini sudah sempurna, Arya. Jangan membuang waktu rapat hanya karena kamu merasa curiga!"Arya tidak menjawab dengan kata-kata manis. Pria kekar berkaos kerah ketat itu melangkah mantap, menepuk lembaran kertas audit tepat di depan meja sang Direktur Utama.Brak!"Lihat baris keempat lembar neraca aktiva ini, Bu Direktur," suara Arya terdengar berat dan sangat tenang.Sonya menaikkan satu alisnya, lalu mengambil berkas itu dengan gerakan anggun. Mata cantiknya mulai menyapu angka-angka yang tertera di sana."Maya menyembunyikan selisih penyusutan nilai aset sebesar tiga puluh persen di catatan kaki," Arya menunjuk angka-angka itu dengan telunjuk besarnya. "Kalau kamu tandatangani kontrak ini sekarang, Marunda Fast menanggung beban
Suasana ruang rapat utama gedung lantai lima Marunda Fast mendadak hening seketika.Tangan mulus Sonya Baskoro mengetuk berkas tebal bersampul biru di atas meja oval kaca, menatap seluruh jajaran manajer divisi.Sebagai Direktur Utama, aura Ratu Besi dari wanita cantik bergaun hitam itu terpancar sangat dingin dan mengintimidasi."Suntikan modal sebesar lima puluh miliar rupiah dari konsorsium Singapura ini sangat strategis buat pangkalan baru kita di Kalimantan," tegas Sonya bersuara datar.Para manajer operasional dan logistik mengangguk-angguk setuju, membayangkan ekspansi armada truk tronton yang kian masif.Cindy yang duduk di sisi kiri meja rapat sigap mencatat poin-poin penting, sesekali mengusap perut dua bulannya yang masih rata.Namun dari ujung meja sebelah kanan, suara dehaman berat terdengar memotong keheningan ruang rapat tersebut.Arya Baswira merapikan posisi dasi hitamnya, memajukan tubuh kekarnya lalu menumpuk dua le
Arya menggenggam ponsel di tangannya, mendengarkan laporan Manajer Operasional Surabaya dengan raut wajah sangat tenang.Di seberang telepon, suara manajer lapangan terdengar agak bergetar melaporkan sepuluh truk kontainer yang dihadang di Pantura."Tenang, Pak Hendra… Jangan bentrok fisik di lapangan," pangkas Arya bersuara berat dan mantap."E-ehmm… M-maksud saya, mereka menahan STNK dan minta uang keamanan gila-gilaan, Pak Arya!" seru Hendra panik."Sebutkan nama ormas dan siapa pelindung di belakang mereka… Biar besok pagi tim hukum Marunda Fast yang turun tangan," perintah Arya.Setelah menyelesaikan panggilan darurat tersebut, Arya menyimpan ponselnya di atas meja kaca balkon kamar utama.Angin malam kawasan Puncak berembus cukup dingin, membawa aroma kebun teh yang menyegarkan pikiran.Sonya Baskoro melangkah k







