LOGIN"Kunci pintu besi itu, Arya! Kepala saya rasanya mau pecah mengetahui nama Papa terdaftar sebagai pemilik saham aliansi musuh!" jerit Sonya Baskoro memecah hening kamar peristirahatan pangkalan.
Aura berdarah dingin sang CEO Galak runtuh seketika, berganti guncangan syok emosional yang meluapkan berahi liar tak tertahankan.
Arya Baswira membanting grendel pintu jati kuno satset, menyergap raga anggun Sonya yang gemetar di samping ranjang kayu tua.
"Tenangkan jiwamu, Sonya
"Lakukan sesukamu, Mas… Aku milikmu sepenuhnya malam ini," cicit Sonya pasrah dengan bibir gemetar.Arya melangkah mendekat, memotong jarak hingga tubuh tegapnya menaungi Ratu Besi yang terpojok di kasur.Aroma lilin aromaterapi yang menenangkan menyebar lembut, memperhangat suasana kamar tidur utama rumah mewah mereka.Arya mengulurkan tangan kapalannya, menyentuh dagu mulus Sonya lalu mendongakkannya secara perlahan."Masih ingat keputusan angkuh Nyonya saat rapat anggaran Marunda Fast minggu lalu?" bisik Arya bersuara berat."E-ehmm… Maksudmu soal pemotongan dana operasional pangkalan?" tanya Sonya terbata-bata menahan debaran dada."Betul sekali, Nyonya… Nyonya memotong anggaran pangkalan tanpa persetujuan Manajer Keuangan," jawab Arya tegas."Te-tetapi… Aku kan Direktur Utama Marunda Fast, Mas," balas Sony
"E-ehmm… Benar Suster, saya Sonya Baskoro," sahut Sonya cepat, membenahi letak kerah gaun kerjanya.Arya berdiri tegap di sebelah Sonya, menyunggingkan senyum tenang untuk menutupi rasa canggung di lorong."Kunci kamarnya sudah siap di meja resepsionis VIP, Bu Sonya," ucap suster itu melempar senyum ramah."Terima kasih Suster, tapi sepertinya kami tunda dulu. Kami ada urusan mendadak," pangkas Sonya berwibawa.Suster senior itu mengangguk sopan lalu berlalu meninggalkan mereka berdua di lorong sepi dekat lift privat.Sonya bernapas lega, menoleh menatap Arya dengan wajah merona merah menahan malu yang membakar pipi."Hampir saja reputasi Ratu Besi Marunda Fast hancur di depan suster," bisik Sonya mengelus dadanya."Makanya, Nyonya jangan suka minta yang aneh-aneh di tempat umum," goda Arya menepuk pelan pinggul istrinya.&n
"Ada mobil tidak dikenal di depan garasi rumah?!" seru Sonya panik, memotong kebahagiaan di ruang bersalin.Arya menyambar ponsel di tangan istrinya, memasang mode pengeras suara dengan raut wajah tegap."Bi Bik! Tenang dulu! Coba lihat nomor pelat mobilnya dari balik jendela!" perintah Arya bersuara berat."Ehmm.. Maksud saya pelat nomornya B 1982 PGL, Pak Arya!" jawab pengasuh Anya dari balik telepon.Slamet yang sedang memeluk bayinya langsung menepuk jidatnya sendiri saat mendengar deretan angka tersebut."Waduhhh… Maaf Pak Arya! Itu kan mobil pikap pangkalan yang saya suruh antar baju bayi ke rumah Bapak!" cetus Slamet meringis malu.Sonya menarik napas panjang, mengelus dadanya yang sempat berdegup kencan akibat kepanikan mendadak."Slamet! Kamu ini bikin orang rumah senut-senut saja!" omel Sonya melayangkan tatapan tajam Ratu Besi."Maaf Bu Sonya… Tadi saya keburu panik waktu Cindy mau melahirkan," kilih Sl
"Slamet! Tenang dulu! Bawa Cindy ke Rumah Sakit Medika sekarang!" teriak Arya memberikan instruksi lewat telepon."Saya dan Bu Sonya langsung meluncur ke sana dari kantor!" sambung Arya menutup sambungan telepon.Di kontrakan sederhana pangkalan, Slamet berlari kesetanan membopong Cindy yang terus meringis memegangi perutnya."Aduhh… Mas Slamet! Sakit banget ini! Perutku rasanya mau pecah!" jerit Cindy menggegapkan napas."Sabar ya Sayang! Tahan sebentar! Anak kita sudah tidak sabar mau keluar ini!" seru Slamet panik bukan main.Slamet mendudukkan Cindy di kursi samping kemudi mobil pangkalan, lalu menyalakan lampu hazard dan klakson.Breeeenggg…!Mobil minibus pangkalan melesat menembus kegelapan malam Jakarta, membelah kemacetan jalanan raya dengan ugal-ugalan.Slamet menekan klakson berkali-kali tanpa
Arya mengambil lembaran dokumen merah yang disodorkan Brian, menelitinya di bawah cahaya lampu meja kerja.Sonya melangkah mendekat, mengamati logo perusahaan pelayaran asing yang tertera di sudut kanan kertas."Kapal Kargo Global Express coba memakai Maya untuk membocorkan rute ekspor kita," cetus Arya bersuara berat."Untung saja dokumen ini berhasil diamankan sebelum sempat dikirim oleh Maya," sahut Jessy melepaskan napas lega."Sialan… Mereka kira bisa membobol Marunda Fast lewat pintu belakang yayasan!" bentak Sonya dengan wibawa Ratu Besi.Arya menyunggingkan senyum tipis, menyalakan mesin penghancur kertas lalu memasukkan dokumen tersebut ke dalamnya.Sreeeeet…!Mesin penghancur melumat kertas itu hingga menjadi serpihan kecil, memutus rantai sabotase musuh bisnis mereka."Masalah Clara dan Maya s
Brugghh…!Pintu ruang arsip yayasan anak yatim didobrak keras oleh Brian Baskoro, mengejutkan sosok wanita di dalam.Maya berdiri kaku di depan brankas terbuka, memegang berkas sertifikat hibah tanah anak yatim di tangannya.Jessy melangkah tepat di samping Brian, menatap Maya dengan pandangan dingin dan penuh kemurkaan."Apa yang kamu lakukan di dalam ruang arsip malam-malam begini, Maya?" pangkas Brian bersuara keras.Maya panik luar biasa, buru-buru menyembunyikan lembaran draf kontrak palsu di balik punggungnya."Ehmm.. Maksudku aku cuma mau merapikan berkas audit hibah, Mas Brian!" kilih Maya terbata-bata."Jangan bohong kamu! Jam kerja yayasan sudah selesai dari sore tadi!" potong Jessy melangkah maju.Slamet masuk membawa dua petugas keamanan yayasan, berdiri mengunci pintu keluar agar Maya tidak bisa ka







