ログインSetelah badai pembersihan dan momen panas di ruang kerja mereda, Arya dan Sonya kini dihadapkan pada kenyataan bahwa struktur organisasi Sonya Fast sedang pincang. Banyak posisi manajer yang kosong, dan operasional harus tetap berjalan tanpa hambatan.
"Ar, kita butuh orang-orang baru secepatnya," ucap Sonya sambil merapikan kembali pakaiannya yang sedikit kusut. Ia duduk di kursi kebesarannya, sementara Arya berdiri di depan jendela besar, menatap hiruk-pikuk Jakarta.
"
"Buka lembaran lampiran surat uji KIR dan sertifikat kalibrasi timbangan digital dari kantor pusat pangkalan kami ini, Pak Pejabat, biar Anda dilarang salah paham soal muatan keramik resmi kami!" ucap Arya Baswira dengan suara tenang berwibawa seraya menyodorkan map plastik bening di bordes tangga dek kapal.Kepala Dinas bersafari krem itu menyalakan senter kecilnya, membaca teliti angka stempel resmi dinas perhubungan pusat yang tertera di lembaran surat jalan.Raut wajah sang pejabat yang tadinya tegang perlahan melunak, menyadari bahwa armada Marunda Fast memiliki kepatuhan aturan yang dilarang ada cela."Waduhhh… te-te-tetapi Pak Kadis, jangan sampai kami disuruh bongkar peti kayu di Bakauheni, 'batin saya beneran mulas takut disuruh ngangkat guci sendirian'!" celoteh Juna agak gagap panik seraya menenteng dua gelas kopi saset panas dari kantin kapal."Tutup mulutmu dan jangan bikin malu d
"Singkirkan drum berkarat itu dari depan ban truk saya sebelum lehermu yang saya ganjal di bawah roda gardan, Preman!" gertak Arya Baswira seraya melompat turun dari kabin Fuso nomor satu dengan tatapan mata elang yang membekukan darah.Sepatu bot kulit Arya menjejak aspal pelabuhan dengan suara mantap, menampakkan postur dada bidang berotot yang menjulang tinggi di depan lima orang calo liar.Pimpinan calo berwajah bopeng itu tersentak mundur setengah langkah, terkesiap melihat wibawa pria Alpha yang berdiri tegap tanpa rasa gentar sedikit pun."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, balok kayu yang dipegang preman itu tebalnya kek kayu kasau pangkalan!" bisik Juna agak gagap panik seraya mengintip dari balik kaca spion Fuso kedua."Tetap di belakang kemudi dan jangan berani-berani matikan mesin Fuso, Juna!" tegur Slamet kaku memperingatkan seraya melangkah turun menenteng pipa besi pengungkit ban.
"Injak pedal gasmu secara halus dan tahan putaran mesin di seribu lima ratus RPM, Slamet, jangan biarkan bak trukmu menghentak saat kita menyalip bus malam!" komando Arya Baswira melalui mikrofon radio panggil seraya mengendalikan kemudi Fuso nomor satu di lajur kanan Tol Tangerang–Merak.Deru mesin diesel turbo berkapasitas delapan ribu CC meraung bertenaga namun stabil, membelah dinginnya aspal jalan tol di tengah gelapnya malam.Di belakangnya, Fuso nomor dua yang dikemudikan Slamet mengekor rapat dengan jarak aman tiga puluh meter, menjaga ritme konvoi tetap teratur."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, bus malam di sebelah kiri ini ngebutnya ugal-ugalan amat kek mau ngajak balapan sirkuit!" seru Juna agak gagap panik seraya memegangi pegangan tangan di atas pintu kabin truk kedua."Duduk yang tenang dan jangan bikin silau kaca spion dengan senter korekmu, Juna!" tegur Slamet kaku memper
"Ambil dongkrak buaya lima puluh ton dan siapkan balok kayu ulin di bawah sasis belakang sekarang juga, Slamet!" seru Arya Baswira seraya menyingsingkan lengan kaos oblong pangkalan dan melangkah masuk ke kolong truk Fuso nomor satu.Pelataran bengkel pangkalan Marunda mendadak riuh oleh dentang kunci pas baja dan deru kompresor angin hidrolik.Arya meraih kunci sok ukuran tiga puluh dua, mengendurkan mur pengunci klem per daun yang berkarat dengan sentakan tenaga lengannya yang kokoh."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, kolong Fuso ini baunya sangit oli bekas amat kek comberan pasar induk!" jerit Juna agak gagap panik seraya memegangi gagang dongkrak hidrolik."Tahan gagang dongkrak itu lurus dan jangan biarkan sasis truk ini miring sebelah, Juna!" bentak Slamet kaku memperingatkan seraya menggeser balok kayu pengganjal.'Kenyamanan muatan ini ada di ketelitian setelan per d
"Duduklah dengan tenang, Koh Ahong, pangkalan Marunda Fast dilarang pernah mundur sejengkal pun dari tantangan rute sesulit apa pun di tanah Sumatra!" sambut Sonya Baskoro seraya mempersilakan sang juragan keramik masuk ke ruang rapat kantor utama.Aroma wangi teh melati panas yang disajikan Cindy Histers mengepul lembut di atas meja kayu jati pangkalan.Koh Ahong meletakkan koper perak berantai baja di atas meja seraya mengelap keringat dingin di dahinya pakai saputangan sutra merah."Waduhhh… te-te-tetapi Koh Ahong, itu piring giok di dalam koper kalau kena lubang jalanan Lampung dilarang bakal pecah berantakan kan?" bisik Juna agak gagap panik dari samping dispenser air."Kunci mulutmu dan jangan menakut-nakuti juragan besar yang mau kasih orderan, Juna!" tegur Slamet kaku memperingatkan seraya menyilangkan tangan di pintu.'Proyek muatan khusus ini bakal menguji ketang
"Gusti Pangeran, anak kunci kuningan sebesar jempol kaki tadi saya taruh di mana ya?" pekik Juna histeris seraya meraba-raba saku celana pendek gombrangnya di samping ember cucian sabun garasi.Busa sabun putih masih menempel di sekujur bodi Fuso nomor satu yang sedang disemprot air bertekanan tinggi di pelataran pangkalan.Juna merangkak di lantai semen basah, mengintip ke bawah kolong gardan truk dengan mata melotot liar."Waduhhh… te-te-tetapi Kang Slamet, itu gembok baja gudang suku cadang beneran dilarang bisa dibuka kalau kuncinya lenyap!" seru Juna agak gagap panik seraya menatap pintu gudang yang masih dirantai rapat."Makanya kalau kerja itu fokus mencuci bodi truk, jangan sambil melamunkan jatah makan gratis, Juna!" omel Slamet seraya melipat kedua tangannya di depan dada.'Waduhhh… kalau kunci ini dilarang ketemu, gaji trip Lampung saya pasti dipotong bua







