ログインSetelah badai pembersihan dan momen panas di ruang kerja mereda, Arya dan Sonya kini dihadapkan pada kenyataan bahwa struktur organisasi Sonya Fast sedang pincang. Banyak posisi manajer yang kosong, dan operasional harus tetap berjalan tanpa hambatan.
"Ar, kita butuh orang-orang baru secepatnya," ucap Sonya sambil merapikan kembali pakaiannya yang sedikit kusut. Ia duduk di kursi kebesarannya, sementara Arya berdiri di depan jendela besar, menatap hiruk-pikuk Jakarta.
"
Siska berteriak histeris saat pintu mobilnya ditarik kasar oleh dua pria kekar utusan Pak Bagas."Lepaskan saya! Kalian mau membawa saya ke mana?!" jerit Siska meronta-ronta ketakutan di dalam mobil."Diam kamu! Pak Bagas tidak mau menunggu lama untuk mencocokkan dokumen harga Marunda Fast!" gertak pria itu menancap gas mobil boks menjauh dari pangkalan.Dari kejauhan di pinggir garasi pangkalan, Slamet mengawasi mobil boks yang melesat pergi itu sambil menggelengkan kepala."Waduhhh... Si Siska makin dalam saja masuk lubang masalah sama musuh bisnis Bu Sonya," gumam Slamet memegang obengnya.Slamet segera menyapu bersih sisa debu oli di tangannya menggunakan kain lap kusam di dekat mesin Fuso.Sore itu pangkalan Tanjung Priok mulai agak lengang, menyisakan deretan truk Fuso tua yang terparkir rapi.Slamet merogoh saku celananya, mengelua
Jessy menatap amplop cokelat di atas meja restoran dengan pandangan dingin tanpa menyentuhnya sedikit pun.Rendy menyunggingkan senyum tebar pesona, yakin fitnahnya berhasil menggoyahkan ketenangan pikiran istri Brian itu."Buka saja Mbak Jessy... Biar Mbak tahu seberapa manis kelakuan Brian di belakang Mbak," provokasi Rendy."Saya tidak perlu membuka sampah ini, Pak Rendy!" cetus Jessy bersuara tegas memotong umpan fitnah tersebut."Ehmm..Maksudku Mbak Jessy takut melihat kenyataan?" ejek Rendy agak gagap menahan keterkejutannya."Saya tahu persis integritas suami saya, dan saya tahu betul trik murahan pria licik seperti Bapak!" gertak Jessy.Jessy mendorong amplop cokelat itu kembali ke hadapan Rendy, lalu berdiri satset dari kursi makan."Urusan bantuan yayasan saya batalkan... Jangan pernah hubungi saya lagi!" tegas Jessy melangkah p
Suasana siang hari di aula Yayasan Kasih Baskoro terasa amat ramai oleh celoteh anak-anak yatim.Brian Baskoro berdiri di sudut ruangan, merapikan tumpukan dus berisi bantuan buku pelajaran sekolah.Seorang relawan wanita muda berparas manis melangkah mendekat sambil membawa segelas teh manis hangat.Maya tersenyum manis, mengulurkan gelas tersebut tepat di hadapan wajah Brian yang sedang bersikap sopan."Mas Brian... Minum dulu teh hangatnya, dari tadi kelihatan capek banget mengurus dus," tutur Maya halus.Brian menghentikan kegiatannya, menyapu keringat di dahi menggunakan saputangan kain."Terima kasih Maya... Taruh saja di meja samping situ," jawab Brian bersuara ramah namun berjarak.Maya tidak memindahkan gelas itu, justru melangkah satu tapak lebih dekat mendekati posisi Brian."Mas Brian ini sudah ganteng, ba
Sinar matahari pagi menembus kaca bening lantai dua kantor pusat Marunda Fast.Arya Baswira duduk tegap di balik meja Manajer Keuangan, memeriksa barisan angka laporan operasional armada solar.Suara langkah kaki bersepatu hak tinggi melangkah pelan mendekati meja kerjanya dari arah pintu masuk.Siska Amelia berdiri anggun membawa sebuah cangkir keramik putih berisi kopi hitam pekat yang aromanya menyengat.Pakaian kemeja ketat yang dikenakan Siska sengaja dibiarkan terbuka dua kancing atasnya, memamerkan lekuk leher mulusnya."Selamat pagi Pak Arya... Saya bawakan kopi racikan khusus Arabika kesukaan Bapak," sapa Siska tersenyum manis.Siska meletakkan cangkir kopi itu tepat di samping tumpukan dokumen audit keuangan milik Arya.Arya memindahkan pandangannya dari kertas laporan, menatap lurus mata Siska dengan raut wajah sangat dingin.
Suara deru mesin mobil sedan hitam memecah keheningan pelataran rumah mewah keluarga Baskoro malam itu.Arya Baswira mematikan stopkontak mobil, melangkah keluar seraya membawa tas dokumen keuangan yang tebal.Sonya Baskoro berjalan mendahului masuk ke dalam rumah, melepaskan sepatu hak tingginya dengan raut wajah amat letih.Laporan audit bulanan seluruh pangkalan Marunda Fast ditambah negosiasi alot di pelabuhan menguras stamina mereka berdua."Selamat malam Papa, Mama..." sapa Bi Inah menyambut dari arah ruang keluarga."Malam Bi... Anya sudah tidur dari jam berapa?" tanya Sonya merapikan rambutnya yang agak kusut."Non Anya baru saja lelap sepuluh menit lalu Bu... Tadi sempat menangis menanyakan Papa sama Mamanya," jelas Bi Inah pelan.Sonya mendesah napas panjang, menatap pintu kamar putrinya di lantai bawah dengan perasaan bersalah.
Ruang tunggu klinik spesialis rumah sakit perkotaan Jakarta terasa amat hening pagi hari itu.Slamet duduk kaku di atas kursi besi dingin, memakai kemeja batik terbaiknya yang sedikit kebesaran.Cindy menggenggam jemari Slamet amat erat, menunjukkan rasa cemas dan cemas menyelimuti benaknya.Keduanya sudah menunggu antrean selama satu jam demi berkonsultasi mengenai program kehamilan."Atas nama Ibu Cindy dan Bapak Slamet, silakan masuk ke ruang dokter tiga," panggil perawat berpakaian putih ramah.Cindy berdiri satset, menarik lembut tangan suaminya untuk melangkah masuk ke dalam ruangan serba bersih.Seorang dokter wanita paruh baya bersurat wajah teduh menyapa mereka dari balik meja konsultasi."Selamat pagi Pak Slamet, Bu Cindy... Silakan duduk santai saja," sapa Dokter Maya tersenyum."Selamat pagi Dok... Kami ma







