LOGINSetelah badai pembersihan dan momen panas di ruang kerja mereda, Arya dan Sonya kini dihadapkan pada kenyataan bahwa struktur organisasi Sonya Fast sedang pincang. Banyak posisi manajer yang kosong, dan operasional harus tetap berjalan tanpa hambatan.
"Ar, kita butuh orang-orang baru secepatnya," ucap Sonya sambil merapikan kembali pakaiannya yang sedikit kusut. Ia duduk di kursi kebesarannya, sementara Arya berdiri di depan jendela besar, menatap hiruk-pikuk Jakarta.
"
Arya Baswira melompat turun dari kabin Fuso nomor satu seraya menggenggam erat linggis baja, melangkah menembus kabut pekat kebun karet menuju papan petunjuk palsu.Seorang lelaki paruh baya bersarung kumal yang bersembunyi di semak-semak mendadak tersentak kaget melihat Arya mendekat."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Supir, saya cuma warga lokal yang berdiri di sini!" jerit calo jalanan itu panik seraya mundur ketakutan."Jangan bohongi supir lintas, kamu sengaja putar arah papan ini biar konvoi kami masuk ke jurang buang dan diperas kelompokmu!" bentak Arya bersuara berat menggelegar seraya menancapkan ujung linggis ke tanah merah.Slamet dan Badrun melompat turun dari armada belakang, mengepung sang calo dengan raut wajah garang."Ampun Bang Supir! Maksud saya cuma mau mengarahkan ke rumah makan rekanan kami!" rintih sang calo merangkak pasrah.Arya Baswi
"Tahan rem angin dan pasang ganjal kayu di roda belakang Fuso nomor dua sekarang, Slamet!" teriak Arya Baswira dari jendela kabin seraya menghentikan laju kendaraan di ceruk tebing sawit saat hujan gerimis mulai mereda.Hujan deras yang mengguyur puncak tebing sawit perlahan menyisakan tanah merah licin dan kubangan air di parit tepi jalan.Slamet melompat turun membawa ganjal kayu balok tebal, menyangkutkannya tepat di belakang ban radial Fuso."Juna! Turun membawa kunci roda dan periksa seluruh baut velg Fuso nomor dua yang habis melibas jalur tebing!" bentak Slamet kaku memanggil kernetnya."Siap laksanakan, Kang Slamet! Jangan galak-galak, ini saya sudah melompat turun membawa kunci pas ukuran tiga puluh dua!" sahut Juna setengah berteriak seraya melangkah satset ke samping bak truk.Juna berjongkok di samping roda belakang Fuso nomor dua, memukulkan kunci pas ke baut pelat b
"Longsor di Kelok Sembilan dilarang bisa dibersihkan dalam waktu dua hari, Mbak Sonya!" tegas Arya Baswira seraya melangkah keluar dari teras paviliun menuju meja kayu warung kopi penginapan rimba saat fajar belum menyingsing.Sonya Baskoro berjalan anggun di sampingnya mengenakan blazer hitam rapi, menyembunyikan tanda merah di lehernya dengan selendang sutra.Di meja kayu warung kopi, Slamet, Juna, Badrun, dan seorang supir veteran lokal Jambi bernama Mbah Wo sudah berkumpul mengelilingi peta kertas Sumatra Barat."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, kalau kita maksa nunggu jalan utama dibuka, beras lima ton di bak belakang bisa membusuk kena embun!" celetuk Juna agak gagap panik seraya menyeruput kopi hitamnya."Makanya subuh ini kita musyawarah menentukan rute jalan pintas yang bisa dilalui tujuh Fuso Marunda, Juna," sahut Slamet kaku seraya menunjuk garis merah di atas peta.
"Kunci gerendel pintu kamar mandi ini rapat-rapat, Arya, lalu basuh seluruh debu jalanan yang menempel di tubuh majikanmu ini!" bisik Sonya Baskoro seraya melangkah masuk ke dalam bilik mandi paviliun kayu rimba yang dipenuhi kepulan uap air hangat alami.Aroma wangi getah pinus berpadu harum sabun melati tradisional menguar pekat di udara bilik mandi berdinding papan kayu ulin.Arya Baswira memutar grendel besi pintu dengan tenang, mengunci ruang basah itu dari jangkauan area luar kamar penginapan.Sonya Baskoro melepaskan lilitan syal sutra hitam di lehernya, lalu menanggalkan kemeja serta celana panjangnya hingga memperlihatkan lekuk tubuh polosnya yang putih mulus berkilau."Waduhhh… te-te-tetapi Sonya, bak mandi kayu jati ini ukurannya pas-pasan kek drum oli pangkalan!" bisik Arya agak gagap tertahan seraya memandang keindahan raga majikannya."Masuk ke dalam air hang
"Injak lantai kabin kuat-kuat dan pegang dasbor Fuso rapat-rapat, Sonya!" seru Arya Baswira seraya menggeser tuas transmisi ke gigi satu rendah dan menekan pedal gas secara bertenaga penuh menyongsong palang liar Bayung Lencir.Deru mesin diesel Fuso nomor satu meraung menggelegar membelah keheningan hutan karet, memuntahkan kepulan asap knalpot hitam pekat ke udara.Bumper baja tebal Fuso menghantam palang bambu kuning dan pos terpal retribusi liar dengan satu dorongan torsi raksasa.Krakkk… Brakkk…!Palang bambu patah berkeping-keping menjadi serpihan kayu yang beterbangan ke semak-semak rumput di tepi jalan."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, pentolan preman berambut gondrong itu bawa parang panjang kek mau nebas leher!" teriak Juna agak gagap panik seraya melompat keluar dari kabin Fuso kedua menenteng dongkrak besi."Tetap di
"Rapatkan barisan armada dan jaga jarak aman lima puluh meter di belakang Fuso saya, Slamet!" seru Arya Baswira melalui corong radio panggil kabin saat memutar kemudi memimpin iring-iringan tujuh truk Fuso keluar dari pelataran warung Betung.Deru mesin diesel Fuso nomor satu meraung bertenaga, membelah kabut fajar perkebunan karet yang mulai tersapu cahaya merah matahari pagi.Sonya Baskoro duduk tegak di kursi kernet mengenakan kemeja sutra rapi, melilitkan syal sutra hitam di leher jenjangnya untuk menutupi jejak tanda merah kecupan supir pribadinya."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, aspal di depan itu gelombangnya kek ombak Selat Sunda, 'batin saya beneran mulas takut drum minyak di bak tumpah'!" jerit Juna agak gagap panik dari kabin truk kedua."Pegang kemudimu pakai dua tangan dan injak rem angin pelan-pelan saat melibas aspal keriting, Juna!" bentak Slamet kaku memperingatkan seraya men







