MasukSetelah badai pembersihan dan momen panas di ruang kerja mereda, Arya dan Sonya kini dihadapkan pada kenyataan bahwa struktur organisasi Sonya Fast sedang pincang. Banyak posisi manajer yang kosong, dan operasional harus tetap berjalan tanpa hambatan.
"Ar, kita butuh orang-orang baru secepatnya," ucap Sonya sambil merapikan kembali pakaiannya yang sedikit kusut. Ia duduk di kursi kebesarannya, sementara Arya berdiri di depan jendela besar, menatap hiruk-pikuk Jakarta.
"
Permukaan meja kerja mahoni berukuran raksasa itu terasa dingin menyentuh kulit punggung Sonya.Berkas laporan keuangan yang tersusun rapi bergeser berantakan saat Arya mendudukkan tubuh istrinya secara paksa.Sonya menengadah dengan napas memburu, menatap wujud suaminya yang berdiri tegap mengikis jarak di antara mereka."Mas… Ini meja kerja tempat aku memimpin puluhan pejabat konsorsium," bisik Sonya bergetar pasrah."Ju-justru di atas meja ini kamu harus ingat siapa pemilik mutlak dirimu, Sonya," balas Arya rendah menuntut.Arya menekan kedua bahu mulus Sonya, membuat sang Ratu Besi bersandar pasrah di atas tumpukan stofmap.Telapak tangan kapalan Arya merayap mantap dari lutut hingga menyingkap rok kerja Sonya ke atas pinggulnya."Hahhh… Mas Arya! Sentuhanmu selalu bikin aku kehilangan akal sehat," rintih Sonya menggelia
Pintu rahasia bernuansa kayu jati di balik lemari buku ruang kerja direktur tertutup rapat.Suara pendingin udara yang berhembus lembut tidak mampu mendinginkan suasana di dalam kamar privat VIP tersebut.Sonya berdiri menyandar pada pinggiran sofa kulit hitam yang empuk, menatap Arya dengan tatapan sayu membara.Ratu Besi Marunda Fast yang biasanya angkuh itu kini bernapas pendek, membiarkan jemari Arya mengusip leher mulusnya."Masih mau bertindak sebagai Direktur Utama di dalam kamar ini, Sonya?" bisik Arya dengan nada bass mengintimidasi."Ti-tidak, Mas… Di ruangan ini aku cuma majikanmu yang pasrah," jawab Sonya bergetar pelan.Arya tersenyum tipis, merangkul pinggang mulus Sonya lalu menariknya dalam satu sentakan kuat.Tubuh indah Sonya menempel rapat pada dada bidang Arya yang berbalut kemeja kerja ketat.
Cahaya matahari siang menembus kaca jendela ruang pengurus Yayasan Baskoro, memantul hangat di atas tumpukan dokumen audit sosial.Jessy menempelkan stempel verifikasi akhir pada berkas hibah, lalu menghela napas panjang penuh kelegaan."Semua proposal dana bantuan milik perusahaan Maya sudah dibatalkan total, Mas," ucap Jessy tersenyum lembut.Brian melangkah mendekati meja kerja istrinya, merangkul bahu Jessy dengan raut wajah penuh rasa syukur."Terima kasih sudah percaya padaku, Jess. Aku tidak akan membiarkan wanita mana pun merusak yayasan ini," balas Brian tulus."E-ehm… Maksudku, aku sempat cemburu berat saat melihat Maya menyodorkan cek itu kemarin," aku Jessy agak canggung.Brian tertawa pelan, mencium dahi istrinya dengan kasih sayang yang mendalam."Cemburumu itu tanda sayang, Jess. Tapi kamu tahu sendiri, hatiku cuma m
Suara riuh tepuk tangan para komisaris belum benar-benar surut di dalam ruang rapat eksekutif.Bagas yang masih diapit dua petugas keamanan berbadan tegap mencoba melepaskan cengkeraman tangan petugas."Tunggu dulu! Ini tidak adil! Kalian tidak bisa mengeluarkan aku begitu saja dari konsorsium!" teriak Bagas panik.Clara menahan napasnya, mencoba merapikan blazer kerjanya sambil menatap Arya dengan raut muka tegang."Pak Arya, sebagai kuasa hukum konsorsium, saya menuntut transparansi atas audit mendadak ini," sela Clara bergetar.Arya mengambil map merah tebal dari tangan Cindy, lalu melemparnya tepat ke tengah meja di depan Clara."Buka lembar ketiga, Mbak Clara. Jangan berpura-pura buta huruf di depan para komisaris," sahut Arya dingin.Clara membuka map tersebut dengan jemari gemetar, membaca baris demi baris pasal pembatalan yang ter
Pintu kayu jati ruang rapat eksekutif lantai teratas kantor pusat Marunda Fast terkunci dari dalam.Tiga puluh pemegang saham utama, jajaran komisaris, serta tim hukum perusahaan sudah duduk rapi mengelilingi meja oval besar.Sonya duduk di kursi puncak sebagai Direktur Utama, memancarkan aura Ratu Besi yang begitu dingin dan tak tersentuh.Di sebelah kirinya, Arya duduk tegak membawahi berkas manajer keuangan dengan tatapan mata yang tenang namun tajam.Bagas dan Clara duduk di seberang meja rapat, memamerkan senyum penuh kemenangan sambil menepuk berkas tebal di depan mereka."Selamat pagi, Para Dewan Komisaris. Hari ini kami akan membuktikan adanya dugaan penggelapan dana solar tiga miliar rupiah!" buka Bagas dengan suara lantang.Clara berdiri anggun, membagikan salinan dokumen tebal kepada seluruh anggota dewan komisaris di ruangan tersebut. 
Arya menutup pintu ruang rapat eksekutif, lalu melangkah mendampingi Sonya menuju lip privat lantai direksi."Slamet, siapkan Alphard hitam di lobi bawah. Kita meluncur ke pangkalan Tanjung Priok sekarang," panggil Arya via telepon."Siap, Mas Arya! Mesin sudah siap, pendingin kabin sudah dingin maksimal!" sahut Slamet dari seberang telfon.Sonya merapikan blazer cantiknya, mengusap lehernya yang agak tegang akibat konfrontasi rapat barusan."Kamu yakin semua bon solar fisik tahun lalu masih terarsip rapi di pangkalan, Mas?" tanya Sonya berbisik."Slamet dan Juna menguncinya di brankas besi pangkalan. Tidak ada satu lembar pun yang tercecer," tegas Arya optimis.Mereka bertiga akhirnya meluncur membelah kemacetan jalan tol kota menuju pangkalan Tanjung Priok.Slamet duduk di kursi pengemudi depan, fokus menatap jalanan sambil memutar musi







