LOGINPagi itu, Arya tidak mengenakan jas kantornya yang biasa. Ia memilih setelan yang lebih tajam, sebuah suit berwarna abu-abu arang dengan kemeja putih bersih tanpa dasi. Kesan yang ditampilkannya adalah seorang pria yang tenang namun sangat berbahaya jika diprovokasi. Setelah pengakuan Sonya semalam tentang rayuan Marco, ada api yang menyala di mata Arya—bukan api cemburu yang buta, melainkan insting seorang pelindung yang siap menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh miliknya.
Arya tiba di kantor Global Nexus yang terletak di gedung pencakar langit daerah Sudirman. Tanpa janji temu, ia melangkah masuk melewati resepsionis dengan wibawa yang membuat petugas keamanan segan untuk menghentikannya.
"Katakan pada Marco, Arya Wiratama dari Sonya Fast ingin bicara. Sekarang," ucap Arya datar namun penuh penekanan.
Tak butuh waktu lama, Arya diantar menuju ruangan Marco yang mewah dengan pemandangan kota Jakarta yang terhampar luas.
Sesuai dengan rencana yang disusun di malam sebelumnya, Arya memulai langkah taktisnya. Ia tahu bahwa melawan raksasa seperti Global Nexus di jalur utama pelabuhan besar adalah tindakan bunuh diri. Marco memiliki modal yang tak terbatas untuk menyuap otoritas pelabuhan. Maka, Arya memilih "Jalur Tikus"—pelabuhan-pelabuhan rakyat dan dermaga kecil di sepanjang pantai utara Jawa yang selama ini diabaikan oleh pemain besar.Pagi itu, di ruang rapat darurat yang hanya dihadiri oleh Sonya dan tim inti yang baru, Arya membentangkan peta digital."Marco pikir dia bisa mengunci kita dengan menguasai slot kontainer di Tanjung Priok," ujar Arya sambil menunjuk satu titik merah di peta. "Tapi dia lupa bahwa logistik bukan cuma soal kapal besar. Logistik adalah soal ketepatan waktu sampai di gudang konsumen. Kita akan mengalihkan 40% volume pengiriman kita melalui dermaga pengumpan di pesisir."Sonya mengerutkan kening, mempelajari data yang disajikan Arya. "
Pagi itu, Arya tidak mengenakan jas kantornya yang biasa. Ia memilih setelan yang lebih tajam, sebuah suit berwarna abu-abu arang dengan kemeja putih bersih tanpa dasi. Kesan yang ditampilkannya adalah seorang pria yang tenang namun sangat berbahaya jika diprovokasi. Setelah pengakuan Sonya semalam tentang rayuan Marco, ada api yang menyala di mata Arya—bukan api cemburu yang buta, melainkan insting seorang pelindung yang siap menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh miliknya.Arya tiba di kantor Global Nexus yang terletak di gedung pencakar langit daerah Sudirman. Tanpa janji temu, ia melangkah masuk melewati resepsionis dengan wibawa yang membuat petugas keamanan segan untuk menghentikannya."Katakan pada Marco, Arya Wiratama dari Sonya Fast ingin bicara. Sekarang," ucap Arya datar namun penuh penekanan.Tak butuh waktu lama, Arya diantar menuju ruangan Marco yang mewah dengan pemandangan kota Jakarta yang terhampar luas.
Fajar baru saja menyingsing, namun Arya sudah tidak berada di tempat tidur. Ia sedang menelepon seseorang dengan nada rendah namun penuh penekanan. Rencana yang ia bisikkan pada Sonya semalam bukan sekadar gertakan. Sebelum matahari tepat di atas kepala, Arya ingin memastikan bahwa celah hukum yang digunakan musuh-musuhnya tertutup rapat selamanya."Ar... kamu sudah bangun?" Sonya muncul dari arah kamar mandi, hanya mengenakan handuk putih yang melilit tubuhnya yang masih nampak segar setelah sisa-sisa gairah semalam.Arya menutup ponselnya dan menghampiri Sonya. "Semua sudah siap. Pak Penghulu dan petugas dari Catatan Sipil akan datang ke rumah ini jam delapan pagi. Kita akan melegalkan pernikahan siri kita secara negara hari ini juga. Kita akan melakukan isbat nikah sekaligus pencatatan resmi."Sonya terbelalak. "Bisa secepat itu?""Papa yang urus semua jalurnya melalui koneksinya di kementerian. Dia tidak ingin martabat keluarganya diinjak-janjikan ole
Pagi buta, ketika kabut tipis masih menyelimuti Jakarta, Arya sudah bangun. Ia tidak mengenakan jas direkturnya. Ia kembali mengenakan kaus hitam ketat dan celana kargo, pakaian yang memudahkannya untuk bergerak bebas. Di pinggangnya terselip sepasang brass knuckle (roti kalung) perak, senjata yang dulu sering menemaninya di jalanan Jogja.Sonya terbangun dan melihat suaminya sedang mengikat tali sepatu botnya. "Ar... jangan pergi sendiri. Biar aku panggil tim keamanan pusat," bisik Sonya dengan nada cemas yang kental.Arya menghampiri ranjang, mengecup kening istrinya. "Keamanan pusat punya prosedur, Sayang. Orang-orang ini butuh pelajaran dengan bahasa yang mereka mengerti: bahasa jalanan. Kalau aku tidak menyelesaikan ini sekarang, mereka akan terus mengincarmu setiap kali aku tidak ada.""Hati-hati, Ar. Aku menunggumu di rumah," ucap Sonya lirih.***Gudang Barat adalah wilayah paling kumuh dari aset Sonya Fast. Di sanalah sis
Setelah badai pembersihan dan momen panas di ruang kerja mereda, Arya dan Sonya kini dihadapkan pada kenyataan bahwa struktur organisasi Sonya Fast sedang pincang. Banyak posisi manajer yang kosong, dan operasional harus tetap berjalan tanpa hambatan."Ar, kita butuh orang-orang baru secepatnya," ucap Sonya sambil merapikan kembali pakaiannya yang sedikit kusut. Ia duduk di kursi kebesarannya, sementara Arya berdiri di depan jendela besar, menatap hiruk-pikuk Jakarta."Aku sudah memikirkan itu, Sayang," jawab Arya. "Aku tidak ingin rekrutmen ini dilakukan melalui agen biasa yang bisa disuap. Aku ingin orang-orang yang punya integritas, bukan cuma ijazah tinggi."Arya kemudian mengusulkan ide yang tidak lazim. Ia ingin menarik beberapa rekan lamanya dari Jogja—orang-orang yang ia kenal jujur namun selama ini tidak punya kesempatan—serta melakukan rekrutmen terbuka dengan tes kejujuran yang dirancang khusus oleh tim auditor independen.
Senin pagi, tepat pukul 08.00 WIB. Kantor pusat Sonya Fast yang biasanya riuh dengan candaan para staf di area pantry, mendadak senyap. Arya turun dari mobil dengan langkah yang mantap, mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang memberikan kesan otoritas mutlak. Di belakangnya, lima orang pria bersetelan rapi membawa koper hitam—tim auditor forensik independen yang telah ia sewa secara rahasia.Sonya berjalan di sampingnya, meski langkahnya masih sedikit kaku akibat "maraton gairah" di hotel selama dua hari, ia tetap memancarkan aura sebagai pemilik perusahaan yang tak tergoyahkan."Masuk," perintah Arya singkat kepada timnya saat mencapai lantai operasional.Jaka, yang sedang asyik menyesap kopi sambil berbincang dengan dua manajer gudang, tersedak melihat kedatangan Arya. "Ar... eh, Pak Arya? Ada apa ini? Kenapa bawa orang luar?"Arya tidak berhenti berjalan menuju ruang rapat utama. "Jaka, panggil semua manajer divisi dan staf keuangan. S







