Se connecter"Pak Slamet! Bahaya Pak! Ada puluhan preman tak dikenal mengepung gerbang pangkalan kita di Bakauheni!" jerit suara supir di seberang telepon.
Slamet menegakkan posisinya seketika, raut wajah santainya berubah drastis menjadi tegang bersiaga.
"Kalian jangan terpancing emosi dulu! Tahan pintu gerbang utama dari dalam!" perintah Slamet setengah berteriak.
Cindy yang memegang cangkir susunya ikut terkejut melihat perubahan ekspresi suaminya yang mendadak serius.
"Ada
Suasana pagi di ruang rapat eksekutif Marunda Fast mendadak tegang sejak pukul delapan.Empat pria bersetelan jas hitam dengan tas koper tebal duduk berjejer di sisi meja kaca.Di hadapan mereka, Maya Fransiska berdiri mengawasi dengan senyum sinis yang mengembang di bibirnya."Selamat pagi, Bu Sonya... Saya membawa tim auditor independen untuk memverifikasi laporan arus kas perusahaan Anda," ujar Maya.Sonya Baskoro duduk anggun di kursi utamanya, menatap Maya dengan pandangan dingin ala Ratu Besi."Audit independen? Bukankah jadwal audit resmi Marunda Fast baru bulan depan?" tanya Sonya bernada tegas."Kami menerima laporan adanya kejanggalan alokasi modal pangkalan dan penyertaan dana syubhat," tuduh Maya menyilangkan tangan."E-ehmm... T-tunggu dulu, Bu Maya! Kami tidak pernah menerima surat pemberitahuan audit mendadak ini!" protes Cindy.Cindy yang berdiri di samping meja rapat memeluk folder dokumen dengan napas tertahan
"Pak Slamet! Bahaya Pak! Ada puluhan preman tak dikenal mengepung gerbang pangkalan kita di Bakauheni!" jerit suara supir di seberang telepon.Slamet menegakkan posisinya seketika, raut wajah santainya berubah drastis menjadi tegang bersiaga."Kalian jangan terpancing emosi dulu! Tahan pintu gerbang utama dari dalam!" perintah Slamet setengah berteriak.Cindy yang memegang cangkir susunya ikut terkejut melihat perubahan ekspresi suaminya yang mendadak serius."Ada apa lagi, Mas Slamet? Kenapa pangkalan Bakauheni sampai dikepung preman?" tanya Cindy cemas."Ulah preman suruhan Handoko lagi, Sayang... Mereka mau coba-coba mengganggu arus bongkar muat kapal kita," jawab Slamet.Slamet bergegas keluar dari ruang sekretariat, melangkah cepat menuju ruang kerja eksekutif untuk melapor.Namun belum sempat Slamet mengetuk pintu, Arya sudah melangkah keluar sambil memegang gagang telepon genggamnya."Aku sudah dengar dari Kepala Pangkal
Arya melangkah keluar dari ruang kerja Direktur Utama sambil membawa folder laporan keuangan yang sudah divalidasi.Pria bertubuh tegap itu sempat mengedipkan matanya pelan ke arah Cindy yang duduk di meja sekretaris.Cindy menyembunyikan tawa kecilnya di balik jemari lentiknya sambil pura-pura sibuk mengetik di komputer.Setelah Arya berlalu menuju tangga lorong, Cindy berdiri membawa cangkir teh chamomile segar yang baru diseduh.Dia mengetuk pintu pelan dua kali lalu melangkah masuk ke dalam ruangan Ratu Besi yang kini sudah terang benderang.Sonya tampak duduk anggun di kursi kebesarannya, jemarinya sibuk membalik lembaran dokumen audit operasional.Namun rona merah di kedua pipi mulusnya serta tatanan rambut belakangnya yang sedikit bergelombang tak bisa dibohongi."Ini teh hangat pengganti yang baru diseduh, Bu Sonya..." tutur Cindy
Suara gemerinting gesper sabuk kulit milik Arya bergema halus di dalam ruang kerja Direktur Utama yang temaram.Sonya Baskoro masih berdiri bersandar di tepi meja kayu jati, menatap suaminya dengan hembusan napas memburu.Rona merah memenuhi pipi mulusnya, memancarkan pesona sensual Ratu Besi yang kehilangan seluruh sikap angkuhnya."Mas... Kamu benar-benar tega menagih janjimu di atas meja kantor begini?" bisik Sonya bersuara serak."Kenapa, Majikanku? Bukannya kamu sendiri yang tadi mengunci pintu dan memadamkan lampunya?" goda Arya bersuara berat.Arya mengambil langkah lebar, mengikis jarak hingga dada bidangnya menempel ketat di tubuh molek Sonya.Tangan kapalan mantan supir itu mencengkeram pinggul ramping Sonya, mengangkat tubuh istrinya sedikit naik ke atas meja.Sonya mengendalikan napasnya yang makin tak beraturan, mencengkeram
Gertakan dingin Arya melalui sambungan telepon membuat pejabat Syahbandar Utama panik bukan main di seberang sana."Tolong tahan diri Anda, Pak Arya! Jangan serahkan rekaman itu ke media!" seru Syahbandar bersuara gemetar."Kalau begitu, perintahkan dermaga buka jalur pelayaran darurat untuk armada Marunda Fast sekarang!" tegas Arya."Baik! Saya sendiri yang akan mengawal proses pemuatan truk kalian ke dalam kapal feri!" janji Syahbandar cepat.Sambungan telepon diputus oleh Arya, lalu dia meletakkan ponselnya di atas meja kaca dengan gerakan tenang.Di dermaga Pelabuhan Merak, sirine lampu pelayaran darurat mendadak menyala terang benderang.Dua mobil patroli otoritas pelabuhan melaju kencang mendekati lokasi penimbangan lima truk Marunda Fast.Farhan yang masih bertengkar dengan supir-supir pangkalan mendadak pucat pasi melihat atasannya turun langsung."Pak Syahbandar?! Kenapa Bapak turun ke dermaga malam-malam begini?" tany
Suara sirene kapal penyeberangan bergema melengking membelah malam di kawasan dermaga Pelabuhan Merak.Lima unit truk tronton kontainer berlogo Marunda Fast berderet kaku di jalur antrean muat barang.Para supir senior Marunda Fast berkumpul di dekat ruang penimbangan dengan wajah tegang bersimbah keringat."Waduhhh... Kenapa manifes kita mendadak dinyatakan tidak valid begini?" keluh Pak Jaka, supir kepala pangkalan.Di dalam kantor pelayanan dermaga, seorang oknum petugas pelabuhan bernama Farhan bertolak pinggang angkuh.Farhan menghempaskan lembaran berkas manifes ke atas meja dengan tatapan meremehkan."Dokumen muatan kalian ini terindikasi palsu dan tidak teregistrasi di sistem server!" sergah Farhan bernada tinggi."Tapi Pak Farhan... Seluruh bon pangkalan dan barcode ini sudah divalidasi dari kantor pusat!" protes supir lainnya."E-ehmm... M-maksud kalian, sistem kami yang salah?!" bentak Farhan berpura-pura emosi.