LOGIN"Aku dengar suamimu sudah kembali kerumah. Apa itu benar?"
Suara bisikan terdengar begitu hangat dari arah belakang sana. Sebuah pelukan pun Mirae rasakan begitu erat, seolah menelan dirinya bulat-bulat. David, dia tahu wanita itu sedang masuk ke dalam kamar mandi, hingga dia pun mengikutinya. Ketika para karyawannya sibuk makan siang, keduanya malah sibuk bercengkrama di kamar mandi. "Berikan aku satu ciuman.." Bisik lelaki itu. David bahkan tak segan menggerayami tubuh seksi itu dengan lengan kekarnya. Memberikan rangsangan yang begitu kenggairahkan bagi Mirae yang merasakannya. Wanita itu berbalik, lalu melingkarkan lngannya di leher David. Kedua mata mereka saling menatap intens, hingga sebuah kecupan mendarat dibibir wanita itu. David menarik tubuh kekasihnya semakin dekat, lalu mencumbunya dengan mesra. Desahan-desahan kecil keluar dari mulut keduanya, membuat suasana semakin memanas. Wajah wanita itu mulai memerah, menahan nafsu yang kian menggebu. "Kau mau melakukannya disini?" tanya wanita itu dengan mata gelisah. David tersenyum kecil, "Selagi ada kesempatan, kenapa tidak? Suamimu sudah kembali ke rumah. Waktu kita akan semakin terkikis." David merasa gila, karena Rey sudah kembali ke rumah wanita itu. Mereka pasti akan sulit untuk bertemu, bahkan di tempat kerja sekalipun. Sudah dua minggu mereka berhubungan seperti ini, dan lelaki itu semakin dibuat nyaman oleh sikap Mirae. Entah bagaimana caranya, mereka membagi waktu disaat Rey kembali ke rumah. "Sepetinya kita harus sedikit membuat jarak. Aku khawatir jika sampai Rey, atau istrimu mencurigai sesuatu." Lengan mungil itu membelai wajah David, membuatnya merasa semakin gelisah. Apakah ini akhir dari hubungan mereka? David tak menginginkan hal itu sampai terjadi. "Menyebalkan sekali. Kenapa aku harus membuat jarak denganmu?" tanya lelaki itu, dengan wajah kesalnya. Mirae tersenyum kecil, "Sejak kapan Bosku yang dingin berubah seperti ini? Sejak kapan kau pandai merengek seperti itu David?" "Tentu saja sejak aku mengenalmu," sahut lelaki itu. "Ah sudahlah, aku harus kembali bekerja. Sampai jumpa nanti David." Wanita itu pergi meninggalkan David. Melepaskan pelukan yang hangat dan bergairah. Dia tak ingin sampai orang-orang mencurigai keduanya, apalagi dengan sikap sang bos yang tidak biasa. Malam ini dia juga harus bersiap, menghadapi suami yang begitu menyebalkan. Karena setelah kembali dari rumah orang tuanya, sikap Rey semakin menyebalkan saja. Dia merasa Mirae tidak perduli lagi dengannya, karena tak mengunjunginya. "Dari mana dia mendapatkan uang untuk membeli kosmetik ini?" Rey terdiam, melihat begitu banyak produk kecantikan di atas meja rias istrinya. Belum lagi dengan pakaian baru yang sempat dia lihat di lemari usang itu. Selama dua minggu ini, Rey tak pernah memberinya uang. Lelaki itu juga tahu, jika gaji sang istri takkan cukup untuk membeli semua itu. "Kau sudah pulang?" Suara Mirae mengejutkan lelaki itu, dia menatap ke sumber suara, lalu menatapnya tajam. Sang istri tlah pulang dari pekerjaannya, dengan kantong kresek yang dia bawa di tangan kanannya. Rey berjalan mendekat, merebut kantont kresek yang wanita itu genggam dengan erat. "Ayam?" Beberapa potong ayam goreng CFC dengan paket nasi, belum minuman dingin yang sudah pasti cukup mahal harganya. Rey kembali berpikir, sejak kapan wanita itu bersikap royal? biasanya dia hanya membeli mie instan, atau telur yang akan mereka santap dengan nasi hangat. "Kau pinjam uang dari siapa?" tanya lelaki itu dengan nada sinis. "Bukan dari siapa-siapa. Kebetulan tadi David membagi-bagikan makanan di tempat kerja. Jdi aku bawa pulang saja," sahut wanita itu. Lelaki itu mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ah begitu. Sejak kapan kau perduli padaku? Biasanya kau makan sendiri disana." Mirae hanya diam membeku, dengan segelintir tawa di dalam hati. Bisa-bisanya lelaki itu berkata demikian, setelah apa yang dia lakukan selama ini. Sejak kapan dia perduli? Selama ini, Mirae sudah memberikan semuanya untuk Rey. Dia bahkan rela untuk berhemat, ditengah uang yang tidak pernah cukup sama sekali. Meminjam uang kesana kemari, demi menutupi keuangan keluarganya. "Makan saja, jangan banyak bicara lagi." Wanita itu pergi meninggalkan suaminya, dan bersiap untuk mandi. Rasanya dia tidak berselera lagi untuk makan, karena celotehan Rey yang menyebalkan. Dia sangat pandai membolak-balikan fakta, dan menyudutkan dirinya sebagai orang paling bersalah di dunia. "Jadi begitu cara dia menyambutku dirumah? Wanita kurang ajar. Awas saja kau Mirae.."Langit malam tampak muram. Hujan masih belum reda sejak sore, menetes di jendela seperti darah dingin yang mengalir tanpa suara. David berdiri di depan cermin kamar mandi rumah sakit, menatap bayangannya sendiri. Wajah itu bukan lagi wajah seorang pria yang sabar, melainkan seseorang yang sudah kehilangan batas antara logika dan amarah. Dia mengeluarkan pisau kecil dari jaketnya, lalu membungkusnya dengan sapu tangan. Memasukkanya ke dalam saku, dengan sebuah rencana gila yang ada dalam bekanya. "Aku sudah cukup sabar, Mina…" gumamnya, suaranya nyaris seperti bisikan iblis yang lelah. "Aku akan membalas semua yang kau lakukan pada Mirae." Mobilnya melaju membelah hujan malam, menyusuri jalan yang gelap menuju rumah besar yang dulu mereka sebut “rumah tangga.” Semua lampu masih menyala ketika David tiba. Dia bisa melihat bayangan Mina dari balik tirai, berjalan mondar-mandir di ruang tengah, gelisah, tidak tenang.Begitu pintu terbuka, suara pintu yang berderit membuat Mina meno
Suara ban mobil berhenti mendadak di depan pintu rumah sakit. David keluar dengan wajah pucat, berlari sambil menggendong Mirae yang masih lemas dalam pelukannya."Dokter! Tolong! Seseorang tolong dia!!" Suster yang berjaga langsung berlari menghampiri. Mereka menurunkan Mirae ke atas tandu, lalu membawanya masuk ke ruang gawat darurat. David ikut berjalan terburu-buru di belakang, napasnya tersengal, dadanya berdebar tak karuan. Lampu-lampu koridor rumah sakit yang putih terasa menyilaukan, membuat segalanya terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata. Begitu sampai di depan ruang tindakan, seorang dokter mencegahnya masuk."Tuan, tunggu di luar. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut." David hanya bisa menatap pintu ruang gawat darurat yang tertutup rapat. Di balik kaca kecil itu, dia melihat sekilas tubuh Mirae terbujur di ranjang, dikelilingi tim medis. Setiap gerakan mereka terasa begitu cepat, begitu panik. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Rahangnya mengeras.Mi
Udara dini hari terasa berat. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga lewat sedikit ketika David tersentak bangun. Dadanya terasa sesak, dia merasa ada sesuatu yang salah.Dia menoleh ke samping. Tempat tidur kosong. Selimut di sisi Mina sudah dingin."Mina?" panggilnya pelan. Tak ada jawaban. David turun dari ranjang, berjalan pelan ke luar kamar. Rumah itu sepi, hanya bunyi detak jam di ruang tamu yang terdengar. Lampu koridor masih menyala redup, dan dari kejauhan, suara pintu depan berderit terbuka.Langkah kaki perlahan. Mina muncul dari balik pintu, jaket kulit hitam miliknya menempel di tubuh wanita itu. Rambutnya berantakan, wajahnya setengah tertutup bayangan. Tapi yang membuat David membeku adalah noda merah di lengannya. Masih begitu segar, seperti darah.Dia berdiri terpaku di ambang pintu kamar."Mina… dari mana kau?" tanyanya pelan, suaranya hampir bergetar. Mina hanya menatapnya. Sebuah senyum terbentuk di sudut bibirnya. Dingin, aneh, seperti seseorang yang baru saj
Angin malam berhembus pelan, membawa dingin yang menusuk tulang. Jalanan sepi, hanya lampu-lampu kota yang redup berkelip di kejauhan. Di dalam kamar, David tertidur pulas di sisi ranjang, napasnya tenang, seolah tidak ada badai yang sedang menunggu di luar sana.Namun Mina, yang berdiri di ambang pintu kamar, menatap lelaki itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada campuran marah, kecewa, dan rasa hancur.Tangannya gemetar memegang ponsel yang menampilkan titik lokasi di peta digital. Titik merah kecil itu berkedip di layar, alamat yang sudah ia hafal dengan baik sejak sore tadi.Jadi di sinilah kau bersembunyi, jalang.Mina mendesah panjang, lalu menunduk. Air matanya sempat jatuh, namun cepat dia hapus dengan kasar. "Haruskah aku lenyapkan wanita itu, David?" gumamnya dengan suara rendah, getir. Dia menatap wajah suaminya lagi, yang tidur tenang seolah tak merasa bersalah sedikit pun. "Haruskah aku ajarkan padanya arti kehilangan seperti yang kau lakukan padaku?!"Dia lalu me
Hari itu langit di atas kota tampak suram. Mendung pekat menggantung seolah mencerminkan suasana hati dua orang yang duduk berhadapan di sebuah kafe mewah di pusat kota.Rey tiba lebih dulu, wajahnya tampak lelah, mata merah karena kurang tidur. Sudah cukup lama dia kehilangan jejak Mirae. Tak ada kabar, tak ada pesan, ponsel istrinya mati total. Semua pencarian berakhir di jalan buntu.Dia sedang memandangi secangkir kopinya yang sudah dingin ketika suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat. Mina muncul anggun seperti biasa, dengan balutan gaun hitam dan kacamata besar yang menutupi separuh wajahnya. Namun di balik tampilan dingin itu, ada bara api yang membakar dadanya."Rey." Suaranya tenang, tapi tegas.Rey menoleh, sedikit heran. "Mina? Kenapa kau ingin bertemu?"Wanita itu duduk tanpa basa-basi. Dia membuka kacamatanya, memperlihatkan tatapan tajam penuh kecurigaan."Kita sama-sama kehilangan sesuatu, Rey. Dan aku rasa… penyebabnya adalah orang yang sama."Rey mengerutk
Sore itu, langit di pinggir kota tampak muram. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seolah menahan hujan yang sebentar lagi akan turun. Dari jalan kecil yang sepi, sebuah mobil berhenti di depan rumah tua yang kini menjadi tempat persembunyian Mirae. Pintu terbuka perlahan. David turun dari mobil, menatap sekitar dengan hati-hati sebelum melangkah masuk ke halaman kecil yang dipenuhi rerumputan liar. Dia mengetuk pintu tiga kali, pelan tapi pasti. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Mirae muncul dari baliknya, mengenakan kaus longgar dan celana kain. Rambutnya terurai seadanya, wajahnya tampak lelah, tapi senyum kecil tetap muncul saat melihat David."David…" suaranya lirih, seperti kelegaan yang lama tertahan. David tersenyum tipis, lalu masuk ke dalam. Dia menutup pintu, memastikan gorden tertarik rapat sebelum benar-benar memandang wanita di depannya.Begitu tatapan mereka bertemu, tak ada kata yang perlu diucap. Mirae langsung melangkah dan memeluknya erat. Pelukan itu ha







