Beranda / Romansa / Gairah Terlarang Calon Mertua / Bab 1 Suara Desahan di Kamar Mandi

Share

Gairah Terlarang Calon Mertua
Gairah Terlarang Calon Mertua
Penulis: Cynta

Bab 1 Suara Desahan di Kamar Mandi

Penulis: Cynta
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-16 12:32:50

“Ah…” 

Suara perempuan itu bergetar tertahan di sela napasnya, 

“Jangan terlalu keras.”

“Mmhh… jangan di sini…” ujarnya mendorong dada bidangnya dengan gemetar. “Kalau ada yang lihat—”

“Tidak akan ada yang melihat,” potong Aiden cepat, tatapannya membakar. “Kamar mandi ini masih tertutup. Aku sudah menahan diri seharian.” Lengan kokohnya melingkari pinggangnya, menariknya lebih dekat, seakan takut ia terlepas.

“Tapi… sebentar lagi pertunanganmu..” bisiknya nyaris tak terdengar.

Aiden menahan napasnya, lalu dengan lirih penuh hasrat berkata, “Kalau begitu, kita lanjutkan nanti.”

Wajah perempuan itu menegang, bibirnya bergetar. “Bagaimana dengan Audrey…?” 

Tatapan Aiden mengeras, dalam dan tajam. “Jangan sampai dia tahu.”

Gaun putih gading itu masih melekat di tubuh Audrey saat ia membuka pintu kamar mandi hotel. Detik berikutnya, dunianya runtuh. Calon tunangannya—laki-laki yang beberapa jam lagi akan melingkarkan cincin di jarinya—tengah menindih perempuan lain. Perempuan itu bukan orang asing. Atasan kantornya sendiri, wanita yang selalu menepuk bahunya tiap kali lembur.

Darahnya beku. Tenggorokannya kering. Audrey hanya mampu berdiri, menatap tubuh yang berjerit nikmat, seakan seluruh janji yang pernah diucapkan padanya hanyalah lelucon murahan. Ia mundur tergesa, tumit sepatunya beradu lantai marmer, lalu berlari. Air mata tumpah, menghapus riasan sempurna yang baru saja dipoleskan perias.

Beberapa gelas alkohol kemudian, Audrey sudah tidak peduli pada pesta pertunangan yang tinggal hitungan menit. Bar hotel menjadi pelariannya. Ia meneguk minuman hingga kepalanya ringan, hingga hatinya sedikit tumpul. Rasa sakitnya tetap ada, tapi kini bercampur dengan keberanian bodoh yang tidak biasanya.

Langkahnya oleng saat meninggalkan bar. Ia menubruk dinding koridor, hampir jatuh, ketika sebuah tangan kuat meraih lengannya. 

“Hat-hati,” suara berat itu menahan.

Audrey mendongak. Matanya kabur oleh air mata dan alkohol, tapi sosok di depannya membuatnya membeku. Pria dewasa dengan wajah tegas, tatapan dingin yang entah kenapa terasa hangat untuknya. 

“Aku… aku baik-baik saja,” katanya terbata.

Tangannya tetap menahan di pinggang Audrey, membuat gadis itu mendengus frustrasi tapi tak sanggup mendorong.

“Jangan buru-buru. Ballroom ini masih luas untukmu bebas.”

Ia tertawa getir, suaranya serak. 

“Hari ini aku seharusnya bertunangan.”

Pria itu mengerutkan alis, namun tidak menyela. Ia hanya menunggu.

“Dan aku mendapati dia… calon suamiku… bercinta dengan bosku sendiri di kamar mandi hotel ini.” Suaranya pecah. Mata Audrey kembali panas. “Lucu sekali.”

Sunyi sesaat. Mungkin laki-laki itu enggan menyahut perempuan patah hati. Jadi dia hanya menatapnya datar.

Ia menoleh, menatap wajah di dekatnya. Ada garis tegas di rahang, ada mata dalam yang terasa berbeda dari laki-laki seumurannya. Alkohol membuatnya berani. 

“Kamu ganteng…”

“Tapi…” ada jeda sebentar. “Kamu mirip calon tunanganku. Tapi masih kerenan kamu.”

Degup jantung Audrey kian liar. Kata-kata itu, sikap itu, semuanya seperti cambuk yang memecahkan dinding pertahanannya. Tubuhnya condong tanpa sadar. “Kamu mau tidur samaku nggak?” suaranya lirih, hampir seperti permohonan.

Ia tidak menjawab, hanya membiarkan Audrey merebah di bahunya. Hangat tubuhnya menyelimuti, aroma maskulin yang samar menusuk ke indera. Alkohol berputar di kepalanya, membuat imajinasinya kian tak terkendali. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika pria ini yang menggantikan, pria asing yang bahkan lebih membuatnya merasa aman ketimbang tunangannya sendiri.

Kalimat itu bagai api kecil yang menyulut. Tanpa sadar Audrey menggenggam lengan kemeja pria itu lebih erat, mendekatkan tubuhnya. Dadanya bergemuruh. Pipinya panas. Ia tahu ini salah, tapi rasa sakit bercampur mabuk membuatnya ingin melupakan segalanya.

“Kalau… aku minta kamu tidur denganku, apa kamu mau?” suaranya bergetar, nyaris seperti rayuan.

Pria itu menatapnya lama. Rahangnya mengeras, namun ia tetap tidak melepaskan pegangan. 

Napasnya memburu. Jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa jengkal. Ia menutup mata sejenak, seolah menunggu sesuatu yang terlarang terjadi.

Namun yang ada hanya genggaman di pinggangnya yang tetap kokoh, menahan agar ia tidak terjatuh. Tidak lebih.

Audrey menatap mata pria asing itu lebih lama dari seharusnya. Alkohol masih berputar di kepalanya, tapi keinginan liar yang menyeruak begitu nyata. Nafasnya terengah, tubuhnya condong tanpa ia sadari. Bibirnya nyaris menyentuh rahang keras pria itu, lalu dalam sekejap ia berani—ia menempelkan ciuman basah di bibirnya.

Pria asing itu terkejut, seketika memegang kedua bahunya dan berusaha menjauh. “Hei… kamu mabuk,” suaranya dalam, menahan, namun napasnya sendiri sudah mulai memburu.

“Aku tahu…” Audrey berbisik, bibirnya kembali mencari. “Tapi aku mau kamu.”

Lelaki itu menutup mata, rahangnya menegang, tubuh normalnya bereaksi meski kepalanya mencoba menolak. “Kamu yakin? Jangan sampai menyesal.”

“Aku yakin.” Audrey menatapnya lurus, mata berkaca namun penuh keberanian bodoh. “Aku ingin kamu, malam ini, sekarang.”

Itu saja sudah cukup memecahkan pertahanan terakhirnya. Pria itu mendengus kasar, lalu tanpa kata lagi, ia meraih pinggang Audrey lebih erat dan menarik tubuhnya ke dadanya. Ciuman berikutnya bukan lagi ciuman Audrey seorang, tapi juga balasan liar darinya—panas, dalam, dan membakar. Audrey mendesah di sela ciuman, jemarinya meremas kemeja lelaki itu seolah takut ia pergi.

Ia tidak pergi. Justru sebaliknya. Dengan gerakan mantap, ia membopong Audrey ke kamarnya. Pintu terhentak tertutup, dan tubuh Audrey langsung ditekan lembut ke ranjang empuk. Tatapan mereka bertemu sesaat, lalu pria itu meraih bibirnya lagi, kali ini lebih menggebu.

Satu per satu, pakaian menjadi hambatan yang terlepas begitu saja. Audrey hampir lupa siapa dirinya, siapa lelaki ini. Yang ada hanya rasa hangat kulit ke kulit, desahan yang memenuhi kamar hotel, dan pelukan eratnya saat benteng pertahanan Audrey akhirnya benar-benar dibobol.

Tangannya menggenggam lengan kokoh itu erat, tubuhnya berguncang dengan setiap tarikan napas. Air mata yang tadi jatuh kini bercampur dengan desahan. Malam itu, Audrey menyerahkan seluruh dirinya pada pria asing yang bahkan namanya belum diketahui, tapi lebih membuatnya merasa hidup daripada calon tunangannya sendiri.

Namun di tengah keintiman yang membakar itu, ponselnya di meja samping ranjang tiba-tiba berdering nyaring. Audrey refleks menoleh, matanya terbelalak. Nama yang muncul di layar membuat darahnya seakan berhenti mengalir.

‘Aiden.’

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Cynta
biar seimbang..
goodnovel comment avatar
Cynta
bawa kompres kak.. ...
goodnovel comment avatar
QueenShe
wei satu kosong dong. sama² ikeh ikeh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 243 Desahan Tengah Malam

    Suasana taman belakang yang sunyi tiba-tiba pecah oleh teriakan Aiden. Tangannya sudah mengepal, siap melakukan serangan kalau saja yang muncul adalah ancaman. Namun, begitu matanya memperhatikan sosok yang berdiri di di belakangnya, Aiden segera menurunkan tangannya.​"Papa?" gumam Aiden kaget.​Ternyata itu adalah Trustin. Pria itu berjalan perlahan dengan bantuan tongkat kayu mahoninya. Suara gesekan kaki dan ujung tongkat di atas rumput itulah yang tadi memancing insting Aiden. Melihat Papa kandungnya berjalan tertatih, Aiden segera berlari kecil menghampiri dan memapah lengan Trustin.​"Kenapa Papa keluar malam-malam begini? Udaranya sangat dingin, tidak baik untuk kesehatan Papa," kata Aiden dengan nada khawatir yang tulus.​Trustin tersenyum tipis, membiarkan putranya membantunya berjalan menuju bangku taman yang tadi diduduki Aiden. "Papa hanya ingin menghirup udara segar, Aiden. Di kamar rasanya sangat sesak. Kadang, suara keheningan di dalam rumah justru lebih berisik daripa

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 242 Rahasia di Balik Malam

    Di ambang pintu, Aiden berdiri dengan dahi berkerut, menatap satu per satu wajah Denzel, Aksa dan Fiona. ​"Kalian sedang bicara apa sebenarnya?" tanyanya dengan nada penasaran. Aiden menyipitkan matanya, menatap Denzel, Aksa, dan Fiona secara bergantian. "Aku sedang lewat untuk memeriksa keamanan koridor dan mendengar suara kalian. Sepertinya ada yang sangat rahasia sampai harus berkumpul jam segini." ​Denzel, Aksa, dan Fiona sempat saling pandang selama beberapa detik. Mereka menghela napas lega secara bersamaan karena mengira seseorang yang datang itu penyusup atau Audrey yang terbangun. ​"Aiden, kamu mengejutkan kami," ujar Aksa sambil mengendurkan dasinya. "Kami hanya membicarakan detail operasional yang tertunda." ​Aiden tidak semudah itu percaya. Ia melangkah masuk, tangannya bersedekap di dada. "Operasional apa? Bukankah semuanya sudah stabil? Dan kenapa Fiona harus mencatat keinginan Audrey kalau ini masalah operasional pekerjaan?" ​Belum sempat Denzel menjawab pertan

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 241 Gairah yang Tertahan

    Wajah ​Audrey langsung merona hebat, ia memukul bahu Denzel dengan manja. "Denzel! Aksa dan Fiona masih di sana. Jangan mulai lagi.. Ini tempat umum, jangan membuatku malu!"​Denzel tidak mempedulikan protes istrinya. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Audrey, menghirup aroma parfum vanila yang selalu membuatnya gila. Bibirnya mulai memberikan lumatan-lumatan panas, berpindah dari leher menuju telinga Audrey.​"Mmmhh... Denzel... ahh," Audrey mendesah lirih, ia mencengkeram kemeja Denzel saat merasakan lidah suaminya bermain di titik sensitifnya.​"Katakan padaku, Audrey. Apa kamu menyukai kejutan dariku hari ini?" tanya Denzel sambil terus menciumi bahu Audrey yang sedikit terbuka.​"Aku menyukainya... Sangat menyukainya. Terima kasih, sayang," balas Audrey dengan napas yang mulai memburu.​Denzel mengangkat wajahnya, menatap bibir Audrey yang merah dan sedikit terbuka. Tanpa membuang waktu, ia melumat bibir itu dengan penuh gairah. Ciuman mereka menjadi semakin dalam dan panas,

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 240 ‘Ketegangan’ di Toko Perhiasan

    Perjalanan menuju toko perhiasan berlangsung cepat dengan pengawalan ketat. Sesampainya di sana, mereka disambut langsung oleh pemilik toko.​"Pilihkan cincin yang paling murni untuk mereka," perintah Denzel pada pelayan toko.“Baik Pak Denzel,” pelayan toko iku langsung masuk untuk mengambilkan perhiasan yang Denzel minta. ​Saat Aksa dan Fiona sedang sibuk mencoba beberapa cincin, Denzel menarik Audrey ke sudut ruangan yang lebih privat. Di sana terdapat sebuah etalase berisi kalung berlian biru yang sangat indah.​"Denzel, kita kan di sini untuk mengantarkan Aksa dan Fiona," bisik Audrey saat Denzel mengeluarkan kalung itu.​"Ini untukmu sayang, hadiah karena sudah bersabar selama kekacauan kemarin," gumam Denzel. Ia memutar tubuh Audrey, lalu memasangkan kalung itu di leher putih istrinya.​Tangan Denzel yang hangat menyentuh kulit leher Audrey, menciptakan sensasi menggelitik yang menjalar ke seluruh tubuh Audrey. Denzel memberikan ciuman l di tengkuk Audrey, membuat wanita itu m

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 239 Mengawal Mantan Sekaligus Mama

    Pintu butik sudah terkunci rapat bagi pelanggan umum. Denzel tidak tanggung-tanggung, ia menyewa seluruh butik itu selama satu hari penuh demi kenyamanan Audrey dan rencana pernikahan Fiona.​Di luar gedung, Aiden berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya. Earpiece terpasang di telinga, dan matanya terus memperhatikan setiap kendaraan yang melintas. Di belakangnya, beberapa personel tim elit Shaquille berjaga di sudut-sudut strategis. Aiden sesekali melihat ke arah kaca transparan butik, di mana ia bisa melihat Audrey sedang tertawa bersama Fiona.​Senyum tipis muncul di bibir Aiden. 'Setidaknya, melihatmu tertawa seperti itu sudah cukup bagiku, Audrey. Meski bukan aku alasannya,' batinnya tulus.​Di dalam butik, suasana terasa jauh lebih santai. Audrey tampak sibuk membolak-balik gantungan gaun putih yang berjajar rapi. Ia menarik sebuah gaun dengan potongan off-shoulder yang dihiasi butiran mutiara kecil.​"Fiona, coba lihat ini! Ini sangat cocok dengan p

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 238 Tugas Pertama 

    Aksa, yang sudah terjaga sejak fajar karena kebiasaan disiplinnya masih memeluk erat tubuh Fiona. Tapi, ia hanya terdiam memandangi wajah wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu. Ia mengusap helai rambut Fiona yang menutupi mata dengan sangat lembut, seolah takut membangunkan wanita itu dari mimpi indah.​Fiona menggeliat kecil, merasakan hembusan napas hangat Aksa di keningnya. Ia perlahan membuka mata dan langsung disambut oleh tatapan tajam yang penuh cinta dari pria di hadapannya.​"Pagi, calon Nyonya Aksa," bisik Aksa dengan suara lembut yang berat.​Fiona tersipu, ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Aksa yang tidak tertutup selembar benang pun. "Aksa... Jangan menggodaku sepagi ini."​Aksa terkekeh rendah, ia menarik dagu Fiona agar wanita itu kembali menatapnya. "Kenapa? Kamu malu karena kejadian semalam? Padahal semalam kamu sangat berani, Fiona."​"Aksa!" Fiona memukul pelan dada Aksa, wajahnya merah padam.​Aksa tidak membiarkan Fiona menjauh. Ia justru men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status