Beranda / Romansa / Gairah Terlarang Calon Mertua / Bab 2 Ranjang Panas Pria Asing

Share

Bab 2 Ranjang Panas Pria Asing

Penulis: Cynta
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-16 14:58:38

Nada dering ponsel di meja samping ranjang terus bergetar, seolah menuntut perhatian. Nama Aiden berkedip di layar, memecah keheningan kamar hotel yang kini dipenuhi desahan dan napas berat.

Audrey menoleh, tapi tidak ingin meresponnya. Sekejap tubuhnya menegang. Namun bukannya meraih ponsel itu, tangannya justru melayang, meraih wajah pria asing yang masih menindih tubuhnya. Bibirnya bergetar, penuh emosi yang bercampur hasrat.

Namun pria asing itu mengambil jarak, menatap Audrey, penuh tanya. “Ponsel kamu berdering, mau terima dulu?!

“Aku.. Sudah gak peduli,” bisiknya dengan napas terengah.

Tanpa berkata banyak, Audrey meraih ponsel itu, menekan tombol, dan mematikan panggilan masuk. Bunyi klik dari layar yang gelap seolah jadi tanda bahwa malam ini Audrey resmi mengambil keputusan paling gila dalam hidupnya.

Jemari Audrey menekan dada bidang pria asing itu yang menatapnya mendalam, rahangnya tampak mengeras, tapi tatapan matanya dipenuhi hasrat yang tak kalah liar. 

“Siapa namamu..?!” tanya Denzel, suaranya nyaris berbisik. 

“Audrey..” jawabnya, “Kalau kamu, Om..?!”

Denzel tersenyum tipis mendengar panggilan dari Audrey. “Denzel..”

“Om Denzel.. Aku milikmu malam ini..” Audrey berbisik, tubuhnya bergetar menahan campuran amarah dan rindu yang tak pernah ia sadari. “Buat aku lupa semuanya.”

Senyum tipis kembali muncul di bibir Denzel, kali ini lebih mirip dengan seringai penuh misteri. Ia menunduk, kembali menutup bibir Audrey dengan ciuman panas yang membuat perempuan itu mendesah lebih keras. Bibir mereka bertemu, menyatu, saling menuntut.

“Mmhh.. Ahh.. Denzel! ” Audrey nyaris merintih, menyebut namanya meski baru saja ia tahu.

Denzel menarik wajahnya sebentar, menatapnya dengan sorot tajam yang mampu melumpuhkan. “Katakan lagi,” suaranya dalam, berat, seolah perintah.

Audrey menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca penuh nafsu. “Den…zel…” ucapnya lebih pelan, tapi penuh desahan.

Pria itu mendengus puas, lalu kembali melahap bibirnya. Jemari kasarnya bergerak, meluruhkan sisa pakaian yang masih menempel di tubuh Audrey. Setiap kain yang terlepas hanya membuat kulit mereka semakin lengket, panas, dan tanpa batas.

Tubuh Audrey melengkung saat Denzel mengeksplor lehernya, meninggalkan jejak merah di setiap jengkal. “Ahh.. Jangan di situ.. Terlalu sensitif..” desahnya, tapi tangannya justru meremas sprei, tidak benar-benar ingin menghentikannya.

“Tubuhmu.. Bergetar hanya dengan sentuhanku.” Denzel berbisik di telinganya, napasnya hangat, membuat Audrey semakin sulit bernapas normal. “Kamu manis sekali, Audrey.”

Wanita itu mendongak, matanya setengah terpejam. “Aku.. Aku nggak pernah seperti ini sebelumnya..”

“Bagus.” Denzel tersenyum miring, jemarinya menelusuri garis pinggangnya. “Karena aku tidak suka berbagi. Mulai malam ini, hanya aku yang boleh menyentuhmu.”

Ucapan itu membuat darah Audrey berdesir lebih cepat. Ia merasa tubuhnya kian lemas, tapi hatinya anehnya justru merasa nyaman dalam genggaman pria asing ini.

Gerakan Denzel semakin liar, setiap sentuhan membuat Audrey mengeluarkan desahan tertahan. “Mmhh… ahh… Den…zel… pelan… aku nggak kuat…”

“Tahan sedikit lagi,” gumamnya dengan suara berat. “Kamu bahkan belum tahu seberapa jauh aku bisa buat kamu kehilangan akal sehat.”

Audrey menggigit bibir, wajahnya memerah, tubuhnya bergetar dengan ritme yang semakin liar. Ia menatap pria di atasnya, dada bidang yang terus mendesak tubuhnya, mata tajam yang tidak pernah melepaskan pandangannya. Semua terasa begitu intens.

Di antara napas yang terengah, Audrey sempat tertawa kecil, suaranya parau. “Aku gila… benar-benar gila… bisa-bisanya aku—mmhh… menyerahkan diri pada pria asing…”

Denzel berhenti sejenak, wajahnya mendekat, hidung mereka hampir bersentuhan. “Aku bukan pria asing lagi untukmu. Ingat baik-baik namaku… Denzel Shaquille.”

Audrey menatapnya lama, lalu tanpa sadar tangannya terangkat, menyentuh rahang keras pria itu. “Denzel…” ia mengulang, kali ini dengan nada penuh kepasrahan dan hasrat.

Lalu sekali lagi, kamar itu hanya dipenuhi suara desah, ciuman liar, dan napas berat yang saling berpacu. Audrey melenguh, tubuhnya terguncang, sementara Denzel terus membisikkan kalimat yang membuatnya semakin tidak bisa mengendalikan dirinya..

“Kamu cantik sekali.. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Audrey..”

“Ahh… Denzel… jangan berhenti… aku—aku ingin lebih…”

Desahan Audrey bercampur dengan erangan rendah Denzel. Malam itu, waktu seolah berhenti. Semua rasa sakit, pengkhianatan, dan amarah yang tadi menyesakkan dadanya menguap bersama setiap sentuhan yang membakar.

Napas Audrey masih terengah, tubuhnya berkeringat, kulitnya panas bagai terbakar. Jemarinya mencengkeram bahu Denzel erat, seakan takut pria itu melepaskannya.

“Ahh… Den—zel…” desahnya parau, suaranya bergetar di sela ciuman yang mendarat di sepanjang lehernya.

Denzel menahan rambut Audrey di satu sisi, memberi ruang pada bibirnya untuk melahap setiap jengkal kulit lembut itu. “Kamu makin manis… setiap kali kamu berdesah, aku makin gila.”

Audrey menggigit bibir, wajahnya memerah. Tubuhnya seakan tidak lagi miliknya, hanya mengikuti ritme liar pria dewasa itu. “Mmhh… jangan berhenti… aku… aku butuh kamu…”

Denzel menatapnya dalam, sorot matanya mengunci Audrey hingga tak bisa berpaling. “Aku sudah bilang, kan? Malam ini kamu hanya milikku.”

“Ahhh…” Audrey menekup mulutnya dengan punggung tangan, menahan suara, tapi Denzel cepat menariknya.

“Jangan tutupi,” bisiknya tajam, bibirnya menyentuh telinga Audrey, membuat wanita itu gemetar. “Aku ingin dengar semuanya… suaramu, desahanmu, bahkan rintihanmu. Biarkan aku tahu betapa kamu menikmatinya.”

Air mata Audrey mengalir lagi, tapi bukan karena sakit hati, melainkan karena campuran nikmat dan lega yang ia rasakan. “Aku… aku gila… seharusnya aku marah, tapi aku justru…”

“Justru apa?” Denzel menyelipkan jemarinya, mengangkat wajahnya agar menatap.

“Justru aku merasa hidup lagi.” Audrey menutup mata, napasnya berat. “Kamu buat aku lupa kalau aku baru saja dihancurkan.”

Denzel mendengus, senyum tipis muncul. “Bagus. Karena aku memang ingin kamu hanya mengingat aku.”

Audrey menarik leher Denzel, mencium bibirnya lagi dengan rakus. Bibir mereka beradu liar, lidah saling mencari, membuat udara di kamar semakin panas.

**

Ballroom hotel sudah ramai. Musik mengalun lembut, tamu-tamu undangan mulai duduk di kursi berlapis satin. Meja penuh kue dan champagne berjajar. Semua mata sesekali melirik ke arah pintu, menunggu pasangan utama malam itu: Aiden Trustin dan Audrey Ginnifer.

Aiden sendiri gelisah. Ponselnya sudah berulang kali ia tempelkan ke telinga. Nada sambung masih ada, tapi tidak pernah dijawab.

“Kenapa dia nggak angkat-angkat juga?!” Aiden mendesis, rahangnya mengeras.

Seorang kerabat menepuk bahunya. “Tenang, Aiden. Mungkin Audrey lagi di ruang rias.”

“Ruang rias kosong!” Aiden menepis kasar. “Aku sudah cek!”

Ia mulai berjalan cepat, wajahnya memerah menahan emosi. “Dimana dia…? Audrey tidak mungkin pergi tanpa alasan. Apa dia marah karena aku…?”

Pikiran tentang kamar mandi menghantam benaknya, membuat dadanya terasa sesak. Namun ia cepat menggeleng, mencoba menyangkal. “Tidak. Dia nggak mungkin tahu. Mustahil dia lihat.”

Ponselnya kembali ia tekan. Nada sambung berdering panjang. Masih nihil jawaban.

“AUDREY!” Aiden menggeram pelan, menendang pintu kecil di salah satu lorong ballroom yang ternyata kosong. Nafasnya mulai memburu karena marah bercampur panik.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Cynta
Air apaan kak.. 🫣🫢
goodnovel comment avatar
dirumahberkreasimandiri
panik krn airnya udah lepas
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 360 Sabotase Finansial Tengah Malam

    Denzel baru saja meletakkan ponselnya setelah memastikan seluruh tim keamanan luar sudah melapor. Ia menoleh ke arah ranjang, melihat Audrey yang sedang menepuk-nepuk pelan pantat Kenneth agar bayi itu terlelap. ​Denzel tersenyum tipis, ia mendekat dan mencium kening Audrey dengan penuh cinta. "Dia sudah tidur?" bisik Denzel. ​"Baru saja, Denzel. Jangan berisik, nanti dia bangun lagi," balas Audrey pelan. ​Denzel mengangguk, ia kemudian berjalan menuju meja kerjanya di sudut kamar untuk memeriksa beberapa laporan rutin melalui laptopnya sebelum ia benar-benar ikut berbaring di samping istrinya. Namun, begitu layar laptop menyala dan ia membuka portal bursa saham, kening Denzel berkerut tajam. ​"Sialan… Apa-apaan ini?!" desis Denzel. ​Audrey yang baru saja hendak memejamkan mata, langsung terduduk kembali. "Ada apa, Denzel? Kenapa wajahmu tiba-tiba tegang seperti itu?" ​"Saham Trustin Group, Audrey. Grafiknya terjun bebas dalam waktu tiga puluh menit terakhir. Ini bukan fluktuasi

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 359 Kebahagiaan yang Dirindukan

    Audrey duduk di atas karpet bulu diruang keluarga sambil menemani Kenneth yang sedang asyik bermain dengan mainan gantungnya. Di sofa, tumpukan katalog bunga dan kain sutra berserakan. ​Denzel masuk ke ruangan itu dengan wajah yang sedikit ditekuk. Ia langsung menghampiri Audrey dan duduk di samping istrinya, menyandarkan kepalanya di bahu Audrey seperti anak kecil yang merajuk. ​"Sayang, hentikan dulu mengurus bayi Kenneth. Perhatikan aku sebentar," keluh Denzel. ​Audrey menoleh sambil tersenyum geli. "Denzel, Kenneth baru saja bisa memegang mainannya sendiri. Lihatlah, dia sangat pintar." ​"Aku tahu dia pintar, dia anakku. Tapi aku lapar, dan aku ingin kamu menemaniku makan malam di balkon, hanya kita berdua," tuntut Denzel. Ia mulai menciumi bahu Audrey yang terbuka, mengabaikan Kenneth yang menatap Papanya dengan mata bulat yang bingung. ​"Denzel, jangan di depan anakmu! Dan lihat, ada Elena dan Aiden datang," bisik Audrey sambil mendorong wajah Denzel dengan lembut. ​

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 358 Gairah Di Tengah Rencana Pernikahan

    ​Malam harinya, suasana di dalam kamar medis terasa jauh lebih tenang namun dipenuhi ketegangan yang berbeda. Aiden baru saja selesai mandi, ia hanya mengenakan celana kain hitam tanpa atasan, membiarkan tato dan otot-otot tubuhnya terpampang jelas. Handuk kecil masih melingkar di lehernya saat ia melangkah mendekati ranjang tempat Elena bersandar membaca buku. ​Elena mendongak dan seketika merasa tenggorokannya kering. Penampilan Aiden selalu berhasil membuatnya terpesona, namun malam ini, aura pria itu terasa sangat mendominasi. ​Aiden merangkak naik ke atas ranjang, gerakannya seperti singa yang sedang mendekati mangsanya. Ia mengambil buku dari tangan Elena dan meletakkannya di meja nakas tanpa melepaskan tatapan mata. ​"Waktunya istirahat, Elena," gumamnya. ​"Aku belum mengantuk, Aiden," jawab Elena pelan, jantungnya mulai berdegup tidak keruan saat Aiden memposisikan diri di atas tubuhnya, menumpu berat badannya dengan kedua siku agar tidak menekan perut Elena yang masih ter

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 357 Rencana Aiden

    Aiden masih menggenggam tangan Elena dengan erat, membuat istrinya itu semakin penasaran. Ia memandang wajah pucat Elena yang memperhatikannya, menatap rahangnya tegas yang kini sedikit rileks. "Rencana apa, Aiden? Jangan membuatku penasaran.." ​Aiden memperbaiki posisi duduknya, menarik Elena agar semakin merapat ke tubuhnya. Ia tidak peduli pada keberadaan Denzel, Audrey, atau Papa kandungnya sendiri di ruangan itu. Baginya, pusat perhariannya saat ini hanya wanita di sampingnya. ​"Aku akan membawamu liburan, Elena. Begitu luka operasimu sembuh total dan dokter mengizinkan kamu melakukan perjalanan jauh, kita akan pergi dari sini," jawab Aiden dengan suara rendah yang dalam, penuh otoritas. ​Elena mengerjapkan mata. "Liburan? Ke mana?" ​"Ke resort pribadi di dermaga utara. Tempat itu jauh dari kebisingan kota, jauh dari jangkauan media, dan yang paling penting... Jauh dari jangkauan musuh-musuh kita. Proyek pembangunan di sana sudah hampir selesai, dan aku ingin memantaunya lang

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 356 Situasi yang Mulai Mereda.

    ​Cahaya matahari mulai masuk melalui celah gorden kamar medis di Mansion. Suasana yang tadinya mencekam bercampur dengan aroma mesiu dan darah, kini perlahan digantikan oleh bau karbol yang tajam. Keheningan yang menyelimuti mansion terasa begitu kontras dengan kegilaan yang terjadi semalam. ​Aiden masih berada di posisi yang sama sejak semalam. Ia duduk di tepi ranjang, matanya tampak kemerahan karena kurang tidur, tidak sedetikpun pandangannya berpaling dari wajah Elena. Istrinya itu masih tertidur lelap akibat pengaruh obat penenang, napasnya tampak teratur, namun sesekali keningnya berkerut, pertanda mimpi buruk masih mencoba hadir di mimpinya. ​Perlahan, Aiden mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar. Ia mengusap pipi Elena dengan punggung jarinya, sangat lembut. ​"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu lagi, Elena. Tidak akan pernah," bisik Aiden pelan. Suaranya serak, penuh dengan beban emosi yang belum reda. ​Elena sedikit menggeliat. Matanya terbuka perlahan, m

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 355 Pelampiasan Aiden

    Denzel terdiam sesaat mendengar pengakuan Pramono. Alisnya mengerut sesaat sebelum sebuah pertanyaan, “Apa Trustin juga terlibat masalah ini?!” ​Aksa segera menekan interkom di telinganya. [Tim pusat, lakukan identifikasi ulang retina dan struktur ulang seluruh anggota tim elit yang bergabung dalam lima tahun terakhir. Cari kecocokan dengan data Bagas! SEKARANG!] ​Pramono tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar seperti ejekan yang mengerikan. "Sudah terlambat. Kalau dia tahu aku tertangkap, dia pasti sudah bergerak menuju target terakhirnya." ​Sementara itu, di lantai atas, di dalam kamar medis yang sunyi, Aiden masih terjaga. Ia duduk di sisi ranjang, memandangi wajah Elena yang tampak sangat damai dalam tidurnya. ​Aiden mengulurkan tangan, mengelus rambut Elena dengan sangat lembut. Rasa posesif itu kembali menyelimuti hatinya. Ia merasa hanya di ruangan ini, di bawah pengawasannya, Elena akan benar-benar aman. ​"Aku akan mengurungmu di sini kalau perlu, Sayang," gumam Aide

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status