Beranda / Romansa / Gairah Terlarang Calon Mertua / Bab 3 Penyesalan yang terlambat

Share

Bab 3 Penyesalan yang terlambat

Penulis: Cynta
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-17 06:18:46

Setelah beberapa jam Audrey terlelap dalam delapan Denzel, dia merasa dingin menyergap kulit telanjangnya. Bau disinfektan hotel bercampur samar dengan aroma keringat dan maskulin yang ia sadari milik pria di sampingnya. Matanya mengerjap, menatap langit-langit kamar yang mewah. 

“Astaga, jam berapa ini?!” gumamnya panik. 

​Audrey menoleh.

Denzel terlelap di sampingnya, bantal menutupi sebagian wajah tegasnya. Rambutnya yang gelap sedikit berantakan. Ia terlihat begitu damai, kontras dengan badai emosi yang baru saja ia ciptakan di dalam diri Audrey.

​”Aku gila. Benar-benar gila.”

​Ia buru-buru menarik selimut tebal, menutupi tubuhnya. Penyesalan itu menenggelamkannya dalam rasa malu yang tak terhingga. Perbuatan nekatnya terasa seperti noda hitam yang tidak akan pernah bisa ia hapus.

​Dengan sangat hati-hati, Audrey berusaha melepaskan pelukan Denzel yang melingkari pinggangnya. Tangan kokoh itu terasa berat, namun saat ia berhasil terlepas, ia menoleh sekali lagi memperhatikan wajah tampan disampingnya. 

​Audrey bangkit, kakinya menginjak karpet lembut. Di kursi, tampak gaun putih gadingnya tergeletak acak-acakan. Ia mengambilnya, mencium aroma alkohol yang masih melekat. Gaun yang seharusnya menjadi saksi pertunangannya, kini menjadi saksi kehancurannya sendiri.

Audrey memungut pakaian dalamnya yang berserakan, ia melirik sekali lagi ke arah Denzel. Pria itu masih belum bergerak. Ini kesempatan terbaik. “Aku harus pergi sebelum pria itu bangun, sebelum kami harus bicara, sebelum dia melihat ku lagi dan mengingatkan ku pada malam gila itu..” gumamnya. 

​Audrey menyambar tas tangannya. Ponselnya ia masukkan ke dalam. Ia harus cepat. ‘Aku harus melupakan Denzel, melupakan Aiden, melupakan kamar mandi itu. Aku harus mulai hidup baru, melupakan malam ini dan menganggapnya tidak pernah terjadi..’ monolognya. 

​Tepat saat tangannya meraih kenop pintu, suara berat dan serak itu memecah keheningan.

​“Kamu mau pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal?”

​Audrey mematung.

Jantungnya berdebar kencang, nyaris melompat keluar dari dadanya. Ia tidak berani menoleh.

​“Audrey…” Suara Denzel terdengar lebih dekat, menandakan ia sudah bangun dan mungkin sudah duduk. “Putar badanmu. Aku tidak suka berbicara pada punggung orang yang baru saja menghabiskan malam terpanas dalam hidupku.”

​Audrey menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia memutar tubuhnya perlahan. Denzel sudah duduk tegak, menatapnya dengan pandangan dingin dan tajam yang sama seperti semalam. Namun kali ini, tatapan itu terasa lebih menuntut dan penuh kepemilikan.

​“Aku… aku harus pergi,” ujar Audrey, suaranya bergetar. Ia menggenggam erat gaunnya, seolah itu satu-satunya pelindungnya.

​“Pergi kemana?” Denzel mengangkat satu alisnya. “Kembali pada tunangan yang bercinta dengan wanita lain di kamar mandi? Atau kembali ke dunia yang kamu tinggalkan di koridor hotel?”

​Kalimat Denzel terasa seperti tamparan keras. Wajah Audrey memerah karena marah bercampur malu.

​“Itu bukan urusanmu!” bentaknya, meski ia tahu suaranya terdengar lemah. “Apa yang terjadi malam ini hanya kesalahan! Karena aku mabuk! Aku ingin kita lupakan semuanya. Anggap saja ini tidak pernah terjadi!”

​Denzel tertawa kecil, tawa yang dingin dan meremehkan. Ia bangkit dari ranjang, hanya dibalut selimut yang melilit longgar di pinggangnya, memperlihatkan dada bidang dan otot-otot perutnya yang mengagumkan. Langkahnya mantap mendekati Audrey.

​“Lupakan? Setelah kamu membuatku kehilangan akal sehat, memanggil namaku berulang kali, dan bilang kamu merasa hidup lagi?” Denzel berhenti hanya beberapa jengkal di hadapan Audrey. “Maaf, Sayang. Denzel Shaquille tidak pernah lupa. Dan dia tidak suka ditinggalkan.”

​Mata Audrey berkaca-kaca, dadanya naik turun menahan emosi yang memuncak. Pria di depannya terlalu dekat, terlalu intens. Aura maskulin dan dominan yang dipancarkannya begitu kuat, membuat penyesalannya beradu dengan gejolak hasrat liar yang ia paksakan untuk mati.

​“Aku minta maaf, Om Denzel. Aku hanya… aku sedang kalut,” Audrey berbisik, berusaha memohon. “Aku tidak bermaksud memanfaatkanmu. Aku hanya ingin pergi.”

​Denzel mengulurkan tangannya, menyentuh lembut pipi Audrey. Jari-jarinya yang kasar terasa hangat di kulitnya. Sentuhan itu merobohkan lagi dinding pertahanan yang susah payah ia bangun.

​“Kamu tidak memanfaatkan aku, Audrey,” kata Denzel dengan suara yang kini melunak, berat, dan penuh pesona yang memabukkan. “Justru kamu memberiku sesuatu yang sudah lama aku cari. Keberanian liar. Dan hasrat yang nyata.”

​Ia mendekatkan wajahnya. Napas Denzel yang hangat menyapu telinga Audrey, membuat bulu kuduknya meremang. “Malam ini adalah takdir. Kamu datang padaku, bukan aku yang mencarimu.”

​“Tapi aku tidak bisa…” Audrey memejamkan mata. “Aku tidak mengenalmu…”

​“Memangnya kamu mengenal tunanganmu?” potong Denzel sinis, namun kemudian nadanya berubah sensual. “Kamu mengenalnya selama bertahun-tahun, tapi baru aku yang bisa membuatmu merasakan apa itu kehidupan yang sebenarnya, kan?”

​Audrey terdiam.

Kata-kata Denzel benar. Aiden tidak pernah membuatnya merasa sehidup ini. Di pelukan pria asing ini, ia merasa menjadi dirinya sendiri, seseorang yang bebas dari ekspektasi dan kepura-puraan.

​“Jangan lari dari rasa yang kamu rasakan, Audrey,” bisik Denzel, jemarinya kini turun membelai leher jenjang Audrey, sedikit menekan di area sensitif yang semalam ia eksplorasi.

​Audrey mendesah tanpa sadar. Sentuhan itu seperti percikan api yang langsung menyulut sisa-sisa bara hasrat yang ia pikir sudah padam.

​Denzel menyeringai tipis, penuh kemenangan. “Lihat? Tubuhmu tidak bohong. Dia menginginkan aku. Dia butuh aku.”

​Ia menarik gaun yang dipegang Audrey, meletakkannya kembali ke kursi. Gaun itu meluncur lembut ke lantai, seolah menerima takdirnya. Lalu ia melingkarkan tangannya di pinggang Audrey, menarik tubuh wanita itu mendekat, menempelkan dada bidangnya yang hangat ke kulit telanjang Audrey.

​“Audrey…” Suara Denzel kini lebih berat dan dalam, menggetarkan gendang telinga dan hatinya. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi dan menyesal. Aku tidak akan membiarkanmu kembali ke pria yang sudah mengkhianatimu.”

​Audrey mendongak, menatap mata tajam Denzel yang kini diselimuti oleh kabut hasrat. Ada kepastian yang membuat jantungnya berdebar bukan karena ketakutan, melainkan karena antisipasi.

​“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Audrey, suaranya sudah berubah menjadi bisikan penuh gairah.

​“Aku akan membuatmu benar-benar melupakannya,” jawab Denzel. “Aku akan mengklaimmu, seutuhnya. Agar tidak ada tempat di pikiranmu untuk pria lain selain aku.”

​Tanpa menunggu jawaban, Denzel menunduk, bibirnya langsung melahap bibir Audrey dengan ciuman yang mendalam dan rakus. Ciuman itu lebih liar dari semalam, lebih menuntut, dan penuh kepemilikan. Audrey merasakan sisa penyesalannya menguap, digantikan oleh panas yang membakar dan gejolak yang tidak bisa ia kendalikan.

​Tangannya merangkul leher Denzel, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama. Tubuhnya, sekali lagi, mengkhianati akal sehatnya. Ia menginginkannya, sentuhan itu. 

​Denzel mengangkat tubuh Audrey ke pelukannya, membawanya kembali ke ranjang.

​“Aku ingin kamu mengatakan namaku lagi, Audrey,” bisik Denzel, tatapannya membara.

​“Denzel…” rintih Audrey, air matanya kini bercampur dengan desahan. Ia tahu ini salah, tapi kenikmatan yang ditawarkan pria ini terlalu kuat untuk ia tolak.

Denzel menekan tubuh Audrey ke ranjang, memastikan tidak ada ruang di antara mereka. Di bawah sentuhan pria itu, Audrey kembali menemukan pelepasan yang membuatnya lupa pada dunia luar, pada Aiden, dan pada semua masalahnya.

‘Audrey.. Aku gak akan membiarkanmu kembali padanya..’ 

**

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Acy
hmm.. Audrey gak bakal bisa lepas dari Denzel..
goodnovel comment avatar
Cynta
nah kebakar sendiri dia..
goodnovel comment avatar
Nn_Effendie
enak ya drey makanya gabisa nolak...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 243 Desahan Tengah Malam

    Suasana taman belakang yang sunyi tiba-tiba pecah oleh teriakan Aiden. Tangannya sudah mengepal, siap melakukan serangan kalau saja yang muncul adalah ancaman. Namun, begitu matanya memperhatikan sosok yang berdiri di di belakangnya, Aiden segera menurunkan tangannya.​"Papa?" gumam Aiden kaget.​Ternyata itu adalah Trustin. Pria itu berjalan perlahan dengan bantuan tongkat kayu mahoninya. Suara gesekan kaki dan ujung tongkat di atas rumput itulah yang tadi memancing insting Aiden. Melihat Papa kandungnya berjalan tertatih, Aiden segera berlari kecil menghampiri dan memapah lengan Trustin.​"Kenapa Papa keluar malam-malam begini? Udaranya sangat dingin, tidak baik untuk kesehatan Papa," kata Aiden dengan nada khawatir yang tulus.​Trustin tersenyum tipis, membiarkan putranya membantunya berjalan menuju bangku taman yang tadi diduduki Aiden. "Papa hanya ingin menghirup udara segar, Aiden. Di kamar rasanya sangat sesak. Kadang, suara keheningan di dalam rumah justru lebih berisik daripa

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 242 Rahasia di Balik Malam

    Di ambang pintu, Aiden berdiri dengan dahi berkerut, menatap satu per satu wajah Denzel, Aksa dan Fiona. ​"Kalian sedang bicara apa sebenarnya?" tanyanya dengan nada penasaran. Aiden menyipitkan matanya, menatap Denzel, Aksa, dan Fiona secara bergantian. "Aku sedang lewat untuk memeriksa keamanan koridor dan mendengar suara kalian. Sepertinya ada yang sangat rahasia sampai harus berkumpul jam segini." ​Denzel, Aksa, dan Fiona sempat saling pandang selama beberapa detik. Mereka menghela napas lega secara bersamaan karena mengira seseorang yang datang itu penyusup atau Audrey yang terbangun. ​"Aiden, kamu mengejutkan kami," ujar Aksa sambil mengendurkan dasinya. "Kami hanya membicarakan detail operasional yang tertunda." ​Aiden tidak semudah itu percaya. Ia melangkah masuk, tangannya bersedekap di dada. "Operasional apa? Bukankah semuanya sudah stabil? Dan kenapa Fiona harus mencatat keinginan Audrey kalau ini masalah operasional pekerjaan?" ​Belum sempat Denzel menjawab pertan

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 241 Gairah yang Tertahan

    Wajah ​Audrey langsung merona hebat, ia memukul bahu Denzel dengan manja. "Denzel! Aksa dan Fiona masih di sana. Jangan mulai lagi.. Ini tempat umum, jangan membuatku malu!"​Denzel tidak mempedulikan protes istrinya. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Audrey, menghirup aroma parfum vanila yang selalu membuatnya gila. Bibirnya mulai memberikan lumatan-lumatan panas, berpindah dari leher menuju telinga Audrey.​"Mmmhh... Denzel... ahh," Audrey mendesah lirih, ia mencengkeram kemeja Denzel saat merasakan lidah suaminya bermain di titik sensitifnya.​"Katakan padaku, Audrey. Apa kamu menyukai kejutan dariku hari ini?" tanya Denzel sambil terus menciumi bahu Audrey yang sedikit terbuka.​"Aku menyukainya... Sangat menyukainya. Terima kasih, sayang," balas Audrey dengan napas yang mulai memburu.​Denzel mengangkat wajahnya, menatap bibir Audrey yang merah dan sedikit terbuka. Tanpa membuang waktu, ia melumat bibir itu dengan penuh gairah. Ciuman mereka menjadi semakin dalam dan panas,

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 240 ‘Ketegangan’ di Toko Perhiasan

    Perjalanan menuju toko perhiasan berlangsung cepat dengan pengawalan ketat. Sesampainya di sana, mereka disambut langsung oleh pemilik toko.​"Pilihkan cincin yang paling murni untuk mereka," perintah Denzel pada pelayan toko.“Baik Pak Denzel,” pelayan toko iku langsung masuk untuk mengambilkan perhiasan yang Denzel minta. ​Saat Aksa dan Fiona sedang sibuk mencoba beberapa cincin, Denzel menarik Audrey ke sudut ruangan yang lebih privat. Di sana terdapat sebuah etalase berisi kalung berlian biru yang sangat indah.​"Denzel, kita kan di sini untuk mengantarkan Aksa dan Fiona," bisik Audrey saat Denzel mengeluarkan kalung itu.​"Ini untukmu sayang, hadiah karena sudah bersabar selama kekacauan kemarin," gumam Denzel. Ia memutar tubuh Audrey, lalu memasangkan kalung itu di leher putih istrinya.​Tangan Denzel yang hangat menyentuh kulit leher Audrey, menciptakan sensasi menggelitik yang menjalar ke seluruh tubuh Audrey. Denzel memberikan ciuman l di tengkuk Audrey, membuat wanita itu m

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 239 Mengawal Mantan Sekaligus Mama

    Pintu butik sudah terkunci rapat bagi pelanggan umum. Denzel tidak tanggung-tanggung, ia menyewa seluruh butik itu selama satu hari penuh demi kenyamanan Audrey dan rencana pernikahan Fiona.​Di luar gedung, Aiden berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya. Earpiece terpasang di telinga, dan matanya terus memperhatikan setiap kendaraan yang melintas. Di belakangnya, beberapa personel tim elit Shaquille berjaga di sudut-sudut strategis. Aiden sesekali melihat ke arah kaca transparan butik, di mana ia bisa melihat Audrey sedang tertawa bersama Fiona.​Senyum tipis muncul di bibir Aiden. 'Setidaknya, melihatmu tertawa seperti itu sudah cukup bagiku, Audrey. Meski bukan aku alasannya,' batinnya tulus.​Di dalam butik, suasana terasa jauh lebih santai. Audrey tampak sibuk membolak-balik gantungan gaun putih yang berjajar rapi. Ia menarik sebuah gaun dengan potongan off-shoulder yang dihiasi butiran mutiara kecil.​"Fiona, coba lihat ini! Ini sangat cocok dengan p

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 238 Tugas Pertama 

    Aksa, yang sudah terjaga sejak fajar karena kebiasaan disiplinnya masih memeluk erat tubuh Fiona. Tapi, ia hanya terdiam memandangi wajah wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu. Ia mengusap helai rambut Fiona yang menutupi mata dengan sangat lembut, seolah takut membangunkan wanita itu dari mimpi indah.​Fiona menggeliat kecil, merasakan hembusan napas hangat Aksa di keningnya. Ia perlahan membuka mata dan langsung disambut oleh tatapan tajam yang penuh cinta dari pria di hadapannya.​"Pagi, calon Nyonya Aksa," bisik Aksa dengan suara lembut yang berat.​Fiona tersipu, ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Aksa yang tidak tertutup selembar benang pun. "Aksa... Jangan menggodaku sepagi ini."​Aksa terkekeh rendah, ia menarik dagu Fiona agar wanita itu kembali menatapnya. "Kenapa? Kamu malu karena kejadian semalam? Padahal semalam kamu sangat berani, Fiona."​"Aksa!" Fiona memukul pelan dada Aksa, wajahnya merah padam.​Aksa tidak membiarkan Fiona menjauh. Ia justru men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status