Mag-log in“Dok …?” lirih Yessa, suaranya bergetar.
“Hm?” sahut Isandro singkat, matanya tetap menatapnya dalam. “I-ini ….” Yessa menelan ludah, menatap pria di hadapannya yang berdiri terlalu dekat. Sangat dekat, bahkan tak ada jarak sedikit pun. Bahkan saat tadi Isandro mencium sudut bibirnya, ada perasaan aneh menjalar di seluruh tubuhnya—campuran antara takut, gugup, dan sesuatu yang selama ini tak pernah ia dapatkan dari Kaveer. Isandro tidak menjawab, hanya mendekatkan wajahnya lagi. Kali ini bibirnya benar-benar menyapu bibir Yessa, menuntut, menguji. Jemarinya menyusuri lengan Yessa, turun ke pinggang, lalu menarik tubuh itu hingga menempel rapat padanya. Ciuman itu lambat namun dalam, membuat napas Yessa tersengal. Pikirannya berteriak ini salah, tapi sentuhan lembut di punggungnya membuatnya lemah, tak kuasa menolak. Kaveer tidak pernah mencium atau menyentuhnya seperti ini—tidak pernah selembut ini. Yessa bahkan tidak ingat kapan terakhir kali dia diperlakukan selembut dan seintens ini. Atau mungkin, tidak pernah sama sekali? Tanpa sadar, Yessa membalas. Jemarinya bahkan meraih kerah jas Isandro, seolah mencari pegangan—kemudian melingarkan lengannya di leher pria itu. Jantungnya berpacu, tubuhnya mulai larut. Isandro merasakan itu, dan tangannya naik mengusap punggungnya lebih dalam. Satu tangan Isandro menahan tengkuknya, memastikan Yessa tak akan melepaskan ciuman terlalu cepat. Dan tangan satunya menyusuri punggung kecilnya, bergerak terampil melepas pengait bra. Mata Yessa spontan terbuka saat bra-nya melorot membuat dua gundukannya menggantung, tapi ciuman itu tak memberinya kesempatan untuk menarik diri—dia sudah larut ke dalamnya. “Mmhh .…” suaranya pecah di antara desahan. Isandro mengangkat tubuh Yessa, menggendongnya ala koala tanpa melepaskan ciuman, lalu mendudukkannya di atas meja. Kedua kaki Yessa dibuka, membiarkan tubuh Isandro berdiri di antaranya, tetap mengurungnya. “Dok!” suara Yessa bergetar saat bibir mereka akhirnya terpisah. Kedua tangannya buru-buru bersilang menutupi dadanya yang terpampang di hadapan Isandro. Isandro berdiri di depannya, napasnya berat, tapi senyum tipisnya tak goyah. Tangannya terangkat, melonggarkan dasi yang terasa mencekik sambil menatap Yessa seakan membaca isi pikirannya. “Mulutmu menolak, tapi tubuhmu? Dia jujur pada saya.” Jemarinya meraih kedua tangan Yessa, menahannya di atas meja. “Saya bisa kasih lebih dari yang pernah suami kamu kasih—baik di ranjang, maupun di hidup kamu.” Tatapannya jatuh pada gundukan Yessa sekilas lalu beralih pada matanya—menusuk, nada suaranya licin seperti racun manis. “Jadi, Yessa … mau lanjut?” Yessa tak menjawab. Ia ingin mengangguk, tapi malu dan sadar bahwa ini salah. Ingin menolak, tapi dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Kapan lagi? Dan siapa yang bisa menyentuhnya selembut dan seberani ini? “Saya tidak akan memaksa kamu, Yessa. Tapi kamu bisa datang kapan saja kalau kamu membutuhkan saya. Saya tahu, kamu kekurangan perhatian dan haus akan sentuhan.” Tatapan Isandro begitu dalam membuat Yessa menelan ludah, terhanyut dalam kata-kata itu. Yessa membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar dari sana. Isandro mencondongkan tubuhnya ke depan, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Yessa. Suaranya turun menjadi bisikan hangat yang membelai telinga. Lalu bisikannya yang terdengar tegas namun tetap sensual. “Wanita itu … rapuh, Yessa. Mereka tidak diciptakan untuk menahan sakit, apalagi dari orang yang katanya mencintai. Kamu pantas dipeluk, dijaga, dimanjakan, bukan disakiti.” Tangannya mengusap pelan pipi Yessa, jemarinya menelusuri rahang kecil wanita itu hingga ke lehernya membuat Yessa menahan napas. “Kamu tahu kenapa saya peduli sama kamu? Karena saya bisa lihat di mata kamu, kalau kamu sudah terlalu lama menahan diri. Kamu cuma butuh seseorang yang mengerti kamu. yang tahu cara membuat kamu lupa semua luka itu. Dan saya, saya bisa jadi orang itu, Yessa. Kalau kamu mau.” “A-anda serius, dok?” tanya Yessa pelan, seolah masih ragu dengan apa yang baru saja ia dengar. Namun dia langsung melipat bibirnya, seolah baru sadar bahwa dirinya melontarkan pertanyaan absurd. Isandro hanya tersenyum tipis. “Tentu saja.” Ia kemudian menjauhkan diri dari Yessa, membuka jas putihnya, lalu dengan hati-hati memakaikannya ke tubuh wanita itu. Jas itu jatuh menutupi bahunya yang terlihat rapuh, membuat Yessa menunduk tanpa berani menatapnya. “Tunggu di sini,” ucapnya lembut. Tangannya terulur meraih ponsel di meja, lalu menekan nomor cepat. “Antarkan ke ruangan saya, salep untuk luka lebam,” perintahnya singkat pada seseorang di seberang. Setelah menutup telepon, ia memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya. “Dok!” panggil Yessa saat pria itu melangkah pergi. Isandro tidak menoleh. Ia berjalan ke sudut ruangan, menuangkan air mineral dari dispenser ke dalam gelas. Setelah itu ia kembali menghampiri Yessa yang masih duduk di atas meja, menunduk sedikit untuk menyerahkan gelas tersebut. “Minum. Kamu pasti haus,” ujarnya, nada suaranya begitu tenang namun tegas. Yessa meraih gelas itu dengan kedua tangannya, jari-jarinya menyentuh jemari Isandro tanpa sengaja, membuatnya refleks menarik napas pelan. “Ma-maaf,” ucapnya merasa bersalah. Kemudian Yessa meneguk air itu sampai tandas, lalu meletakannya ke atas meja. “Terima kasih, dok.” “Sama-sama,” balas Isandro singkat. Tak lama kemudian, suara ketukan terdengar dari pintu, membuat Yessa menoleh kaget. Isandro melangkah ke arah pintu, membukanya sedikit. Seorang perawat berdiri di luar dengan sebuah salep di tangannya. “Ini, dok,” ucap perawat itu sambil menyerahkannya pada Isandro. Isandro menerimanya dengan anggukan singkat, tak banyak bicara. Pintu kembali ditutup dan tak lupa juga dikunci, meninggalkan hanya dirinya dan Yessa di ruangan itu. Tatapan Yessa langsung jatuh pada benda di tangan Isandro. Bibirnya sempat terbuka, seperti hendak bertanya, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat tatapan pria itu. “Biar saya yang oleskan,” ucap Isandro pelan. Ia menarik kursi, duduk di hadapan Yessa, lalu membuka tutup salep itu. Aroma obat yang samar memenuhi udara. “Luka seperti ini harus rutin diberi salep,” lanjutnya, tangannya terulur mendekati luka di bahu Yessa. Sentuhannya hati-hati, nyaris seperti takut menyakiti. “Kalau tidak, nanti bekasnya susah hilang.” Yessa menunduk, tubuhnya kaku saat jari-jari hangat Isandro menyentuh kulitnya yang memar. Setiap olesan terasa pelan, namun ada sesuatu di balik gerakan itu—perhatian yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari Kaveer. Begitu Isandro hendak memberikannya pada bagian gundukannya, Yessa langsung menahan tangan pria itu. “Biar saya oles sendiri, dok.” Ia langsung meraih salep itu dari tangan Isandro, lalu memperbaiki jas putih pria itu agar bisa menutupi seluruh tubuhnya. Tiba-tiba saja, kewarasannya kembali dan merasa malu mengingat dia tak mengenakan bra. “Bagaimana cara kamu mengoleskan lukamu kalau jasnya tidak dilepas?” tanya Isandro dengan alis terangkat. Yessa menunduk malu dan menggigit bibirnya. “Saya ke kamar mandi dulu, selesaikan dengan cepat!” kemudian dia berbalik pergi meninggalkan Yessa seorang diri. Yessa hanya menatap punggung pria itu yang menjauh, sampai menghilang dari balik pintu toilet. Ada perasaan nyaman yang diam-diam tumbuh tanpa izin.“Kamu ngobrol apa aja sama Mama Salma, Mas?” tanya Yessa pelan saat mobil melaju meninggalkan area Rumah Sakit Gloria Medika, beberapa menit setelah pemeriksaan kandungannya selesai. “Tidak banyak,” jawab Isandro tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Namun tangannya tetap menggenggam tangan Yessa erat di atas paha sang istri. “Kami hanya membahas Kaveer.” Yessa membuka mulut, hendak bertanya lebih jauh. Namun Isandro kembali berbicara lebih dulu. “Oh iya,” ucapnya santai. “Tante Salma itu sudah bukan Mama mertua kamu. Jadi … jangan panggil Mama lagi, ya.” Yessa terdiam sejenak. Bibirnya terkatup rapat sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. “Udah kebiasaan,” katanya lirih. “Jadi suka kelupaan, Mas.” “Mulai sekarang dibiasakan,” balas Isandro tenang. Senyum tipis terukir di wajah tampannya. “Tante Salma bukan mertua kamu lagi.” Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman mansion. Isandro turun lebih dulu, bergegas membukakan pintu dan membantu Yessa turun dengan penuh kehati-hatia
“Terima kasih banyak, San. Karena kamu mau bertemu dengan tante,” ucap Salma lirih, tak berani menatap langsung ke mata Isandro. Isandro terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya membuka suara. “Tante pasti selama ini penasaran, atas apa yang akan saya lakukan setelah ini pada Kaveer?” Salma meremat jari-jemarinya di atas pangkuan. “Iya, itu salah satunya. Dan kedatangan tante ke sini, tentu saja untuk mewakili permintaan maaf Kaveer ke kamu, serta istri kamu. Yessa.” Pria itu mengangguk paham. Tapi sayangnya saat ini dia memilih untuk bicara empat mata dengan Salma, daripada membawa sang istri juga. Hal itu dilakukan agar Yessa tidak mendengar ucapan yang tak seharusnya, hingga mengganggu mental dan hormon kehamilannya membuat wanita itu sensitif. “Apa ada alasan, kenapa Kaveer tidak datang sendiri untuk minta maaf?” tanya Isandro, suaranya rendah namun tetap tegas. “Kaveer, dia ... sebenarnya ingin datang sendiri. Tapi tante tidak yakin dia datang untuk meminta maaf atau justru
“Aku juga, Mas. Aku bakal lindungin kamu, sekalipun taruhannya nyawa aku sendiri. Kalau kamu pergi, aku takut gak sanggup,” bisik Yessa lirih. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Isandro menghela napas panjang. Tangannya terulur, ibu jarinya menghapus air mata itu satu per satu dengan gerakan yang sangat hati-hati. “Aku pernah kehilangan kamu,” ucapnya tenang, namun suaranya berat, “Dan aku gak akan pernah mau kehilangan kamu lagi untuk kedua kalinya. Pernah kehilangan, bukan berarti aku sanggup kehilangan lagi.” Yessa terisak kecil. “Entah udah berapa kali aku bilang ke kamu,” lanjut Isandro, sorot matanya mengeras oleh luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, “Hari itu aku hampir gila.” Ia menelan ludah, dadanya naik turun. “Aku koma karena kecelakaan itu. Dan waktu aku sadar, kenyataan kalau kamu pergi dari hidup aku, itu menghantam aku untuk kedua kalinya.” Jarinya mengerat di pinggang Yessa. “Aku depresi, Yessa. Bukan cuma karena kamu pergi,” suaranya merendah, hampir be
Satu minggu berlalu dari terakhir kali Isandro pulang ke rumah dan rawat jalan. Kini pria itu sudah bisa kembali beraktivitas lagi. Namun dia tidak beraktivitas dalam hal pekerjaan, melainkan tidak terbaring terus menerus di atas ranjang. Mulai hari ini, sudah bisa bermain dengan kedua anaknya. “Udah minum susunya, sayang?” tanya Isandro begitu sang istri kembali ke ruang bermain kedua anaknya di lantai dua mansion tersebut. “Udah,” jawabnya singkat, lalu ikut bergabung dan duduk di sebelah sang suami. “Cucu, Pa,” rengek Yessy pada sang ayah. Isandro tersenyum kecil. “Papa minta Sus Mala buatin untuk kamu, ya?” ia melirik Mala yang langsung paham dan bergegas meninggalkan ruang bermain. Di hadapan mereka, Arby tengah bermain lego. Bocah laki-laki usia enam tahun itu tampak begitu fokus, sampai tak menyadari kedatangan Yessa. “Bikin apa itu, sayang?” tanya Yessa lembut pada anak sambungnya, satu tangannya mengusap punggung kecil bocah itu yang tengah tengkurap di karpet. Arby t
Brak. Aurora memukul setir kemudinya dengan keras begitu duduk di kursi kemudi. Hal itu dikarenakan Yessa mengusirnya dengan cara yang tak Aurora duga. Jika Yessa mengusirnya dengan nada tajam seperti yang dia lakukan, itu sepadan dengan sikapnya untuk melawannya balik. Seandainya tidak ada Isandro di sana, Aurora sudah pasti tak akan diam saja. “Mulai berani sekarang, ya? Sok karena Isandro selalu bela kamu?” kalimat yang diucapkan itu mengandung bahaya. Aurora melirik refleksi dirinya di spion tengah. “Aku gak akan berhenti di sini. Kalau Yessa udah bisa menggunakan posisinya sebagai istri Isandro, aku harus lebih dari dia.” Ucapannya itu penuh tekad. Tapi bukan untuk hal baik, melainkan untuk sebaliknya. Ia kemudian menyalakan mesin mobil. Setelah itu, mobilnya mulai meninggalkan area rumah sakit. Tentu saja kembali ke rumahnya. Tak jauh dari sana, sebuah mobil juga mengikutinya. Siapa lagi kalau bukan Luke. Pria itu sengaja mengikuti Aurora sampai ke rumah sakit, ingin mema
Belum sempat Luke menjawab, Aurora refleks melirik ke sekeliling. Dan benar saja, beberapa wali murid mulai saling berbisik. Tatapan penasaran, heran, mengejek, bahkan ada yang menyipitkan mata, jelas tertuju pada mereka berdua. Sambil berbisik satu sama lain. “Eh, itu selingkuhannya Aurora, kan?” “Iya, ngapain dia datang ke sini bawa anak mereka yang hasil dari perselingkuhan?” “Gak nyambung, ya. Yang karnaval anaknya siapa, yang datang siapa. Mana bawa anak hasil kumpul kebonya lagi,” bisik yang lain tak kalah tajam. Aurora meremas kedua tangannya di pangkuannya, rahangnya mengeras. Rasa tidak nyaman menjalar cepat di dadanya. Kehadiran Luke di tempat ini—di ruang publik, di tengah banyak pasang mata, jelas bukan sesuatu yang ia inginkan. Sementara Luke berdiri di sampingnya dengan tenang, seolah siap menanggung seluruh bisik-bisik yang mulai tumbuh di aula itu. “Pergi,” usir Aurora dengan nada pelan, tatapannya dingin dan menusuk. Tapi Luke tak goyah, dia justru memilih du







