Se connecterHalo, Pembaca Kesayangan Langit Parama🫰🏻 Aku ingin mengucapkan TERIMA KASIH SEBESAR-BESARNYA kepada kalian semua yang sudah menemani perjalanan kisah Isandro dan Yessa (Yessandro), dari awal hingga tamat! Dukungan vote GEM, komen, ulasan, dan antusiasme kalian adalah bahan bakar terhebat yang membuatku semangat menyelesaikan cerita ini sampai menjadi salah satu karya yang menang di Event Small Contest 'Ketika Gairah Mengalahkan Logika'. Melihat kalian ikut 'kecanduan' dengan setiap babnya benar² kebahagiaan tak ternilai bagiku selaku penulis. Untuk yang belum memberikan ulasan buku ini, dipersilakan memberikan krisan semasa membaca cerita ini, ya (✿◠‿◠) Setelah tamatnya buku "Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku," jangan khawatir kalian akan kehilangan karyaku yang lain! Aku udah siapin lagi kisah baru yang dijamin bakal buat kalian makin oleng dan gak bisa berhenti baca. 1. Candu Dekapan Kakak Ipar (Dan nantikan karya-karyaku yang akan datang) Biar gak ketinggalan info menarik seputar penulis dan karyanya, silakan Follow igehku: @langit_parama (✿◠‿◠)
Paris menjadi salah satu negara yang dikunjungi oleh Isandro bersama keluarganya. Dan ini adalah pertama kalinya ketiga anak mereka menjejakkan kaki di luar negeri. Penampilan Arby, Yessy, dan Arbil tampak menggemaskan dengan jaket tebal, topi rajut, serta syal yang melingkar rapi di leher masing-masing. Udara dingin Paris membuat pipi mereka sedikit memerah, kontras dengan wajah polos yang penuh rasa penasaran. “Kenapa kita jalan kaki, Pa?” tanya Yessy sambil mendongak ke arah sang ayah yang menggendong Arbil. “Emang Papa gak punya mobil di sini?” Isandro tersenyum kecil. “Lebih seru jalan kaki, Nak. Biar sehat. Lihat tuh, orang-orang Eropa pada jalan kaki semua.” Yessy menoleh ke sekitar, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dengan santai. “Oh iya,” gumamnya pelan. “Sini,” Arby mengulurkan tangannya ke arah sang adik. “Jalan sama kakak, biar kamu gak ilang.” Yessy menatap tangan kakaknya sejenak, lalu menggenggamnya erat dengan jari-jari kecilnya. “Nah, gitu,
“Senyum kalau kamu mau nambah anak,” bisik Yessa pelan, tepat di telinga sang suami. Isandro bukan tersenyum—ia justru tertawa lepas, bahunya sedikit bergetar. “Mas?” Yessa membulatkan matanya sambil ikut tertawa kecil. “Aku bilang senyum, bukan ketawa. Kamu gak mau nambah anak, ya?” Isandro menyipitkan mata, menatap istrinya penuh arti. “Emangnya kamu mau?” Yessa menyengir lebar, senyum kuda khasnya muncul. “Enggak, sih. Cukup tiga aja, ya?” “Tiga?” Isandro mengangkat sebelah alis. Tangannya refleks menarik pinggang ramping Yessa, membuat wanita itu duduk di pangkuannya. “Berarti kurang satu lagi. Arby kan anak aku dari istri sebelumnya.” “Tapi Arby itu anak aku juga,” balas Yessa tanpa ragu. Tatapannya lembut, dalam. “Aku udah anggap dia kayak anak kandung sendiri, Mas. Tiga anak cukup.” Isandro terdiam sejenak, lalu mengangguk singkat. “Oke. Terserah kamu, sayang. Kamu yang punya tubuh, aku gak akan maksa. Tiga anak udah cukup. Yang penting, kita kasih mereka kasih sa
“Jalan, Nak. Kan kamu udah bisa jalan,” ucap Isandro sambil berjongkok, menepuk pelan karpet di depannya. Arbil yang semula merangkak berhenti sejenak. Ia menatap sang ayah ragu-ragu, lalu kembali menumpukan kedua telapak tangannya ke karpet, memilih merangkak pelan. Yessa tersenyum kecil melihatnya. “Dia takut jatuh, Mas. Keseimbangannya belum stabil.” Isandro terkekeh pelan. “Penakut kayak Mamanya,” godanya ringan. Yessa melirik tajam, tapi sudut bibirnya justru terangkat. Ia kemudian menatap sang suami lebih lama, rautnya melunak. “Nanti sore ikut aku, gak?” Isandro langsung menoleh penuh perhatian. “Ke mana?” “Kamu gak ke rumah sakit hari ini?” alis Yessa terangkat. “Bisa aku atur. Ke mana dulu?” balas Isandro cepat. “Kalau memang sore kita pergi, sekarang aku berangkat ke rumah sakit.” “Hari ini Fika keluar dari rumah sakit, Mas. Aku mau jenguk dia. Sekalian ajak anak-anak.” “Fika?” dahi Isandro berkerut sesaat. “Sakit apa?” “Habis lahiran.” “Oh,” Isandro me
“Raka, kamu jangan deket-deket terus,” keluh Yessy, matanya melirik dingin ke arah bocah laki-laki itu. Langkahnya diperlambat agar tetap sejajar dengan Arsy yang menggenggam tangannya erat. “Aku jalan biasa, gak deket-deket, Ci. Aku juga mau pulang,” balas Raka datar, tanpa mempercepat ataupun memperlambat langkahnya. “Ya udah sana,” Yessy mendorong lengan Raka pelan, memberi isyarat agar bocah itu berjalan lebih dulu. “Eci, gak boleh gitu,” tegur Arsy. Ia justru mengulurkan tangan kecilnya ke arah Raka. “Sini, Raka. Jalan di samping aku aja. Kita gandengan tangan bertiga.” Raka sempat terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis sebelum menerima uluran tangan Arsy. Ketiganya pun berjalan beriringan, meninggalkan kelas menuju luar gedung sekolah, siap bertemu orang tua masing-masing yang masih tertib dalam menunggu. Di luar, Isandro dan Yessa masih setia menunggu sambil menemani Arbil. Bayi itu tampak tenang di gendongan, matanya sesekali bergerak ke sana kemari, sama sekali tak
Halaman Lumina Kids Academy pagi itu dipenuhi suara tawa dan langkah-langkah kecil yang berlarian. Warna-warni tas mungil dan seragam rapi membuat suasana terasa hidup. Yessy berdiri sedikit di belakang Isandro, jemarinya menggenggam ujung baju sang ayah. Matanya bergerak ke sana kemari, mengamati anak-anak lain yang tampak sebaya dengannya. Ada yang berlarian, ada yang saling pamer botol minum, pamer tas, pamer sepatu, ada pula yang sudah duduk manis menunggu guru mereka datang. “Eci masuk, ya, Pa,” ucapnya pelan. Isandro berlutut agar sejajar dengan tinggi sang anak. “Masuk. Papa nunggu di luar. Kamu kan anak hebat.” Yessy mengangguk kecil, lalu berjalan mendekat ke arah seorang guru perempuan yang tersenyum ramah. Di dekat pintu kelas, dua anak perempuan langsung memperhatikannya. “Hai,” sapa salah satu dari mereka, rambutnya dikuncir dua. “Nama kamu siapa?” “Yessy,” jawabnya
Pukul sebelas malam, Isandro baru saja pulang dari rumah sakit. Hari ini lebih lama dari biasanya, karena ada operasi besar. Namun, siapa sangka ketika dia masuk kamar sudah menemukan istrinya duduk di tepi ranjang, mengenakan piyama satin yang tipis. “Ada apa? Kamu belum tidur nungguin aku, hm?” tanyanya sembari melangkah mendekati sang istri. Ia membungkuk, mensejejarkan tubuhnya dengan wajah Yessa. Cup. Satu kecupan lembut mendarat di kening wanita itu. Ia kemudian menegakkan punggungnya kembali, mengulurkan tangan mengusap rahang kecil Yessa. “Tumben? Mungkin mau ....” “Nggak,” Yessa buru-buru menggeleng sambil menahan senyum. Isandro menghela napas panjang. “Sampe kapan pabriknya tutup, sayang?” “Gak tahu,” balas Yessa asal. “Aku nungguin kamu karena mau cerita soal Eci di sekolah tadi, Mas. Mau denger, gak?” “Tentu mau,” sahut Isandro cepat. “T







