LOGIN“Ma-mas ...!” suara Yessa bergetar mendengar ucapan Isandro yang sangat menohok, menusuk sampai ke relung hatinya yang paling dalam seolah dirinya manusia yang begitu munafik.
“Jangan khawatir, saya tidak minta balasan. Saya cuma heran … bagaimana bisa kamu melakukan ini setelah apa yang saya lakukan untuk kamu?” Tangan Isandro mengepal, rahangnya mengeras menahan kata-kata yang mungkin jika dia teruskan lagi akan semakin melukai hati Yessa. “Kamu bisa pura-pura tidak butuh saya lagi, tapi tatapan kamu tidak bisa bohong, Yessa. Kamu cuma berusaha terlihat kuat, padahal sebenarnya kamu rapuh.” Bibir Yessa bergetar, ingin membalas ucapan itu. Mulutnya terbuka, namun tidak ada kata-kata yang keluar dari sana—napasnya tercekat di tenggorokan. Bola mata Yessa mulai berkaca-kaca, namun ia menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan isakan yang sudah mendesak keluar.“Hamil?” Yura membulatkan matanya kaget. Tatapannya bergeser dari wajah Aurora ke testpack yang tergeletak di lantai kamar mandi. “Ya ampun,” tangannya refleks menutup mulut, nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Mama ….” Aurora merengek seperti anak kecil, tubuhnya gemetar. Sementara Arsy yang berada di gendongan sang nenek ikut gelisah, matanya menatap wajah ibunya yang berubah drastis. Belum sempat Yura berkata apa pun, suara langkah kaki terdengar mendekat. Luke muncul di ambang pintu kamar mandi. Wajahnya langsung berubah saat melihat Aurora terduduk lemas di lantai. “Kamu kenapa, Ra?” tanyanya cemas. Ia melewati Yura dan berjongkok tepat di hadapan sang istri. “Ada apa?” Aurora mendongak. Namun tatapan yang ia berikan bukan tatapan lemah, melainkan dingin, tajam, dan penuh amarah. “Ini semua gara-gara kamu, Luke!” bentaknya tiba-tiba. Belum sempat Luke mencerna kalimat itu, tinju kecil Aurora menghantam dada dan bahunya bertubi-tubi. Luke terkejut, refleks men
“Kamu penasaran gak sama jenis kelamin anak kita, Mas?” tanya Yessa lembut sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit. Tatapannya jatuh pada Isandro yang tengah berbaring santai, dengan kepalanya yang disandarkan di atas paha Yessa. Isandro terdiam beberapa detik, matanya terpejam seolah menikmati sentuhan itu. Sudut bibirnya kemudian terangkat tipis. “Penasaran.” Yessa tersenyum lebar. “Mau USG?” tawarnya pelan, meski nada suaranya terdengar ragu—seolah tak benar-benar berharap jawaban itu iya. “Tidak usah,” jawab Isandro tenang. Tangannya terulur, telapak besarnya mengusap perut Yessa dengan gerakan pelan dan penuh kehati-hatian. “Biar jadi kejutan.” Yessa mengangguk kecil. Jemarinya turun, mengusap puncak kepala sang suami, menyibakkan rambutnya ke belakang dengan gerakan lembut “Kalau gitu … kamu berharap anaknya berjenis kelamin apa, Mas?” Isandro menghela napas panjang, lalu membuka mata. Tatapannya naik, bertemu dengan mata Yessa yang sarat harap. “Aku gak peduli ap
“Bukankah aku terlalu baik untuk ukuran manusia yang pernah ditusuk, dilukai, dan istrinya hampir direnggut lagi oleh mantan suami dengan gangguan kejiwaan?” ucap Isandro datar, senyum miring tersungging di sudut bibirnya. Ia mengangkat satu kaki, menyilangkan dengan presisi di atas kaki yang lain. Gerakannya tenang, angkuh, seolah posisi itu memang singgasana baginya. Kedua lengannya terlipat di dada, sementara tatapan dinginnya menancap lurus ke arah Kaveer. Kini ruangan itu benar-benar sunyi. Tak ada polisi. Tak ada Salma. Hanya dua pria dengan masa lalu yang saling terikat oleh satu nama—Yessa. Isandro mengabulkan permintaan itu bukan karena keberanian Kaveer, melainkan karena ia memang tak pernah takut pada siapa pun. “Aku ke sini cuma mau dengar satu hal,” lanjut Isandro, suaranya rendah namun menekan. “Permintaan maaf kamu. Jangan muter-muter. Karena itu yang nentuin, kamu tetap hirup udara bebas, atau menghabiskan sisa hidup kamu membusuk di penjara.” Isandro sendiri te
“Kamu ngobrol apa aja sama Mama Salma, Mas?” tanya Yessa pelan saat mobil melaju meninggalkan area Rumah Sakit Gloria Medika, beberapa menit setelah pemeriksaan kandungannya selesai. “Tidak banyak,” jawab Isandro tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Namun tangannya tetap menggenggam tangan Yessa erat di atas paha sang istri. “Kami hanya membahas Kaveer.” Yessa membuka mulut, hendak bertanya lebih jauh. Namun Isandro kembali berbicara lebih dulu. “Oh iya,” ucapnya santai. “Tante Salma itu sudah bukan Mama mertua kamu. Jadi … jangan panggil Mama lagi, ya.” Yessa terdiam sejenak. Bibirnya terkatup rapat sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. “Udah kebiasaan,” katanya lirih. “Jadi suka kelupaan, Mas.” “Mulai sekarang dibiasakan,” balas Isandro tenang. Senyum tipis terukir di wajah tampannya. “Tante Salma bukan mertua kamu lagi.” Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman mansion. Isandro turun lebih dulu, bergegas membukakan pintu dan membantu Yessa turun dengan penuh kehati-hatia
“Terima kasih banyak, San. Karena kamu mau bertemu dengan tante,” ucap Salma lirih, tak berani menatap langsung ke mata Isandro. Isandro terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya membuka suara. “Tante pasti selama ini penasaran, atas apa yang akan saya lakukan setelah ini pada Kaveer?” Salma meremat jari-jemarinya di atas pangkuan. “Iya, itu salah satunya. Dan kedatangan tante ke sini, tentu saja untuk mewakili permintaan maaf Kaveer ke kamu, serta istri kamu. Yessa.” Pria itu mengangguk paham. Tapi sayangnya saat ini dia memilih untuk bicara empat mata dengan Salma, daripada membawa sang istri juga. Hal itu dilakukan agar Yessa tidak mendengar ucapan yang tak seharusnya, hingga mengganggu mental dan hormon kehamilannya membuat wanita itu sensitif. “Apa ada alasan, kenapa Kaveer tidak datang sendiri untuk minta maaf?” tanya Isandro, suaranya rendah namun tetap tegas. “Kaveer, dia ... sebenarnya ingin datang sendiri. Tapi tante tidak yakin dia datang untuk meminta maaf atau justru
“Aku juga, Mas. Aku bakal lindungin kamu, sekalipun taruhannya nyawa aku sendiri. Kalau kamu pergi, aku takut gak sanggup,” bisik Yessa lirih. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Isandro menghela napas panjang. Tangannya terulur, ibu jarinya menghapus air mata itu satu per satu dengan gerakan yang sangat hati-hati. “Aku pernah kehilangan kamu,” ucapnya tenang, namun suaranya berat, “Dan aku gak akan pernah mau kehilangan kamu lagi untuk kedua kalinya. Pernah kehilangan, bukan berarti aku sanggup kehilangan lagi.” Yessa terisak kecil. “Entah udah berapa kali aku bilang ke kamu,” lanjut Isandro, sorot matanya mengeras oleh luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, “Hari itu aku hampir gila.” Ia menelan ludah, dadanya naik turun. “Aku koma karena kecelakaan itu. Dan waktu aku sadar, kenyataan kalau kamu pergi dari hidup aku, itu menghantam aku untuk kedua kalinya.” Jarinya mengerat di pinggang Yessa. “Aku depresi, Yessa. Bukan cuma karena kamu pergi,” suaranya merendah, hampir be







