Home / Urban / Gairah Terpendam Ibu Kost / Bab 43 : Balas Dendam Darius

Share

Bab 43 : Balas Dendam Darius

last update publish date: 2026-08-25 16:19:40

Aroma cairan antiseptik yang tajam dan suara dengungan monoton dari monitor jantung mendominasi lorong sunyi lantai tiga Rumah Sakit Sentra Medika.

Di balik dinding kaca transparan ruangan Intensive Care Unit (ICU), Dila terbaring kaku tak berdaya. Selang plastik transparan terlihat melintang di hidung dan mulutnya, menyalurkan oksigen buatan untuk menjaga paru-parunya tetap mengembang.

Di dadanya, balutan perban putih tebal menutupi luka bekas tembakan yang nyaris merenggut nyawanya.

Aku dud
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Terpendam Ibu Kost   Bab 108 : Pelarian di Lorong Belakang

    Darah di pelipisku berdesir hebat saat menyaksikan pendar layar ponsel pribadi Ibu Arimbi yang mendadak bernyanyi nyaring di koridor atas. Nada dering bawaan yang melengking itu memantul keras di sepanjang dinding beton bawah tanah, beradu dengan suara dengung generator listrik. Di layar ponselku, garis hijau indikator video call dari Papa Darius di kamera CCTV parkiran VIP masih menyala. Pria paruh baya berwajah keras itu tersenyum culas, menanti sambungan panggilannya diangkat oleh Ibu. Jika Ibu Arimbi menekan tombol hijau itu detik ini juga, suara Papa Darius akan membocorkan seluruh kebenaran pahit—bahwa keberadaan Bu Eva di Bali bukan sekadar aksi penyelamatan, melainkan skandal perselingkuhan yang sengaja ditutupi Bima. "Demian, matikan pemancar sinyal penthouse !" perintah Ayah dengan suara bariton yang teramat rendah, begitu tajam hingga memotong udara dingin di sekitar kami. Aku bergerak tanpa berpikir dua kali. Jemariku yang basah oleh keringat dingin merogoh sa

  • Gairah Terpendam Ibu Kost   Bab 107 : Perang Dingin Antara Tuan Dan Nyonya Besar

    Pendar merah dari lampu indikator perekam mikro di jemari Ibu Arimbi seolah memantulkan bayangan maut ke wajah kami semua. Udara di dalam ruang bawah tanah terasa makin rapat, berat oleh kelembapan beton dan jejak aroma vanilla yang samar-samar masih tertinggal di balik tajamnya bau disinfektan pinus. Dila mengusap matanya yang sembab dengan punggung tangan, menatap Ibu dengan kebingungan yang lugu. "Ibu... itu perekam milik Mama? Apa isinya?" Ibu Arimbi menyunggingkan senyum tipis—sebuah kurva di bibirnya yang dingin bagai es. Ibu perlahan mendekatkan jemarinya ke tombol play pada alat mungil itu. "Kita akan dengar bersama, Dila," bisik Ibu, suaranya mengalun sangat halus namun penuh ancaman yang siap merobek habis alibi malam ini. "Supaya kita semua tahu apa sebenarnya yang terjadi di ruangan ini sebelum kita turun." Darah di sekujur tubuhku serasa membeku. Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang menghantam rongga dada. Jika rekaman itu berputar dan memperdengarkan d

  • Gairah Terpendam Ibu Kost   Bab 106 : Tangisan Yang Mengalihkan

    Suara Ibu mengalun bagai bilah sembilu yang membelah keheningan ruangan. Pendar layar tablet di tangannya memantulkan grafik gelombang suara yang sempat melonjak—bukti rekaman audio yang menangkap kata 'perselingkuhan' dan nama 'Bima' dari bibir Bu Eva. Aroma chanel no. 5 milik Ibu tercium begitu pekat, beradu tajam dengan bau pinus menyengat yang baru saja kusemprotkan ke seluruh penjuru ruangan. Pelipisku basah oleh keringat dingin. Aku merasakan tatapan tajam Ayah menghujam punggungku, menuntutku untuk tetap tenang dan tidak meruntuhkan alibi yang telah kami susun. "Ibu salah paham," kataku dengan suara rendah dan teratur, memaksakan senyum tipis di bibirku meski jantungku berdegup kencang menghantam tulang rusuk. "Tante Eva baru saja siuman dalam kondisi delusi akibat efek obat bius Darius. Beliau ketakutan dan mengigau... membayangkan tuduhan jahat yang dilemparkan mantan suaminya." Ibu menyunggingkan senyum dingin, tidak bergerak seinci pun. Jemari lentiknya perlahan meny

  • Gairah Terpendam Ibu Kost   Bab 105 : Bisikan Rahasia Eva

    ​Dengung dingin dari pengeras suara interkom di dinding semen itu perlahan surut, meninggalkan kesunyian yang mencekik di dalam ruang bawah tanah. Lampu indikator merah di sudut plafon berkedip liar, memantulkan pendar kemerahan yang kusam ke atas permukaan sofa kulit hitam yang sudah kubersihkan. ​Aku berdiri terpaku di tengah ruangan. Bau disinfektan beraroma pinus yang tajam beradu dengan kelembapan udara beton kedap suara, menciptakan rasa pekat yang menusuk hidung. Di luar, kait baja pintu utama telah terkunci dari sistem pusat—tangan Ibu kini memegang penuh kendali dari atas penthouse. ​Aku mengepalkan tangan, merasakan dinginnya selongsong peluru kuningan yang terselip di dalam saku celanaku. Keringat dingin membasahi pelipis dan tengkuk. Ibu sedang menguji sarafku, menanti reaksi panik yang akan meruntuhkan seluruh alibi pertahanan yang kami susun malam ini demi melindungi rahasia Ayah. ​Tiba-tiba, gesekan halus kain sutra di atas sofa memecah kesunyian. ​"Demian...

  • Gairah Terpendam Ibu Kost   Bab 104 : Membersihkan Jejak Yang Tertinggal

    Logam kecil bercahaya emas itu memantulkan kilau lampu kristal yang dingin. Di ujung kaitannya, aroma vanilla yang pekat dan manis beradu tajam dengan wangi chanel no. 5 milik Ibu.Ayah tetap berdiri tegap, tidak menunjukkan celah kepanikan sedikit pun. Dengan nada baritonnya yang tenang, Ayah mengambil alih situasi. "Eva sempat berlari masuk ke ruang tamu ini dalam kondisi panik saat tiba tadi malam, Arimbi. Dia mencari Dila sebelum aku menyuruhnya turun ke ruang bawah tanah agar tidak memicu keributan. Anting itu pasti terlepas saat dia tergesa-gesa."Jawaban Ayah meluncur begitu lancar dan rasional. Ibu tidak menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis, lalu mengantongi anting berlian tersebut ke dalam saku blazernya sebelum melangkah perlahan menuju kamar tamu VIP di sayap kiri penthouse.Begitu pintu kamar Ibu tertutup rapat, aku langsung menuntun Dila yang matanya sembab ke kamar utama. Istriku mengusap air matanya yang tersisa, lalu membaringkan tubuhnya yang terkuras emos

  • Gairah Terpendam Ibu Kost   Bab 103 : Kecurigaan Arimbi yang makin menjadi

    Langkah kaki Nyonya Besar Arimbi Prasetyo yang anggun namun tegas mendadak terhenti satu jengkal di depan pintu lift privat. Udara di dalam penthouse terasa membeku, begitu tebal oleh perpaduan wangi chanel no. 5 yang tajam dan uap dingin yang berembus dari pendingin udara.Di belakangnya, Dila masih menempel pada dada kemejaku, bahunya naik-turun dalam isak tangis yang tertahan. Seluruh tubuh istriku bergetar hebat—terpukul oleh kenyataan pahit bahwa ayah kandungnya sendiri, Darius Amarta, tega mengirim orang-orang beringas untuk membius dan menculik ibu kandungnya, Eva Almira.Namun, fokus perhatian Ibu Arimbi sama sekali tidak tertuju pada duka menantunya. Manik matanya yang hitam legam dan dingin bagai dasar jurang mengunci wajah Bima Prasetyo."Aku hanya ingin menunjukkan perhatian seorang permaisuri keluarga Prasetyo pada besannya," lanjut Arimbi, suaranya tenang tanpa intonasi tinggi, namun sanggup menguliti setiap lapisan ketenangan di ruangan itu. "Kenapa kamu tampak begit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status